JALAN KITA BERSILANGAN KARENA SUATU ALASAN

29 Jan

JALAN
KITA BERSILANGAN KARENA SUATU ALASAN

 

January, 29th, 2008

Aku sedang membaca tanda. Aku
membaca birunya langit setelah hujan deras membasahi bumi. Aku membaca
kebahagiaan setelah kesedihan. Aku membaca hangatnya matahari setelah dinginnya
malam, dan aku membaca tanda akan harapan di setiap mata orang yang berlalu
lalang. Aku membaca tanda dalam setiap kelebatan langkahku.

Pernahkah kita sadari, kawan…bahwa
dalam gelapnya malam ada bulan dan bintang-bintang yang bertugas menghiasi
langit sekaligus berfungsi sebagai penanda jalan? Mereka indah bukan? Pernahkah
kita sadari juga, bahwa sebenarnya kita berada dalam persimpangan jalan scenario
hidup setiap manusia?

Aku menyadari, kawan…dalam
keseharianku, dalam rutinitasku, akhirnya tercipta sebuah pola. Pernahkah
kalian juga menyadarinya, kawan? Setiap kita berangkat ke kantor dengan
menyusuri jalan yang itu-itu juga, maka kita pun akan bertemu dengan
orang-orang yang sama, rekan seperjalanan kita, yang mencoba mengejar nasibnya
masing-masing. Pernahkah kalian perhatikan juga senyum mereka hari ini ataupun
tegap langkah mereka hari ini?

Aku pun tersenyum. Hidup mungkin
akan terasa menjemukan saat kita mengulangi rutinitas yang sama setiap hari.
Dan dengan membaca tanda, aku kembali menyadari (ini adalah salah satu
pelajaran saat kanak-kanak yang terlupakan seiring dengan kecongkakkanku terhadap
waktu dan kesibukan). Bahwa selalu ada yang baru dalam rutinitas yang terjadi.

Dalam perjalananku, aku melihat
perkembangan bunga rumput dari hari ke hari. Dari kuncup, mekar, mati, dan
digantikan oleh bunga rumput yang lain. Aku melihat perkembangan janin dari
bulan pertama saat dia dinyatakan ada sampai dia dilahirkan, and I watch them
grow. Kawan, selalu ada keindahan dalam setiap peristiwa, dan aku percaya
peristiwa-peristiwa itu terjadi bukan karena kebetulan. Tidak pernah ada
kebetulan di dunia ini.

Jalan hidup kita bersimpangan
dikarenakan suatu alasan. Meskipun kadang-kadang kita tidak tahu apa alasan-alasan
itu. Contoh nyatanya antara lain: Beberapa tahun yang lalu, setelah hampir 4
tahun kepindahanku ke Bandung, mama belum pernah sekalipun menengokku. Atau
lebih tepatnya belum bisa. Kemudian Mama berangkat menunaikan ibadah haji
sambil bertugas menjadi petugas paramedis di tanah suci.

Pada suatu hari saat mama sedang
ada di sebuah rumah sakit di Jeddah, mama menolong seorang bapak dan ibu yang
tiba-tiba jatuh sakit. Kloter mereka jauh berbeda. Mamakupun bertanya, “ibu, asalnya
darimana?” Ibu itu pun menjawab, “saya dari Bandung, dari Cimahi”. Mama pun
membalas, “Oo saya punya adik di Cisarua, Cimahi. Anak saya pun kuliah di
Bandung, Jatinangor. Saya dari Malang”. Tiba-tiba ibu itu berkata, “Apa nama
anak ibu itu Devi, dan tantenya perawat di RSJ Cisarua?”. Mama terkejut, “ Lho
kok ibu tahu?”. “Iya, saya ibu kostnya Devi, nama saya ibu Irom”, ibu itu
menjawab.

Seketika itu juga meledaklah
tangis mama. Di negeri antah berantah, bertemu dengan orang yang tidak terduga,
Mama bilang itu adalah kebetulan yang luarrr biasa….Ibu Irom berkata, “Saya
kira Devi tidak punya orangtua. Habisnya dia tidak pernah dijenguk orangtua, seperti
teman-temannya yang lain”. Mama kemudian berkata, “saya ada,…saya masih hidup”.
Dan dalam tangisnya Mama beristigfar, “Ya Allah, maafkan aku….Aku tahu ini
teguran bagiku karena tidak pernah menyempatkan diri menemui anakku di Bandung”.
Setahun kemudian mama akhirnya datang ke Bandung karena aku dalam keadaan
kritis karena terserang Tipus dan Demam Berdarah Tipe II dalam waktu yang bersamaan.
Mama akhirnya datang menjengukku.

Itu baru satu, kawanku. Pernahkah
kalian mendengar cerita tentang seorang perawat yang akhirnya menemukan
orangtua kandungnya yang telah dicari selama 30 tahun lebih hanya karena dia mengundurkan
waktu pergantian shiftnya selama 30 menit? Dan dia berbaik hati membantu rekannya untuk
menolong  korban kecelakaan yang tak lain dan tak bukan adalah orangtua
kandungnya. Hidup ini ajaib bukan, kawan?! Dan aku percaya pada keajaiban….

Waktu ini Nisbi, kawan.
Perhitungan waktu kita dengan waktu Sang Pencipta berbeda adanya. Pernahkah kau
sadari, kawan…bintang-bintang yang sering kita lihat di malam hari, cahayanya
adalah sinar yang mereka pancarkan ribuan tahun yang lalu. Kenapa? Karena
bintang-bintang itu sendiri jaraknya ribuan tahun cahaya. Dan cahaya mempunyai
batas dalam kecepatannya. Ck…Ck…tak dapat kubayangkan betapa cepatnya Buraq
yang sanggup menembus tujuh langit dalam satu malam. Luar biasa!

Waktu ini nisbi, kawan. Kalau
kita umpamakan dengan teori penciptaan semesta dalam satu hari, manusia itu
munculnya beberapa menit sebelum tengah malam. Dan beberapa menit kemudian,
sudah waktunya bagi manusia untuk menghilang. Lalu apakah kau percaya pada
keajaiban, kawan? Aku percaya….

Aku sedang membaca tanda. Aku
tidak tahu apakah aku sudah membaca tanda-tanda di sekelilingku dengan benar.
Sama halnya aku tidak tahu dengan siapa jalanku akan bersilangan hari ini ataupun
esok hari.

 

Membaca Tanda “The Kite Runner”:

Kami
pernah melakukan dosa dan pernah berkhianat. Tetapi baba telah menemukan cara
memacu rasa bersalahnya untuk mewujudkan kebaikan. Lalu aku ..apa yang sudah
kulakukan, selain melampiaskan rasa bersalahku pada orang yang sama yang telah
kukhianati, lalu berusaha melupakan semuanya? Apa yang telah kulakukan selain
menjadi penderita insomnia? Apa yang telah kulakukan untuk meluruskan keadaaan?

“Rabb,
tak ada yang lebih nista selain mengkhianatiMU dan mengkhianati diri sendiri.
Dan akupun tahu KAU selalu melihat usahaku, Tuhan….Usahaku untuk terus hidup…”

Yang
paling menyentuh diantara semuanya adalah saat Rahim Khan berujar: SELALU ADA
JALAN UNTUK KEMBALI MENUJU KEBAIKAN.

Tuhan
itu ada, dan selalu ada. Aku melihatNYA disini, dalam mata orang-orang yang ada
di koridor keputusasaan ini. Di sinilah rumah Tuhan yang sebenarnya, di tempat
inilah orang-orang yang telah kehilangan Tuhan akan menemukanNYA kembali. Bukan
di dalam masjid dengan kilau cahaya seterang permata, dan menara-menara
kepongahan yang menjulang tinggi.

“Aku pun menangis saat membaca begitu banyak anak-anak Afghan yang menderita.
Bukan salah mereka….Bukan salah mereka untuk mengalami semua hal yang meruntuhkan
harga diri serta martabat!!”

Devi R. Ayu.

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: