Jadilah! Dan Pasti Terjadi!

6 Des

“Dalam Segala Musim, Tuhan Maha Penyayang”

Pernah mengalami suatu kejadian kah, teman-teman, dimana kita selalu bilang, „ini pasti ga bisa“? Entah tidak bisa dilaksanakan, entah budgetnya tidak cukup, atau sebab-sebab lain, tapi ndilalah ya kejadian juga, seperti ada keajaiban yang membuatnya terjadi. Belakangan ini saya sering mengalaminya, di saat titik kepasrahan benar-benar penuh diserahkan pada Tuhan dan alam semesta.

Di satu sisi, saya orangnya keukeuh, di sisi lain setelah keukeuh kerja keras dan hasil yang diinginkan tidak terjadi juga, ya wis lah saya pasrah, bukan rejeki saya memang, toh rejeki tidak pernah salah alamat, dibagi-bagi sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing orang. Biar Tuhan memutuskan apa yang terbaik buat saya, cara pikir nyantai yang biasa saya pakai untuk mengerem segala kecamuk pikiran, obat anti stress. Namun di saat seperti ini biasanya keajaiban menghampiri saya.

Kasus nyata keajaiban yang beberapa waktu lalu terjadi kepada saya, dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar: Hmmm dilamar oleh teman saya sendiri, dapat ganti budget yang tidak diperkirakan dimana cukup membuat saya risau dengan cara cepat dan tak terduga, berlanjutnya aplikasi beasiswa tanpa references, dan sentilan mengenai keajaiban dari kitab suci yang saya baca (muncul berulang-ulang tanpa bosan), serta pembicaraan pagi yang menginspirasi di kosan. Mendadak saya merasa kurang bersyukur… .

Tuhan sebagai pembuat skenario paling baik, tahu persis bahwa memberi pemahaman pada manusia di satu sisi harus menggunakan keajaiban dan di sisi lain harus menggunakan logika dan penalaran. Saat logika bilang mentok, adalah waktu bagi keajaiban untuk beraksi. Yang sering baca blog saya pasti tahu lah, ada waktunya saya galau karena belum ketemu lelaki yang pas untuk menjadi suami. Dua tahun belakangan akhirnya pasrah. Ya sudahlah, jodoh rumah tangga pasti akan datang di waktu yang tepat dan tidak terduga, dan itu benar-benar kejadian lho. Di sela trip saya ke Sumatera, tidak ada hujan tidak ada angin, eh dilamar oleh teman saya sendiri. Jadi kalau ada yang nanya ke saya sekarang gimana caranya ketemu jodoh, saya akan bilang „travelling-lah sebanyak-banyaknya“😀

Cerita lain datang saat keuangan saya benar-benar dalam kondisi seret, dan mendadak ada pengeluaran tak terduga. Sakitnya tuh disini! Bagaimana caranya harus survive beberapa waktu ke depan? Bisa ga ya? Setelah episode bete seharian dan pusing tujuh keliling hingga beruban, akhirnya pasrah saja. Ya mau gimana lagi, akhirnya cuma bisa berdoa “cukupkan ya Allah dan tambahkan rejeki saya”, ebuset ga perlu lama-lama seperti nunggu dana cair dari lembaga, rejeki dari Tuhan keesokan harinya sudah muncul di layar handphone “bon-bon dikumpulin ya, nanti diganti semua pengeluaran”, yihaaaa sorak saya dalam hati.

Kejadian aneh lainnya saya alami terkait aplikasi beasiswa yang saya inginkan. Saya sudah submit nama pemberi referensi saya, dan mereka sudah saya ingatkan untuk cek e-mail, namun ternyata komite beasiswa belum menerima e-mail juga dari para references saya. Yo wis, saya pasrah, ga bisa lanjut lah aplikasi ini. Eh ndilalah pagi-pagi, hari ini, saya mendapati e-mail dari empunya pemberi beasiswa bahwa mereka akan melanjutkan aplikasi beasiswa saya ke step lanjutan dan akan diberi kabar pada bulan Februari 2015. Saya diminta untuk mendaftar ke Universitas yang saya maksud di aplikasi. Kontan saya ucek-ucek mata berkali-kali, bangun tidur pula. Ini keisengan Tuhan yang mana lagi sambil ngakak kenceng-kenceng.

Dalam pikiran saya segera berkelebat bahwa tidak pernah ada kebetulan di dunia ini. Dengan memberikan keajaiban-keajaiban ini kepada saya, skenario hidup mana lagi yang Tuhan ingin saya laksanakan? Tugas seperti apa yang Tuhan ingin berikan? Tapi tidak lama saya memikirkan itu, karena saya harus memikirkan step yang lain dulu, kembali berkejaran dengan waktu dan rasa malas dalam melayangkan aplikasi kepada universitas-universitas yang dimaksud😀

Setelah mendapat kabar ajaib pagi tadi, saya pun membuka kitab suci agama saya, mencari-cari jawaban di dalamnya. Hal ini semacam kebiasaan saya saat sedih ataupun gembira supaya hati tenang dan tak terlena. Saya buka halaman yang sudah saya beri pembatas, di lembar itu memuat tulisan “Kun Faya Kun”, terjadilah apa yang Tuhan inginkan untuk terjadi. Hati saya tergetar, saya pun ingat di lembar sebelumnya yang saya baca waktu lalu juga memuat kata-kata tersebut, apabila Tuhan berkehendak, tidak ada kata mustahil🙂

Tidak pernah ada kebetulan, yang Tuhan inginkan untuk terjadi, maka akan terjadi walaupun kita sudah terang-terangan protes menolak setiap kejadian. Udah terima aja lah, persiapkan wadah hatimu untuk bisa menerima lebih banyak lagi, kurang lebih seperti itu mungkin canda malaikat saat kita protes teriak-teriak atas keputusan Tuhan. Saya pun melirik e-mail, ada notifikasi masuk dari “Sejenak Hening”, tulisan yang harus saya edit, temanya kali ini mengenai orang tua. Rasanya saya tahu untuk siapa tulisan ini dan mengapa disampaikan ke tangan saya untuk saya edit dan diteruskan kepada orang lain. Dan dibalik sayup-sayup cicit burung pagi ini, sontak saya mendengar curhatan dua orang penghuni kosan di ruang tamu.

“Emang gaji kamu berapa?”, lawan bicaranya menjawab, “1,5 juta lah bersih”, kembali sang penanya berkata, “kok di bawah UMR, emang cukup?, hari gini cukup buat apa uang segitu di Jakarta?”, yang ditanya pun menjawab, “ya dicukup-cukupin lah. Bayar kosan, transport, makan, paling itu aja kan. Ya udah. Kalau selalu nanya cukup apa enggak, ya ga akan pernah cukup lah buat manusia”. Saya terharu…. Atas besarnya hati teman saya, atas cukupnya merasa segala rejeki. Saya mendadak malu, sungguh malu atas kurangnya rasa syukur saya. Banyak orang lain yang tidak seberuntung saya padahal. Saya ambil laptop dan jadilah tulisan yang kalian semua baca saat ini.

Buat yang baca blog saya, please jangan meremehkan orang ya, siapa tahu orang yang kita remehkan atau tidak kita sukai amalan kebaikannya jauh melebihi kita. Hatinya lebih pemaaf dan luas daripada yang kita miliki. Yuk berikan kebaikan pada semesta, meskipun hanya berbentuk pemikiran positif, dan rasakan nikmatnya saat semesta balik menyayangimu. Buat saya, rasanya seperti diketapel sekeranjang rejeki oleh Tuhan. Ajaib! Sakit tapi enak😀

Duh Gusti, terima kasih atas segala pemberianMU ^_^.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: