Archive | Culture RSS feed for this section

Healthy Life With EightDelights Cookies

4 Jan

logo+tagline-300x153

Tadi siang setelah makan siang iseng nonton beberapa chanel televisi yang menayangkan seputar trend tahun 2015. Akhirnya saya mentok pada sebuah liputan di salah satu TV swasta yang menyatakan bahwa trend makanan di tahun 2015 adalah makanan sehat. Dan untuk kue-kue yang bakalan hits di tahun 2015 nanti adalah kue – kue sehat yang tidak menggunakan gula dalam pembuatannya.

Pas bener, kata saya dalam hati. Saya punya rekomendasi kue yang bisa menunjang kepopuleran dan kesehatan teman-teman di tahun 2015 ini. Brand kuenya „EIGHTDELIGHTS“ bisa dilihat juga di websitenya www.eightdelights.com, bahkan tagline dari brand ini dari awal mengundang selera “good fun gotta be fun”. Jadi makanan yang baik itu seharusnya memang enak dan sehat ^_^

Eightdelights ini mengkhususkan kue-kue yang diproduksi berbahan sugar free dan gluten free. Apa sih yang dinamakan sugar free dan gluten free? Sugar free a.k.a bebas gula sangat baik dikonsumsi bagi teman-teman yang sedang diet, cocok pula bagi teman-teman yang mempunyai penyakit diabetes karena pemanis yang dipakai dalam kue-kue ini diperoleh dari bahan-bahan alami seperti madu, kelapa, dan jagung.

Sedangkan gluten free artinya kue yang diproduksi ini bebas dari sejenis protein yang dinamakan Gluten yang biasanya kita temukan pada biji-bijian seperti gandum, rye (sejenis gandum hitam), dan barley. Kue ini bisa dikonsumsi untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus, dimana mereka mempunyai pantangan dalam konsumsi jenis makanan tertentu, gluten misalnya. Diet gluten juga direkomendasikan bagi mereka yang mengalami sensitivitas terhadap protein ini sehingga mengakibatkan gangguan pada lambung dan usus seperti perdarahan, diare, kram perut, dan konstipasi.

Choco oats

Choco oats

Nah pasti kepengen kan mengonsumsi kue-kue yang sehat namun tetap enak 😀 Hebatnya lagi, kita bisa memesan kue sesuai dengan keinginan kita alias customized lho teman-teman. Banyak juga kan yang alergi sama kacang, telur, bahkan jenis buah-buahan tertentu, teman-teman bisa langsung menghubungi eightdelights cookies sehingga nantinya mereka dapat membuat kue khusus hanya untuk teman-teman.

Anyway cookies yang jadi kesukaan saya di eightdelights cookies antara lain banana cake, chocolate oats, serta lemon cake. Cucok buat minum the dan kopi di pagi hari atau sore-sore mendung gituh. Yumm…saya sih dapat free sample ya 😀

Lemon seed cakes

Lemon seed cakes

Buat yang lain jangan sedih, kalian bisa menikmati lezatnya kue-kue eightdelights dengan order secara online kok. Tinggal klik websitenya atau bisa juga hubungi alamatnya di Jl. lebak bulus II-8, Panorama Townhouse Kav-25 Jakarta selatan 12430 dengan nomor telepon 08888 107 861.

Selamat hidup sehat! 🙂

Book Review : Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan

24 Jan

Judul Buku : Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan
Penulis : Agustinus Wibowo
Tebal : 552 hal, Cetakan ke 3
ISSBN : 978-979-22-9271-8
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Membaca buku ini membuat saya keki. Keki dengan foto-foto yang ditampilkan, keki dengan teknik penulisannya, serta keki dengan ide-ide serta opini yang dilontarkan. Rasanya ada sebagian dari saya yang juga tergambar di sana. Ada kerinduan untuk melihat lebih dalam dunia itu dengan mata kepala sendiri….

Titik Nol menawarkan gambaran berbagai negara Asia Tengah, dari Tibet hingga Afganistan, dari sudut pandang penulis yang dinukil dari masyarakat penghuninya secara langsung. Hal itu yang membedakan buku ini dengan buku-buku perjalanan sejenis. Bukan soal tips travelling murah ataupun must see destination, tapi apa sebenarnya makna perjalanan yang kita lakoni. Buku ini adalah kitab Agustinus tentang jiwanya, jiwa pengembaranya, kemana panggilan jiwa itu menuntunnya untuk berjalan, menjalani hidup.

Istimewanya lagi, buku ini menampilkan foto-foto indah dari perjalanan yang ditempuh, gambarnya tajam, membuat pembaca tak bosan. Pergulatan batin Agustinus, isu dan kendala yang merebak di sepanjang perjalanannya, terutama soal agama, mencabik-cabik mereka yang berpandangan sama dengan Agustinus soal dunia, bahkan menjungkir balikkan paradigma yang mungkin sudah kita kenal sebelumnya. Apa makna perjalananmu di dunia?

Dalam Nama Tuhan, mungkin setiap hari Tuhan menangis tersedu-sedu, namanya telah dilafalkan ke seluruh penjuru dunia untuk melegalkan pembunuhan dan peperangan. Bukankah Agama mengajarkan kemanusiaan, kenapa sekarang Agama dan nama Tuhan menjadi dasar pertentangan, pembunuhan, dan peperangan?

“Agama itu asalnya dari hati, dan kembali ke hati. Dalam hati kau temukan Tuhan. Hati adalah inti dari ajaran agama”, kata Syed Asmat.

Saya sendiri sepakat dengan Agustinus bahwa Agama adalah jalan, bukan tujuan. Masing-masing orang punya perjalanan berbeda, dan berjumpa dengan guru kehidupan yang berbeda-beda, namun tujuan kita semua sama. Dia yang ESA. Orang yang terlalu terpaku pada jalan, lupa pada hakikat perjalanan itu sendiri. Sibuk membandingkan jalannya dengan jalan orang lain, memaksa orang lain untuk mengikuti jalannya, mereka terhenti di jalan dan lupa meneruskan perjalanannya dan melalaikan tujuan perjalanan hidup mereka : HAKIKAT.

titik nol

Tak perlu setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Agustinus, tapi menurut saya adalah benar bahwa perjalanan adalah symbol dari kebebasan dan kemerdekaan. Spoiler penting bagi penikmat buku dan pecinta perjalanan “Hidup itu adalah cermin. Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri”. Titik Nol.

Day #21: Festival Pembaca Indonesia 2010

29 Des

6 Desember 2010

Hari ini adalah pestanya mereka yang suka membaca. Hari ini di arena pasar festival kuningan adalah harinya para pecinta buku, pecinta tulisan, dan tentunya pecinta Indonesia.

Hampir semua komunitas pecinta buku, penulis dan pembacanya yang berdomisili di Jakarta, baik itu yang berbasis web, e-book, ataupun kertas yang konvensional turut menyemarakkan gegap gempita hari ini. Aku pun melaju pasti ke tenda panitia FPI (bukan front pembela Islam lho ya ^_^).

Kusapa satu demi satu aktivis Goodreads Indonesia. Mereka-mereka inilah tim sukses dari penyelenggaraan festival pembaca Indonesia. Peluk sana – peluk sini, plus cupika-cupiki. Kalau tidak ada kegiatan kami memang jarang ketemu. Jadinya kangennnn….

Tenda book swap adalah tujuanku selanjutnya. Beberapa buku pun sudah kutenteng siap untuk ditukarkan. Dan ini juga stand favoritku, karena saat kita berkunjung ke stand ini, selalu ada kesempatan untuk dapat buku gratisss…. Ya tentunya harus dites dulu layakkah kita mendapatkan buku itu (hehehe ribet juga ya).

Benar juga, tak berapa lama kemudian aku bertemu dengan Nenangs, sang pembawa toa, dan tas yang penuh dengan buku-buku baru, yippiii…Dia bersedia menghadiahkan sebuah buku berjudul “people of sparks”, sekuel kedua dari “city of Ember” karangan Jeanne Duprau. Tentu saja si Oom Nenangs ini memintaku untuk menceritakan jilid pertama dari Novel Jeanne Duparu tersebut. Hehehe…itu mah…kecillll… Lolos ujian dong. Akhirnya buku “people of sparks” segeran berpindah ke dalam genggaman.

Hari ini pun dimeriahkan dengan peluncuran sego gowes. Nasi kuning dan nasi uduknya enak serta murah meriah. Dijajakan hanya dengan harga Rp.7.000 plus segelas air mineral. Yang paling unik dari makanan ini adalah cara dijajakannya, yakni dengan mengayuh sepeda.Jadi saat pagi menjelang, coba tengok ke kanan dan ke kiri, siapa tahu para penjual nasi dengan cara dikayuh ini melintas di sebelah kita 🙂

Dan setelah icip sana-sini aku juga dikejutkan oleh kelebatan seorang teman dari komunitas jejak petualang. Yeup mbak Puji Lestari pelan-pelan menghampiri. Ternyata tidak cuma penulis yang suka buku, para petualang pun doyan membaca. Ini memang harinya kami, para pecinta komunitas ^_^

Acara jalan-jalan narsis plus nambah kenalan pun langsung dilanjutkan setelah berfoto narsis di dekat panggung bersama mbak puji, aku kembali mengunjungi stand yang ada satu demi satu. Diawali dengan mengobrak-abrik standnya mas Aldo Zirsov dan Jatam (Jaringan Advokasi Tambang). Wah tak aku duga si mas Aldo mempunyai koleksi buku-buku pertambangan yang cukup lengkap. Belum lagi tebelnya yang naudzubillah itu…yaiy ngeriii.. Akhirnya aku kenalin saja Jatam sama mas Aldo. Lumayan kan kalau mereka bisa berkolaborasi. Soalnya koleksi buku mas Aldo yang mencapai 10 ribu itu kerap kali dijadikan perpustakaan rujukan riset, baik itu mahasiswa ataupun jurnalis.

Stand menarik lainnya adalah evolitera, kiosbaca.com, kemudian.com, dan plotpoint, serta blogfarm. Evolitera adalah penerbit buku berbasis e-book. Buku-bukunya bisa dibaca via web dan didownload gratis. Untuk bisa menjadi member dan berburu buku gratis, segera kunjungi websitenya di http://www.evolitera.co.id. Surga dunia buku deh pokoknya 🙂

Kemudian ada kiosbaca.com, kios maya ini adalah layanan untuk pinjam buku plus pake diantar pula, jadi kita ga perlu repot-repot datang ke perpustakaan. Gak ada alasan deh untuk bilang ga bisa baca buku karena kantong bolong. Dengan kiosbaca.com yang biaya jadi membernya cuma Rp.50.000/ thn, kita bisa baca buku sepuasnya.

Sedangkan bagi yang penasaran apa itu plotpoint, plotpoint adalah tempat dimana kita bisa belajar menulis secara berbayar. Tentor-tentornya adalah mereka yang sudah dikenal luas sebagai penulis yang handal. Bagi yang berminat, Alamat kantor plotpoint ada di daerah Cilandak. Sedangkan alamat websitenya http://www.tulissekarang.com

Nah buat yang suka nulis dan nge-blog, buruan deh gabung di kemudian.com serta forum blogfam. Kemudian.com adalah wadah bagi para penulis Indonesia. Sudah banyak buku yang diterbitkan oleh komunitas ini. Tak usah bingung bagaimana mengakhiri suatu cerita yang kita tulis, karena komunitas ini siap sedia membantu kita menyusun sebuah ending yang bagus dari cerita yang kita tuliskan.

Bagi yang penasaran dengan blogfam, ini adalah komunitas blog yang awalnya dimulai oleh kesenangan para ibu-ibu untuk menulis di waktu senggang mereka. Namun isinya juga bukan ibu-ibu saja, beragam orang ternyata rajin nge-blog dan bergabung dengan komunitas ini. Seabreg cerita tentang kehidupan dapat kita temukan disini. Tunggu apalagi, buruan kita ulik-ulik website mereka di forum.blogfam.com dan mulai menambah pengalaman ! ^_^

Demikianlah sekelumit cerita yang bisa saya bagi di acara Festival pembaca Indonesia. Jujur, lewat festival ini aku juga baru tahu begitu banyak komunitas yang bisa kita jadikan wadah untuk mengekspresikan diri. Dijamin, tidak akan pernah merasa kesepian di ibukota dengan segambrengnya teman serta kegiatan yang kita miliki.

Aku harap festival pembaca Indonesia ini bisa diadakan lagi tahun depan, dan tentuya setiap tahun. Hehehe habisnya seneng banget bisa ketemu para penggila buku lainnya. Plus, found that i’m not the only nerd in this world ^_^

Day #19: Menempatkan pada Tempatnya

4 Des

Hari ini kamar kosku dijadikan basecamp oleh teman-teman mainku, girls gang. Acara hari ini di kamar adalah nonton film maraton rame-rame. Film pertama diawali dengan “The Girl with The Dragon Tatoo”. Menurutku film ini cukup sadis, mengupas sisi liar manusia akan kebutuhan seksnya. Mengungkap tumpulnya perasaan belas kasih, dan akibatnya malah manusia-manusia ini menikmati saat-saat penuh simbah darah dan membunuh manusia lain.

Aku baru sebatas menonton saja sih, belum membaca bukunya. Menurut teman-temanku, bukunya jauh lebih menarik. Yayaya…nampaknya aku perlu membaca bukunya. Secara garis besar film ini bercerita tentang kerja detektif-detektifan di Swedia. Tentang siapa membunuh siapa. Namun sungguh, saat aku menonton film ini, aku sampai terbawa emosi gerammm terhadap laki-laki:(

Mereka begitu kejamnya terhadap perempuan, terutama dalam masalah pemenuhan kebutuhan biologis. Mulai dari memaksa, menyekap, memerkosa walaupun itu darah dagingnya sendiri, bahkan memukuli sampai mati. Manusia terlihat rendah sekali melebihi binatang di film ini.

Sedih sekali melihat kenyataan bahwa sampai sekarang perempuan hanya menjadi obyek lelaki. Sedih sekali melihat kenyataan bahwa laki-laki yang harusnya melindungi perempuan dikarenakan fisik mereka yang tangguh, malah berbuat semena-mena terhadap kaum hawa. Apa gunanya mendengung-dengungkan saling melengkapi antara pria dan perempuan selama ini kalau itu semua hanya pemanis bibir saja?

Yang paling aku herankan diantara itu semua adalah, bukankah para laki-laki ini dulunya berasal dari rahim kaum perempuan? Dipelihara dengan penuh kasih sayang hingga dewasa… Lalu kemana perginya semua kasih sayang yang ditanamkan tersebut? Apakah dunia terlalu kejam untuk begitu saja melupakan peran perempuan?

Sejarah manusia telah mencatat betapa banyak orang besar di dunia ini sukses karena dukungan perempuan, baik itu ibunya ataupun istrinya. Sebut saja Nabi Muhammad dan istrinya Siti Khadijah, Presiden Abraham Lincoln dan ibunya, Helen Keller dan pengasuhnya, Barack Obama dan ibunya “Ann Dunham”, serta istrinya “Michelle Obama”. Di Indonesia kita pun punya BJ. Habibie dan istrinya Almarhun Ainun Habibie. Tak ketinggalan pula Nabi yang terlahir tanpa kehadiran seorang ayah, Isa As dan ibundanya Siti Maryam, serta banyak lagi lainnya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Tak elok rasanya menafikkan sejarah dan peranan perempuan, sebab tanpa adanya perempuan takkan ada kehidupan selanjutnya di muka bumi.

Perempuan bukanlah budak seks lelaki, itu yang harus kita pahami. Seks adalah kebutuhan normal dan sangat biologis, namun alangkah eloknya kalau kebutuhan alamiah tersebut ditempatkan pada tempat yang seharusnya. Tak ada paksaan, itulah fitrah kami sebagai perempuan. Karena perempuan berbicara dengan hati dan kelembutan, bukan dengan bahasa kekerasan maupun kekuatan super.

Ah miris sekali melihat film “The Girl with The Dragon Tatoo” ini. Manusia diperlihatkam menghamba pada nafsunya, pada seks. Manusia lebih tertarik untuk memperbudak orang lain dan melihatnya menderita. Dan pada kenyataannya manusia-manusia sekarang ini ada pada titik pesakitan tersebut. Meskipun tak tahu kapan, aku masih percaya bahwa suatu hari nanti manusia bisa sembuh. Suatu saat nanti kita bisa menempatkan semua pada tempatnya. Seks pada tempatnya, bukan pada segalanya. Kasih sayang pada tempatnya, bukan hanya ucapan.

Day #18: Down Syndrome – Let’s Hear Their Voice

4 Des

Hari kamis kemarin aku nonton film tentang down syndrome di Goethe Haus Jakarta. Dalam acara pemutaran dan diskusi film 2 bulanan “Screendocs” tersebut, ada 2 film yang diputar. Satu film berasal dari Indonesia, judulnya SOINA (Special Olympics Indonesia). Dan sebuah film yang berasal dari Jerman yang berjudul “Schoene Blonde Augen”.

Di film ini saya lihat mereka yang memiliki cacat mental di luar negeri, memiliki fasilitas yang lebih memadai untuk berkembang ketimbang di Indonesia. Di Schoene Blonde Augen dikisahkan bahwa sekelompok anak yang terbelakang mental ingin mementaskan sebuah sandiwara dengan tema “kelahiran” di akademi seni rupa berlin. Hal ini tentulah bukan hal yang mudah. Dibutuhkan waktu delapan bulan untuk berlatih sandiwara tersebut, mulai dari menghafal skenario sampai belajar berani menampilkan diri di depan publik.

Selama masa pelatihan tersebut Kelompok down syndrome ini tinggal di sebuah rumah di daerah pertanian terra est vita. Mereka belajar untuk mandiri, mulai dari berbelanja sendiri, bersosialisasi antar mereka, hingga pekerjaan sehari-hari. Perselisihan pun kadang terjadi.

Di sisi lain, latihan sandiwara tersebut juga merupakan tantangan berat. Dalam sesi latihan sang sutradara seringkali membahas topik tentang kelahiran agar mereka lebih memahami perannya masing-masing. Namun pada akhirnya hal ini membuat emosi para pemainnya turut tak tentu arah. Beberapa dari mereka akhirnya ingin punya anak, ada juga yang menginginkan sebuah hubungan percintaan dan dihargai oleh orang lain.

Dari film “Schoene Blonde Augen ini” dapat aku amati bahwa penderita down syndrome ini sebenarnya ingin menyampaikan banyak hal namun kadangkala mereka tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Kebanyakan dari mereka tak suka disentuh orang lain, dan sering juga mereka menggoyang-goyangkan tubuh sekedar untuk menenangkan diri dikala merasa gelisah.

Bagian yang paling menyentuh malah aku rasakan saat mereka diajarkan untuk amusik, memaknai musik. Saat musik dimainkan mereka diminta untuk menari sesuai dengan alunan musik. Kelompok down syndrome ini menari dengan sesuka hati. Senang sekali melihat mereka tampak gembira, meskipun gerakan tarian mereka tak terkoordinasi.

Ah ya..musik memang milik semua orang, tak terkecuali dia pandai atau tidak, sehat ataupun tidak, bahkan tak peduli dia tinggi ataupun pendek. Semua orang mencintai musik, dan musik adalah bahasa universal yang bisa menyampaikan banyak rasa. Termasuk sisi-sisi perasaan dari anak-anak penderita keterbelakangan mental tersebut.

Pembelajaran yang aku terima dari film ini adalah seringkali karena keadaan fisik yang tak memadai, kita malah meminggirkan mereka yang kurang beruntung. Padahal harusnya kesempurnaan yang kita milik dapat kita pergunakan untuk menolong mereka yang kurang sempurna. Ada baiknya kita mulai memberikan dukungan pada siapa saja yang kurang dan pada siapa saja yang membutuhkan. Supaya mereka didengar, supaya mereka bahagia. Dan aku pikir itu memang kewajiban sosial kita semua.

Day #17: What’s Hot On Twitter?

2 Des

Makin banyaknya informasi yang bersliweran di media elektronik dan social media membuat otakku kebanjiran informasi. Maklum, kegiatanku sehari-hari berbasis internet, media cetak kecuali buku sudah jarang aku sentuh lagi. Makin cepatnya semua issue ditanggapi, makin heboh juga berita yang ditampilkan dan jadi trending topic di social media. Contohnya hari ini dan kemarin:

1. Wikileaks
Sebuah situs yang melansir sejumlah dokumen rahasia Amerika terhadap negara lain. Sang pendiri, Julian, sekarang sibuk menyelamatkan diri karena dikejar-kejar Interpol.

2. Pernyataan SBY yang bernuansa politik tentang sistem monarki di Yogyakarta. Akibatnya banyak warga Yogya yang marah dan menuntut referendum. Sebagian besar masyarakat berpendapat presiden SBY ibarat mencari-cari masalah di air tenang. Harusnya beliau sebagai presiden mengurusi hal lain yang lebih penting daripada mengusik ketentraman yang sudah ada di Yogya.

3. Lagi-lagi soal bencana.
Banjir lahar dingin di Yogya yang menghanyutkan 4 jembatan menuju Magelang. Dan juga status gunung Bromo yang masih awas meskipun aktivitas vulkaniknya mulai menurun. Indonesia memang supermarket bencana.

Yen tak pikir-pikir bencana yang ada itu karena pertambahan jumlah penduduk juga kok. Peristiwa gempa, gunung meletus, dan bergeraknya air menuju ke tempat yang lebih rendah sehingga menimbulkan banjir adalah peristiwa alami bukan. Namunn..karena daerah-daerah rawan gempa, kemudian daerah aliran lava gunung berapi, serta daerah bantaran kali telah beralih fungsi menjadi daerah hunian maka mau tidak mau saat peritiwa alamiah itu terjadi, orang-orang menganggapnya bencana. Terutama apabila kejadian-kejadian alam tersebut memakan korban jiwa maupun harta.

Solusinya apa dong? Ya menurutku solusinya adalah bersikap ramah terhadap lingkungan. Bangun tata kota dan kelola lingkungan yang imbang. Kalau tidak imbang yo bencana yang mengancam, toh yang jadi korban saat bencana itu datang manusia itu sendiri. Semakin lingkungan dirusak, semakin manusia menuai bencana.

4. Proyek pribadi menonton konser jazz di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, yang akhirnya tidak jadi dikarenakan ketidak pastian apakah konser itu berbayar atau tidak. Meskipun tidak berbayar pun,biasanya tiketnya harus dipastikan terlebih dahulu. Pesan dulu, kadang-kadang tiketnya sudah habis pas hari H. Berhubung tidak pasti, yo wis sekalian ga jadi saja.

5. Ajang tanding bola Indonesia Vs Malaysia di gelora bung karno memperebutkan piala Asia. Salah seorang rekan yang berprofesi sebagai wartawan melaporkan via twitternya betapa absurd penampang spanduk-spanduk bola di sekitar gelora bung karno dikarenakan tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia EYD :))

Belum lagi hebohnya yel yel pembangkit gelora dan semangat yang kebanyakan berbunyi “Ayo Indonesiaaaaa!!”. Tapi tak sia-sia semua itu, Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 5-1 plus penampilan oke dari bintang-bintang bola Indonesia yang ganteng :)) Aduhhh gak jadi nonton konser jazz di Erasmus, aku malah teriak-teriak nonton bareng pertandingan bola di kedai Bakmi Jawa Anglo di Mampang :))

6. Topik terakhir ini sebenarnya gak ada di timeline twitterku sih, tapi pengen aku tulisin aja. Geregetan soalnya…

Baru ngeh kalau Justin Bieber sebeken itu setelah dia dapat 4 penghargaan di American Music Award. Plus heran betapa anak-anaknya temanku pada heboh bergoyang ala “oh beibeh beibeh” serta mengumpulkan pernak-pernik Bieber. Belum lagi tayangan beberapa televisi yang mengupas betapa kerennya si Bieber, lagunya pun sering jadi backsound liputan. Oh Dragonnn…

Tapi beken kan belum tentu keren lho ya. Menurutku Dira Sugandhi, Dewa Budjana, Mary J. Blige, jauhhhhhhh lebih keren daripada Bieber. Olah vokal dan instrumen mereka oke, lagunya pun sarat makna dibandingin si Bieber ini. Makanya masih agak-agak ga ngeh juga kenapa ini bocah bisa beken dan parahnya digadang-gadanganin mirip sama the beatles. Hadooohhhh..maaf Bieber, menurutku kamu masihhh jauhhhh sama Beatles.

Demikianlah sekilat pandang apa saja yang sudah terjadi di timeline twitter saya hari ini. Bagaimana dengan timeline anda hari ini?

Day #12: I do use English but I Love Indonesia

27 Nov

Saat berjalan-jalan di Mall-Mall baik itu di Jakarta maupun di Bandung, kerap saya sadari bahwa masyarakat Indonesia kalangan atas lebih memuja bahasa asing daripada bahasa ibunya sendiri, yakni bahasa Indonesia. Di elevator, di lift, di café-café, saya lebih sering mendengar mereka fasih mengucap “Indonesian” daripada “Indonesia”, dan lebih sering mejawab “yes” daripada “ya”.

Mereka fasih ber cas cis cus dalam bahasa Inggris ketimbang menggunakan bahasa Indonesia untuk kegiatan-kegiatan bisnis yang notabene dihadiri oleh 100% kalangan Indonesia. Bagaimanakah menurut anda? Entahlah, kadang saya merasa terganggu dengan fenomena tersebut.

Saya sendiri suka belajar bahasa asing. Gemar ber cas cis cus dalam bahasa Inggris. Namun saya menghindari untuk terlalu “hot” berbicara dalam bahasa asing apabila bertemu dengan kawan, relasi, ataupun sanak saudara yang aseli berbahasa Jawa, Sunda, maupun bahasa Indonesia. Pembicaraan pun terasa lebih hangat dan akrab saat kita berbicara dalam bahasa daerah. Gurauan-gurauan khas bahasa daerah lebih mengena di hati daripada “joke” bahasa asing yang tidak kita ketahui konteksnya.

Mungkin benar ya pepatah rumput tetangga seringkali terlihat lebih hijau. Orang Indonesia merasa lebih pede berbicara dengan bahasa asing ketimbang pakai bahasa ibunya. Padahal beberapa teman saya yang berkebangsaan asing sangat antusias belajar bahasa Indonesia. Mereka sangat bersemangat diajak bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia daripada berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Tak hanya itu yang membuat miris. Sekarang ini apabila teman-teman akademisi sastra daerah ingin mengambil S3 ataupun studi Filologi (naskah kuno) tempatnya bukanlah di Indonesia tapi di Negara mantan penjajah , yakni Belanda. Justru di Negara yang dulu menjajah Indonesia tersebut, hasil karya kesenian dan budaya nenek moyang kita dihargai dan dilestarikan. Tidak seperti Indonesia yang kadang-kadang artefak segede gajah bisa hilang dan dipalsukan atas nama uang.

Akan datang kekhawatiran bahwa suatu hari nanti untuk sekedar belajar bahasa Indonesia kita perlu menimbanya di negara orang. Akan datang kekhawatiran bahwa suatu hari nanti apabila anak cucu kita ingin belajar gamelan, wayang dan ndalang, ataupun nyinden juga harus ditempuh di negara asing yang notabene jauh dari Indonesia. Semua itu karena masyarakat Indonesia tidak mulai mencintai budayanya sendiri, bahasanya sendiri…

Saya sepakat bahwa kita memang perlu belajar bahasa asing untuk memperluas wawasan,namun bukan berarti kita harus melupakan bahasa sendiri. Saya sepakat kita juga harus mempelajari budaya bangsa lain untuk mengembangkan toleransi, namun bukan berarti kita harus melupakan budaya bangsa sendiri. Jadilah diri sendiri, karena berbeda bukanlah suatu dosa. Toh Tuhan juga bilang dalam kitab sucinya bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan berbeda bahasa dengan harapan kita saling mengenal. Mengenal diri sendiri dan mengenali perbedaan untuk paham bahwa sebenarnya kita adalah satu.

%d blogger menyukai ini: