Archive | Movies RSS feed for this section

Day #19: Menempatkan pada Tempatnya

4 Des

Hari ini kamar kosku dijadikan basecamp oleh teman-teman mainku, girls gang. Acara hari ini di kamar adalah nonton film maraton rame-rame. Film pertama diawali dengan “The Girl with The Dragon Tatoo”. Menurutku film ini cukup sadis, mengupas sisi liar manusia akan kebutuhan seksnya. Mengungkap tumpulnya perasaan belas kasih, dan akibatnya malah manusia-manusia ini menikmati saat-saat penuh simbah darah dan membunuh manusia lain.

Aku baru sebatas menonton saja sih, belum membaca bukunya. Menurut teman-temanku, bukunya jauh lebih menarik. Yayaya…nampaknya aku perlu membaca bukunya. Secara garis besar film ini bercerita tentang kerja detektif-detektifan di Swedia. Tentang siapa membunuh siapa. Namun sungguh, saat aku menonton film ini, aku sampai terbawa emosi gerammm terhadap laki-laki:(

Mereka begitu kejamnya terhadap perempuan, terutama dalam masalah pemenuhan kebutuhan biologis. Mulai dari memaksa, menyekap, memerkosa walaupun itu darah dagingnya sendiri, bahkan memukuli sampai mati. Manusia terlihat rendah sekali melebihi binatang di film ini.

Sedih sekali melihat kenyataan bahwa sampai sekarang perempuan hanya menjadi obyek lelaki. Sedih sekali melihat kenyataan bahwa laki-laki yang harusnya melindungi perempuan dikarenakan fisik mereka yang tangguh, malah berbuat semena-mena terhadap kaum hawa. Apa gunanya mendengung-dengungkan saling melengkapi antara pria dan perempuan selama ini kalau itu semua hanya pemanis bibir saja?

Yang paling aku herankan diantara itu semua adalah, bukankah para laki-laki ini dulunya berasal dari rahim kaum perempuan? Dipelihara dengan penuh kasih sayang hingga dewasa… Lalu kemana perginya semua kasih sayang yang ditanamkan tersebut? Apakah dunia terlalu kejam untuk begitu saja melupakan peran perempuan?

Sejarah manusia telah mencatat betapa banyak orang besar di dunia ini sukses karena dukungan perempuan, baik itu ibunya ataupun istrinya. Sebut saja Nabi Muhammad dan istrinya Siti Khadijah, Presiden Abraham Lincoln dan ibunya, Helen Keller dan pengasuhnya, Barack Obama dan ibunya “Ann Dunham”, serta istrinya “Michelle Obama”. Di Indonesia kita pun punya BJ. Habibie dan istrinya Almarhun Ainun Habibie. Tak ketinggalan pula Nabi yang terlahir tanpa kehadiran seorang ayah, Isa As dan ibundanya Siti Maryam, serta banyak lagi lainnya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Tak elok rasanya menafikkan sejarah dan peranan perempuan, sebab tanpa adanya perempuan takkan ada kehidupan selanjutnya di muka bumi.

Perempuan bukanlah budak seks lelaki, itu yang harus kita pahami. Seks adalah kebutuhan normal dan sangat biologis, namun alangkah eloknya kalau kebutuhan alamiah tersebut ditempatkan pada tempat yang seharusnya. Tak ada paksaan, itulah fitrah kami sebagai perempuan. Karena perempuan berbicara dengan hati dan kelembutan, bukan dengan bahasa kekerasan maupun kekuatan super.

Ah miris sekali melihat film “The Girl with The Dragon Tatoo” ini. Manusia diperlihatkam menghamba pada nafsunya, pada seks. Manusia lebih tertarik untuk memperbudak orang lain dan melihatnya menderita. Dan pada kenyataannya manusia-manusia sekarang ini ada pada titik pesakitan tersebut. Meskipun tak tahu kapan, aku masih percaya bahwa suatu hari nanti manusia bisa sembuh. Suatu saat nanti kita bisa menempatkan semua pada tempatnya. Seks pada tempatnya, bukan pada segalanya. Kasih sayang pada tempatnya, bukan hanya ucapan.

Day #18: Down Syndrome – Let’s Hear Their Voice

4 Des

Hari kamis kemarin aku nonton film tentang down syndrome di Goethe Haus Jakarta. Dalam acara pemutaran dan diskusi film 2 bulanan “Screendocs” tersebut, ada 2 film yang diputar. Satu film berasal dari Indonesia, judulnya SOINA (Special Olympics Indonesia). Dan sebuah film yang berasal dari Jerman yang berjudul “Schoene Blonde Augen”.

Di film ini saya lihat mereka yang memiliki cacat mental di luar negeri, memiliki fasilitas yang lebih memadai untuk berkembang ketimbang di Indonesia. Di Schoene Blonde Augen dikisahkan bahwa sekelompok anak yang terbelakang mental ingin mementaskan sebuah sandiwara dengan tema “kelahiran” di akademi seni rupa berlin. Hal ini tentulah bukan hal yang mudah. Dibutuhkan waktu delapan bulan untuk berlatih sandiwara tersebut, mulai dari menghafal skenario sampai belajar berani menampilkan diri di depan publik.

Selama masa pelatihan tersebut Kelompok down syndrome ini tinggal di sebuah rumah di daerah pertanian terra est vita. Mereka belajar untuk mandiri, mulai dari berbelanja sendiri, bersosialisasi antar mereka, hingga pekerjaan sehari-hari. Perselisihan pun kadang terjadi.

Di sisi lain, latihan sandiwara tersebut juga merupakan tantangan berat. Dalam sesi latihan sang sutradara seringkali membahas topik tentang kelahiran agar mereka lebih memahami perannya masing-masing. Namun pada akhirnya hal ini membuat emosi para pemainnya turut tak tentu arah. Beberapa dari mereka akhirnya ingin punya anak, ada juga yang menginginkan sebuah hubungan percintaan dan dihargai oleh orang lain.

Dari film “Schoene Blonde Augen ini” dapat aku amati bahwa penderita down syndrome ini sebenarnya ingin menyampaikan banyak hal namun kadangkala mereka tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Kebanyakan dari mereka tak suka disentuh orang lain, dan sering juga mereka menggoyang-goyangkan tubuh sekedar untuk menenangkan diri dikala merasa gelisah.

Bagian yang paling menyentuh malah aku rasakan saat mereka diajarkan untuk amusik, memaknai musik. Saat musik dimainkan mereka diminta untuk menari sesuai dengan alunan musik. Kelompok down syndrome ini menari dengan sesuka hati. Senang sekali melihat mereka tampak gembira, meskipun gerakan tarian mereka tak terkoordinasi.

Ah ya..musik memang milik semua orang, tak terkecuali dia pandai atau tidak, sehat ataupun tidak, bahkan tak peduli dia tinggi ataupun pendek. Semua orang mencintai musik, dan musik adalah bahasa universal yang bisa menyampaikan banyak rasa. Termasuk sisi-sisi perasaan dari anak-anak penderita keterbelakangan mental tersebut.

Pembelajaran yang aku terima dari film ini adalah seringkali karena keadaan fisik yang tak memadai, kita malah meminggirkan mereka yang kurang beruntung. Padahal harusnya kesempurnaan yang kita milik dapat kita pergunakan untuk menolong mereka yang kurang sempurna. Ada baiknya kita mulai memberikan dukungan pada siapa saja yang kurang dan pada siapa saja yang membutuhkan. Supaya mereka didengar, supaya mereka bahagia. Dan aku pikir itu memang kewajiban sosial kita semua.

The Great Debaters

5 Agu

August 5th, 2008

Pada suatu kesempatan di bulan agustus, saya berkesempatan menonton sebuah film yang sudah lama dibeli tapi belum sempat ditonton. The Great Debaters, disutradarai oleh Denzel Washington dan diproduseri Oprah Winfrey.

Film ini menceritakan perjuangan sebuah tim debat dari universitas kampung, Willey College, Texas, untuk maju ke ajang debat nasional Amerika dan berhadapan dengan sang juara bertahan, Harvad. Pelatih debat mereka bernama Melvin Tolson, dosen di kampus Willey College.

Awalnya tim debat ini beranggotakan 4 orang, namun karena isu yang beredar hanya 3 orang yang benar-benar berani against all odds, yaitu James Farmer Junior, Samantha Booke, dan Henry Lowe. Sistem debat yang digunakan waktu itu adalah British Parliamentary alias hanya beranggotakan 2 orang.

People, this film is based on true story! Menceritakan masa-masa kuliah
orang-orang besar yang nantinya menggerakkan Amerika. Ada yang tidak mengenal siapa itu Melvin Tolson? Dia adalah salah satu penyair kelas dunia. James Farmer Junior adalah pendiri dan penggerak kongres anti rasial. Sedangkan Samantha Booke adalah pengacara yang membebaskan Alabama dari Undang-undang perbudakan, dan Henry Lowe tercatat dalam sejarah pernah menjabat sebagai Menteri di Amerika Serikat.

Benar, film ini memang sarat dengan isu rasialisme. Isu yang bahkan sampai sekarang masih tetap bergaung dan menjadi problematika bukan hanya di bumiku Indonesia. Bhineka Tunggal Ika hanyalah symbol semata, Unity in diversity tetap saja susah untuk dimaknai. Namun yang paling memukau diatas semua itu adalah pada jaman isu rasial masih sangat kental di Amerika, Willey College merupakan universitas pertama untuk orang kulit hitam yang berhasil menantang universitas dengan
mayoritas kulit putih, Harvard, secara Nasional dengan motion
“perlawanan dengan kekerasan dan ketidakpatuhan masyarakat dapat
dibenarkan secara moral”.

Pada tahun 1935, Willey College sebagai tim underdog bertarung sebagai tim affirmative melawan Harvard. Dan Samantha Booke, keberanian dan kesempatan yang dia miliki membuatnya menjadi debater perempuan pertama di Amerika.

Bagi para debaters, saya yakin film ini adalah resources tambahan yang bagus on how to build a solid team dan bagaimana membangun silogisme berpikir. Bumbu-bumbu masalah pribadi memang jadi daya pikat tersendiri untuk film ini. Dan itu tentu saja lumrah terjadi di kalangan debater’s baik itu diIndonesia maupun berbagai belahan dunia lain. After all, debate is a good exercise to become what we want us to be.

Salah satu adegan yang paling saya sukai dalam film ini adalah saat James Farmer Senior bertanya pada sang junior, “what we do in here?”, dan James Farmer junior menjawab, “We do what we have to do, so we can do what we want to do”. Memperjuangkan apa yang memang mereka harus perjuangkan. Memperjuangkan apa yang bisa diperjuangkan, itulah inti dari film tersebut.

St. Agustine juga pernah mengatakan bahwa, “an unjust law is no law at all”, itulah closing speech yang diutarakan oleh James Farmer Junior saat berdiri di hadapan ratusan orang di Cambridge Hall serta disiarkan seantero Amerika. Momen itu Amerika dihadapkan oleh fakta bahwa di Texas, “White people just can kill black people without a reason, hung and burn them without trial while their children are waiting at home”.

And This is what their coach has teach them:

What is the greatest weakness of Man?

NOT BELIEVING, DOUBT.

So who’s the Judge?

The Judge is GOD!

Why is he GOD?

Because he decides who wins or loses not my opponent.

Who is your opponent?

He doesn’t exist!

Why he doesn’t exist?

Because he’s merely a dissenting voice to the truth I speak. (Dia hanya
suara yang berselisih dengan kebenaran yang aku ucapkan)

Bagaimanakah kisah perjuangan tokoh-tokoh ini?? Hehehe…jawabnya, nonton aja filmnya! A must see film for debaters! 😀

Dedicated to my debate Teacher: Mr. Setiyadi, may u rest in peace….

Devi R. Ayu

%d blogger menyukai ini: