Archive | Events RSS feed for this section

Day #21: Festival Pembaca Indonesia 2010

29 Des

6 Desember 2010

Hari ini adalah pestanya mereka yang suka membaca. Hari ini di arena pasar festival kuningan adalah harinya para pecinta buku, pecinta tulisan, dan tentunya pecinta Indonesia.

Hampir semua komunitas pecinta buku, penulis dan pembacanya yang berdomisili di Jakarta, baik itu yang berbasis web, e-book, ataupun kertas yang konvensional turut menyemarakkan gegap gempita hari ini. Aku pun melaju pasti ke tenda panitia FPI (bukan front pembela Islam lho ya ^_^).

Kusapa satu demi satu aktivis Goodreads Indonesia. Mereka-mereka inilah tim sukses dari penyelenggaraan festival pembaca Indonesia. Peluk sana – peluk sini, plus cupika-cupiki. Kalau tidak ada kegiatan kami memang jarang ketemu. Jadinya kangennnn….

Tenda book swap adalah tujuanku selanjutnya. Beberapa buku pun sudah kutenteng siap untuk ditukarkan. Dan ini juga stand favoritku, karena saat kita berkunjung ke stand ini, selalu ada kesempatan untuk dapat buku gratisss…. Ya tentunya harus dites dulu layakkah kita mendapatkan buku itu (hehehe ribet juga ya).

Benar juga, tak berapa lama kemudian aku bertemu dengan Nenangs, sang pembawa toa, dan tas yang penuh dengan buku-buku baru, yippiii…Dia bersedia menghadiahkan sebuah buku berjudul “people of sparks”, sekuel kedua dari “city of Ember” karangan Jeanne Duprau. Tentu saja si Oom Nenangs ini memintaku untuk menceritakan jilid pertama dari Novel Jeanne Duparu tersebut. Hehehe…itu mah…kecillll… Lolos ujian dong. Akhirnya buku “people of sparks” segeran berpindah ke dalam genggaman.

Hari ini pun dimeriahkan dengan peluncuran sego gowes. Nasi kuning dan nasi uduknya enak serta murah meriah. Dijajakan hanya dengan harga Rp.7.000 plus segelas air mineral. Yang paling unik dari makanan ini adalah cara dijajakannya, yakni dengan mengayuh sepeda.Jadi saat pagi menjelang, coba tengok ke kanan dan ke kiri, siapa tahu para penjual nasi dengan cara dikayuh ini melintas di sebelah kita 🙂

Dan setelah icip sana-sini aku juga dikejutkan oleh kelebatan seorang teman dari komunitas jejak petualang. Yeup mbak Puji Lestari pelan-pelan menghampiri. Ternyata tidak cuma penulis yang suka buku, para petualang pun doyan membaca. Ini memang harinya kami, para pecinta komunitas ^_^

Acara jalan-jalan narsis plus nambah kenalan pun langsung dilanjutkan setelah berfoto narsis di dekat panggung bersama mbak puji, aku kembali mengunjungi stand yang ada satu demi satu. Diawali dengan mengobrak-abrik standnya mas Aldo Zirsov dan Jatam (Jaringan Advokasi Tambang). Wah tak aku duga si mas Aldo mempunyai koleksi buku-buku pertambangan yang cukup lengkap. Belum lagi tebelnya yang naudzubillah itu…yaiy ngeriii.. Akhirnya aku kenalin saja Jatam sama mas Aldo. Lumayan kan kalau mereka bisa berkolaborasi. Soalnya koleksi buku mas Aldo yang mencapai 10 ribu itu kerap kali dijadikan perpustakaan rujukan riset, baik itu mahasiswa ataupun jurnalis.

Stand menarik lainnya adalah evolitera, kiosbaca.com, kemudian.com, dan plotpoint, serta blogfarm. Evolitera adalah penerbit buku berbasis e-book. Buku-bukunya bisa dibaca via web dan didownload gratis. Untuk bisa menjadi member dan berburu buku gratis, segera kunjungi websitenya di http://www.evolitera.co.id. Surga dunia buku deh pokoknya 🙂

Kemudian ada kiosbaca.com, kios maya ini adalah layanan untuk pinjam buku plus pake diantar pula, jadi kita ga perlu repot-repot datang ke perpustakaan. Gak ada alasan deh untuk bilang ga bisa baca buku karena kantong bolong. Dengan kiosbaca.com yang biaya jadi membernya cuma Rp.50.000/ thn, kita bisa baca buku sepuasnya.

Sedangkan bagi yang penasaran apa itu plotpoint, plotpoint adalah tempat dimana kita bisa belajar menulis secara berbayar. Tentor-tentornya adalah mereka yang sudah dikenal luas sebagai penulis yang handal. Bagi yang berminat, Alamat kantor plotpoint ada di daerah Cilandak. Sedangkan alamat websitenya http://www.tulissekarang.com

Nah buat yang suka nulis dan nge-blog, buruan deh gabung di kemudian.com serta forum blogfam. Kemudian.com adalah wadah bagi para penulis Indonesia. Sudah banyak buku yang diterbitkan oleh komunitas ini. Tak usah bingung bagaimana mengakhiri suatu cerita yang kita tulis, karena komunitas ini siap sedia membantu kita menyusun sebuah ending yang bagus dari cerita yang kita tuliskan.

Bagi yang penasaran dengan blogfam, ini adalah komunitas blog yang awalnya dimulai oleh kesenangan para ibu-ibu untuk menulis di waktu senggang mereka. Namun isinya juga bukan ibu-ibu saja, beragam orang ternyata rajin nge-blog dan bergabung dengan komunitas ini. Seabreg cerita tentang kehidupan dapat kita temukan disini. Tunggu apalagi, buruan kita ulik-ulik website mereka di forum.blogfam.com dan mulai menambah pengalaman ! ^_^

Demikianlah sekelumit cerita yang bisa saya bagi di acara Festival pembaca Indonesia. Jujur, lewat festival ini aku juga baru tahu begitu banyak komunitas yang bisa kita jadikan wadah untuk mengekspresikan diri. Dijamin, tidak akan pernah merasa kesepian di ibukota dengan segambrengnya teman serta kegiatan yang kita miliki.

Aku harap festival pembaca Indonesia ini bisa diadakan lagi tahun depan, dan tentuya setiap tahun. Hehehe habisnya seneng banget bisa ketemu para penggila buku lainnya. Plus, found that i’m not the only nerd in this world ^_^

Day#8: Disaster Management Expo – Tidak Ada yang Gratis di Dunia

6 Nov

Hari ini aku bertugas menjaga booth sebuah lembaga kemanusiaan internasional dalam DM Expo di PRJ Kemayoran. Banyak lembaga yang concern dengan penanganan bencana hadir dalam acara ini. Acaranya sendiri berlangsung dari tanggal 4-6 November 2010. Meskipun menurutku pribadi acaranya kurang ramai dikunjungi masyarakat umum layaknya pameran elektronik ataupun pameran buku, namun pameran ini cukup kita bisa acungi jempol karena dapat memberikan informasi lebih banyak atas kinerja masing-masing lembaga dalam mengurangi penderitaan masyarakat akibat bencana yang melanda.

Beberapa lembaga juga membagi-bagikan brosur, buku, maupun poster secara gratis mengenai panduan meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana. Materi pengetahuan itu didesain dalam warna-warna mencolok dan cerah, serta grafis yang berupa kartun. Melalui poster-poster dan foto-foto yang dipajang di booth, kita juga dapat mengetahui berbagai macam kegiatan yang telah dilakukan masyarakat dalam melakukan antisipasi bencana, serta partisipasi mereka dalam menurunkan kerentanan terhadap bencana.

Ditakdirkan hidup diantara pasak-pasak dunia alias ring of fire, membuat Indonesia sangatlah diberkahi sekaligus dalam marbahaya besar. Nenek moyang orang Indonesia tahu persis akan hal itu. Maka mereka seringkali menurunkan pengetahuan-pengetahuan serta kearifan lokal turun temurun dalam mengantisipasi banyaknya bencana yang kerap melanda.

Ya, Indonesia sangat diberkahi karena tanahnya sangatlah subur akibat material vulkanik dari letusan gunung berapi. Namun di sisi lain letusan gunung berai yang tak dapat diprediksi pun senantiasa mengintai kehidupan masyarakatnya setiap waktu. Mungkin betul kata orang-orang selama ini. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semua kenyamanan dan kemakmuran ada harganya…

“Mau kiamat kali ya, mbak?”, begitu ungkap beberapa orang padaku. “Mungkin, aku ga bisa jawab soal itu lah”, kataku. Kuasa Kiamat ada di tangan yang menciptakan dunia ini. Tapi buatku, kiamat memang sudah datang.

Saat dimana bencana malah jadi komoditas bisnis adalah bentuk sebuah “bencana” bagiku. Masih saja banyak orang yang mengambil keuntungan dari masyarakat yang jelas-jelas dalam penderitaan. Yah… aku tahu semua ada harganya, tak ada yang percuma saja. Namun entahlah.. buatku setitik kehidupan amatlah berarti, tak dapat dibeli oleh uang malah. Karena selama ini sepengetahuanku tak ada manusia yang benar-benar bisa membeli nyawa yang sudah diambil oleh penciptanya.

4 November 2010

Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia

22 Okt

Kamis, 21 Oktober 2010
Seorang kawan memberikan informasi tentang serambi Jazz di Goethe Institut Jakarta sehari sebelumnya, acara Jazz rutin tiap dua bulanan. Seperti biasa, akupun antusias datang ke acara tersebut. Maklum, musik dan tari sudah jadi bagian lekat diriku sejak kecil. Acara musik apapun biasanya aku datang. Anehnya dulu pas jaman kuliah malesss banget datang ke acara-acara yang diselenggarakan oleh Goethe Intitut Bandung ataupun CCF Bandung. Nonton Teater pun kalau ga diabsen dan jadi salah satu bahan kuliah juga ga bakalan datang deh.

Sekarang malah kebalikannya. Minimal setiap bulan pasti selalu datang ke acara-acara di Goethe Institut ataupun Erasmus Huis Jakarta. Mulai dari nonton acara musical, teater, diskusi buku, ataupun pemutaran film documenter screendocs – Indocs, Festival Film Eropa dan STOS, dll. Bisa jadi sebulan dua kali malah ke pusat kebudayaan Jerman tersebut. Olala.. hidup bisa berubah seratus delapan puluh derajat rupanya.

Sama seperti music jazz yang sekarang aku tonton. Dulu waktu masih kecil suka sekali music klasik, agak besar dikit jaman-jaman SMA gitu deh ehhhh cenderung suka music New Age, giliran dah kuliah demen banget sama music rock, sekarang pas udah mulai berumur kok ndilalah suka dengan music jazz dan hal-hal berbau etnik 😀 Yaaa..hidup senantiasa dinamis, seperti music. Musik senantiasa fleksibel dibunyikan dalam banyak tempat dan suasana. Musik senantiasa setia berkolaborasi, apapun jenis musiknya 🙂

Well anyway busway, konser serambi jazz yang semalam aku tonton, two tumbs up deh! Salut untuk musisi-musisi Indonesia, terutama Imam Pras Project yang berasal dari Bandung. Keindahan kolaborasi music jazz dengan music asli Indonesia ga bisa diungkapkan dengan kata. Imam Pras Project telah memberikan gambaran music jazz Indonesia masa depan. Kolaborasi jazz dan etnik semacam ini sudah sering aku dengar sih, antara lain Vicky Sianipar dan Dewa Budjana. Namun teuteup ga bosen-bosen didengarkan lagi. Selalu ada yang baru dalam setiap permainan mereka meskipun sedang memainkan lagu yang sama. Tak diduga, dalam semalam aku langsung jatuh cinta pada permainan Imam Pras Project.

Inilah ciri unik dari music jazz Indonesia, “When East meet West” rasanya roh seperti disihir lepas dari badan untuk ikut menari bersama music yang dialunkan. Komposisi Kambanglah Bungo, Bungong Jeumpa, Pasalingsingan, Andhe-Andhe Lumut, dan Sleep My Baby Sleep adalah wujud kecintaan musisi jazz masa kini terhadap budaya local. Penggabungan nada-nada berlaras seruling, gendang, maupun rebana elok membius penonton diantara alunan piano, drum, bass, dan saxophone. Unikkkkk sekaliiiiii… Agak disayangkan dikit waktu diawal-awal acara bunyi piano dari mas Imam kurang terdengar karena microphonenya kurang satu biji. Well, tapi itu tak mengurangi keindahan aransemen lagunya sih. Oya..protes dikit, emang lagu andhe-andhe Lumut berasal dari Jawa Tengah ya? Sepengetahuan saya legenda cerita Panji dan Andhe-andhe Lumut itu berasal dari Jawa Timur lho.

Pada Akhirnya, I want moreeee… Tepuk tangan Encore pun dibunyikan. Satu lagu lagi sebagai penutup pertunjukan. Ingin deh banyak musisi lain yang seperti ini, berkolaborasi dengan music-musik local Indonesia sehingga menghadirkan sesuatu yang baru, yang unik, yang fresh! Ingin setiap hari dihibur oleh music-musik Indonesia yang ga picisan. Ingin music-musik Indonesia juga go International! Pengen sekali Indonesia dikenal bukan hanya Bali, Kopi Luwak, Anggun ataupun Ananda Sukarlan.Karena bagiku, Indonesia adalah Paradise Budaya 🙂

%d blogger menyukai ini: