Healthy Life With EightDelights Cookies

4 Jan

logo+tagline-300x153

Tadi siang setelah makan siang iseng nonton beberapa chanel televisi yang menayangkan seputar trend tahun 2015. Akhirnya saya mentok pada sebuah liputan di salah satu TV swasta yang menyatakan bahwa trend makanan di tahun 2015 adalah makanan sehat. Dan untuk kue-kue yang bakalan hits di tahun 2015 nanti adalah kue – kue sehat yang tidak menggunakan gula dalam pembuatannya.

Pas bener, kata saya dalam hati. Saya punya rekomendasi kue yang bisa menunjang kepopuleran dan kesehatan teman-teman di tahun 2015 ini. Brand kuenya „EIGHTDELIGHTS“ bisa dilihat juga di websitenya www.eightdelights.com, bahkan tagline dari brand ini dari awal mengundang selera “good fun gotta be fun”. Jadi makanan yang baik itu seharusnya memang enak dan sehat ^_^

Eightdelights ini mengkhususkan kue-kue yang diproduksi berbahan sugar free dan gluten free. Apa sih yang dinamakan sugar free dan gluten free? Sugar free a.k.a bebas gula sangat baik dikonsumsi bagi teman-teman yang sedang diet, cocok pula bagi teman-teman yang mempunyai penyakit diabetes karena pemanis yang dipakai dalam kue-kue ini diperoleh dari bahan-bahan alami seperti madu, kelapa, dan jagung.

Sedangkan gluten free artinya kue yang diproduksi ini bebas dari sejenis protein yang dinamakan Gluten yang biasanya kita temukan pada biji-bijian seperti gandum, rye (sejenis gandum hitam), dan barley. Kue ini bisa dikonsumsi untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus, dimana mereka mempunyai pantangan dalam konsumsi jenis makanan tertentu, gluten misalnya. Diet gluten juga direkomendasikan bagi mereka yang mengalami sensitivitas terhadap protein ini sehingga mengakibatkan gangguan pada lambung dan usus seperti perdarahan, diare, kram perut, dan konstipasi.

Choco oats

Choco oats

Nah pasti kepengen kan mengonsumsi kue-kue yang sehat namun tetap enak 😀 Hebatnya lagi, kita bisa memesan kue sesuai dengan keinginan kita alias customized lho teman-teman. Banyak juga kan yang alergi sama kacang, telur, bahkan jenis buah-buahan tertentu, teman-teman bisa langsung menghubungi eightdelights cookies sehingga nantinya mereka dapat membuat kue khusus hanya untuk teman-teman.

Anyway cookies yang jadi kesukaan saya di eightdelights cookies antara lain banana cake, chocolate oats, serta lemon cake. Cucok buat minum the dan kopi di pagi hari atau sore-sore mendung gituh. Yumm…saya sih dapat free sample ya 😀

Lemon seed cakes

Lemon seed cakes

Buat yang lain jangan sedih, kalian bisa menikmati lezatnya kue-kue eightdelights dengan order secara online kok. Tinggal klik websitenya atau bisa juga hubungi alamatnya di Jl. lebak bulus II-8, Panorama Townhouse Kav-25 Jakarta selatan 12430 dengan nomor telepon 08888 107 861.

Selamat hidup sehat! 🙂

Jadilah! Dan Pasti Terjadi!

6 Des

“Dalam Segala Musim, Tuhan Maha Penyayang”

Pernah mengalami suatu kejadian kah, teman-teman, dimana kita selalu bilang, „ini pasti ga bisa“? Entah tidak bisa dilaksanakan, entah budgetnya tidak cukup, atau sebab-sebab lain, tapi ndilalah ya kejadian juga, seperti ada keajaiban yang membuatnya terjadi. Belakangan ini saya sering mengalaminya, di saat titik kepasrahan benar-benar penuh diserahkan pada Tuhan dan alam semesta.

Di satu sisi, saya orangnya keukeuh, di sisi lain setelah keukeuh kerja keras dan hasil yang diinginkan tidak terjadi juga, ya wis lah saya pasrah, bukan rejeki saya memang, toh rejeki tidak pernah salah alamat, dibagi-bagi sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing orang. Biar Tuhan memutuskan apa yang terbaik buat saya, cara pikir nyantai yang biasa saya pakai untuk mengerem segala kecamuk pikiran, obat anti stress. Namun di saat seperti ini biasanya keajaiban menghampiri saya.

Kasus nyata keajaiban yang beberapa waktu lalu terjadi kepada saya, dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar: Hmmm dilamar oleh teman saya sendiri, dapat ganti budget yang tidak diperkirakan dimana cukup membuat saya risau dengan cara cepat dan tak terduga, berlanjutnya aplikasi beasiswa tanpa references, dan sentilan mengenai keajaiban dari kitab suci yang saya baca (muncul berulang-ulang tanpa bosan), serta pembicaraan pagi yang menginspirasi di kosan. Mendadak saya merasa kurang bersyukur… .

Tuhan sebagai pembuat skenario paling baik, tahu persis bahwa memberi pemahaman pada manusia di satu sisi harus menggunakan keajaiban dan di sisi lain harus menggunakan logika dan penalaran. Saat logika bilang mentok, adalah waktu bagi keajaiban untuk beraksi. Yang sering baca blog saya pasti tahu lah, ada waktunya saya galau karena belum ketemu lelaki yang pas untuk menjadi suami. Dua tahun belakangan akhirnya pasrah. Ya sudahlah, jodoh rumah tangga pasti akan datang di waktu yang tepat dan tidak terduga, dan itu benar-benar kejadian lho. Di sela trip saya ke Sumatera, tidak ada hujan tidak ada angin, eh dilamar oleh teman saya sendiri. Jadi kalau ada yang nanya ke saya sekarang gimana caranya ketemu jodoh, saya akan bilang „travelling-lah sebanyak-banyaknya“ 😀

Cerita lain datang saat keuangan saya benar-benar dalam kondisi seret, dan mendadak ada pengeluaran tak terduga. Sakitnya tuh disini! Bagaimana caranya harus survive beberapa waktu ke depan? Bisa ga ya? Setelah episode bete seharian dan pusing tujuh keliling hingga beruban, akhirnya pasrah saja. Ya mau gimana lagi, akhirnya cuma bisa berdoa “cukupkan ya Allah dan tambahkan rejeki saya”, ebuset ga perlu lama-lama seperti nunggu dana cair dari lembaga, rejeki dari Tuhan keesokan harinya sudah muncul di layar handphone “bon-bon dikumpulin ya, nanti diganti semua pengeluaran”, yihaaaa sorak saya dalam hati.

Kejadian aneh lainnya saya alami terkait aplikasi beasiswa yang saya inginkan. Saya sudah submit nama pemberi referensi saya, dan mereka sudah saya ingatkan untuk cek e-mail, namun ternyata komite beasiswa belum menerima e-mail juga dari para references saya. Yo wis, saya pasrah, ga bisa lanjut lah aplikasi ini. Eh ndilalah pagi-pagi, hari ini, saya mendapati e-mail dari empunya pemberi beasiswa bahwa mereka akan melanjutkan aplikasi beasiswa saya ke step lanjutan dan akan diberi kabar pada bulan Februari 2015. Saya diminta untuk mendaftar ke Universitas yang saya maksud di aplikasi. Kontan saya ucek-ucek mata berkali-kali, bangun tidur pula. Ini keisengan Tuhan yang mana lagi sambil ngakak kenceng-kenceng.

Dalam pikiran saya segera berkelebat bahwa tidak pernah ada kebetulan di dunia ini. Dengan memberikan keajaiban-keajaiban ini kepada saya, skenario hidup mana lagi yang Tuhan ingin saya laksanakan? Tugas seperti apa yang Tuhan ingin berikan? Tapi tidak lama saya memikirkan itu, karena saya harus memikirkan step yang lain dulu, kembali berkejaran dengan waktu dan rasa malas dalam melayangkan aplikasi kepada universitas-universitas yang dimaksud 😀

Setelah mendapat kabar ajaib pagi tadi, saya pun membuka kitab suci agama saya, mencari-cari jawaban di dalamnya. Hal ini semacam kebiasaan saya saat sedih ataupun gembira supaya hati tenang dan tak terlena. Saya buka halaman yang sudah saya beri pembatas, di lembar itu memuat tulisan “Kun Faya Kun”, terjadilah apa yang Tuhan inginkan untuk terjadi. Hati saya tergetar, saya pun ingat di lembar sebelumnya yang saya baca waktu lalu juga memuat kata-kata tersebut, apabila Tuhan berkehendak, tidak ada kata mustahil 🙂

Tidak pernah ada kebetulan, yang Tuhan inginkan untuk terjadi, maka akan terjadi walaupun kita sudah terang-terangan protes menolak setiap kejadian. Udah terima aja lah, persiapkan wadah hatimu untuk bisa menerima lebih banyak lagi, kurang lebih seperti itu mungkin canda malaikat saat kita protes teriak-teriak atas keputusan Tuhan. Saya pun melirik e-mail, ada notifikasi masuk dari “Sejenak Hening”, tulisan yang harus saya edit, temanya kali ini mengenai orang tua. Rasanya saya tahu untuk siapa tulisan ini dan mengapa disampaikan ke tangan saya untuk saya edit dan diteruskan kepada orang lain. Dan dibalik sayup-sayup cicit burung pagi ini, sontak saya mendengar curhatan dua orang penghuni kosan di ruang tamu.

“Emang gaji kamu berapa?”, lawan bicaranya menjawab, “1,5 juta lah bersih”, kembali sang penanya berkata, “kok di bawah UMR, emang cukup?, hari gini cukup buat apa uang segitu di Jakarta?”, yang ditanya pun menjawab, “ya dicukup-cukupin lah. Bayar kosan, transport, makan, paling itu aja kan. Ya udah. Kalau selalu nanya cukup apa enggak, ya ga akan pernah cukup lah buat manusia”. Saya terharu…. Atas besarnya hati teman saya, atas cukupnya merasa segala rejeki. Saya mendadak malu, sungguh malu atas kurangnya rasa syukur saya. Banyak orang lain yang tidak seberuntung saya padahal. Saya ambil laptop dan jadilah tulisan yang kalian semua baca saat ini.

Buat yang baca blog saya, please jangan meremehkan orang ya, siapa tahu orang yang kita remehkan atau tidak kita sukai amalan kebaikannya jauh melebihi kita. Hatinya lebih pemaaf dan luas daripada yang kita miliki. Yuk berikan kebaikan pada semesta, meskipun hanya berbentuk pemikiran positif, dan rasakan nikmatnya saat semesta balik menyayangimu. Buat saya, rasanya seperti diketapel sekeranjang rejeki oleh Tuhan. Ajaib! Sakit tapi enak 😀

Duh Gusti, terima kasih atas segala pemberianMU ^_^.

Dieng Plateu – Wonosobo: Menyusuri Akar Keluarga di Tempat Tertinggi ke Dua di Dunia

24 Okt

Setelah Nepal, tempat tertinggi itu ada di Indonesia. Namanya Dataran Tinggi Dieng. Suatu tempat di Jawa Tengah yang melimpah ruah hasil pertaniannya. Suatu tempat yang salah satunya jadi asal muasal keluarga saya. Tempat dimana lidah akan dibuai mesra oleh penganan bernama kentang goreng, purwaceng, dan carica 🙂

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Welcome to Dieng!

Terbagi atas dua kabupaten, Banjarnegara serta Wonosobo, Dieng menyimpan berbagai kekayaan budaya. Dieng Kulon masuk wilayah Banjarnegara, sedangkan Dieng wetan masuk wilayah Wonosobo. Perhiasan mata di wilayah Dieng ini adalah pegunungan Sindoro – Sumbing. Uniknya lagi adalah homestay yang saya tempati selama di Dieng masuk wilayah Banjarnegara, sedangkan tempat wisata yang banyak saya kunjungi masuk ke wilayah Wonosobo. Sekali jalan, dua kabupaten terlewati.

Perjalanan ke Dieng juga bukan sesuatu yang saya rencanakan, hanya menyambut ajakan seorang kawan lama. Pada pertengahan Oktober 2014 lalu saya pun mengunjungi kampung halaman kakek buyut saya dari pihak ibu. Sebelumnya tidak pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di Dieng.

Yang paling “dodol” dalam perjalanan kali ini adalah, saya tidak tahu sama sekali kalau pagi pagi buta rombongan akan menanjak ke bukit Sikunir untuk menyambut matahari terbit, dalam arti kata perbekalan yang saya bawa tidak untuk menembus udara dingin pagi dan menanjak gunung. Akhirnya malam hari setelah sampai di Dieng saya segera berbelanja topi penghangat, sarung tangan, serta kaos kaki untuk perjalanan esok pagi 😀

Saat saya turun dari bukit Sikunir, setelah melihat sunrise, kurang lebih pukul setengah tujuh pagi, pemandangan kaki bukit adalah danau yang indah ala Eropa serta barisan pengamen bersuara merdu dengan berbagai alat musik. Ah, dalam hati diam-diam saya menyapa kakek buyut saya yang sudah meninggal, “Kakek, indah nian tempatmu berasal”. Akhirnya usai minum teh hangat dan mencicipi mendoan ala karesidenan Kedu ini, kami pun pulang ke homestay untuk mandi dan melanjutkan trip ke tempat-tempat lain, tempat dimana beberapa waktu yang lalu mungkin kakek buyut saya sempat menginjakkan kakinya sebelum merantau ke Malang.

Oya, kalau Anda ke Dieng, pastikan tempat-tempat berikut Anda kunjungi. Saya sudah kesana, jadi ini rekomendasi buat Anda:

  1. Kawah Sikidang
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Narsis di Kawah, untung ga meletus 😀

Di bawah Kawah Sikidang adalah dapur magma, asap yang mengebul dari lubang-lubang kawah serta bau belerang sebagai buktinya. Dapur magma ini menghasilkan panas dan energi dengan tekanan yang sangat kuat. Apabila tekanan ini mencapai puncaknya, maka akan terjadi letusan dan terbentuk sebuah kawah baru. Nama Sikidang diambil dari kata “kidang” yang berarti kijang. Keunikan kawah ini adalah kawah utamanya selalu berpindah, seolah meloncat mencari tempat baru. Lubang besar tepat di bagian depan kompleks adalah bekas kawah utama sebelum dia merasa “bosan” dan meloncat berpindah ke lubang yang lain.

Sewaktu saya berkunjung ke sana, saya melihat pipa-pipa penyaluran geothermal untuk pembangkit tenaga listrik melintang di sana-sini. Plus graviti yang merusak mata, serta anak muda yang berlatih motor cross di sekitar wilayah kawah. Ada baiknya pendidikan lingkungan digalakkan ke masyarakat, ngapain jauh-jauh melihat pemandangan alam kalau cuma mau ngerusak keindahannya dengan graviti.

2. Candi Arjuna

SONY DSC

Ga dapat foto yang bagus, ngambil dari foto orang..hahahah..cek di coretanpetualang.wordpress.com ya

kompleks Candi Arjuna yang merupakan salah satu candi tertua di Jawa. Di dalam kompleks ini hanya tinggal 5 candi berusia lebih dari seribu tahun yang masih berdiri dengan kokohnya. Kompleks candi Arjuna diperkirakan dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini terlihat dari adanya Lingga dan Yoni di dalam candi utama, serta arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya di relung-relung bangunannya.

Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Berbeda dengan candi-candi lain yang sebagian besar ditemukan terpendam di dalam tanah, candi-candi di dataran tinggi Dieng ini pada waktu itu terendam air rawa-rawa. Proses pengeringan dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Entah siapa yang memberi ide, candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna, yang berhadapan dengan candi berbentuk memanjang dengan atap limasan yang sering disebut sebagai Candi Semar.

3. Menyambut sunrise di Sikunir

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sunrise yang cukup dramatis di Sikunir

Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan pada ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut. Melihat matahari dari Sikunir cukup istimewa karena berlatar belakang pegunungan Dieng dan Gunung Sindoro. Tapi apabila ingin lebih istimewa lagi,, bisa dicoba melihat sunrise dari atas gunung perahu.

4. Dieng Theater

Theater Mini yang terletak di bukit Sikendil dengan bentuk Bangunan yang didesain klasik dan berkapasitas 100 tempat duduk. Dieng Theater dilengkapi dengan sistem audio visual yang memadai sehingga para wisatawan dapat melihat pemutaran film tentang sejarah Dieng serta obyek yang ada di Dataran Tinggi Dieng dengan  durasi kurang lebih 23 menit.

5. Talaga Warna

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Talaga warna bernuansa Eropa

Nama telaga Warna sendiri diberikan karena fenomena alam unik yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah. Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari menimpanya, warna telaga nampak berwarna warni. Telaga Warna berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut

6. Talaga Menjer

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Telaga Menjer dan perahu yang disewakan

Telaga ini berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, dengan luas 70 hektar dan kedalamannya mencapai 45 meter. Di sekitar telaga ini terdapat pepohonan pinus yang rimbun sertabukit-bukit hijau yang memagari telaga. Pengelola Telaga vulkanik Menjer yang terletak di kaki Gunung Pakuwaja ini menyediakan beberapa kapal kecil yang siap mengantar pengunjung mengelilingi seluruh telaga.

Eat and Friendship: Cita Rasa India ala Hotel Indonesia Kempinski

8 Okt

Signage Colours of India

Signage Colours of India

Dinner, tanggal 7 Oktober 2014!” Begitu isi perjanjian saya dengan Felicia, sahabat saya yang notabene blogger juga dalam rangka menikmati suguhan “colours of India” Hotel Indonesia Kempinski. Kami mendaftar di bulan September sebagai salah satu blogger yang nantinya me-review cita rasa makanan India di hotel Kempinski Jakarta.

Hari yang dinanti akhirnya datang, kami berjalan dengan sangat pede menuju Signatures Restaurant. Signage Colours of India sudah dipasang di pintu masuk restoran. Suasana India langsung mengakrab kental, bagaimana tidak, selepas pintu masuk kami langsung disambut ornamen dan musik India. Ada pohon Diwali yang menjadi simbol program bantuan kepada SD Pembangunan Masyarakat di daerah Gunung Sahari berdiri gagah depan pintu serta senyuman hangat dari petugas restoran yang menyapa kami.

Bertemu Sahabat

Setelah proses cek nama, petugas hotel mengantar kami ke ruangan makan, seraya berjalan sang petugas hotel berbicara, „kami buka lho blognya kalian satu-persatu. Hari ini juga ada blogger lain yang datang, namanya mas Teguh, kalian kenal ga?“. Hampir kesedak rasanya, pikiran saya langsung berbunyi „haduh tulisan-tulisan aneh saya itu kebaca ga ya?“ 😀

Saya edarkan pandangan ke meja di tengah ruangan, benar saja, mas Teguh yang dimaksud itu adalah mas Teguh teman saya, dedengkotnya travel writer. Kami pun menyapanya, „Kebetulan apa yang membuat kita bertemu hari ini?“ Meja untuk tiga orang pun segera penuh terisi.

Ini pertama kalinya Felicia berkenalan dengan mas Teguh, tapi tampaknya langsung akrab, seolah-olah sudah lama kenal. Sebentar saja sudah ketawa-ketiwi, bisa jadi karena ambience yang dibawa restoran juga.  Petugas restoran kemudian menghampiri kami untuk menata alat makan, memasangkan serbet, serta menawarkan minuman. Saya memesan juice strawberry dan teh tarik hangat, yummy. Segarnya juice strawberry asli langsung me-recharge dahaga saya 🙂

Hasrat ingin memotret pun langsung timbul setelah melihat dekorasi unik makanan dan restoran, tapi kami putuskan untuk makan dulu baru kemudian memotret. Segera kami menuju meja buffet untuk memilih appetizers. Saya memilih roti pitta, tiga macam saus salad, Babaganoush Salad, dan Antipasti. Saat mengambil appetizers saya tidak tahu apa Antipasti itu, karena penasaran dicomot saja 😀 Dan kami segera kembali ke meja makan.

Appetizer Buffet

Appetizer Buffet

Pelajaran yang kami ambil saat mengambil appetizers itu adalah, bawalah kameramu, karena nama makanan India susah dihapal jadi lebih baik kita potret saja supaya tidak lupa. Begitu ada kesempatan memotret, potret saja…hehehehe.

Ini lho yang namanya Antipasti

Ini lho yang namanya Antipasti

Kembali ke appetizers, roti pitta nya sudah agak dingin, biasanya kalau masih hangat terasa lebih lembut saat digigit. Saus salad yang kami ambil sangat terasa sekali rempah-rempahnya, terutama yang berwarna putih, lidah saya merasakan sensasi yoghurt sebagai bahan pembuatnya. Yang jadi favorit saya untuk appetizers adalah Antipasti, makanan yang tidak saya kenal tadi. Antipasti ternyata sayuran yang dibakar. Isi Antipasti antara lain wortel, bawang bombay dan juga terong yang tampaknya direndam dulu dalam bumbu sebelum dibakar dan diberi taburan rempah-rempah di atasnya. Harus coba sendiri supaya tahu gimana enaknya, tanpa minyak lho, jadi baik buat yang berdiet 😀

Andaikan Masakan di Panci itu Bisa di bawa Pulang

Aneka Bumbu

Aneka Bumbu

Ronde pertama makan malam kami selesai tanpa terasa, riuh rendah tawa “traveler bocor”, kalau kata mas Teguh, mengisi suasana. Ada aja yang diobrolin seru, makan malam bersama sahabat kali ini terasa sangat menyenangkan. Nah sudah saatnya menyantap main course. Feli memilih menu ala vegetarian, saya sendiri hajar bleh aja, kapan lagiiii bisa makan aneka rupa makanan india dari berbagai daerah dalam satu tempat seperti ini.

Saya mengambil nasi briyani, Poori (sejenis roti goreng tipis yang renyah); sayur labu merah atau “Khatta Mitha Sitajhare”; kacang-kacangan berwarna kuning atau sering disebut lentils yang dicampur dengan bayam, namanya “Dal Palak Masala”; serta kari sayur kentang.

My main course

My main course

Tampaknya saya lebih menyukai Poori daripada Pitta, efek suka gorengan yang kriuk-kriuk mungkin ya, orang Indonesia gitu lho :D. Nasi Briyaninya menurut saya cukup “lekker”, campuran rempah dan udangnya sangat terasa. Yang jadi favorit saya malah sayur labu merah “Khatta Mitha Sitajhare”, dan chicken curry hasil icip-icip dari piring mas Teguh. Campuran manis dan asam labu merah serta rempah-rempah bener-bener bikin lidah bergoyang. Pengennya sih satu panci “Khata Mitha Sitajare” di restoran itu bisa dibawa pulang 😀

Ronde kedua makan malam selesai, saatnya mencoba hidangan dessert. Petugas restoran yang baik hati menanyakan bagaimana rasa makanan di restoran, kami pun mengecap enak, dan pengen sekali rasanya bisa ngobrol langsung dengan chef-nya yang aseli India. Wuihhh boleh lhooo sama petugasnya, dan nanti chefnya yang akan mendatangi kami. Ahhh senangnyaaaa….

Rupa-Rupa Masakan India

Chef Ashwahi Kumar

Chef Ashwani Kumar

Tak berapa lama Chef Ashwani Kumar Singh pun mendatangi meja kami. Doi Chef terkenal, sudah 16 tahun malang melintang di dunia kuliner India dan memenangkan penghargaan Chef terbaik. Kami langsung berdiri menyambutnya, orang beken gituh, tapi dengan sangat rendah hati beliau menyilakan kami untuk duduk kembali. Blogger kepo seperti kami pasti bakal banyak nanya ya, dan sang Chef langsung diberondong pertanyaan.

Chef Ashwani Kumar menceritakan bahwa ada 17 jenis masakan berbeda setiap harinya yang dihidangkan di Hotel Kempinski Indonesia selama „Colours of India“, bahkan menu hidangan pagi, siang, dan malam pun berbeda. Masakan India yang disuguhkan merupakan campuran dari bagian utara di Tandoori, masakan berempah-rempah kuat dari wilayah timur, serta lezatnya nasi briyani di bagian selatan India. Hari Sabtu tanggal 11 oktober nanti bahkan akan dimeriahkan oleh tari-tarian India, minuman India, serta masakan pesisir India. Aduh pengen datang lagiiiii….

Nah bagaimana sih caranya membedakan asal daerah makanan India yang kami makan. Menurut Chef Ashwani Kumar, sebenarnya masakan India dibedakan atas empat musim dan waktu penyajian. Contohnya saat musim dingin, orang-orang cenderung makan daging supaya badannya tetap hangat. Sedangkan saat musim panas, orang-orang akan banyak memasak menggunakan mentimun untuk mengatasi dehidrasi saat musim panas. Untuk jenis makanan sendiri, makan pagi cenderung lebih berat daripada makan siang ataupun makan malam.

Chef menambahkan India bagian utara memang cenderung menggunakan yoghurt dalam masakan mereka. Sedangkan India bagian timur terkenal dengan kue-kue manisnya. India bagian selatan sangat terkenal dengan aneka ragam masakan nasi-nya. Tentu disinilah tempatnya nasi briyani yang paling popular. Adapun India bagian barat terkenal masakan dengan masakan pesisir dan pegunungan, serta masakan vegetarian yang akan dilaksanakan demo masaknya tanggal 11 Oktober mendatang.

Selesai bercerita Chef Ashwani Kumar kami geret ke meja buffet untuk foto bersama. Lumayan lah selfie-selfie dikit 😀 Terima kasih ya Chef atas informasinya.

Dessert Yang Manis

Nariyal and Kajoor Ka Gujja

Nariyal and Kajoor Ka Gujja

Selepas foto bersama saya segera mengambil hidangan dessert. Ada empat jenis makanan yang saya ambil yaitu kroket yang berisi sayur-sayuran, Tandoori Pineaple, “Nariyal and Kajoor Ka Gujja”, serta yang terakhir “Kaache Aam Ki Kher”. Makanan apakah itu?

Udah pasti tahu lah ya yang namanya kroket sayuran, enak dan saya suka. Nah kalau Tandoori pineapple itu potongan nanas yang dibakar menggunakan rempah-rempah. Enak pake bangettt.. favorit saya untuk dessert ya Tandoori pineapple ini. Adapun Nariyal – Kajoor Ka Gujja adalah pastel yang diisi kelapa dan kurma, buat saya sih terlalu manis. Sedangkan Kaache Aam Ki Kher itu adalah pudding mangga tapi berbentuk cair dan ada campuran kayu manisnya. Rasa pudding mangga cair ini pas buat saya, tidak terlalu manis, kan saya-nya sudah manis (halah..ga penting; ;p).

Selesai menyantap dessert, lembar feedback restoran pun diberikan kepada kami oleh petugas restoran. Baru kali ini antusias ngisi lembar feedback, soalnya ngarep bisa nemuin minuman India tapi ternyata hanya satu hari aja nanti di hari Sabtu. Kami pun me-request kehadiran minuman India kalau ada acara makan-makan lagi, hehehehe.

Sebelum pulang, foto-foto selfie dulu dong dengan petugas hotel dan Signatures Restaurant. Habisnya pakaian mereka bagus sih, ala ala India gitu lho, plus pelayanan mereka sangat baik dan ramah. Selesai berjabat tangan kami pun melambaikan tangan untuk pulang. Hari ini menjadi kebetulan yang sangat menyenangkan, bisa makan malam bersama sahabat dengan menu India yang lezat 🙂

signatures restauran

Signatures Restauran

Oya buat yang ingin menikmati hidangan Signatures Restaurant – Hotel Indonesia Kempinski silakan menghubungi 021 – 2358 3898 atau signatures.jakarta@kempinski.com.

Curhatan Seorang Penulis

7 Okt

Banyak deadline tulisan, itulah salah satu problem penulis. Begitu banyak yang harus dituliskan tapi hanya punya sedikit waktu atau begitu banyak yang harus ditulis tapi mood menulis naik turun ga keruan (penulis ababil xD).

Begitulah hari-hari saya, selain deadline pekerjaan sebagai konsultan komunikasi yang harus dipenuhi, ada deadline pribadi dalam menulis novel selanjutnya, ada juga deadline tulisan di blog. Seringkali deadline menulis buku dikesampingkan karena deadline pekerjaan adalah yang nomor satu buat saya. Nah kalau menulis blog adalah kebutuhan pribadi saya. Saat menulis di blog, saya tidak dibatasi oleh pakem ataupun tujuan penulisan, saat di blog, saya menulis untuk diri saya sendiri.

Yang baca blog saya mungkin pada kaget, tujuan penulisan? Tentu saja menulis ada tujuannya. Saat saya menulis untuk klien tentu dengan harapan supaya masyarakat luas lebih mengerti mengenai program yang dilaksanakan oleh klien saya, membuat nama ataupun brand klien saya lebih dikenal oleh public. Adapun untuk penulisan buku, mau tidak mau saya harus mempertimbangkan trend pasar dan juga kepentingan penerbit. Ini hal yang wajar, saat kita membuat produk, kita ingin produk kita laku bukan.

Kebebasan bagi saya tercipta saat saya menulis blog. Saya tidak harus memikirkan pendapat orang mengenai tulisan saya, bahkan tidak harus membuat orang menoleh untuk menengok blog saya, dibaca syukur, enggak dibaca pun tidak ada masalah. Menambah wawasan orang lain, Alhamdulillah, enggak pun bukan menjadi masalah yang harus diributkan.

Kontemplasi saya pun bukan hanya sebatas tulisan narasi, tapi bisa juga berbentuk puisi dan lirik lagu. Gaya tulisan saya pun bermacam-macam, apalagi untuk penulisan artikel dan feature, sesuai request klien:D

A to Z By Request in Sabang Island - Taken by Denie Kristyono

A to Z By Request in Sabang Island – Taken by Denie Kristyono

Follower blog saya pasti paham gaya tulisan, puisi, dan model cerpen saya seperti apa. Jujur, saya hobi banget pakai simbol-simbol dalam puisi dan cerpen. Untuk novel sih saya tidak terlalu berani memakai simbol-simbol tersebut, takutnya malah ga sampai maksud ceritanya. Kalau cerpen dan puisi kan bisa dimaknai secara bebas oleh para pembacanya, lebih fleksibel lah 🙂

Nah demikian dulu intermezzo tulisan saya hari ini. Ingat, kita semua adalah penulis. Siapapun kita sejatinya tiap hari kita menuliskan kehidupan di lembaran waktu menggunakan tinta perbuatan. Bedanya tulisan perbuatan kita sifatnya abadi, ada dalam ingatan, tak bisa terhapuskan layaknya pensil dan karet penghapus.

Salam manis dari balik laptop saya ^^

Surga itu Bernama Tobea dan Renda – bagian 2

3 Agu

Hallo Renda!

Percayalah, lebih dingin kehujanan di lautan daripada kehujanan di gunung. Dalam kondisi basah kuyup, angin dapat menerjang kita dari berbagai penjuru selama perjalanan ke pulau Renda. Iya betul, kami disambut hujan di pulau Renda dan di tengah lautan.

Sesampainya di pulau Renda, saya segera berganti pakaian dengan baju yang kering dan menyantap hidangan cumi asam manis serta minuman hangat yang disuguhkan. Selanjutnya, tidur di dalam kamar yang berkelambu seperti dongeng para ratu. Jangan dibayangkan disana ada hotel, setiap kali ke daerah terpencil pastinya saya tidur di rumah warga.

Hal ini juga yang awalnya diragukan oleh teman – teman yang menjadi pendamping di kepulauan terpencil ini. “Devi emangnya bisa tidur di lantai dan tidak mandi berhari-hari?”, ungkap Pak Onnie yang menjadi fasilitator di kedua pulau. Hahahaha…belum tahu dia.

Sebelum keberangkatan  memang semua orang menakut-nakuti dengan perjalanan panjang yang bikin capek pantat, minimnya air, tempat tidur yang bukan spring bed, dll. Tampilan saya yang manis dan hidup di kota besar (muji diri sendiri :D) banyak disangsikan untuk dapat survive di hutan ataupun berada dalam kondisi yang minim fasilitas.

Akhirnya saya pun bercerita bahwa hal ini biasa saja. Saya sudah sering ke daerah yang minim fasilitas. Gunung, pulau-pulau kecil, kampung pesisir. Name it! Bahkan masa kecil saya sering dihabiskan di rumah nenek di sekitar gunung kapur, sumber mata airnya jauh dari rumah, bermain di pohon dan menggembala kambing, tidak ada listrik jadi teman di kala senggang ya hanya buku, plus rumah nenek berlantai tanah dan berdinding bambu. Dapurnya saja masih pakai pawon yang berbahan bakar kayu. Don’t judge people by its cover 😀

Pagi hari di Pulau Renda saya pergunakan untuk berjalan-jalan di sekitar pulau. Pulau yang cukup kecil ini habis diputari dalam waktu kurang dari satu jam. Menurut pak Sekdes Renda, pulau ini hanya dihuni oleh 100KK dan semuanya bersaudara. Saat pasang, hampir seluruh bagian pulau terendam air, oleh karena itu mustahil bagi mereka untuk memiliki tanaman sayur di darat.

surut di Renda

surut di Renda

struktur rumah di Renda

struktur rumah di Renda

Pulau Renda juga dihuni oleh suku Bajo, memiki karateristik yang sama dengan pulau Tobea, mulai dari rumah dan kebiasaan penduduknya, hanya ada kucing malah binatang yang hidup di pulau ini. Pepohonan yang tumbuh bakau dan kelapa. Fasilitas pendidikan yang tersedia hanya SD dan SMP, berbeda jauh dengan Renda yang sudah memiliki SMA. Guru-guru di pulau Renda pun berasal dari pulau sebelah, dari Tampo. Berhubung gurunya dari seberang, jam masuk sekolahnya bisa suka-suka, sedatangnya sang guru.

Pulau Renda dikepung oleh pulau-pulau lain seperti Bontu-Bontu, Tampo dan Raha, pulau Panjang, dan juga Tobea. Bedanya disini saya bisa lebih mudah mendapat sinyal seluler daripada di pulau Tobea, sedangkan fasilitas air bersih harus dibeli di Muasih kalau hujan tidak datang. Warga disini memiliki lebih banyak jerigen air dari penduduk pulau terpencil manapun yang saya temui.

pemukiman di Renda

pemukiman di Renda

gadis Renda

gadis Renda

Saya tinggal di rumah Mama Tua dan dua orang cucunya. Sehari-hari Mama Tua berjualan kelontong untuk mengisi waktu luang. Ritme kehidupan di pulau Renda juga sangat lamban, dimulai dengan makan pagi, beberes rumah, tidur siang, menangkap ikan, memasak di sore hari, makan malam, dan kemudian istirahat kembali. Oya masakan mama tua sangat enak lho. Bumbu-bumbu sederhana yang membuatku sanggup menghabiskan empat buah kepiting dengan ukuran kecil 😀 Sesederhana itu dan sedamai itu.

Warga bercerita tentang kehidupan mereka di pulau, anak-anak mereka dan kisah hidup yang dilalui. Ada airmata dari sudut-sudut mata Mama Tua saat mengingat menantunya yang sudah meninggal. “Mi, mari jangan bercerita yang sedih, Mama tidak ingin mengingat hal-hal itu, terlalu sakit jika diceritakan”, ujarnya.

Penduduk pulau Renda selalu bertanya seperti apa Jakarta? Angin apa yang bisa membawa saya ke pulau kecil tersebut? Mereka percaya itu semua karena kami berjodoh 🙂

Sore hingga malam hari di pulau ini saya pergunakan untuk mendokumentasikan kegiatan pembuatan tali pengikat bagi bibit rumput laut, serta sesi training lanjutan dari dinas KKP mengenai struktur demplot dan juga perawatan bibit rumput laut selama 45 hari ke depan. Masyarakat di pulau ini jauh lebih terbuka daripada pulau Tobea, menurut saya. Mereka senang bercanda sedari mula saya datang ke pulau. Mereka bilang siapapun yang diiringi hujan datang ke pulau Renda, dipastikan banyak berkah pada dirinya ^_^

mari menjemur rumput laut

mari menjemur rumput laut

Ini Bukan Perpisahan

Esok paginya kami harus kembali bertolak menuju pulau Tobea untuk menyelenggarakan training di pulau tersebut. Saya peluk erat-erat Mama Tua dan kami pun bertukar nomor telepon. “telepon saja, Mama, kalau Mama kangen dengan saya”, begitu ujarku di akhir pertemuan. Terima kasih Mama, atas kebaikan hatinya menerima saya dengan tangan terbuka di rumah Mama.

Sesampainya di Pulau Tobea kami disambut oleh Sekdes Wangkolabu dan dibawa ke rumah pak Kades Wangkolabu. Training dilaksanakan di rumah pak Kades Wangkolabu dan pak Sekdes segera menghubungi seluruh kelompok anggota petani rumput laut Tobea yang sebagian besar adalah perempuan untuk datang ke lokasi.

Setelah training selesai saya sempatkan untuk mewawancara penduduk desa mengenai kesan-kesan mereka mengikuti training serta harapan mereka mengenai program ini di masa depan. Tak bisa lama-lama kami (saya dan anggota dinas KKP) harus segera bertolak kembali ke daratan Sulawesi mengejar pesawat pukul lima sore dari Kendari yang akan membawa kami menuju Makassar, dan saya melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Uniknya sebelum bertolak menggunakan perahu nelayan, peserta training beramai-ramai mendoakan  supaya saya segera bertemu jodoh 😀

Perjalanan kembali menuju daratan Sulawesi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam via jalan laut. Dari pelabuhan Matabubu kami langsung dijemput oleh staff yayasan Humaniora dan meluncur ke bandara Haluoleo Kendari. Kembali hujan menyapa saya di daratan Sulawesi, dan kembali saya ingin melihat pelangi di kota Kendari seperti tempo hari.

Saya lemparkan mata jauh ke lautan, ini bukan perpisahan, kelak kami pasti bertemu kembali. Mata saya kemudian memejam menikmati suara hujan.

Surga itu Bernama Tobea dan Renda – bagian 1

3 Agu

“Dev, nanti kami minta bantuan untuk pengambilan footage video dan foto-foto penanaman rumput laut di Sulawesi Tenggara ya”, pinta climate change adaptation advisor yang sudah aku anggap Abang sendiri itu.

Maka berangkatlah aku menuju Sulawesi Tenggara, Pulau Tobea dan Pulau Renda di Kabupaten Muna, tempat yang belum pernah aku kunjungi. Menurut petunjuk rekan-rekan yang sudah pernah kesana, pesawatku dari Jakarta akan transit terlebih dahulu di Makassar baru menuju Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Dari Kendari aku akan menempuh jalan darat yang cukup lama ke pelabuhan di Konawe Selatan, kemudian menyeberang ke pulau yang dituju.

Hari itu 15 Juli 2014, Shubuh pun belum sampai, taksiku sudah menuju bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Sahur aku lakukan di Bandara, daripada ketinggalan pesawat aku lebih memilih datang pagi-pagi ke Bandara. Jam 5.40 WIB panggilan boarding sudah berkumandang, segera kutenteng ransel dan tas yang berisi peralatan dokumentasi mulai dari handycam, kamera mirrorless, sampai kamera pocket, yang aku masukkan ke dalam dry bag, tak lupa kupasang cover bag untuk melindungi ranselku. Maklum, seminggu di laut, mendingan orangnya yang kebasahan daripada peralatan elektroniknya 😀

Selamat Datang Di Kendari

i love the blue of Indonesia

i love the blue of Indonesia

Pukul 06.10 WIB pesawat yang aku tumpangi mulai membumbung ke angkasa. Perjalanan ke Kendari plus transitnya ini diperkirakan memakan waktu hampir lima jam. Maksud hati ingin tidur selama di angkasa, ndilalah pemandangan matahari terbit dan gugusan pulau-pulau di bawah begitu cantik untuk dilewatkan, jeprat jepret dulu sebelum tidur pun dilaksanakan.

indahnya sunrise dari balik jendela pesawat

indahnya sunrise dari balik jendela pesawat

Pukul 11.40 WITA, waktu Kendari, aku mendarat di bandara Haluoleo. Dan selama di pesawat dari Makassar menuju Kendari, ternyata aku duduk bersebelahan dengan dosen Universitas Haluoleo yang paham ihwal penanaman rumput laut. Sesi menimba ilmu selama dalam pesawat pun terlaksana. Memang ya, kalau kita udah niat, bahkan semesta pun berkonspirasi untuk mewujudkannya 🙂

Dari Bandara menuju pusat kota Kendari membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Selama dalam perjalanan aku melihat banyak pembangunan disana-sini. Ada tujuh jembatan yang dibangun dalam waktu bersamaan sepanjang perjalanan dari bandara menuju pusat kota Kendari, jalanan terlihat berdebu.

Datang ke Kendari rasanya seperti pulang ke kampung halamanku, Malang. Banyak pepohonan di sepanjang jalan, dan tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Kota Kendari memang tidak seglamour Makassar, bahkan pesawat yang mendarat kebanyakan pesawat perintis atau explore. Temanku yang aseli Kendari bahkan berkelakar, ibu kota propinsi rasa kecamatan. Hey, but i like it!

Di bandara Haluoleo bahkan aku sempat melihat burung raptor elang terbang bebas. Hal ini menandakan habitat di sekeliling bandara masih banyak pepohonan, mudah-mudahan burung-burung tersebut tidak tertabrak oleh pesawat udara ^_^

Aku menginap semalam di Kendari sambil menunggu kedatangan bibit rumput laut dari Gorontalo. Makanan khas yang patut dicoba saat kita di Kendari tentunya ikan bakar dan sagu. Di rumah makan yang aku datangi ada sejenis gorengan yang sangat enak di lidah, saat aku tanyakan kepada pemilik restoran bahan utama pembuat gorengan tersebut ternyata terong. Cobalah saat berkunjung ke Kendari, gorengan sehat.

Keesokkan harinya bibit yang ditunggu-tunggu datang juga via kargo udara dari Makassar. Segera kamera dan videoku beraksi mendokumentasikannya. Bahkan aku sempat memotret kargo-kargo lain semacam kucing Persia yang didatangkan dari pulau Jawa, Semarang. Kucingnya saat keluar dari kandang kargo tampak stress karena berada terlalu lama dalam kandang 😀

Island Hoping Begin

Pukul  17.00 WITA, wohoo, saatnya island hoping dimulai. Dari bandara, kami (maksudnya saya dan seorang kawan dari yayasan lokal di Kendari) berkendara selama kurang lebih tiga jam melalui perbukitan yang indah menuju pelabuhan Matabubu, di kecamatan Lainea, kabupaten Konawe Selatan. Jangan ditanya soal akses jalannya, alamak ja, sungguh daerah yang jauh dari pulau Jawa fasilitas jalannya tidak begitu bagus. Tampak lubang disana-sini yang memadai untuk memelihara ikan di tengah jalan, tak cuma lubang, bahkan banyak jalanan yang masih berupa batu.

hujan itu membawa pelangi

hujan itu membawa pelangi

 

Yang paling indah selama perjalanan adalah: bisa melihat pelangi yang indah di Kendari. Tak hanya satu, namun dua. Maklum selama hidup di kota, sudah lama aku tidak melihat pelangi. Rasanya berjuta 🙂

 

 

Pukul 20.00 WITA, kami sampai di pelabuhan Matabubu, dan segera menyeberang ke pulau Tobea. Malam itu laut sedang surut jadi kami harus berjalan kurang lebih 300 meter untuk sampai ke perahu kami. Jangan dibayangkan itu perahu motor yang mewah. Kapal itu benar-benar kapal nelayan kecil milik suku Bajo yang muat untuk barang-barang kami dengan tutup terpal di atas kepala, sebutan untuk kapal nelayan itu body.

Perjalanan dari Matabubu menuju pulau Tobea, pulau yang asing di telinga itu, kurang lebih memakan waktu dua jam. Ombak tidak terlalu tinggi, pun yang bertiup saat ini menurut nelayan yang membawa kami adalah musim angin timur. Beruntung aku tidak memiliki kecenderungan mabuk perjalanan, yang ada malah aku tertidur sepanjang perjalanan, terasa seperti ayunan. 😀

Hallo Tobea!

Kami sampai di Tobea kurang lebih pukul 10 malam, dan disambut oleh Bapak Sekdes Desa Wangkolabu. Bibit rumput laut segera dibongkar dan direndam dalam air laut untuk menjaga kesegarannya.  Bibit tersebut sudah terlalu lama di dalam kargo, perendaman berfungsi untuk mengembalikan asupan air bagi rumput laut. Karena kami membawa dua varietas yang berbeda, perendaman bibit tidak dicampur, dipisah berdasarkan jenis bibit  masing-masing dalam jaring-jaring yang besar.

Kamis pagi, tanggal 17 Juli 2014, Bapak Sekdes Wangkolabu mengajak kami untuk berkeliling pulau dan mengecek salah satu lokasi demplot penanaman rumput laut via jalan darat menggunakan motor.Selama dalam perjalanan pak Sekdes menjelaskan ihwal pulau Tobea.

memanen rumput laut

memanen rumput laut

Dulunya pulau Tobea adalah daerah perkebunan kelapa sawit, dan baru saja menerima kemerdekaan dari perkebunan tersebut sekitar sepuluh tahun ke belakang. Selain Kelapa sawit, pulau Tobea dulu juga terkenal dengan budidaya rumput laut yang sekarang sedang mengalami masa suram, serta produksi kacang mete. Kacang mete Tobea biasanya dijual di Buton dan memiliki kualitas nomor satu. Ngomong-ngomong dari Tobea kita bisa melihat daratan Buton dengan jelas lho.

hallo Buton!

hallo Buton!

Hewan yang hidup di Tobea kebanyakan adalah kucing, sapi, dan seekor Anjing. Anjing tersebut bahkan diimpor dari pulau sebelah. Tidak seperti pulau lain yang banyak dihuni babi hutan, Tobea bersih dari hewan yang suka merusak tanaman tersebut. Desa Wangkolabu sendiri artinya banyak labu, dulu, sekarang sih sudah jarang.

Penduduk pulau Tobea kebanyakan adalah suku Bajo yang mahir dalam berenang dan navigasi laut. Kemampuan membuat kapal pun jangan diragukan lagi. Sejak bayi, kanak-kanak suku Bajo sudah diajari caranya berenang di laut. Aku yang tidak pandai berenang jadi bulan-bulanan tertawaan mereka. Ya nasib 😀

Sekolah di Tobea hanya sampai jenjang SMA, apabila anak-anak suku Bajo ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang Universitas, mereka harus pergi ke daratan Sulawesi Tenggara. Yang paling terkenal tentu saja Universitas Haluoleo.

pemukiman di Tobea

pemukiman di Tobea

kulit kima raksasa

kulit kima raksasa

Rumah-rumah penduduk Bajo kebanyakan berstruktur panggung dan terbuat dari kayu. Baik itu kayu bakau ataupun kayu besi. Struktur panggung ini dikarenakan daratan pulau mereka apabila pasang datang tergenang oleh air laut. Aku bahkan menemukan kulit kima raksasa di tengah hutan yang membuktikan bahwa dulunya daratan pulau ini kemungkinan besar dulunya laut. Nah untuk membangun rumah pun mereka mengandalkan kuncian sudut pada pasak-pasak tiang bukannya paku. Atap rumah mereka pun masih banyak yang berasal dari rumbia.

Sebagian besar masyarakat Tobea menggantungkan air bersih mereka dengan menadah hujan, bagi masyarakat yang kaya bolehlah mereka membangun sumur bor. Penerangan dan listrik hanya menyala mulai pukul enam sore hingga pukul lima pagi, jadi saat siang hari anak-anak bebas invasi sinetron dan telenovela. Dan penggunaan sumur bor juga baru bisa dilaksanakan saat listrik sudah menyala. Oleh karena itu penduduk desa memiliki tandon air bagi masing-masing rumah.

Tidur di rumah yang di kelilingi laut sungguh sangat nyaman bagiku, udara masuk bergiliran dari sela-sela lantai papan dan dinding kayu. Yang tidak tahan nyamuk bolehlah tidur berkelambu atau menggunakan baju yang menutupi seluruh tubuh saat beraktivitas. Jangan lupa rasakan juga sensasi wc gantung di pulau Tobea, plung, langsung masuk ke lautan 😀

Saat saya sampai di tempat yang dimaksud, saya sungguh terpana. Mamak, indah kali tanah air beta yang bernama Tobea ini, serasa ada di surga! Hamparan pasir putih dengan panjang kurang lebih 3 KM dijamin bisa bikin kurus kalau kita olahraga satu jam saja di atasnya. Pantai yang kami kunjungi sangat landai, dan saat surut bergini, jarak dari ujung saya berdiri hingga ujung lautan kurang lebih 800 meter. Sepanjang garis pantai ini ditumbuhi oleh kayu besi. Tahu begini ceritanya bawa hammock deh dan dipasang diantara pepohonan.

surga itu bernama Tobea

surga itu bernama Tobea

diantara gurun pasir lautan

diantara gurun pasir lautan

Karena penasaran ingin memotret burung bangau, aku pun bermanuver menuju kumpulan pohon bakau. Menurut pak Sekdes daerah tersebut rumahnya para bangau, tapi saat ini bangaunya sedang tidur siang. Tidak ketemu dengan bangau, aku malah ketemu dengan burung welcome bier. Susah banget motret burung itu, aku mendekat eh burungnya lari menjauh. Ya sudahlah, karena panas yang menyengat dan dalam kondisi puasa, aku menyerah mengejar burung-burung itu di hamparan pasir pantai.

Pak Sekdes Wangkolabu juga bercerita bahwa Tobea juga menyimpan potensi keindahan terumbu karang, tidak kalah jika dibandingkan dengan kepulauan Wakatobi. Beberapa diver yang sudah singgah di Tobea menyatakan hal yang sama kepada pak Sekdes. Hanya saja masyarakat Tobea masih harus mendapat penyuluhan tentang bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sekitar dan sadar pariwisata.

Mari Merangkai Tali di Lautan

Sore harinya tugas dokumentasi kembali menunggu, kelompok petani rumput laut rencananya akan memasang tali utama yang nantinya dipergunakan untuk menanam rumput laut dengan kedalaman yang berbeda. Adapun lokasi demplot tersebut memiliki kedalaman kurang lebih 15 meter. Tempat ini dipilih berkaitan dengan arus air laut.

Para lelaki suku Bajo dengan gagah dan berani turun menyelam ke dalam laut. Ada yang menggunakan kompresor dan selang yang digigit plus kacamata renang, ada juga yang tak memakai alat apapun hanya berbekal kacamata renang tersebut. Gerakan mereka sangat lincah, seperti lumba-lumba. Naik turun di berbagai kedalaman nampaknya gampang saja buat mereka.

Setelah memasang empat buat tali utama yang diikatkan pada batu di kedalam 15 meter selama kurang lebih tiga setengah jam, kami pun berkemas dan membagi bibit menjadi dua bagian yang nantinya akan ditanam di pulau Renda. Seusai berbuka puasa dengan kolak pisang hijau, kami bertolak ke pulau Renda yang berjarak satu jam perjalanan laut dari pulau Tobea.

siluet senja dan membagi bibit

siluet senja dan membagi bibit

%d blogger menyukai ini: