Archive | The Magic Of Science RSS feed for this section

Money Can’t Buy Everything

5 Agu

Pernahkah berpikir bahwa Indonesia suatu hari nanti hanya akan menjadi kota mati dan dipenuhi besi, dimana semua orang bertarung mati-matian hanya untuk mencari sesuap nasi atau seliter bensin? Tampaknya hal itu akan menjadi kenyataan. Kemarin lalu sempat membaca berita yang tertuang di salah satu harian terbesar di Ibukota bahwa dalam 30 tahun cadangan minyak bumi di Indonesia habis. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/27/20141288/Bahan.Bakar.Fosil.Habis.30.tahun.Lagi. Jangankan menunggu 30 tahun, perkiraan saya 20 tahun lagi pun akan terjadi chaos besar akibat kelangkaan minyak bumi dan bahan pangan, tak hanya di Indonesia namun juga berbagai negara di belahan dunia lain yang dikenal sebagai penghasil bahan bakar.

Apa sebab perkiraan tersebut, sebabnya antara lain Indonesia tidak mempunyai sumur minyak sendiri. Coba tanyakan pada Pertamina, adakah sumur minyak yang benar-benar dibawah kendali Pertamina? Jawabannya mungkin tidak akan transparan, namun sejujurnya sumur minyak Indonesia kebanyakan telah dikuasai negara asing dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran negara di luar Indonesia. Lalu apa yang tersisa bagi rakyat Indonesia nantinya? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Indonesia di masa depan, jika kita begitu bernafsu mengeksploitasi tanah air kita sendiri. Masih adakah masa depan untuk anak cucu kita kelak?

Faktor lain yang mendorong kita masuk ke jurang chaos lebih cepat adalah kebiasaan konsumtif masyarakat Indonesia. Bayangkan di tengah paceklik energi seperti ini yang kita sendiri tak tahu sanggupkah kita berpacu dengan waktu mencari energi alternatif, begitu banyak mobil berbahan bakar fosil yang terjual dalam pameran Motor Indonesia 2011 lalu http://www.dapurpacu.com/iims-2011-sudah-jual-9-780-unit-mobil/. Toyota saja sudah membukukan 7.000 unit penjualan. Akankah bahan bakar kita mencukupi untuk semua pertumbuhan kendaraan-kendaraan yang dari tahun ke tahun terus meningkat?

Bukan ingin menakut-nakuti, namun dari sisi pangan pun tak kalah mencekam. Semakin berkurangnya lahan pertanian dan beralih fungsinya kawasan subur menjadi hutan homogen serta kawasan industri dan perumahan cukup mengkhawatirkan buat saya. Sebab seiring dengan berubahnya iklim akibat pemanasan global yang mana dampak dari penggunaan bahan bakar fosil diluar batas, maka siklus pertanian pun tidak lagi seperti yang telah dipelajari oleh nenek moyang kita ratusan tahun lalu. Bayangan gagal panen akibat musim yang tak menentu serta kelaparan dekat dengan pelupuk mata saya. http://metrotvnews.com/read/analisdetail/2011/02/05/134/Perubahan-Iklim-dan-Ancaman-Krisis-Pangan-Dunia-. Apalagi seiring bertambahnya tahun, semakin bertambah pula jumlah penduduk di Indonesia. Ada semakin banyak manusia yang harus disejahterakan. Sanggupkah kita mencukupi kebutuhan pangan dengan minimnya lahan pertanian?

Begitupun chaos di negara-negara timur tengah yang kini marak terjadi. Sebagai penghasil bahan bakar fosil terbesar di dunia, negara-negara tersebut mulai digerayangi negara adidaya. Semua itu saya pahami bukan melulu soal demokrasi ataupun agama, seperti yang banyak digaungkan berita masa kini. Semuanya lebih kepada kepentingan atas hasil bumi yang terkandung di negara-negara tersebut, kepemilikan sumderdaya. Negara-negara di luar sana paham betul bahwa natural resources dan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, plus bahan makanan merupakan pengendali dunia di esok hari. Jika ingin menjadi superpower dan tetap eksis, maka mau tidak mau mereka harus mengamankan sektor-sektor yang membuat mereka bertahan menjadi negara adidaya.

Perkiraan saya setelah timur tengah yang akan dibikin Chaos selanjutnya adalah Indonesia, atau mungkin sudah. Kenapa? Sebab kita punya segalanya. Apa yang tidak bisa kita temui disini? Hasil bumi yang melimpah ruah, tanah yang subur, serta banyaknya sumberdaya air. Tidak akan kita temui lagi negara sekaya Indonesia. Chaos akan terjadi lagi di negara kita kalau kita tidak memperjuangkan sumberdaya kita secara sungguh-sungguh. Bukankah itu adalah modal terbesar kita atas tanah dan kedaulatan wilayah yang kita aminkan sebagai “merdeka”.  Disini saya juga benar-benar pahami, money indeed can’t buy everything. Kalau kita semua punya uang tapi kita tidak bisa membeli makanan ataupun minyak untuk sekedar bertahan hidup karena ketiaadaan barang, what will you do then?

Sekarang yang jadi pertanyaan bukanlah masalahnya. Cukup sudah kita ketahui bersama apa saja penyebabnya, yang harusnya jadi perdebatan hangat adalah solusinya. Ayo bangun masyarakat Indonesia, jangan terus-terusan tidur. What can we do for our future? What will we do to save our self and our country?.

 

Menurut hemat saya, solusinya bisa dimulai dengan mencari sumber energi alternatif yang membuat kita tak lagi bergantung hebat pada minyak bumi dan batubara. Sebisa mungkin berhemat atas jatah pangan dan bahan bakar yang kita miliki saat ini. Serta bagaimana kita bisa mengembangkan tanaman pangan yang dapat bertahan terhadap perubahan iklim. Tanaman yang anti gagal panen dan kuantitasnya sekali panen cukup banyak. Investasi di sektor pertanian bukanlah hal yang main-main untuk saat ini. Pun kita pun harus mulai memikirkan diversifikasi pangan. Tak hanya bergantung pada beras, tapi makanan-makanan lain yang mempunyai kemampuan menjadi bahan makanan pokok seperti jagung, sagu, gandum, dan sebagainya.

Mari bertahan hidup! Mari membuat perubahan di hidup yang saling terkoneksi satu sama lain ini. Ketidakseimbangan pada satu hal dalam siklus hidup kita, tentunya akan berimbas terhadap siklus yang lain. Bahan bakar dan bahan pangan adalah contohnya. Bahan bakar ini dulunya adalah benda hidup, keberadaannya yang berlebihan di muka bumi beribu tahun kemudian malah berimbas pada perubahan siklus kehidupan pada masa sekarang serta masa depan.

Jalan kita masih panjang untuk meraih semua solusi impian saya. Jalan yang panjang namun hanya tersedia waktu yang cukup singkat. Semoga kita semua bisa hidup lebih lama dan mempunyai masa depan. Semoga masa depan indah itu masih ada.

 

Jakarta dan kegalauan kami diantara roda, 5 Agustus 2011

 

#handline (Garis Tangan)

6 Jul

Dibawah adalah #kultuit saya di akun Twitter beberapa waktu lalu. Mudahan-mudahan masih menarik buat dibaca 🙂

1. Dari sisi sejarah dulu.. ilmu mempelajari garis tangan skrg ini disebut Palmistry. Pada abad pertengahan dikenal dgn Chirologi #handline

2. Chirologi = ilmu guratan tangan. Pada abad pertengahan, psikologi kepribadian cenderung berkembang berdasarkan ciri2 fisik seseorang #handline

3. Pada masa itu ada 6 bidang psikologi kpribadian yg berkembang:Chirologi, Astrologi, Grafologi-ilmu ttg tulisan tangan, Phisiogrami-ilmu ttg wajah

4. selanjutnya Phrenologi-ilmu tentang tengkorak, dan Onychologi-ilmu tentang kuku. #handline

5. Yg hrs dipahami dr #handline adlh sifat dasar kita yg membentuk garis di tangan. Secara ilmiah sifat dasar ini akibat struktur kimia otak

6. misalnya garis umur (antara ibu jari & telunjuk menuju pergelangan tangan). Secara ilmiah, umur ditentukan oleh gen dlm tubuh & kadar enzim

7. Karateristik dari gen umur inilah yang membentuk model garis umur #handline

8. sama dengan garis hati (di tengah telapak, di bawah kelingking) & garis kepala (pertengahan ibu jari & telunjuk mengarah ke tengah telapak)

9. Perasaan seseorang memicu kimia otak, contohnya serotonin. Hasil kimia otak itulah yg membentuk garis hati #handline

10. Begitupun sebaliknya dengan garis kepala, fungsi berpikir itulah yang mengakibatkan model guratan di tangan #handline

11. Hal ini dikuatkan dgn beberapa penemuan ttg pemetaan kecerdasan seseorang berdasarkan sidik jarinya #handline

12. Akibatnya banyak ibu2 jaman skrg yg memeriksakan sidik jari balita-nya untuk mengetahui kecerdasan tersembunyi anak2 mereka #handline

13. Penelitian di Barcelona (lupa tahunnya) jg mengklaim bahwa garis tangan merupakan pencerminan intelegensi otak besar #handline

14. Gabungan dari beberapa garis tangan itulah yang dipakai u/ menganalisis manusia. Palmistry adalah ilmu kimia otak yg tercatat di tangan #handline

15. Ilmu yang mengajarkan bahwa tidak ada satu kesimpulan yg berlaku bagi semua orang #handline

16. Ada banyak metode membaca telapak tangan selain tiga garis yang saya sebutkan #handline

17. Antara lain metode membaca garis2 halus di sekitar 3 garis utama & juga berdasarkan bulatan tangan yg identik dgn nama2 planet #handline

18. Garis2 halus itu antara lain brnama: garis korset, bimasakti, gelang, garis kesehatan, garis mars, garis perkawinan, garis keturunan #handline

19. garis korset menunjukkan sifat tindakan dari seseorang, letaknya melengkung diantara pertengah kelingking dan telunjuk #handline

20. metode pembacaan berdasarkan bukit2 di tangan terbagi menjd 8: bukit venus, bawah mars, bukit jupiter, bukit saturnus, #handline

21. Disusul bukit matahari, bukit merkuri, bukit mars, dan bukit bulan #handline.

22. Seseorang yg memiliki bukit venus (bawah jempol) yg tinggi dan keras ditenggarai amat berorientasi pd seks #handline

23. Namun tak semua orang mempunyai 3 garis utama di telapak tangannya. Ada juga orang yg hanya mempunyai 2 garis #handline

24. Garis itu salah satunya melintang tepat di tengah2 telapak. Dikenal dgn Simian Line atau Single transverse palmar Crease #kedokteran

25. Simian Line adalah garis tangan yg dimiliki oleh kera, sdgkan dlm dunia kedokteran disebut Single Transverse palmar crease #handline

26. Simian Line adalah perpaduan antara garis hati dan garis kepala/ rasio #handline

27. Garis ini cukup langka, karena hanya ditemukan 4 persen pada ras kulit putih, dan 14 persen pada orang Asia #handline

28. Sementara di seluruh dunia hanya ada 3 persen orang yg memiliki simian line, dan kebanyakan laki-laki daripada perempuan #handline

29. Simian Line bisa ditemukan hanya di salah satu telapak, ataupun di keduanya #handline

30. Dari sisi medis, orang2 yg mempunyai Simian Line ditenggarai mengalami perubahan kromosom #handline

31. Tidak selalu namun bisa diasosiasikan dgn abnormalitas antara lain down sindrom atau Fetal alcohol syndrome #handline

32. Namun menurut penelitian orang2 simian line yg mengalami kelainan medis ternyata jumlahnya sangat sedikit dari total jendral #handline

33. Kromosom yg berubah itu bisa jadi kromosom 21, kromosom 5, kromosom 12, kromosom 13, kromosom 18, dan X-linked recessive #handline

34. Nah kalo dr segi palmistry, bersambungnya garis tangan tersebut akan membuat orang tersebut bagai pedang bermata dua #handline

35. Simian liners susah memisahkan emosi (perasaan) dgn rasio. Kalau menurut saya sih ini hal yg bagus #handline

36. Simian liners bisa memfokuskan diri pada suatu hal tertentu,sama seperti metodenya @erbesentanu ttg menyatukan hati dan fikiran #handline

37. Namun di sisi lain simian liners saat mempercayai sesuatu cenderung menjadi radikal #handline

38. karena kemampuan fokusnya, simian liners kerap mudah mencapai apa yg diinginkan, namun biasanya lebih banyak menghadapi cobaan #handline

39. Simian Liners diupayakan untuk bisa mengendalikan kemampuannya karena satu sisi sgt menguntungkan, di sisi lain sgt merugukan #handline

40. Dengan kata lain, pilihan itu kembali pada pribadi masing2, krn garis tangan adalah cerminan pikiran dan perasaan kita sendiri #handline

41. Konon dgn karateristiknya itu Simian Liners byk mengubah dunia, baik itu untuk kebaikan ataupun keburukan #handline

42. Contoh tokoh2 dunia yg memiliki simian line ini misalnya PM Tony Blair, mantan PM Nikita Kruschev, Penulis John Steinbeck, dll #handline

43. Tak lupa Simian Line jg ditemukan pd orang2 yg radikal, pecandu narkoba kelas berat, serta pembunuh (Nama disamarkan :D) #handline

44. Ini membuat saya penasaran juga, kira2 garis tangan para nabi seperti apa, apakah simian line juga? #handline

45. Konon katanya kehidupan pemilik Simian Line ini ekstrim, sekalinya bagus, bagus sekali, sekali nyeleneh ya apes bgt #handline

46. Ada banyak situs rujukan yg bisa anda gunakan untuk mempelajari garis tangan, ex.; www.humanhand.comwww.handanalysis.com #handline

47. Bagi orang2 yg tdk mengerti, Palmistry adalah ilmu ramal, namun dunia mulai membuktikan setiap guratan di tangan mempunyai makna #handline

Yak nampaknya saya harus menghentikan kicauan di angka 47 karena kantuk yg mendera.. kapan2 saya lanjutkan lagi…

Jakarta dan Jakarta,

GLOBAL WARMING

26 Okt

Global warming: Tahun 2040, 2.000 pulau tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan. "Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3oC. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh.

Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17oC per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 oC pertahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga Negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer).

Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumahkaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau kemusim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal.

Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta. Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia, melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri).

Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih. Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :

Matikan listrik.(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magicjar, dll).
Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

DEPRESI?!! Hati-Hati…

23 Sep

KapanLagi.com – Bingung dengan pekerjaan se-abrek, di rumah dimarahi terus, kehidupan sosial tidak seimbang, maupun pacar selingkuh, memang bisa bikin stres. Kalau terus-menerus seperti ini, bisa-bisa orang stres akan menjadi penderita depresi yang bisa gila bahkan memutuskan suicide.. hii ngeri..
Depresi lebih sering diartikan dengan stres yang berkepanjangan, tapi jangan salah ada juga stres yang tidak selamanya berakhir dengan depresi. Menjelaskan hal ini, ahli psikologi Vera Itabiliana mengungkapkan bahwa depresi ada karena perasaan sedih yang mendalam. Tapi kadang peristiwa sedih yang dialami tidak sebanding dengan perasaan sedih tersebut, dan terus-menerus dirasakan sampai melebihi waktu sebenarnya.
Secara umum gejala depresi tampak pada tiga bagian, yaitu gejala fisik, mental, dan sosial. Dari fisik, orang depresi biasanya lebih malas dari kehidupan sehari-hari, susah tidur, malas makan, pikiran kosong, kehilangan motivasi, cepat capek, bahkan gampang sakit.
Sedangkan dari segi mental, orang depresi lebih cepat marah, sensitif, merasa useless, tidak percaya diri, sering mendramatisir rasa kecewa, dan sering ketakutan akan karma yang akan menimpa mereka karena kesalahan yang diperbuat. Untuk urusan sosial, kebanyakan orang depresi akan sering menghindar saat-saat menyenangkan, menjauh dari realistis, malu bertemu orang lain, uring-uringan tanpa alasan, serta tanpa sadar jadi orang yang menyebalkan.
Dan untuk mengatasi rasa depresi yang merugikan diri sendiri yang membawa pengaruh ke orang lain ini, disarankan untuk melakukan berbagai terapi. Misalnya saja ‘Psikoterapi’, yaitu lebih menerima perhatian dan saran dari orang lain agar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dalam hidup. Tentu saja hal ini dilakukan dengan cara bertahap untuk bisa menerima tanggung jawab dan tekanan hidup yang dialami. Ada juga ‘Terapi Kognitif’, yang dilakukan dengan cara mengubah cara pandang negatif dan rasa putus asa.
Sedangkan untuk penderita depresi berat, bisa diterapkan ‘Terapi Elektrokonvulsif’, yaitu dengan cara memberikan kejutan listrik untuk merangsang kinerja otak yang beku, biasanya sih untuk penderita yang ingin suicide.
Selain terapi, penggunaan obat penenang juga ada baiknya, apalagi untuk orang-orang yang memiliki kepribadian tertutup dan sulit berkomunikasi dengan orang lain. Yang penting, kita harus menjauhkan diri dari godaan-godaan untuk berpikir pendek. Seperti kata pepatah, We dont know how life bring us later, just hold on.. (cc/boo)

Patah Hati Membuat Usia Lebih Pendek

21 Jun

Penelitian yang melibatkan 4000 pasangan
relawan ini menyebutkan, bahwa seseorang yang patah hati ditinggal kekasih
cenderung akan merana, tertekan, dan mengalami kecemasan yang berlebihan.
Kondisi ini akan semakin parah dialami oleh Anda yang telah menikah kemudian
bercerai atau pasangannya meninggal sehingga mereka berstatus janda atau duda.

Kesimpulannya, dibandingkan laki-laki,
ternyata perempuan terbukti dua kali lebih sulit menerima kondisi kesendirian
saat ditinggal pasangannya. "Pasangan yang saling mencintai biasanya
saling  hidup tergantung satu dengan yang lainnya. Kemudian pada saat
pasangannya meninggal atau meninggalkannya karena suatu alasan. Maka Perempuan
akan merasakan kekosongan dalam hidupnya. Tingkat kematian pada para perempuan
ini cenderung meningkat pada enam bulan pertama sejak pasangan meninggal.
Resiko gangguan jantung dan naiknya tekanan darah akan naik pada lima tahun
pertama," ujar Cathy Ross, pemimpin
penelitian.

Menurut Cathy, kekosongan dan rasa
kehilangan membuat para perempuan ini merana berkepanjang dan cenderung
mengubah pola makan serta

gaya

hidup. "Depresi, stres, dan kecemasan yang berlebihan menuntun mereka
untuk hidup tak sehat sehingga berujung pada kematian," ujar Cathy

 

CLIMATE CHANGE LESSONS IN INDONESIA

10 Mei

Climate change lessons in Indonesia

By Lucy Williamson
BBC News, Jakarta

Every morning, at first light, Java’s rice fields come alive. One by one,
farmers appear among the bright green plants, their wide-brimmed hats dotted
across the fields.

This is the way Indonesia’s rice has been farmed for generations; the basic
rhythms of its paddies undisturbed by war or economic crisis.

But now, something strange is happening.

Parto is one of the first in the rice fields every morning. Carrying a can
of pesticide, he swings the spray backwards and forwards over the crop.

"The harvests have become irregular," he said. "Normally we harvest two to
three times a year, but it depends on the weather. We need to wait for the
right conditions, but now that’s become unpredictable."

Many small-scale farmers still plant and harvest their crops according to
the stars, or the first few drops of rain.

But this year’s heavy rains washed away many crops and caused major
flooding.

Scientists cannot agree how much of this is down to climate change.

But then that debate means nothing to many of those affected – they do not
even know what climate change is.

"We weren’t told about climate change," one man told me, "and the only news
we received from local officials is that a flood like this will happen every
five years. I don’t understand climate change, but I do know that a big
flood will come every five years."

"Climate change is caused by global warming," said his neighbour, "and the
thinning of the ozone layer. I think that caused the shift of weather
patterns on earth."

A local woman joined in: "People here don’t talk about climate change. I
have read it somewhere in a book or in a newspaper, but I don’t really know
what it means."

With 17,000 islands and a biodiversity second only to Brazil, Indonesia
stands to lose a great deal from rising sea levels and changing climate.

So why don’t more people here understand it?

Educational opportunity

At a popular seaside resort outside the capital, Agus Purnomo, senior
adviser to the Indonesian environment minister, looks out across the Java
sea and the unseen changes happening in the vast waters that surround his
country.

He told me the government here has some catching up to do.

"The climate change issue is more perceived as an international issue rather
than a domestic issue," he explained.

"We need to start with the decision makers, the planners and also those who
can approve the budgets – including the parliament – because we need to
address this awareness campaign big time. And that will require substantial
allocations of the national budget."

It is already clear that the effects of climate change in Indonesia could be
devastating.

Many communities in Jakarta were hit by the floods earlier this year.

Even now, walking around the areas that were affected, many houses have been
completely destroyed or still carry high water marks on the upper floors.

But some environmentalists, like Kuki Soejachmoen, head of the think-tank
Pelangi, see disasters like this as a strange kind of opportunity – to
educate people about climate change.

"Since this happened, people have started to realise that this is not only
the product of the local environmental impact, but it’s something that’s
happening over the long term," she told me.

And that is quite a change for Indonesia’s poor majority.

"Most of the people here – and in other developing countries I should say –
are forced to live on a day-to-day basis so [have] a very short term
perspective," she said.

Floods might engage the victims of climate change, but what about those who
cause it?

Indonesia straddles both ends of the global warming debate.

Forest fires have made it one of the world’s worst polluters. Many fires are
started by poor, remote communities, either as a way of clearing their own
land for planting or on behalf of big companies.

In order to stop these blazes, communities will have to be convinced to
think beyond their daily lives.

Changing Indonesia’s attitudes and behaviour might start with the
politicians, but they cannot do much without the co-operation of the
country’s vast population.

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/asia-pacific/6610973.stm

Published: 2007/05/02 11:40:54 GMT

C BBC MMVII

Happy Earth Day 2007

23 Apr

src: http://environment.about.com/
Earth Day 2007: How One Person Can Change the World
This Sunday, April 22, is Earth Day, a time when millions of Americans celebrate and renew their personal commitment to environmental stewardship. But April 22 is not the only Earth Day, or even the first. The vernal equinox in late March, otherwise known as the first day of spring in the northern hemisphere, is also designated as Earth Day and celebrated more often by people outside the United States. Learn the history of both Earth Days and why two holidays for the same purpose were started less than a month apart. Photo courtesy of NASA Whichever Earth Day you celebrate, it has never been more important, or more urgent, for you and people everywhere to take personal action and to adopt a green lifestyle. How Can One Person Change the World? Today, the environmental problems facing the world are enormous. Earth’s finite resources are being stretched to the limit by rapid population growth, air, water and soil pollution, and much more. Global warming, spurred by our use of fossil fuels for energy and transportation as well as mass-scale agriculture and other human activities, threatens to push our planet beyond its ability to sustain human life unless we can meet the growing need for food, energy and economic opportunity within a sustainable environment. In the face of such huge global problems, it is easy to feel overwhelmed and powerless, and to find ourselves asking, “What difference can one person make?” The answer is that one person can make all the difference in the world. Rachel Carson was just one person who wrote Silent Spring, a book credited with launching the environmental movement in the United States. John Muir was one person who saved the Yosemite Valley, founded the Sierra Club, and inspired generations of conservationists who continue to do life-giving work. Wangari Maathai was one person who started planting trees and empowering women in her native Kenya, and eventually was awarded the Nobel Peace Prize for 2004 for her contribution to sustainable development, democracy and peace. Al Gore was just one person who traveled for years to any conference room or auditorium where people would gather to see his slide show and hear his call to action—a slide show that became the Academy Award winning film and best-selling book, An Inconvenient Truth The Power of Personal Commitment Each of us has the power through our daily decisions and lifestyle choices to make our homes and communities more environmentally friendly, but our power doesn’t end there. There is no question that solving many of the problems currently threatening our global environment will require the resources and enlightened action of government and industry. Yet, because government and industry exist to serve the needs of their citizens and customers, how you live your life, the demands you and your neighbors make for products and services that help to sustain rather than erode the environment, will influence those actions and, ultimately, the future of planet Earth. Anthropologist Margaret Mead said, "Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world. Indeed, it is the only thing that ever has." So make some changes in the way you live your life. Use less energy and fewer resources, create less waste, and join with others who share your beliefs to urge government representatives and business executives to follow your lead toward a more sustainable world. Here are a few ways you can get started:     * Top 10 Ways You Can Reduce Global Warming     * Use Public Transportation     * Eat Locally Grown Food     * Change a Light Bulb and Change the World     * Try Reusable Shopping Bags     * Get a Free Home Energy Audit     * Plant a Tree     * Stop Receiving Junk Mail     * Pay Your Bills Online     * Consider Switching to an Alternative Fuel     * Explore Renewable Energy Options

Happy Earth Day.

%d blogger menyukai ini: