Curhatan Seorang Penulis

7 Okt

Banyak deadline tulisan, itulah salah satu problem penulis. Begitu banyak yang harus dituliskan tapi hanya punya sedikit waktu atau begitu banyak yang harus ditulis tapi mood menulis naik turun ga keruan (penulis ababil xD).

Begitulah hari-hari saya, selain deadline pekerjaan sebagai konsultan komunikasi yang harus dipenuhi, ada deadline pribadi dalam menulis novel selanjutnya, ada juga deadline tulisan di blog. Seringkali deadline menulis buku dikesampingkan karena deadline pekerjaan adalah yang nomor satu buat saya. Nah kalau menulis blog adalah kebutuhan pribadi saya. Saat menulis di blog, saya tidak dibatasi oleh pakem ataupun tujuan penulisan, saat di blog, saya menulis untuk diri saya sendiri.

Yang baca blog saya mungkin pada kaget, tujuan penulisan? Tentu saja menulis ada tujuannya. Saat saya menulis untuk klien tentu dengan harapan supaya masyarakat luas lebih mengerti mengenai program yang dilaksanakan oleh klien saya, membuat nama ataupun brand klien saya lebih dikenal oleh public. Adapun untuk penulisan buku, mau tidak mau saya harus mempertimbangkan trend pasar dan juga kepentingan penerbit. Ini hal yang wajar, saat kita membuat produk, kita ingin produk kita laku bukan.

Kebebasan bagi saya tercipta saat saya menulis blog. Saya tidak harus memikirkan pendapat orang mengenai tulisan saya, bahkan tidak harus membuat orang menoleh untuk menengok blog saya, dibaca syukur, enggak dibaca pun tidak ada masalah. Menambah wawasan orang lain, Alhamdulillah, enggak pun bukan menjadi masalah yang harus diributkan.

Kontemplasi saya pun bukan hanya sebatas tulisan narasi, tapi bisa juga berbentuk puisi dan lirik lagu. Gaya tulisan saya pun bermacam-macam, apalagi untuk penulisan artikel dan feature, sesuai request klien:D

A to Z By Request in Sabang Island - Taken by Denie Kristyono

A to Z By Request in Sabang Island – Taken by Denie Kristyono

Follower blog saya pasti paham gaya tulisan, puisi, dan model cerpen saya seperti apa. Jujur, saya hobi banget pakai simbol-simbol dalam puisi dan cerpen. Untuk novel sih saya tidak terlalu berani memakai simbol-simbol tersebut, takutnya malah ga sampai maksud ceritanya. Kalau cerpen dan puisi kan bisa dimaknai secara bebas oleh para pembacanya, lebih fleksibel lah🙂

Nah demikian dulu intermezzo tulisan saya hari ini. Ingat, kita semua adalah penulis. Siapapun kita sejatinya tiap hari kita menuliskan kehidupan di lembaran waktu menggunakan tinta perbuatan. Bedanya tulisan perbuatan kita sifatnya abadi, ada dalam ingatan, tak bisa terhapuskan layaknya pensil dan karet penghapus.

Salam manis dari balik laptop saya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: