Archive | PUISI – D POEM RSS feed for this section

Day#20 : Duniaku adalah senyummu

10 Des

Duniaku selalu indah, aku rasa semua itu karena senyum. Baik itu senyumku, ataupun senyummu. Senyummu terlalu menggoda untuk diacuhkan. Maka dari itu aku senang membuatmu tersenyum, duniaku semakin indah saat senyum dan tawamu berderai.

Aku suka saat aku tersenyum karena melihatmu tersenyum. Aku suka senyummu saat kuceritakan hal-hal lucu. Aku suka senyummu saat kucium pipimu. Aku suka senyummu saat kau malu-malu ingin kupeluk. Ayo senyum lagi…

Duniaku semakin indah saat kau elus rambutku. Duniaku semakin berwarna saat kau cium keningku dan kau bisikkan “Aku sayang padamu”. Aku rasa diri ini telah kecanduan dengan senyummu. Aku tak bisa tidur tanpa membayangkan senyummu.

Aku patut-patut mukaku di depan cermin. Bagaimanakah senyum yang baik dan benar? Bagaimanakah agar senyumku enak dilihat? Apakah hari ini aku sudah tersenyum? Aku tarik ujung-ujung bibirku ke atas… “persetan dengan cara-cara itu!”, yang jelas aku suka tersenyum.

Hei, apakah hari ini kau sudah tersenyum? Aku rindu padamu… Aku ingin melihat senyummu. Aku rindu memelukmu dan bilang “aku sayang kamu”. Kan kuciumi pipimu karena memang kamu yang paling lucu buatku. Duniaku ternyata tak lengkap tanpamu. Karena duniaku adalah senyumanmu…

Day #15: Kusebut Angin…

29 Nov

Kusebut angin dengan lembut…
Dia sering bermain-main dengan kulit dan rambutku
Meniup nakal kesana kemari
Dan membuatku selalu bersiap dengan sisir dan selendang

Kusebut angin dengan peri…
Dia sering menikahkan sepasang bunga
Pernikahan bagi kehidupan selanjutnya, buah dan biji
Angin memang tak pernah setengah hati untuk berpatisipasi dalam keajaiban

Kusebut angin sebagai kekasih air…
Senda gurau mereka di langit kerap membuat air yang berayun di awan, tumpah ke bumi
Dan saat sepasang kekasih ini berdansa,
Tak pelak membuat rumah warga di bumi ikut terbang dan larut dalam tarian mereka

Kusebut angin sebagai pencemburu …
Tak pernah ia relakan dedaunan yang menguning di pohon untuk tinggal berlama-lama
Menyelisik dalam derai kelopak-kelopak dedaunan
Adalah kegemarannya di musim gugur

Kusebut angin sebagai ibu…
Dia terbangkan sayap-sayap baru burung-burung kecil
Dia membawa mereka ke seluruh penjuru dunia
Dan kembali mengantarkannya di sarang yang lembut

Kusebut angin dalam berbagai nama…
Dan angin semakin nakal bermain-main
Dia tiup kulit telanjangku dan membiarkan rambutku menari
“Hup” kutangkap angin dengan jemariku dan kulepaskan sekali lagi

Day #6: Ode Untuk Ibu

3 Nov

Tuesday, November 02, 2010
9:04 PM

Andaikan aku bisa memelukmu….
Menenangkanmu…
Yang terjadi aku malah menangis bersamamu…

Katamu kau kangen Ibu….
Katamu ibumu dan ibuku adalah perempuan super
Begitu tabah menahan sedih ditinggal buah hati untuk pergi
Tersenyum ikhlas melepas kita mengepakkan sayap
Ah, air mataku pun langsung jatuh…
Aku ingat ibuku…
“Sedang apa kau disana, mi?”

Kau sangat tahu aku…
Kau tahu aku sangat kesepian…
Kau tahu betapa kerasnya aku tak ingin menangis di depanmu
Dari kecil memang seperti itu, air mataku selalu sunyi

Dan aku sangat mengenal dirimu
Kesepian itu pasti membunuhmu pelan-pelan
Apalagi saat harus memilih… ibumu, ibumu, dan ibumu….

Kita berdua kangen ibu…
Ini Ode untuk Ibu…
Betapa kita sangat mencintai mereka…
Betapa di saat terburuk mereka berusaha selalu ada di samping kita
Dan Ode ini untuk doa yang senantiasa menemani langkah kita

Andaikan aku bisa memelukmu…
Pasti air mata kita tak jatuh satu-satu…
Karena kau bilang tak bisa cerita ini pada pasanganmu
Karena hatinya yang utuh sangat kaujaga
Sama seperti kau jaga hatimu, hati ibumu, dan hati buah hatimu

Kau bilang hanya bisa cerita ini padaku
Karena aku bisa menguatkanmu
Dan hari ini air mata kita pecah..
Bukan karena kita kalah..
namun karena kita tahu akan saling menguatkan…

Hari ini kau pun menangis untuk ibuku
Dan aku menangis pelan-pelan tanpa kau tahu
Ode untuk ibumu dan ibuku telah jadi nyanyi hatiku malam ini

“Salam Bunda… Kami sangat rindu padamu”
“Kami ingin melihat senyum kalian”

To: A beloved friend, Fifi.

Hati tidak pernah bisa bohong bukan

Kapan….

15 Jul

Kapan terakhir kali kau bilang sayang padaku?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa aku orang yang berarti dalam hidupmu?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa kau ingin aku di sampingmu, menunggumu?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa kau membutuhkanku dalam hidupmu?

Dear, if you never told me then how i am suppose to know what you want

or

The fact is i never across in your mind.

Dear, don’t blame people if they leave you…

Because you never said that you want them to be with you…

And the truth is…maybe you just don’t need other people…

Remedial, 15 Juli 2009

Dalam Penghayatan

13 Apr

Saat Biola mengalun diantara sayup-sayup kesedihan
Akhirnya aku tahu mengapa aku menyukai bunyi biola

Saat airmata jatuh diantara sedih dan bahagia
Akhirnya aku tahu mengapa perempuan seringkali menangis di dalam hati

Saat impian dipertemukan dengan realita
Akhirnya aku tahu kenapa manusia harus bermimpi

Saat benci dan cinta tampil diantara panggung dunia
Akhirnya aku tahu mengapa dunia harus terus berlaga

Saat iblis dan Malaikat diciptakan
Aku berharap kala itu iblis mau menyembah manusia dan nafsu tunduk pada pemilik raga

Saat biola mengalun diantara keheningan
Biarkan iramanya dimengerti oleh hati

Saat airmata jatuh diantara sedih dan bahagia
Biarkan hati berbagi cerita dengan pikiran indah

Saat impian dipertemukan dengan realita
Biarkan mimpi terus menghidupkan realita

Saat benci dan cinta mengapit panggung dunia
Biarkan waktu menyembunyikan masa lalu dan yang akan datang

Saat iblis dan malaikat dipertemukan
Mungkinkah kita kan menyadari kunjungan mereka setiap hari

Jakarta, 13 April 2009

Senandung Cinta

Kini Kutahu

4 Mar

Kini kutahu…

mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu…
betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu…
bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

kini kutahu…
yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

kini kutahu…
paling lima belas menit berlagak ramah,  sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu…
bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

kini kutahu…

yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu…
apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup.

Kini kutahu…
betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu…

betapa lamanya untuk menjadi seseorang, yang kuidamkan.

Kini kutahu…

betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu…
harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu…
betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu…
kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan.

Kini kutahu…
kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita.

Kini kutahu…
betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik.

Kini kutahu…
pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu.

Kini kutahu…
belajar memberi sesuatu itu,  menuntut latihan disiplin diri.

Kini kutahu…
betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya.

Kini kutahu…
uang itu selalu menipu dan gagal,  untuk menjaga martabat sejati.

Kini kutahu…
dengan sahabatlah kita sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun, dan merupakan saat yang indah.

Kini kutahu…
orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh,  justru yang dapat membantu kita bertegak.

Kini kutahu…
saat kita marah, kita merasa berhak marah,  tetapi bukan hak untuk menjadi jahat.

Kini kutahu…
persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati.

Kini kutahu…
seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap,  bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki.

Kini kutahu…
kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang  terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun.

Kini kutahu…

jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana.

Kini kutahu…
keluarga itu tak selalu disamping kita,  bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar  menghadapi dunia luas,  keluarga itu bukan semata biologis.

Kini kutahu…
betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun.

Kini kutahu…
tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita.

Kini kutahu…
betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu.

Kini kutahu…
latar belakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggung- jawab akan menjadi bagaimana.

Kini kutahu…
kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya.

Kini kutahu…
orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih.

Kini kutahu…
terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimak kelakuannya.

Kini kutahu…
kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah.

Kini kutahu…
tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya.

Kini kutahu…
dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan.

Kini kutahu…
betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka.

Kini kutahu…
ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta.

Kini kutahu…
betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini.

Kini kutahu…
berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang  mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka.

Kini kutahu…
hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita.

Kini kutahu…
biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong.

Kini kutahu…
membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati.

Kini kutahu…
paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima.

Kini kutahu…
bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia.

Kini kutahu…
bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat.

Kini kutahu…
dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan.

Kini kutahu…
betapa sukarnya menarik pemisah,  antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan.

Jakarta, 5 Maret 2009

This is my own words:

Kini kutahu….

Selama kita masih hidup, maka harapan itu akan selalu ada.

Keep stronger then!

Untuk Rina Dewi Yana

10 Jan

Mbak Rin,

Berita itu seperti petir di siang bolong

Tak terduga dan tentu saja….

Sedih….

Kau pergi untuk selamanya, syahid Insya Allah.

Ah takdir, kau benar-benar tidak bisa diduga….

Mbak Rin,

Masih teringat waktu dahulu

Dulu, saat kita sering mengobrol panjang lebar di kamarmu

Dulu, saat kita sering nonton DVD ramai-ramai di kamarku

Dulu, saat layar komputermu tiba-tiba meledak dan menghebohkan kosan

Dulu, saat kau guyur kepalaku malam-malam di hari ulang tahunku

Dan kado ulang tahun darimu pun masih terpajang di kamarku.

Mbak Rin,

Inilah penyesalan seumur hidupku padamu…

Maafkan aku tidak bisa datang di hari pernikahanmu

Maafkan aku tidak bisa datang bahkan di hari engkau dikembalikan di haribaan ilahi

Doa…hanya itu yang bisa kupanjatkan untukmu dari tempatku berada

“Robbana, terimalah temanku ini di tempatMU yang terindah”

Mbak Rin,

Terimakasih atas semua kenangan dan kebahagiaan yang telah engkau bagi

Terimakasih atas keberanian yang telah engkau tunjukkan dan syahid manakala melahirkan putri kecilmu

Meskipun kau telah pergi mendahului kami,

Kami takkan pernah lupa….

Atas tawa..

Atas airmata…

Atas Bahagia…

Saat kita semua bersama

Tidurlah dengan tenang, sahabatku….

“Memori Sekeloa 2004-2005 – Sampai kita bertemu lagi di hari pertimbangan, ukhti”

Jakarta, 8 Januari 2009

%d blogger menyukai ini: