Archive | General Article RSS feed for this section

9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA

17 Jun

Kata pepatah, manusia tak banyak berubah, namun kota-lah yang mengalami banyak perubahan. Entahlah, tak begitu setuju sebenarnya. Kota yang berubah bukankah atas hasil karya manusia itu sendiri? Bahkan menurut pengamatanku, perubahan planologi kota mau tak mau secara langsung juga turut merubah kebudayaan masyarakat penghuni kota tersebut.

Kota yang sekarang aku tinggali beberapa hari lagi akan merayakan hari jadinya yang ke 482, tepat di tanggal 22 Juni 2009. Kota ini pada siang hari bisa berpenduduk 9,8 juta jiwa, dan pada malam hari berisi kurang lebih 8,5 juta jiwa. 1, 3 juta penduduk yang hilang di malam hari berlalu lalang kian kemari antar kota hanya untuk mencari sesuap nasi. „Kota tersibuk“ julukan kerennya. Pun di kota ini perputaran kapital mencapai 80 % dari total dana yang ada di seantero wilayah nusantara. Kota yang tak lain dan tak bukan bernama Jakarta.

Konon kabarnya menurut sejarah pertanahan, tak ada daerah yang disebut Sunda Kelapa, Batavia, ataupun Jayakarta dulunya. Wilayah ini terbentuk oleh endapan material yang dibawa oleh aliran sungai menuju ke laut, semacam delta, karenanya daerah ini sangat subur, namun sayangnya tak akan pernah lepas dari ancaman banjir. „Gimana enggak,lha wong letaknya saja lebih rendah dari daerah-daerah lain. Gak ada ceritanya Jakarta itu bebas banjir“, ujar Torry Kuswardono, salah satu pengampanye lingkungan dari Friend of The Earth International.

Ironis, daerah yang terkenal begitu subur ini sekarang malah berubah fungsi menjadi areal gedung pencakar langit. Tak adanya gunanya lagi 48 Situ yang dibangun pada jaman penjajahan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian. Situ-situ tersebut kini juga telah beralih fungsi dari daerah resapan dan penampungan air menjadi tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan. Mungkinkah manusia jaman sekarang lebih sakti mandraguna dibandingkan manusia jaman lampau? Alih-alih bercocok tanam untuk mengisi perut, sekarang manusia mulai bertanam gedung-gedung tinggi. Pengaruh globalisasi katanya. Wah kalau begitu berharap sajalah daur pencernaan makanan kita bisa ber-EVOLUSI mengonsumsi semen, beton, dan batu bata.

Dan tak hanya itu rekor yang ditempati oleh kota tempat tinggalku kini. Prestasinya juga merambah segala bidang. Mulai dari polusi udara yang telah menjadi santapan sehari-hari sampai wabah penyakit. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Jakarta hanya menyisakan 73 hari baik dalam setahun dengan kondisi udara layak untuk dihirup pada tahun 2007. Rekor bukan? Dari 365 hari yang ada dalam setahun, hanya 73 hari saja paru-paru kita bisa bernapas lega. Hebohnya lagi, hingga April 2009 lalu, wabah demam berdarah telah memangsa 9947 penderita. Luar biasa!! Menurut Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, hal ini terjadi karena perubahan cuaca dan iklim. Perubahan yang terjadi akibat semakin panasnya bumi ini.

Kemanakah Perginya

Foto Jakarta jaman lampau terus aku pandangi. Pepohonan masih tampak rindang dan asri. Sungai-sungai tampak jernih dan menjadi tempat bermain kanak-kanak. Akupun tersenyum….Foto-foto yang hanya bisa aku temui di museum dan dalam koleksi tua para fotografer kala itu. Sekarang 13 Kali besar yang ada di ibu kota negara telah berubah warna menjadi hijau tua dan berbau busuk. Tak lagi seperti dalam foto. Kali-kali itu telah menjadi tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui, sekaligus tumpuan pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga tak mampu, khususnya yang tinggal di daerah bantaran kali. Dan aku melihat pemandangan itu setiap harinya dari atas laju moda transportasi yang kutumpangi.

Dalam keseharianku, aku melihat kota ini jarang tersenyum ramah. Bukan apa-apa, di kota tempat tinggalku ini senyum bisa jadi mengundang maut. „Orang kampung yang bisa dikerjain nih“, begitulah pendapat sebagian orang. Pesanku, jangan terlihat terlalu ramah. Ramah boleh, tapi jangan terlihat. Cukup membingungkan memang, tapi itulah kenyataannya.

Jalanan yang padat dan kemacetan pun telah menambah kerut di wajah para penghuninya. Tak pelak orang Jakarta sering bilang, „Kami tua di jalan“. Satu atau dua jam dimakan oleh kemacetan sudah jadi hal yang lumrah. Ketegangan Senin–Jum’at juga turut berperan serta menumbuhkan uban, warna asli rambut manusia. Anehnya dengan kondisi seperti itu, kota ini malah semakin padat.

Apakah demi uang manusia tak keberatan kehilangan waktunya sia-sia ataupun kehilangan ruang geraknya? Aku tak bisa menjawab….Aku tinggal di kota ini, apa alasanku tinggal disini? Dari semua pertanyaan itu, satu yang paling dari semuanya, kemana perginya kesantunan, kemana perginya uang, dan kemanakah perginya ruangku bergerak?

Geliat – Geliat Semangat

Aku kembali menekuri tulisanku. Namun segera teralihkan oleh bunyi biola yang dimainkan oleh musisi pinggir jalan di taman menteng ini. Selaksa daerah menjadi pilihan gesekannya. Terlintas dalam pikiranku, apa yang menjadi impianmu kawanku? Kulayangkan pandangan kepada ruang terbuka yang disebut taman kota. Cukup asri. Namun ruang-ruang seperti yang sekarang aku pijak tak banyak bersisa, tergilas pesatnya dominasi aspal, semen, maupun beton.

Aku serasa tak punya tempat berlari. Sejauh aku berlari,aku hanya sanggup menghindari hiruk pikuk kota sebatas ini, hanya sejauh tempatku saat ini. Namun maaf saja, pikiranku telah mengembara melebihi jarak yang bisa dilalui oleh fisikku. Membebaskan diri dari penjara waktu, rutinitas, dan dana. Keterlaluan kalau sampai menjelajah dunia dengan pikiran harus ditarik karcis perjalanan. Mungkin itu juga yang ada di benak kawanku musisi jalanan. Suatu hal yang keterlaluan untuk mengisi dunia dengan nada-nada seni sampai harus dikejar-kejar oleh polisi pamong praja.

Aku tahu aku tak sendirian. Rekan seperjalanku dalam mencari penghidupan di kota ini mungkin memilik pemikiran yang sama. Kami jenuh atas pembatasan, kami selalu berusaha membuat terobosan. Namun tak jarang cibiran yang kami dapatkan. Tapi sedikit sandungan takkan meluruhkan niat kami.

Daftar kegiatan yang berjajar dengan tulisanku masih aku lekati. Hmm siapa tahu bisa jadi salah satu sumber tulisanku yang lain. Semakin mempunyai banyak peristiwa untuk dinikmati, semakin banyak yang bisa dituliskan bukan. Yah sebut saja Komunitas historia dan jelajah kota tua yang telah dengan giat meramban bangunan kota termakan usia. Komunitas Bike to work pun tak segan meliuk diantara padatnya lalu lintas Jakarta. Komunitas pecinta lingkungan juga bahu membahu menciptakan kegiatan ramah lingkungan setiap bulannya, ada car free day, ada gerakan stop penggunaan kantung plastik, bahkan mematikan lampu listrik pada jam-jam yang tidak diperlukan. Aku tinggal memilih ingin melakukan apa demi perubahan yang aku inginkan. Pilihan sudah banyak di depan mata.

Aku sadari semua yang peduli sedang mencoba dengan kemampuan dan minatnya untuk membuat kota ini lebih layak ditinggali. Entah sampai kapan…karena tanah tak pernah bertambah, dan manusia tak mau menyusutkan jumlahnya.

Jakarta, Juni 2009

Devi R. Ayu

Mendulang Investasi dengan Asuransi

2 Jun

Sejak lahir ke dunia saya sudah dekat dengan asuransi. Bagaimana tidak, sebagai anak seorang pegawai pemerintah, nama saya telah tercantum dalam kartu asuransi kesehatan mulai dari dilahirkan. Kebijakan pemerintah yang sangat saya syukuri tentunya. Belum lagi asuransi jasa raharja yang langsung menjadi hak pengguna fasilitas umum sewaktu kita sekedar melewati jalan tol ataupun naik kendaraan umum. Tak cukup sampai di situ, ketika masih belajar di sekolah lanjutan tingkat pertama maupun tingkat lanjutan atas, pengurus sekolah saya bahkan mati-matian mempromosikan asuransi jiwa untuk siswa-siswinya. Dan asuransi yang paling terkenal waktu itu adalah AJB Bumiputera 1912. Alhasil saya pun menjadi pengoleksi kartu asuransi di usia muda.

Asuransi bagi saya sudah menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam hidup. Di tengah makin tidak sehat dan tidak bersahabatnya lingkungan di sekitar kita, semakin bertambah pula ancaman terhadap kelangsungan kesehatan, keselamatan jiwa, maupun asset-asset penting dalam hidup. Diluar negeri, terutama di Eropa, 90 % dana kesehatan masyarakat diputar oleh perusahaan asuransi. Bahkan menurut informasi dinas layanan asuransi pemerintah Jerman, Rumah Sakit atau pusat pelayanan kesehatan disana menolak melayani pasien yang tidak mempunyai nomor jaminan sosial.

Manfaat asuransi sendiri langsung tuai ketika saya jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit dalam waktu yang lumayan lama, sedangkan waktu itu saya tidak punya cukup dana untuk berobat maupun operasi. Masalah itu kemudian teratasi dengan mengeluarkan “kartu sakti” milik asuransi kesehatan tempat saya bernaung. Saya pun bisa melenggang dirawat di Rumah Sakit dengan dana yang minimal. Berkaca dari pengalaman itu akhirnya saya memutuskan untuk tetap setia menjadi pelanggan asuransi. Bahkan sekarang ini asuransi pun dapat menjadi salah satu bentuk investasi kita untuk masa depan. Lho kok bisa?

Jujur saja, saya tahu kalau asuransi bisa dijadikan investasi juga baru belakangan ini. Ada seorang kawan yang berbaik hati menjelaskan kepada saya apakah itu yang dinamakan polis, apa pula macam-macam asuransi yang ada di Indonesia serta syarat-syarat untuk bergabung menjadi member asuransi tersebut, kemudian jaminan serta besarnya uang pertanggungan yang diperoleh dari asuransi yang bersangkutan, bahkan sampai sistem asuransi yang kebanyakan berlaku di Indonesia.

Penjelasan tersebut mulanya dipicu oleh ketertarikan saya untuk mengikuti suatu program asuransi yang sekaligus dapat menjadi tabungan, dimana dana yang diinvestasikan dapat diambil sewaktu-waktu saat saya membutuhkannya. Supaya tidak terjerumus memilih asuransi yang “tidak dibutuhkan” maka saya berkonsultasi kepada kawan yang berprofesi sebagai underwriter di sebuah perusahaan asuransi. Informasi itu mau tidak mau membuka mata saya untuk lebih berhati-hati dalam mempelajari polis asuransi dan dalam mengajukan klaim. Jawaban yang sangat memuaskan pun makin membulatkan tekad saya untuk bergabung dalam investasi asuransi. Bagi saya, berinvestasi memang harus dimulai sejak dini, toh saya tidak membuang uang melainkan mengalokasikannya dalam bentuk proteksi terhadap kesehatan dan dana cadangan untuk masa depan.

Hidup sendiri tak pernah bisa diprediksi akan berlangsung sampai kapan, itulah alasan mengapa proteksi sedari dini sangat diperlukan. Sebagai bahan pertimbangan, bolehlah kita mulai hitung menghitung proteksi mana yang paling kita butuhkan.

1.Asuransi kesehatan adalah proteksi yang „wajib“ dimiliki oleh semua orang. Jika anda sudah terdaftar dalam asuransi kesehatan di tempat anda bekerja, coba periksa kembali apakah proteksinya sudah sesuai dengan keinginan anda. Kalau belum sesuai, anda bisa menambah asuransi, misalnya dengan premi Rp3,8 juta pertahun. Dengan premi sebesar itu, anda bisa mendapatkan fasilitas rawat inap VIP Rp3,5 juta per malam.

2.Asuransi Jiwa adalah proteksi yang „hanya perlu“ dimiliki oleh orang yang memiliki tanggungan. Jika anda bertanggung jawab terhadap hidup pasangan atau anak yang tidak mempunyai penghasilan, anda dapat memilih asuransi dengan uang pertanggungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jangka waktu tertentu, misalnya 18 bulan setelah anda tiada. Dalam kurun waktu tersebut diharapkan keluarga yang ditinggal akan mampu mencari penghasilan lain untuk melanjutkan hidup. Nah premi asuransi untuk proteksi jiwa ini bagi mereka yang berusia dibawah 30 tahun kurang lebih Rp3 juta pertahun dengan uang pertanggungan sebesar satu milyar rupiah

3.Asuransi Kecelakaan juga merupakan proteksi „pilihan“ bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan risiko tinggi atau bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi seperti motor maupun mobil dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak menanggung hidup orang lain tapi anda akan membutuhkannya untuk mengganti penghasilan kalau anda mengalami kecelakaan dan cedera sehingga tidak mampu bekerja lagi. Proteksi jenis ini uang pertanggungannya bisa mencapai Rp750 juta dan anda hanya perlu mengeluarkan dana untuk membayar preminya sebesar Rp1,4 juta pertahun.

Memang menurut sebagian orang jumlah uang yang saya keluarkan perbulan untuk membayar premi asuransi terhitung cukup besar, apalagi untuk kalangan menengah. Namun menurut saya, harga tersebut cukup pantas mengingat jaminan kesehatan yang ditawarkan setara dengan uang yang saya bayarkan. Tidak ada rumah sakit yang menolak untuk bekerja sama dengan asuransi kesehatan tersebut, sistem pembayaran melalui transfer bank juga menjamin keamanan dana saya, terlebih lagi dengan prinsip menabung yang diterapkan oleh perusahaan asuransi itu mengakibatkan saya berhak memperoleh pembagian dana atas keuntungan perusahaan terhadap tabungan yang diinvestasikan. Keadaan ini saya istilahkan, “sekali melompat, dua tiga tempat pun terlampaui”.

Setelah ditimbang-timbang nyatanya tidak ada kerugian dalam berinvestasi terhadap kelangsungan kesehatan dan keselamatan jiwa, toh kesehatan dan keselamatan jiwa adalah motor penggerak dalam mencapai kesuksesan hidup. Selain pos untuk dana kesehatan dalam posisi aman, saya juga mempunyai dana cadangan yang dapat diambil sewaktu-waktu, plus bonus dana dari keuntungan perusahaan. Wah impian hidup layak dengan berinvestasi pada asuransi tampaknya bukan hanya sekedar impian asalkan kita mau berusaha mewujudkannya. Sudah saatnya paradigma atas asuransi dan investasi “hanya menghabiskan uang” berubah haluan menjadi investasi asuransi sebagai salah satu fondasi dalam kestabilan hidup dan finansial di masa datang.

Jakarta, 2 Juni 2009

Devi R. Ayu

Did I Marrying The Right Person??

4 Jun

Dearest All, blog ini kiriman dari seorang teman. Happy Reading!!

Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah,
"bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?"

Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"

Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"

Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini.

SETIAP ikatan memiliki siklus. Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat, begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Tidak perlu berbuat apapun. Makanya dikatakan "jatuh" cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk
cinta”. Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi… Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar. Perubahan ini pun merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, Belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada..

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya. Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan euforia cinta yang pernah terjadi…anda mungkin mulai berhasrat menyelami euforia-euforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas? Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan diluar.

Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini. Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tau ngga?! Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri.

Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya. Saya ngga mengatakan kalo anda ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh. Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).

Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah. Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang. Itu adalah siklus…

Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini) .. KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN
ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN SECARA TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan
Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi!
Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya
Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.
Benar juga ungkapan "diperbudak cinta".
Cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi.

Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK. (Ah Ulli baru aja gw baca literatur ini, menyikapi CINTA secara bijaksana;p)

Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Cinta bukanlah MISTERI. Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.

Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat.

Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH". Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah KEPUTUSAN, dan bukan cuma PERASAAN..!

jika ia sebuah cinta…..ia tidak mendengar…
namun senantiasa bergetar….

jika ia sebuah cinta…..ia tidak buta…
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta….. ia tidak menyiksa…
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta….. ia tidak memaksa…
namun senantiasa berusaha…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak cantik…
namun senantiasa menarik…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak datang dengan kata-kata…
namun senantiasa menghampiri dengan hati…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak terucap dengan kata…
namun senantiasa hadir dengan sinar mata…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba memenangi…

jika ia sebuah cinta….. ia mungkin tidak suci…
namun senantiasa tulus…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan…

jika ia sebuah cinta….. ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan…
namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya
Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiaannya. …..

Kota Bunga, Medio Juni 2008
-DRA-

KEKUASAAN DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

6 Agu

PERBANDINGAN KEKUASAAN
DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

DENGAN

KEKUASAAN DAN
KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI

 

 

Di
mata perempuan, berkuasa adalah mengerjakan apa yang mereka inginkan atau
memiliki kendali atas diri sendiri. Kekuasaan perempuan datang dari caranya
memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain. Sedangkan pria memandang berkuasa
sebagai meminta orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan atau
memiliki kendali atas orang lain.

 

Berbicara
soal kepemimpinan dan kekuasaan sebenarnya merupakan pembicaraan mengenai cara
mempersatukan orang, bukan membuat perbedaan.

 

Kepemimpinan
sendiri adalah tentang orang lain, bukan tentang diri pribadi. Begitu kita
terlalu memperhatikan diri sendiri, kemungkinan kita akan membunuh karier pribadi.

Kepemimpinan
bukanlah menjadi orang terpandai di ruangan atau memiliki jawaban tepat, tapi
tentang memiliki tujuan yang begitu jelas bagi kita, dan kita sendiri juga
sangat menyukainya hingga orang lain ingin terlibat bersama kita. Inilah tempat
dimana nilai, tujuan, dan tindakan harus selaras.

 

Kembali
pada topik semula, untuk menjadi pemimpin tim dan penguasa yang kuat, perempuan
sudah dibekali kemampuan memunculkan bakat masing-masing orang, serta kesediaan
mengakui kelemahan dirinya sendiri. Berbeda dengan pemimpin pria yang cenderung
menciptakan persaingan diantara anggota tim sehingga masing-masing bekerja
dengan porsi lebih.

 

Begitulah
tipe pemimpin perempuan, keras terhadap masalah, tapi lembut terhadap orang
lain. “Being a good manager is an art”. Tidak berjarak tapi tetap dalam koridor
profesionalitas. Jika terlalu pribadi, bawahan bisa ngelunjak dan kurang
terpacu untuk berprestasi. Sebaliknya terlalu ketat justru menjadi boomerang
karena dibenci bawahan. Alhasil kinerja bawahan pun bisa menurun karena stress.

 

Perempuan
cenderung percaya bahwa orang-orang akan tahu dengan sendirinya tugas-tugas
yang telah dilakukannya dengan baik dan akan menghargai hasil pekerjaan itu.
Saya sendiri mungkin penganut paham tersebut namun saya kurang setuju dengan
selalu diam. Walaupun di dunia ini bahasa non verbal mengambil bagian sampai 87%
dari proses komunikasi interpersonal tapi tetap saja kebutuhan atas ucapan yang
jelas tentang suatu situasi dan kondisi sangat diperlukan. Sudah bukan jamannya
lagi diam itu berarti “iya”. Pun tidak semua orang akan mengerti jika kita
tidak menyatakan apa yang yang menjadi keinginan kita. Sementara itu dari pihak
laki-laki, mereka cenderung harus mengumumkan prestasi yang sudah mereka capai.

 

Dalam
menyelesaikan masalah, perempuan cenderung menyelesaikannya dalam kelompok,
sementara pria lebih suka menyelesaikan permasalahannya seorang diri. Wanita
pun cenderung bersikap ramah dan menghargai hubungan baik di tempat kerja,
sementara pria menganggap terlalu banyak bersosialisasi itu tidak professional
dan buang-buang waktu saja.

 

Steven
Stein, Ph.D dari universitas Harvard melakukan penelitian dengan melibatkan
4500 pria dan 3200 perempuan. Di tempat kerja, ternyata nilai kecerdasan emosi
(EQ) perempuan lebih tinggi dari pria. Perempuan pun lebih pandai mendengarkan
keluhan rekan kerja dan pelanggan, serta pandai membaca suasana hati sehingga
lebih mudah mendapatkan keprcayaan rekan kerja termasuk bos dan pelanggan.

 

Bagi
perempuan yang ingin menapaki jenjang karier hingga menjadi bos “wanita”, simak
strategi yang dipaparkan Carol Galagher Ph.D :

 

Pertama, Relationship bukan sekedar membuat
jaringan tapi lebih kepada focus. Contohnya Carly Fiorina, mantan CEO perempuan
pertama di Hewlett Packard (HP) yang baik hati, dan selalu memberikan perhatian
kecil yang menghargai dan membesarkan hati karyawannya. Misalnya dengan
mengirim voice mail atau bunga pada pegawainya yang bekerja dan berprestasi di
atas rata-rata. Ingatlah bahwa anak buah adalah tim terbaik untuk
mendukung terwujudnya kesuksesan.

 

Kedua, selalu ingat bahwa perubahan besar berasal dari perubahan
kecil
. Bertahap sampai mencapai tujuan. Mungkin sulit awalnya, sebab perubahan hanya dapat dimulai oleh
orang-orang cerdas dan sadar, dilaksanakan oleh orang-orang yang yang rela
serta ikhlas, dan dimenangkan oleh orang-orang yang berani.
Jadi memiliki
ketabahan, kegigihan, dan kesiapan atas semua itu merupakan sebuah proses
panjang yang mungkin akan terus berlangsung sepanjang waktu yang kita punyai.

 

 

Mil86001s

Malam,
1 Agustus 2007

*Dari
berbagai sumber*

 

MERINDUKAN YANG NANTI

7 Jul

20041021184220107440
MERINDUKAN
YANG NANTI: HAKIKAT KEINGINAN

 

 

Dr. Michael Newton dalam Journey of the souls menyatakan bahwa banyak jiwa mengalami depresi
berat, merasa
tidak bahagia. Dalam derajat yang berbeda, manusia sedang berkejaran dengan
keinginan. Tandanya ialah menyukai sesuatu yang nanti akan terjadi, membenci
sesuatu yang sudah digenggam. Setelah yang nanti menjadi sesuatu yang kini,
lagi-lagi kita merindukan yang nanti.

 

Tak ubahnya seperti cerita
Nasrudin Hoja. Suatu hari Nasrudin asyik memancing, tiba-tiba polisi datang. Kemudian
Nasrudin segera berlari, diikuti oleh polisi tersebut, namun setelah beberapa
waktu dikarenakan kelelahan, Nasrudin berhenti berlari. Polisi yang mengejarnya
pun bertanya seraya membentak, ”Mana tiket masuknya?”. Dengan polos Nasrudin menunjukkan
tiket. Menyadari kekeliruan tersebut, polisi pun bertanya, ”Kalau punya tiket,
mengapa tadi lari?”. Nasrudin berujar, ”Saya lari karena penyakit maag saya
kambuh, jadi saya ingin cepat-cepat bertemu dokter”.

 

Beginilah kehidupan banyak
orang. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berlari. Setelah habis energi,
barulah sadar kalau kita berlari untuk sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling
banyak bertanggung jawab atas hidup yang terus berlari adalah keserakan dan
keinginan.

 

Namun apakah keinginan itu? Sejatinya
dalam keinginan termuat harapan. Harapan bagian dari keinginan. Dalam konteks
besarnya, keinginan, apapun bentuknya; keserakahan maupun harapan, merupakan
motif di belakang semua tindakan yang kita lakukan.

 

Terpenuhinya keinginan disebut
juga tanda dicapainya kebahagiaan. Dengan kata lain kebahagiaan terjadi saat
apa yang kita inginkan, harapkan, maupun yang diimpikan tercapai.

 

Sadar akan bahaya dari
keserakan dan keinginan, banyak guru yang belajar untuk mengelolanya. Mereka
sadar, semakin banyak yang kita dapatkan, semakin banyak pula yang kita
inginkan. Sekali pikiran dipuaskan, ia akan segera beranjak menuju keinginan
berikutnya. Terdapat perluasan yang tanpa akhir.

 

Seorang pejalan kaki sempat
berbisik ke dalam diri, orang yang amat bahagia adalah orang yang sadar dalam
batinnya bahwa ia adalah orang yang hina. Untuk itu tidak ada pilihan yang
lebih baik untuk menemukan kebahagiaan kecuali rendah hati. Akibat dari meletakkan
diri di tempat terendah, tidak seorang pun bisa menghinanya. Karena ia tidak
bisa dihina, maka ia bahagia di mana saja ia berada.

 

Lain cerita seorang pemuda
yang sedang bertandang ke rumah seorang cendekia. Pemuda tersebut bertanya akan
arti kebahagiaan. Oleh sang cendekia pemuda tersebut dipersilahkan
melihat-lihat keelokan dan segala isi rumah sang cendekia, dengan syarat dia
harus menjaga sesendok minyak yang diamanahkan oleh sang cendekia. Mungkin
ceritanya sudah dapat ditebak, karena begitu terpesonanya dengan keindahan dan
segala sesuatu dari rumah sang cendekia, pemuda tersebut melupakan sesendok
minyak yang harus ia jaga. Di penghujung hari, sang cendekia bertanya,
”Sudahkah kau temukan arti kebahagiaan?”. Pemuda tersebut berujar, ”Saat aku
melihat segala keindahan dan terpana oleh segala yang ada di rumah ini aku
merasa senang, namun aku masih belum menemukan jawaban atas kebahagiaan”.
Cendekia tersebut kemudian kembali bertanya, ”Bagaimanakah minyak dalam sendok
yang kuserahkan padamu?”. Sang pemuda tertunduk menyadari kealpaan yang telah dia
lakukan. Dia telah melupakan minyak dalam sendok genggamannya, minyak pun sudah
tak bersisa. Sang cendekia kemudian berkata, ”kebahagiaan adalah kemampuan
untuk menikmati dan menghargai segala sesuatu yang kita temui tanpa melupakan
hal yang paling dekat dengan kita”.

 

Kebahagiaan adalah
penyelarasan antara yang ”AKU” inginkan dan apa yang dunia ini dapat suguhkan
untuk memenuhi keinginan dan harapan yang terkandung. Ketidak tenangan,
sebaliknya, muncul akibat dari ketidak sesuaian antara harapan dan realitas.
Maka untuk bisa mewujudkan kebahagiaan, kita berusaha untuk menyelaraskan
antara keinginan dan kenyataan. Begitulah sistem yang berlaku, semakin banyak
keinginan yang terpenuhi, maka semakin bahagialah kita. Dan tentu saja manusia selalu
ingin bahagia.

 

Sebuah perenungan saja, manakah
yang lebih memudahkan kita untuk bahagia: Jika kita memiliki lebih banyak
pengharapan dan keinginan, atau jika kita memiliki lebih sedikit pengharapan
dan keinginan? Jawabannya dapat segera dipahami. Jangan terikat oleh keinginan.
Semakin kita terbelenggu oleh keinginan, semakin besar peluang kita untuk
menjumpai ketidak selarasan, dan karenanya merasakan ketidak tenangan, ketidak
bahagiaan.

 

Peluang kita untuk bahagia
akan lebih besar saat kita memiliki sedikit keinginan. Kesempatan kita untuk
merasakan kebahagiaan akan jauh lebih besar saat keinginan yang sedikit itu
terpenuhi. Dalam rasa berkecukupan itulah letak kebahagiaan.

 

Apapun alasannya keinginan
semestinya dikembalikan ke tempatnya yang semula, sebagai pembantu, bukan
penguasa hidup. Tanyakanlah pada diri masing-masing, dimanakah kita sebenarnya
jika setengah dari diri terkubur oleh masa lalu dan keputus asaan? Dimanakah
diri kita jika setengah bagian yang lainnya mencemaskan keinginan masa depan,
merindukan yang nanti? Apakah yang tersisa dari diri ini? Bagian mana lagi dari
kita yang bisa dimanfaatkan untuk sekarang? Energi kita telah habis untuk sibuk
berlari….

 

Hidup hanyalah sebuah
perjalanan. Manusia ada di dunia ini, namun ia bukanlah pemilik dunia. Ia
singgah ke dunia dalam rangka perjalanan menemukan pucuk takdirnya. Bagaimana
cara menikmati hidup adalah pilihan masing-masing manusia.

 

 

Devi R. Ayu, 7
Juli 2007

Dalam ruang kontemplasi bersama
Gede Prama dan Fadhlalla Haeri”

Satu kabar lagi tentang putus cinta: PRIA YANG LEBIH MERANA…

6 Jul

Putus Cinta, Pria yang Lebih Merana
Puteri Fatia

 
 

aLHASIL..BEGITU BANYAK PENELITIAN DENGAN HASIL YANG BERBEDA-BEDA. ADAKAH TEMAN-TEMAN DISANA INGIN MEMBERIKAN KOMENTARNYA??

Salam,

Devi,

Jakarta, Walau wanita
menangis tersedu-sedu sedangkan pria hanya diam, bukan berarti kaum adam ini
kuat menghadapi putus cinta. Malah menurut sebuah penelitian, pria selalu lebih
cengeng ketimbang wanita.

Beberapa penelitian membuktikan tingkat depresi, stress, dan kecemasan pria
lebih parah ketimbang wanita pasca putus cinta. Dilansir yahoo, Jumat
(20/4/2007), hal ini kemungkinan disebabkan karena karakteristik sifat pria.
Simak penjelasannya:

Pria Kerap Menutupi Sakit Hatinya
Hey, masa seorang pria nangis. Mungkin begitulah yang
terlintas di benak pria. Pelampiasannya paling pergi bersama beberapa teman
pria dan berakhir mabuk-mabukan. Intinya, pria kadang enggan menunjukkan
perasaan sedihnya ketika putus dengan sang kekasih. Ia merasa harus selalu
tampak tegar.

Sedangkan wanita kebanyakan langsung menangis atau curhat pada sahabat begitu
cintanya diputus. Begitu juga ketika memutuskan cinta, wanita biasanya
berbicara apa adanya dan langsung mengeluarkan apa isi hatinya. Intinya, wanita
berani menghadapi rasa sedihnya sedangkan pria banyak menahan reaksi atau
perasaannya. Alhasil, semuanya menumpuk dan sulit dibuang.

Pria Tidak Punya Banyak Teman

Begitu mengalami patah hati, hampir seluruh wanita langsung mengungkapkan isi
hati atau bercerita kepada teman terdekatnya. Teman tersebut bisa saja ibu,
sahabat, tetangga, teman kantor, atau bahkan supir taksi yang dinaikinya
setelah meninggalkan sang pacar. Penelitian membuktikan pria kerap
menggantungkan kedekatan emosionalnya pada sang pacar. Sedangkan wanita punya
sejuta tempat selain sang kekasih.

Pria lebih sering memendam perasaannya dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri
kalau ia baik-baik saja. Setidaknya baru enam bulan kemudian pria tersebut
menyadari dan berani mengungkapkan pada teman-teman dekatnya kalau ia ingin
kembali pada sang kekasih.

Pria Benci Awal yang Baru

Begitu putus, pria umumnya merasakan sedikit kegembiran. Bisa berkencan dan
menggoda banyak wanita. Berburu kekasih baru dan lain-lain. Tapi setelah kencan
pertama, kedua, dan ketiga, akhirnya rasa jenuh pun melanda. Ia pun menyadari
masih panjang jalannya untuk menemukan kenyamanan yang sama seperti pada
kekasihnya dulu.

Menurut penelitian, secara mental umumnya wanita lebih siap menghadapi putus
cinta sedangkan pria jarang berpikir hubungan akan berakhir. Dan umumnya, pria
baru menyadari betapa berharga mantan kekasihnya dan betapa ia kehilangan
dirinya setelah berbulan-bulan putus cinta. Hasilnya, sang wanita sudah jauh
memulihkan diri dan semuanya sudah terlambat.

Pria Berpatok Pada Khayalan

Putus cinta juga kerap disebabkan karena pria merasa bosan dengan kekasihnya,
kencan yang sama, pertengkaran yang sama, dan hal-hal lain yang lama-lama
membuatnya jenuh. Begitu putus, ia berpikir akan langsung bertemu dan berkencan
dengan banyak wanita. Walau mimpi tersebut benar-benar terjadi diam-diam ia
merasa kehilangan keintiman dan kenyamanan yang sebelumnya ia dapat dari sang
mantan pacar.

Penelitian membuktikan, wanita umumnya lebih cepat menyadari kalau fondasi dari
hubungan yang awet adalah keintiman. Sedangkan pria umumnya lebih memikirkan
seks sehingga akhirnya mereka salah orientasi.(fta/fta)

Patah Hati Membuat Usia Lebih Pendek

21 Jun

Penelitian yang melibatkan 4000 pasangan
relawan ini menyebutkan, bahwa seseorang yang patah hati ditinggal kekasih
cenderung akan merana, tertekan, dan mengalami kecemasan yang berlebihan.
Kondisi ini akan semakin parah dialami oleh Anda yang telah menikah kemudian
bercerai atau pasangannya meninggal sehingga mereka berstatus janda atau duda.

Kesimpulannya, dibandingkan laki-laki,
ternyata perempuan terbukti dua kali lebih sulit menerima kondisi kesendirian
saat ditinggal pasangannya. "Pasangan yang saling mencintai biasanya
saling  hidup tergantung satu dengan yang lainnya. Kemudian pada saat
pasangannya meninggal atau meninggalkannya karena suatu alasan. Maka Perempuan
akan merasakan kekosongan dalam hidupnya. Tingkat kematian pada para perempuan
ini cenderung meningkat pada enam bulan pertama sejak pasangan meninggal.
Resiko gangguan jantung dan naiknya tekanan darah akan naik pada lima tahun
pertama," ujar Cathy Ross, pemimpin
penelitian.

Menurut Cathy, kekosongan dan rasa
kehilangan membuat para perempuan ini merana berkepanjang dan cenderung
mengubah pola makan serta

gaya

hidup. "Depresi, stres, dan kecemasan yang berlebihan menuntun mereka
untuk hidup tak sehat sehingga berujung pada kematian," ujar Cathy

 

%d blogger menyukai ini: