Tag Archives: culture

Dieng Plateu – Wonosobo: Menyusuri Akar Keluarga di Tempat Tertinggi ke Dua di Dunia

24 Okt

Setelah Nepal, tempat tertinggi itu ada di Indonesia. Namanya Dataran Tinggi Dieng. Suatu tempat di Jawa Tengah yang melimpah ruah hasil pertaniannya. Suatu tempat yang salah satunya jadi asal muasal keluarga saya. Tempat dimana lidah akan dibuai mesra oleh penganan bernama kentang goreng, purwaceng, dan carica 🙂

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Welcome to Dieng!

Terbagi atas dua kabupaten, Banjarnegara serta Wonosobo, Dieng menyimpan berbagai kekayaan budaya. Dieng Kulon masuk wilayah Banjarnegara, sedangkan Dieng wetan masuk wilayah Wonosobo. Perhiasan mata di wilayah Dieng ini adalah pegunungan Sindoro – Sumbing. Uniknya lagi adalah homestay yang saya tempati selama di Dieng masuk wilayah Banjarnegara, sedangkan tempat wisata yang banyak saya kunjungi masuk ke wilayah Wonosobo. Sekali jalan, dua kabupaten terlewati.

Perjalanan ke Dieng juga bukan sesuatu yang saya rencanakan, hanya menyambut ajakan seorang kawan lama. Pada pertengahan Oktober 2014 lalu saya pun mengunjungi kampung halaman kakek buyut saya dari pihak ibu. Sebelumnya tidak pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di Dieng.

Yang paling “dodol” dalam perjalanan kali ini adalah, saya tidak tahu sama sekali kalau pagi pagi buta rombongan akan menanjak ke bukit Sikunir untuk menyambut matahari terbit, dalam arti kata perbekalan yang saya bawa tidak untuk menembus udara dingin pagi dan menanjak gunung. Akhirnya malam hari setelah sampai di Dieng saya segera berbelanja topi penghangat, sarung tangan, serta kaos kaki untuk perjalanan esok pagi 😀

Saat saya turun dari bukit Sikunir, setelah melihat sunrise, kurang lebih pukul setengah tujuh pagi, pemandangan kaki bukit adalah danau yang indah ala Eropa serta barisan pengamen bersuara merdu dengan berbagai alat musik. Ah, dalam hati diam-diam saya menyapa kakek buyut saya yang sudah meninggal, “Kakek, indah nian tempatmu berasal”. Akhirnya usai minum teh hangat dan mencicipi mendoan ala karesidenan Kedu ini, kami pun pulang ke homestay untuk mandi dan melanjutkan trip ke tempat-tempat lain, tempat dimana beberapa waktu yang lalu mungkin kakek buyut saya sempat menginjakkan kakinya sebelum merantau ke Malang.

Oya, kalau Anda ke Dieng, pastikan tempat-tempat berikut Anda kunjungi. Saya sudah kesana, jadi ini rekomendasi buat Anda:

  1. Kawah Sikidang
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Narsis di Kawah, untung ga meletus 😀

Di bawah Kawah Sikidang adalah dapur magma, asap yang mengebul dari lubang-lubang kawah serta bau belerang sebagai buktinya. Dapur magma ini menghasilkan panas dan energi dengan tekanan yang sangat kuat. Apabila tekanan ini mencapai puncaknya, maka akan terjadi letusan dan terbentuk sebuah kawah baru. Nama Sikidang diambil dari kata “kidang” yang berarti kijang. Keunikan kawah ini adalah kawah utamanya selalu berpindah, seolah meloncat mencari tempat baru. Lubang besar tepat di bagian depan kompleks adalah bekas kawah utama sebelum dia merasa “bosan” dan meloncat berpindah ke lubang yang lain.

Sewaktu saya berkunjung ke sana, saya melihat pipa-pipa penyaluran geothermal untuk pembangkit tenaga listrik melintang di sana-sini. Plus graviti yang merusak mata, serta anak muda yang berlatih motor cross di sekitar wilayah kawah. Ada baiknya pendidikan lingkungan digalakkan ke masyarakat, ngapain jauh-jauh melihat pemandangan alam kalau cuma mau ngerusak keindahannya dengan graviti.

2. Candi Arjuna

SONY DSC

Ga dapat foto yang bagus, ngambil dari foto orang..hahahah..cek di coretanpetualang.wordpress.com ya

kompleks Candi Arjuna yang merupakan salah satu candi tertua di Jawa. Di dalam kompleks ini hanya tinggal 5 candi berusia lebih dari seribu tahun yang masih berdiri dengan kokohnya. Kompleks candi Arjuna diperkirakan dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini terlihat dari adanya Lingga dan Yoni di dalam candi utama, serta arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya di relung-relung bangunannya.

Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Berbeda dengan candi-candi lain yang sebagian besar ditemukan terpendam di dalam tanah, candi-candi di dataran tinggi Dieng ini pada waktu itu terendam air rawa-rawa. Proses pengeringan dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Entah siapa yang memberi ide, candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna, yang berhadapan dengan candi berbentuk memanjang dengan atap limasan yang sering disebut sebagai Candi Semar.

3. Menyambut sunrise di Sikunir

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sunrise yang cukup dramatis di Sikunir

Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan pada ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut. Melihat matahari dari Sikunir cukup istimewa karena berlatar belakang pegunungan Dieng dan Gunung Sindoro. Tapi apabila ingin lebih istimewa lagi,, bisa dicoba melihat sunrise dari atas gunung perahu.

4. Dieng Theater

Theater Mini yang terletak di bukit Sikendil dengan bentuk Bangunan yang didesain klasik dan berkapasitas 100 tempat duduk. Dieng Theater dilengkapi dengan sistem audio visual yang memadai sehingga para wisatawan dapat melihat pemutaran film tentang sejarah Dieng serta obyek yang ada di Dataran Tinggi Dieng dengan  durasi kurang lebih 23 menit.

5. Talaga Warna

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Talaga warna bernuansa Eropa

Nama telaga Warna sendiri diberikan karena fenomena alam unik yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah. Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari menimpanya, warna telaga nampak berwarna warni. Telaga Warna berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut

6. Talaga Menjer

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Telaga Menjer dan perahu yang disewakan

Telaga ini berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, dengan luas 70 hektar dan kedalamannya mencapai 45 meter. Di sekitar telaga ini terdapat pepohonan pinus yang rimbun sertabukit-bukit hijau yang memagari telaga. Pengelola Telaga vulkanik Menjer yang terletak di kaki Gunung Pakuwaja ini menyediakan beberapa kapal kecil yang siap mengantar pengunjung mengelilingi seluruh telaga.

Eat and Friendship: Cita Rasa India ala Hotel Indonesia Kempinski

8 Okt

Signage Colours of India

Signage Colours of India

Dinner, tanggal 7 Oktober 2014!” Begitu isi perjanjian saya dengan Felicia, sahabat saya yang notabene blogger juga dalam rangka menikmati suguhan “colours of India” Hotel Indonesia Kempinski. Kami mendaftar di bulan September sebagai salah satu blogger yang nantinya me-review cita rasa makanan India di hotel Kempinski Jakarta.

Hari yang dinanti akhirnya datang, kami berjalan dengan sangat pede menuju Signatures Restaurant. Signage Colours of India sudah dipasang di pintu masuk restoran. Suasana India langsung mengakrab kental, bagaimana tidak, selepas pintu masuk kami langsung disambut ornamen dan musik India. Ada pohon Diwali yang menjadi simbol program bantuan kepada SD Pembangunan Masyarakat di daerah Gunung Sahari berdiri gagah depan pintu serta senyuman hangat dari petugas restoran yang menyapa kami.

Bertemu Sahabat

Setelah proses cek nama, petugas hotel mengantar kami ke ruangan makan, seraya berjalan sang petugas hotel berbicara, „kami buka lho blognya kalian satu-persatu. Hari ini juga ada blogger lain yang datang, namanya mas Teguh, kalian kenal ga?“. Hampir kesedak rasanya, pikiran saya langsung berbunyi „haduh tulisan-tulisan aneh saya itu kebaca ga ya?“ 😀

Saya edarkan pandangan ke meja di tengah ruangan, benar saja, mas Teguh yang dimaksud itu adalah mas Teguh teman saya, dedengkotnya travel writer. Kami pun menyapanya, „Kebetulan apa yang membuat kita bertemu hari ini?“ Meja untuk tiga orang pun segera penuh terisi.

Ini pertama kalinya Felicia berkenalan dengan mas Teguh, tapi tampaknya langsung akrab, seolah-olah sudah lama kenal. Sebentar saja sudah ketawa-ketiwi, bisa jadi karena ambience yang dibawa restoran juga.  Petugas restoran kemudian menghampiri kami untuk menata alat makan, memasangkan serbet, serta menawarkan minuman. Saya memesan juice strawberry dan teh tarik hangat, yummy. Segarnya juice strawberry asli langsung me-recharge dahaga saya 🙂

Hasrat ingin memotret pun langsung timbul setelah melihat dekorasi unik makanan dan restoran, tapi kami putuskan untuk makan dulu baru kemudian memotret. Segera kami menuju meja buffet untuk memilih appetizers. Saya memilih roti pitta, tiga macam saus salad, Babaganoush Salad, dan Antipasti. Saat mengambil appetizers saya tidak tahu apa Antipasti itu, karena penasaran dicomot saja 😀 Dan kami segera kembali ke meja makan.

Appetizer Buffet

Appetizer Buffet

Pelajaran yang kami ambil saat mengambil appetizers itu adalah, bawalah kameramu, karena nama makanan India susah dihapal jadi lebih baik kita potret saja supaya tidak lupa. Begitu ada kesempatan memotret, potret saja…hehehehe.

Ini lho yang namanya Antipasti

Ini lho yang namanya Antipasti

Kembali ke appetizers, roti pitta nya sudah agak dingin, biasanya kalau masih hangat terasa lebih lembut saat digigit. Saus salad yang kami ambil sangat terasa sekali rempah-rempahnya, terutama yang berwarna putih, lidah saya merasakan sensasi yoghurt sebagai bahan pembuatnya. Yang jadi favorit saya untuk appetizers adalah Antipasti, makanan yang tidak saya kenal tadi. Antipasti ternyata sayuran yang dibakar. Isi Antipasti antara lain wortel, bawang bombay dan juga terong yang tampaknya direndam dulu dalam bumbu sebelum dibakar dan diberi taburan rempah-rempah di atasnya. Harus coba sendiri supaya tahu gimana enaknya, tanpa minyak lho, jadi baik buat yang berdiet 😀

Andaikan Masakan di Panci itu Bisa di bawa Pulang

Aneka Bumbu

Aneka Bumbu

Ronde pertama makan malam kami selesai tanpa terasa, riuh rendah tawa “traveler bocor”, kalau kata mas Teguh, mengisi suasana. Ada aja yang diobrolin seru, makan malam bersama sahabat kali ini terasa sangat menyenangkan. Nah sudah saatnya menyantap main course. Feli memilih menu ala vegetarian, saya sendiri hajar bleh aja, kapan lagiiii bisa makan aneka rupa makanan india dari berbagai daerah dalam satu tempat seperti ini.

Saya mengambil nasi briyani, Poori (sejenis roti goreng tipis yang renyah); sayur labu merah atau “Khatta Mitha Sitajhare”; kacang-kacangan berwarna kuning atau sering disebut lentils yang dicampur dengan bayam, namanya “Dal Palak Masala”; serta kari sayur kentang.

My main course

My main course

Tampaknya saya lebih menyukai Poori daripada Pitta, efek suka gorengan yang kriuk-kriuk mungkin ya, orang Indonesia gitu lho :D. Nasi Briyaninya menurut saya cukup “lekker”, campuran rempah dan udangnya sangat terasa. Yang jadi favorit saya malah sayur labu merah “Khatta Mitha Sitajhare”, dan chicken curry hasil icip-icip dari piring mas Teguh. Campuran manis dan asam labu merah serta rempah-rempah bener-bener bikin lidah bergoyang. Pengennya sih satu panci “Khata Mitha Sitajare” di restoran itu bisa dibawa pulang 😀

Ronde kedua makan malam selesai, saatnya mencoba hidangan dessert. Petugas restoran yang baik hati menanyakan bagaimana rasa makanan di restoran, kami pun mengecap enak, dan pengen sekali rasanya bisa ngobrol langsung dengan chef-nya yang aseli India. Wuihhh boleh lhooo sama petugasnya, dan nanti chefnya yang akan mendatangi kami. Ahhh senangnyaaaa….

Rupa-Rupa Masakan India

Chef Ashwahi Kumar

Chef Ashwani Kumar

Tak berapa lama Chef Ashwani Kumar Singh pun mendatangi meja kami. Doi Chef terkenal, sudah 16 tahun malang melintang di dunia kuliner India dan memenangkan penghargaan Chef terbaik. Kami langsung berdiri menyambutnya, orang beken gituh, tapi dengan sangat rendah hati beliau menyilakan kami untuk duduk kembali. Blogger kepo seperti kami pasti bakal banyak nanya ya, dan sang Chef langsung diberondong pertanyaan.

Chef Ashwani Kumar menceritakan bahwa ada 17 jenis masakan berbeda setiap harinya yang dihidangkan di Hotel Kempinski Indonesia selama „Colours of India“, bahkan menu hidangan pagi, siang, dan malam pun berbeda. Masakan India yang disuguhkan merupakan campuran dari bagian utara di Tandoori, masakan berempah-rempah kuat dari wilayah timur, serta lezatnya nasi briyani di bagian selatan India. Hari Sabtu tanggal 11 oktober nanti bahkan akan dimeriahkan oleh tari-tarian India, minuman India, serta masakan pesisir India. Aduh pengen datang lagiiiii….

Nah bagaimana sih caranya membedakan asal daerah makanan India yang kami makan. Menurut Chef Ashwani Kumar, sebenarnya masakan India dibedakan atas empat musim dan waktu penyajian. Contohnya saat musim dingin, orang-orang cenderung makan daging supaya badannya tetap hangat. Sedangkan saat musim panas, orang-orang akan banyak memasak menggunakan mentimun untuk mengatasi dehidrasi saat musim panas. Untuk jenis makanan sendiri, makan pagi cenderung lebih berat daripada makan siang ataupun makan malam.

Chef menambahkan India bagian utara memang cenderung menggunakan yoghurt dalam masakan mereka. Sedangkan India bagian timur terkenal dengan kue-kue manisnya. India bagian selatan sangat terkenal dengan aneka ragam masakan nasi-nya. Tentu disinilah tempatnya nasi briyani yang paling popular. Adapun India bagian barat terkenal masakan dengan masakan pesisir dan pegunungan, serta masakan vegetarian yang akan dilaksanakan demo masaknya tanggal 11 Oktober mendatang.

Selesai bercerita Chef Ashwani Kumar kami geret ke meja buffet untuk foto bersama. Lumayan lah selfie-selfie dikit 😀 Terima kasih ya Chef atas informasinya.

Dessert Yang Manis

Nariyal and Kajoor Ka Gujja

Nariyal and Kajoor Ka Gujja

Selepas foto bersama saya segera mengambil hidangan dessert. Ada empat jenis makanan yang saya ambil yaitu kroket yang berisi sayur-sayuran, Tandoori Pineaple, “Nariyal and Kajoor Ka Gujja”, serta yang terakhir “Kaache Aam Ki Kher”. Makanan apakah itu?

Udah pasti tahu lah ya yang namanya kroket sayuran, enak dan saya suka. Nah kalau Tandoori pineapple itu potongan nanas yang dibakar menggunakan rempah-rempah. Enak pake bangettt.. favorit saya untuk dessert ya Tandoori pineapple ini. Adapun Nariyal – Kajoor Ka Gujja adalah pastel yang diisi kelapa dan kurma, buat saya sih terlalu manis. Sedangkan Kaache Aam Ki Kher itu adalah pudding mangga tapi berbentuk cair dan ada campuran kayu manisnya. Rasa pudding mangga cair ini pas buat saya, tidak terlalu manis, kan saya-nya sudah manis (halah..ga penting; ;p).

Selesai menyantap dessert, lembar feedback restoran pun diberikan kepada kami oleh petugas restoran. Baru kali ini antusias ngisi lembar feedback, soalnya ngarep bisa nemuin minuman India tapi ternyata hanya satu hari aja nanti di hari Sabtu. Kami pun me-request kehadiran minuman India kalau ada acara makan-makan lagi, hehehehe.

Sebelum pulang, foto-foto selfie dulu dong dengan petugas hotel dan Signatures Restaurant. Habisnya pakaian mereka bagus sih, ala ala India gitu lho, plus pelayanan mereka sangat baik dan ramah. Selesai berjabat tangan kami pun melambaikan tangan untuk pulang. Hari ini menjadi kebetulan yang sangat menyenangkan, bisa makan malam bersama sahabat dengan menu India yang lezat 🙂

signatures restauran

Signatures Restauran

Oya buat yang ingin menikmati hidangan Signatures Restaurant – Hotel Indonesia Kempinski silakan menghubungi 021 – 2358 3898 atau signatures.jakarta@kempinski.com.

%d blogger menyukai ini: