Archive | SaStRaKoE RSS feed for this section

MENULIS SEBAGAI BENTUK TRANSFORMASI DIRI

14 Agu

                   MENULIS SEBAGAI BENTUK TRANSFORMASI DIRI

“Menulis adalah menangkap kesempatan yang amat-sangat-sangat kecil untuk mengungkapkan perasaan anda. Itu berarti mengambil resiko untuk berkomunikasi dengan seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan hal yang Anda pikirkan dan katakan.
Pada saat anda menulis, anda mula-mula berdialog dengan diri anda sendiri.
Apabila anda berusaha mengungkapkan diri anda setiap hari, anda memang tidak dapat mengubah langsung dunia. Anda sebenarnya dapat mengubah diri anda sendiri. Dan, saya yakin bahwa dengan mengubah diri sendiri, sesungguhnya anda tengah mengubah dunia”
– Fatima Mernissi –

Itulah arti menulis bagi seorang intelektual perempuan dari timur tengah, Fatima Mernissi. Tak jauh berbeda dengan beliau, saya juga memiliki keyakinan yang sama, bahwa langkah kecil dari seorang manusia bisa merubah dunia. Dan bagi saya hal yang paling bijaksana untuk dilakukan dalam rangka membuat perubahan adalah melakukannya dari sekarang, perubahan itu berawal dari diri  sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan menulis? Berhubung saya suka menulis maka saya pribadi sering menyikapi apa yang terjadi di sekeliling saya dengan tulisan. Tulisan buat saya adalah media untuk menyembuhkan diri dari berbagai luka, media untuk berdialog dan mengasah diri. Saya bisa melakukan apa saja dalam tulisan, mulai dari mencaci sampai berteriak. Singkat kata tulisan adalah dunia dimana saya bisa menjadi diri sendiri tanpa harus dibatasi. Menulis melatih saya untuk berubah, terlebih melatih saya untuk jujur pada diri sendiri, karena tulisan yang bermakna memang membutuhkan kejujuran

Laurel Schmidt menyatakan, “Menuliskan rasa marah, harapan, ketakutan, kecemburuan bisa mencegah anda dari menguburkan emosi anda dalam-dalam, yang menyebabkan emosi itu sulit diraih kembali. Penggunaan huruf besar, tanda seru, atau kata sifat saat menulis buku harian merupakan cara anda berteriak tanpa harus membangunkan tetangga”. 

“Apa gunanya pengalaman dituliskan?”, itulah pertanyaan Hernowo, penulis buku bermain-main dengan teks. Dia pun kembali menjawab, “Menulis adalah untuk transformasi diri”. Jawaban yang hampir sama seperti pernyataan Laurel Schmidt diatas. Pengalaman dituliskan untuk melalui proses seleksi. Hernowo menyatakan bahwa melalui kegiatan menulis suatu pengalaman akan diseleksi apakah itu berharga bagi dirinya sendiri atau tidak. Andainya kurang berharga, bagaimanakah caranya supaya kita bisa menghargai pengalaman tersebut? Apakah hikmah yang terkandung di dalamnya, serta dicarikan jalan keluar agar pengalaman selanjutnya dapat lebih mengesankan atau membuat kita lebih berharga. Dengan kata lain, menulis merupakan salah satu cara kita bercermin dan merubah diri. Tulisan adalah suatu alat yang berfungsi mendukung kesuksesan diri.

Menulis dapat membantu kita menemukan value diri? Apakah sebenarnya value diri? Ide tentang value diri ini sebenarnya telah lama ada, namun baru belakangan ini muncul kembali di benak saya dengan bantuan sebuah acara di stasiun radio yang sering saya dengarkan, dan beberapa artikel pengembangan diri di rubrik karir sebuah surat kabar nasional. Menurut pembicara di radio yang sering saya dengarkan tersebut, secara singkat value diri dapat dimaknai sebagai keadaan dimana anda ingin diingat oleh dunia. “Hidup ini tak cuma untuk bekerja, uang, maupun kekuasaan. Yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana supaya anda dapat menikmati kehidupan ini. Value diri juga membuat anda dapat bekerja di bidang yang anda sukai, serta melakukan pekerjaan yang anda sukai”. Bukankah suatu hal yang menyenangkan bekerja untuk hal-hal yang anda sukai dan dunia mengingat anda atas hal-hal tersebut?      

Hernowo juga menegaskan bahwa ciri khas atau dalam bahasa saya value diri ini adalah suatu hal yang harus ditemukan. Setiap diri memang diciptakan unik dan mempunyai ciri khas masing-masing. Kita dapat menemukannya melalui menulis. Menurut Hernowo, penulis diberi kemampuan lebih cepat, lebih kukuh, dan lebih percaya diri dalam merumuskan ciri khas yang dimilikinya.

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Setiap penulis memang membutuhkan ciri khas dalam karya-karyanya, terlebih dalam upaya menarik khalayak untuk membacanya. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan – tulisan saya akan dibaca orang lain. Dan sejujurnya saya memang tidak terlalu peduli akan hal tersebut. Tapi jujur ada kebahagiaan disana apabila tulisan saya dibaca orang, dan apabila orang lain dapat menemukan makna tersendiri atas tulisan yang saya buat.

Dalam hidup saya yang paling berarti ternyata adalah berbagi. Sungguh suatu hal yang menyenangkan menjadi orang yang biasa saja namun bisa memberikan makna, kebahagiaan maupun perubahan buat sesama.

Dari dunia penuh makna,
11 Agustus 2008
Devi R.A.

BIARKAN INDAH PADA SAATNYA….

16 Mei

BIARKAN
INDAH PADA SAATNYA….

 

*Tuhanku…

maafkan atas
buramnya penglihatanku,

kurangnya
pendengaranku,

lemahnya pemikiranku,

tak cukupnya hatiku
merasa,

dan seringnya alpa
bersyukur….

 Beberapa waktu terjebak oleh

marah, prasangka
dan kekhawatiran…

Aku ternyata hanya
manusia….

Manusia yang sibuk
mengejar hidupnya*

 

PENGGALAN CERITA:

Di ujung jalan,
diantara lalu lalang para pengendara ada seorang ibu sedang menyulut rokok yang
dia linting sendiri, dikais dari tumpukan sampah yang terletak tidak jauh dari
hadapannya. Pakaiannya lusuh dan kumal. Siapa dia?

Dia nyata-nyata
salah satu warga kota, mata pencahariannya adalah mencari sampah, untuk hidup….Gerobak
sampah itu tiap hari ditariknya keliling kota. Tak banyak yang melihat aksinya,
meskipun sebenarnya dia adalah seorang SUPERSTAR. Ya, semua orang menantinya,
mengharapkan jasanya. Tak ada seorang pun yang bisa menganggap dia bukan sebuah
fenomena. Namun jika ditilik dari jauh tak nampak bayangan seorang perempuan
disana, yang ada adalah seorang manusia. Ringkih dan berambut panjang.

Hati ini merintih….Apa
memang begini Tuhanku? Ah ternyata benar, betapa kadang-kadang tak bersyukurnya
aku atas hidup.

Manusia tampaknya
telah menjadi pengukur jalan. Hari ini, besok, lusa maupun kemarin dan
kemarinnya lagi manusia sibuk berlarian. Tak hanya dengan kaki tapi juga dengan
putaran-putaran roda. Jalan telah menjadi tempat berparade. Kemanakah
sosok-sosok itu akan pergi?

Hari ini kembali lagi
jalan memunculkan tokoh-tokohnya. Sesosok wanita, telah lanjut usia, membawa
berbagai macam dagangan diatas motor tuanya. Kaki dan tangannya nampak kering
dan melegam terbakar surya….Untuk apa? Tak usah itu jadi pertanyaan…

“Mama, apa kabarmu
hari ini?”, Itulah kalimat pertama yang terlintas dalam hati saat melihat
perempuan itu. Tak sadar mata pun berkaca-kaca.

Ah…Pudarnya senyum
bahagia marak mengisi sudut-sudut mata. Karnival manusia dengan berbagai
artifaknya yang bermuram durja semakin menggurita. Dimanakah sang senyum? Atau
sebaliknya, ini adalah awal mula perayaan untuk berbahagia, penemuan atas makna-makna.
Jadi mereka semua berjalan dan terus berjalan di atas jalan-jalan. Bukankah
memang itu fungsinya jalan, dia ada untuk dilewati.

Seekor kupu-kupu
melayang rendah, hinggap diantara pinus berdaun jari. Hinggap menuju bunga dan
bercengkrama dengan putik sarinya. Pohon pinus pun bergoyang mengucapkan
terimakasih atas kunjungan kupu-kupu bersayap lebar.

Kupu-kupu, katanya
dulu dia adalah ulat. Katanya dulu dia harus bertapa untuk mempunyai sayap.
Katanya dulu dia malu. Katanya dia dulu membuat pohon meranggas. Katanya orang
dulu benci padanya, banyak yang tak segan menginjaknya. Kupu-kupu, sekarang dia
dilirik setelah menjelma menjadi wujud yang sudah menjadi takdirnya.

Kupu-kupu sekarang
punya lagu “Kupu-kupu jangan pergi, lihat indah warna dunia”. Kupu-kupu tak
lagi dibenci. Kupu-kupu menemani jalan-jalan diantara pepohonan pinus, hinggap
diantara bunga yang membutuhkannya untuk mengembangkan generasi selanjutnya.

BIARKAN INDAH PADA
SAATNYA….atau memang sudah sepatutnya pengorbanan dibutuhkan untuk sebuah
keindahan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Devi R. Ayu

Mei, 2008

Rasa dan Nuansa dalam Sastra – Menerjemahkan itu Pekerjaan Serius

13 Feb

**Menerjemahkan Itu Pekerjaan Serius**

sumber :
>http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2007/ 022007/08/ kampus/obrolan. htm

BERKAT kerja penerjemah, boleh dibilang banyak orang
>jadi bisa mengenal dan membaca karya-karya para penulis
>besar dunia. Nama dan karya dari Karl Marx sampai J.K.
>Rowling mungkin sudah tak asing lagi bagi publik
>Indonesia, termasuk juga kawan Kampus.

Anton Kurnia (32),
>seorang penerjemah asal Bandung yang sudah pernah
>menerjemahkan 50-an buku, kali ini akan menuturkan
>berbagai pendapat dan pengalamannya.
>
> Semua berawal dari hobi Anton membaca karya-karya
>penulis dunia dalam bahasa Inggris. Dari membaca, lulusan
>Teknik Geologi ITB angkatan 1995 ini tergerak untuk
>menerjemahkan. Itu dilakukan oleh Anton, yang dulu juga
>aktif di media kampus, sebagai ajang belajar menulis.

Semenjak 1998, ketika cerpen terjemahannya dimuat di
>koran pertama kali, ia mulai yakin kalau dunianya adalah
>sastra. Seiring makin aktifnya ia membuat terjemahan
>karya berbagai penulis dunia, order pun mulai datang,
>dari mulai temannya sampai penerbit. Anton pun banting
>setir dari disiplin ilmu yang dipelajarinya semasa
>kuliah. Kemampuan bahasa Inggris sendiri diakuinya
>diperoleh secara otodidak. "Saya meng-improve dengan
>banyak membaca, belajar dari kamus, dan referensi
>lainnya," ujar lelaki yang juga kerap duet dalam kerja
>penerjemahan, bersama istrinya, Atta Verin.

Kini, selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga
>melakoni pekerjaan menulis dan menyunting beberapa buku.
>Ada 4 bukunya yang telah terbit, terakhir Ensiklopedia
>Sastra Dunia pada Oktober 2006, dan 30-an buku terjemahan
>yang telah ia sunting, di antaranya karya-karya Milan
>Kundera, Leo Tolstoy, Gabriel Garcia Marquez, Orhan
>Pamuk, dsb. Berikut petikan perbincangan Kampus
>dengannya.

Apa kesulitan dan kesenangan menjadi penerjemah?
Pada dasarnya karena saya suka sastra, jadi ini
>sebetulnya pekerjaan yang menyenangkan untuk saya. Saya
>dikasih buku, disuruh baca, dan saya dapat uang dari
>situ, hehehe. Kalau sulitnya, menerjemahkan itu susah
>karena bukan sekadar menerjemahkan kalimat per kalimat,
>tapi ada juga rasa dan nuansa yang harus kita tangkap.
>Kadang saya ikut membayangkan suasananya seperti apa,
>dsb.

Pekerjaan ini juga butuh konsentrasi penuh, kalau
>perlu mengasingkan diri. Bekerja dengan naskah, komputer,
>buku, bisa berjam-jam per hari, dan itu bisa
>berbulan-bulan. Paling lama, satu naskah saya pernah 4-5 bulan. Naskah
>tersebut adalah Les Miserables-nya Victor Hugo, karena
>bahasanya sulit sekali. Saya lupa pada abad ke berapa
>naskah itu ditulis, sudah kuno sekali, dan diterjemahkan
>pada abad itu juga, jadi bahasa Inggrisnya kuno. Saya
>hampir selalu menggunakan kamus Inggris-Inggris. Tapi
>kalau cerpen, saya bisa lebih cepat.

Kadang terjadi kesulitan penerjemahan, misalnya, ada
>candaan dalam bahasa asing yang lucu, tapi ketika
>diterjemahkan ke Indonesia jadi tidak lucu. Bagaimana
>caranya menerjemahkan agar mungkin lebih bercita rasa
>Indonesia?
Ya betul, memang kadang ada yang istilahnya hambatan
>budaya. Ada satu problem dalam penerjemahan. Mau setia
>pada kata per kata, atau setia pada makna? Saya cenderung
>termasuk pada yang kedua. Ada beberapa aspek bahasa,
>yaitu bahasa asli dan bahasa sasaran. Menurut saya, yang
>penting itu bahasa sasaran. Misalnya, ada ungkapan, kalau
>dalam bahasa Inggris Bagai apel dibelah dua. Tapi saya
>akan menerjemahkan Bagai pinang dibelah dua, walaupun
>aslinya adalah apple. Karena dalam konteks budaya jadinya
>lebih tepat itu.

Untuk hal-hal seperti itu, ada dua cara. Pertama, tetap
>biarkan tapi diberi catatan kaki. Kedua, cari konteks
>yang lebih tepat dalam bahasa Indonesia. Penerjemah harus
>pandai memilah mana yang lebih tepat dan bagaimana
>konteksnya.

Salah satu kritik pada hasil penerjemahan yaitu ada
>kesalahan interpretasi sehingga konteksnya beda dengan
>yang asli. Bahkan ada juga kesalahan huruf sehingga
>mengurangi kenyamanan membaca. Pernah punya pengalaman
>begitu?
>
> Ketika sudah jadi buku, kadang tuh saya suka salah
>cetak. Tapi sebenarnya itu bisa diatasi dengan
>proof-reader, jadi tidak ada huruf salah naro. Yang fatal
>tuh kalau sampai salah konteks. Nah, kalau sejauh itu
>saya belum pernah.
>
> Akan tetapi, saya pernah menemui dalam buku yang saya
>baca, mungkin itu karena kekurangan referensi ya.
>Misalnya, dalam satu novel, ada satu istilah di Amerika
>yaitu Ivyleague, lalu itu dibilang liga Ivy. Ternyata pas
>saya cek di referensi, itu maksudnya sebutan untuk 10
>besar kampus terbaik di Amerika. Nah, penerjemah itu
>gagal menangkap konteksnya. Sebenarnya itu bisa diatasi
>dengan banyak baca, jangan malas buka kamus, dan tanya
>orang juga, karena kalau salah akan menyesatkan banyak
>orang.

Belum lagi dari segi keenakan dan halus bacanya.
>Misalnya novel, kalau bisa itu diterjemahkan seperti jadi
>novel lagi. Sebetulnya menerjemahkan itu mereproduksi
>karya. Ketika menerjemahkan novel, kita juga telah
>melahirkan novel lain, walau bukan berarti baru. Makanya,
>idealnya penerjemah itu penulis juga. Mungkin sulit
>menerjemahkan persis seperti maunya pengarang, tapi
>paling tidak kita bisa menerjemahkan keindahannya,
>maknanya, pilihan katanya, dsb. Sehingga seorang
>pengarang yang luar biasa dalam pandangan dunia, tidak
>tercederai oleh penerjemahnya.

Januari lalu, ada seminar yang dibuat Himpunan
>Penerjemah Indonesia (HPI). Katanya, masih ada kelemahan
>dalam hasil penerjemahan bahasa asing ke bahasa
>Indonesia. Itu kurang lebih karena banyak penerjemah
>belajar secara otodidak. Menurut Anda, yang juga belajar
>otodidak, bagaimana?
>
> Buat saya, otodidak itu bukan kelemahan. Perlu dikoreksi
>pernyataan Pak Benny Hoed (Ketua HPI-red.) itu. Kelemahan
>penerjemah adalah, mau dia belajar formal atau otodidak,
>kalau tidak mau belajar lagi. Belajar dan sekolah itu kan
>berbeda. Ada yang sekolah, tapi belum tentu benar-benar
>belajar. Kadang saya menemukan, penerjemah bergelar
>sarjana sastra Inggris dsb., tapi kemampuannya juga tidak
>lebih baik dari saya, yang otodidak. Masalahnya apa, dia
>tidak mau belajar lagi.

Sebetulnya saya sempat berpikir, karena suka sastra,
>untuk membentuk semacam forum penerjemah sastra.
>Tujuannya meningkatkan kemampuan para penerjemah,
>sharing, dan meningkatkan posisi tawar juga. Karena
>beberapa penerjemah pemula itu punya posisi yang lemah di
>depan penerbit. Sudah dibayar murah, kadang susah
>dilunasi pula.
>
> Lembaga semacam itu di sini nggak ada, tapi di luar
>negeri ada, yaitu di Jerman. Itu lembaga independen,
>mengundang para penerjemah Eropa, lalu bekerja di sana.

Bagaimana riilnya lembaga itu jika diterapkan?
>
> Saya sih mengusulkan pemerintah punya kepedulian untuk
>membentuk lembaga itu di sini. Kita bisa bekerja sama
>dengan pusat kebudayaan asing, misalnya Goethe, The
>British Council, dsb. Untuk awalan saja, kita bisa
>mengundang beberapa penerjemah, yang sudah berklasifikasi
>tertentu, misalnya sudah menerjemahkan berapa kali. Forum
>ini berkesinambungan, bukan pertemuan sehari-dua hari.
>Ini untuk meningkatkan kemampuan para penerjemah kita.
>Karena menurut saya, penerjemahan itu kerja kolektif. Itu
>berguna bagi seluruh bangsa.

HPI sebenarnya ke arah sana, bikin seminar, dsb., tapi
>lembaga ini lebih live-in, seperti di Jerman. Di sana
>berjalan karena disubsidi oleh pemerintahnya, dan lembaga
>donor. Ya mungkin ini tinggal political will, katakanlah
>pemerintah lewat Departemen Pendidikan, misalnya. Karena
>kerja penerjemahan itu berkaitan erat dengan edukasi
>secara umum. Bagaimana rakyat kita bisa membaca buku-buku
>yang bagus. Ketika terkendala oleh kualitas kurang baik,
>itu kan sayang.

Bagaimana prospek profesi penerjemah sekarang?
>
> Sangat bagus sebetulnya. Saya coba kasih ilustrasi.
>Untuk satu halaman, terjemahan dua spasi, saya bisa
>dibayar sekira Rp 25 ribu. Karena freelance, saya bisa
>mengatur kerja semau saya, tinggal mengikuti deadline.
>Dalam 1 jam saya bisa 2 halaman, 8 jam bisa 16 halaman,
>jadi bisa dapat Rp 400 ribu-an. Karena saya juga butuh
>libur, dalam seminggu 5 hari kerja, saya bisa dapat Rp 2
>juta, dan sebulan bisa Rp 8 juta. Saya kira uang itu
>cukup lumayan.
>
> Apalagi dengan perkembangan media massa, dari mulai
>televisi, radio, penerbit, dsb. Stasiun televisi biasanya
>butuh subjudul, dsb. Di perusahaan juga, butuh
>penerjemahan kontrak kerja dan dokumen.

Saya kutip pernyataan Goenawan Mohammad. Sering orang
>menganggap, profesi penerjemah sebagai profesi sementara.
>Sebenarnya profesi itu kalau mau diseriusi, selain
>hasilnya bagus, uangnya juga bisa bagus, kok. ***

SASTRA SEBAGAI TAFSIR AGAMA

13 Feb

*Sastra Sebagai Tafsir Agama***

*Muhammad Ali Hisyam****

Suatu hari, di akhirat ada seorang penghuni neraka yang melancarkan protes
kapada Tuhan. Ia menganggap Tuhan tidak adil dan telah keliru
menjebloskannya ke dalam neraka. Padahal sebagai hamba yang rajin menunaikan
sholat, puasa, zakat, haji dan ritual lainnya. Dengan Tegas Tuhan kemudian
menjelaskan bahwa ia dimasukan ke neraka karena ia tak pernah memiliki
kepedulianh terhadap orang-orang sekelilingnya yang membutuhkan santunan
social.

Demikian kurang lebih ilustrasi firman Allah dalam sebuah hadits *qudsy*.
Kisah itu demikian membekas dalam pikiran dan kesadaran Ahmad Thohari.
Sastrawan asal Banyumas itu menyebut bahwa sepenggal firman dia atas itulah
yang selama ini menjadi "ilham" dari semua ihwal karya sastranya.
Sebagaimana diakuinya, cerita dalam hadits *qudsy* tersebut merupakan
kosmologi sekaligus filosofi dasar dari semua karya pengarang novel trilogi
*Ronggeng Dukuh Paruk* itu.

*(dan matan cerita pendek Robohnya Surau Kami AA Navis pun praktis ejawantah
dari hadits qudsy tersebut, penulis ulang)*

Dari sekelumit paparan ini, kita bisa memetik kesimpulan bahwa karya sastra,
apapun bentuknya, haruslah memiliki semacam kosmologi, falsafah, dan visi
kemanusiaan yang kental dan jelas. Tanpa muatan nilai humanisme, karya
sastra tak lebih seperti "kembang kertas" yang tak menawarkan apa-apa.

Keberpihakan serta pembelaan yang dilakukan oleh sastra, pada akhirnya akan
memberikan impresi yang luas pada kehidupan sosial. terlepas apakah hal itu
berangkat dari agama atau nilai kemanusiaan murni, sebuah protes dan
keberpihakan pada manusia merupakan tafsisr aktual dari ajaran agama.

Karena setiap agama tentu tentu tidak akan mengejarkan penganutnya pada
perilaku berseberangan dengan kemanusiaan. Namun, ajaran itu akan selalu
berpijak dan mengajak pada terciptanya harmonitas sosial yang tenteram dan
mencerahkan. Disini, kesejatian menusia sebagai hamba yang peduli pada
sesama diuji secara sungguh-sungguh.

Pada konteks demikian, kehadiran roh dan pijar keagamaan yang mampu
menghidupkan kepekaan sosial manusia menjadi dibutuhkan. Salah satu api
pemantik dari semua itu adalah sastra. Oleh karenanya, sangat beralasan
ketika kita berharap untuk mengangkat kembali peran sastra dalam kaitannya
dengan dinamika kehidupan agama dan keberagamana kita. Lebih-lebih, di
Indonesia Raya yang (konon) penghuninay sehimpunan manusia religius yang
taat perintah Tuhan.

Secara jitu, dalam konteks ini kita bisa mengungkit kembali lontaran Romo
Y.B Mangunwijaya bahwa "karya sastra yang baik selalu bernilai religius".
Artinya, sastra akan selalu mengajak menuju kehidupan yang lebih baik dan
benar. Paling tidak, sastra akan menyajikan bahan perenungan yang memadai
bagi manusia untuk secara arif memilih di antara dua jalan: kebaikan dan
keburukan, dengan disertai gambaran (tamsil) akibat-akibat yang bakal
ditimbulkannya. Manusia yang masih memilki kepekaan pikiran dan kebeningan
hati tentu akan memilih menghindar dari kesengsaraan dengan jalan menempuh
perbagai laku kebajikan.

Betapapun demikian, tidak lantas sastra menjadi semacam jaminan untuk selalu
(mampu) mengarahkan orang berbuat baik. Orang yang menyukai sastra belum
tentu berperilaku sosial yang baik. Malah bisa jadi sebaliknya. Namun, jika
muatan serta pesan sastra yang baik (baca: religius) tersebut benar-benar
diamalkan dan dipantrikan dalam sikap hidup, niscaya ia akan serta merta
memantul lewat perilaku yang dekat dengan kebaikan. Dengan kata lain, hingga
disini "tugas" luhur sebuah karya sastra sudah tunai. Masalah ia akan
digunakan sebagai apa, itu merupakan persoalan yang lain. Yakni pada tataran
apresiasi.

Dalam bahasa yang lain, visi luhur serupa ini barangkali sebanding dengan
pandangan kaum sufi (dalam Islam) yang memandang hidup dari dua dimensi.
Yakni, *lahuut* (potensi keilahian) dan *nasuut* (keinsanian) . Manusia
hidup tak akan lepas dari keduanya. Tinggal bagaimana kedua unsur itu
mendominasi kehidupannya. Bila unsur *lahuut* yang lebih banyak mewarnainya,
maka ia akan cenderung bergerak ke arah kebaikan. Pun demikian sebaliknya.

Oleh karenanya, pada bingkai demikian, tidak terlampau keliru jika agama
dikhiaskan sebagai *colour blind* (buta warna). Siapapun manusia, setara dan
tidak ada bedanya di hadapan Tuhan. *Laa tafaadhul *(tidak ada
kesaling-unggulan) antar manusia kecuali kadar kedekatan dengan Sang
Pencipta (taqwa). *Inna akramakum ‘inda Allah atqaakum. * Manusia dinilai
dari sejauh mana ia memayungi diri dengan kekuatan *lahuut* sekaligus
menepikan jauh-jauh kekuatan *nasuut*. Sastra dalam hal ini adalah, bisa
diharapkan menjadi "pengasah" kepekaan hidup manusia, baik disaat ia harus
berhubungan dengan Tuhan maupun kala berinteraksi dalam keramaian sosial.

Di titik inilah, saya kira sastra sebenarnya layak menjadi "tafsir" yang
lain dari ajaran agama. Bila selama ini agama cenderung (di)hadirr(kan)
dalam paras yang baku, hitam-putih, dan monoton, maka sastra bisa menjadi
pilihan untuk menafsiarkan semesta ajaran agama dalam bentuknya yang lebih
lapang, reflektif dan santun.

Ketika agama kerap dogambarkan melalui serangkaian ibadah yang berat, bahkan
acap dipakai sebagai pembenar dari berbagai tindakan anarkis serta manfikan
nilai kemanusiaan, maka sastra dapat menyajikan pesan moral yang terkandung
di dalam agama secara elegan dan menyejukan.

Untuk itu, di kalangan para sastrawan rama-ramai "turun gunung" seraya
mencoba bergumul secara langsung dengan realitas keseharian
masyarakat-misalnya dengan menggelar sejumlah pegelaran, diskusi, "tadarus"
sastra, pelatihan dan lain semacamnya- hal itu bisa kita baca sebagai bentuk
perayaan di tengan keprihatinan sosial yang ada. Dengan itu ia hendak
mengajak komunitas sastra untuk keluar dan menengok realitas sembari
menautkan sastra dengan pesan agama. Dengan itu ula ia mengajak pelaku
sastra untuk turun ke bawah meninggalkan menara padepokan "menara gading"
elitnya seraya berbaur dalam denyut kehidupan riil masyarakat.

Sesungguhnya, ajrak antara sastra dan agama, maupun sastra dengan manusia,
selamanya tak akan pernah ada. Ia adalah kesatuan yang padu, berjalin
berkelindan guna secara sirkular menghembuskan pesanm kemanusiaan ke segala
arah. Agama sejatinya bukanlah "pedang" yang memenggal kreativitas sastrawi.

Sebagai perbandingan, koar kritis yang pernah diletupkan Seno Gumira
Ajidarma bahwa "ketika pers dibungkam, sastra yang bicara" sangat tepat pula
bila diterapkan pada wilayah ini. di saat agama dilencengkan, sastralah
(antara lain) yang semestinya membela. Dalam pandangan Charles Kimball,
kalau agama menjelma bencana, maka harus ada "tafsir" lain yang mampu
mewadahi semesta pesan Tuhan kepada manusia.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pijakan bahwa sastra sebagai "tafsir"
agama relatif mudah diterima. Pertama, muatan sastra religius sanggup
melejitkan gairah keagamaan seseorang untuk kian dekat kepada Tuhan. Kedua,
dengan demikian jika muatan agama telah terpatri kuat dan tepat, rasa
kemanusiaan akan turun berkobar oloeh muatan sastra yang-di sisi lain-
humanis tersebut. sebab secara universal, ajaran agama tak akan pernah
bertentangan dengan pesan kemanusiaan.

Premis itu bisa kita cari bandingan-nya di dunia tasawuf (sufistik). Betapa
karya-karya sastra sufi juga merupakan "percikan" dari pesona Al-Qur’an
sebagai karya agung yang penuh dengan sastrawi. Karenanya, orang-orang sufi,
di satu sisi, tampak lebih bisa berakrab-akarab dengan Tuhan. Dan di sisi
lain, mereka bisa lebih menghargai pluralisme kemanusiaan. Oleh karena
muatan sastra yang universal itulah, ia nyaris bisa diterima oleh setiap
kalangan dari segala lapis.

Salah satu contoh adalah mahakarya Jalaluddin Rumi, *Matsnawi. *Pustaka
sastra islam terpanjang sepanjang sejarah ini, dalam perjalanannya, bukan
hanya digandrungi oleh para peminat sastra muslim melainkan juga amat
diminati oleh begitu banyak orang di seantero dunia. Mulai dari Timur hingga
belahan bumi ujung Barat, mulai dari Arab Badui yang Islam, artis Hollywood
yang Nasrani , hingga biksu Buddha di pedalaman India. Bahkan seorang
penulis Bengala di abad ke-15 pernah berkomentar, "seorang Brahmana yang
sesat akan membaca *Matsnawi"*.

Demikianlah. Realitas seperti ini kian meneguhkan bahwa agama dan
keberagaman tak "melulu" harus dijelaskan melalui kitab-kitab panduan yang
tekstual ataupun retorika kalangan agamawan yang men-*dakik-dakik. * Lebih
dari itu, pesan agama sebaiknya harus disampaikan kepada manusia lewat cara
dan media yang familiar dengan lingkungan sosial. pada aras demikian,
sastra, bisa menjadi jembatan alternatif yang menentramkan.

**Penikmat sastra, Pengajar tetap *
*Universitas Trunojoyo Madura
*

Jawa Pos, 28 Oktober 2006

%d blogger menyukai ini: