Surga itu Bernama Tobea dan Renda – bagian 1

3 Agu

“Dev, nanti kami minta bantuan untuk pengambilan footage video dan foto-foto penanaman rumput laut di Sulawesi Tenggara ya”, pinta climate change adaptation advisor yang sudah aku anggap Abang sendiri itu.

Maka berangkatlah aku menuju Sulawesi Tenggara, Pulau Tobea dan Pulau Renda di Kabupaten Muna, tempat yang belum pernah aku kunjungi. Menurut petunjuk rekan-rekan yang sudah pernah kesana, pesawatku dari Jakarta akan transit terlebih dahulu di Makassar baru menuju Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Dari Kendari aku akan menempuh jalan darat yang cukup lama ke pelabuhan di Konawe Selatan, kemudian menyeberang ke pulau yang dituju.

Hari itu 15 Juli 2014, Shubuh pun belum sampai, taksiku sudah menuju bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Sahur aku lakukan di Bandara, daripada ketinggalan pesawat aku lebih memilih datang pagi-pagi ke Bandara. Jam 5.40 WIB panggilan boarding sudah berkumandang, segera kutenteng ransel dan tas yang berisi peralatan dokumentasi mulai dari handycam, kamera mirrorless, sampai kamera pocket, yang aku masukkan ke dalam dry bag, tak lupa kupasang cover bag untuk melindungi ranselku. Maklum, seminggu di laut, mendingan orangnya yang kebasahan daripada peralatan elektroniknya😀

Selamat Datang Di Kendari

i love the blue of Indonesia

i love the blue of Indonesia

Pukul 06.10 WIB pesawat yang aku tumpangi mulai membumbung ke angkasa. Perjalanan ke Kendari plus transitnya ini diperkirakan memakan waktu hampir lima jam. Maksud hati ingin tidur selama di angkasa, ndilalah pemandangan matahari terbit dan gugusan pulau-pulau di bawah begitu cantik untuk dilewatkan, jeprat jepret dulu sebelum tidur pun dilaksanakan.

indahnya sunrise dari balik jendela pesawat

indahnya sunrise dari balik jendela pesawat

Pukul 11.40 WITA, waktu Kendari, aku mendarat di bandara Haluoleo. Dan selama di pesawat dari Makassar menuju Kendari, ternyata aku duduk bersebelahan dengan dosen Universitas Haluoleo yang paham ihwal penanaman rumput laut. Sesi menimba ilmu selama dalam pesawat pun terlaksana. Memang ya, kalau kita udah niat, bahkan semesta pun berkonspirasi untuk mewujudkannya🙂

Dari Bandara menuju pusat kota Kendari membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Selama dalam perjalanan aku melihat banyak pembangunan disana-sini. Ada tujuh jembatan yang dibangun dalam waktu bersamaan sepanjang perjalanan dari bandara menuju pusat kota Kendari, jalanan terlihat berdebu.

Datang ke Kendari rasanya seperti pulang ke kampung halamanku, Malang. Banyak pepohonan di sepanjang jalan, dan tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Kota Kendari memang tidak seglamour Makassar, bahkan pesawat yang mendarat kebanyakan pesawat perintis atau explore. Temanku yang aseli Kendari bahkan berkelakar, ibu kota propinsi rasa kecamatan. Hey, but i like it!

Di bandara Haluoleo bahkan aku sempat melihat burung raptor elang terbang bebas. Hal ini menandakan habitat di sekeliling bandara masih banyak pepohonan, mudah-mudahan burung-burung tersebut tidak tertabrak oleh pesawat udara ^_^

Aku menginap semalam di Kendari sambil menunggu kedatangan bibit rumput laut dari Gorontalo. Makanan khas yang patut dicoba saat kita di Kendari tentunya ikan bakar dan sagu. Di rumah makan yang aku datangi ada sejenis gorengan yang sangat enak di lidah, saat aku tanyakan kepada pemilik restoran bahan utama pembuat gorengan tersebut ternyata terong. Cobalah saat berkunjung ke Kendari, gorengan sehat.

Keesokkan harinya bibit yang ditunggu-tunggu datang juga via kargo udara dari Makassar. Segera kamera dan videoku beraksi mendokumentasikannya. Bahkan aku sempat memotret kargo-kargo lain semacam kucing Persia yang didatangkan dari pulau Jawa, Semarang. Kucingnya saat keluar dari kandang kargo tampak stress karena berada terlalu lama dalam kandang😀

Island Hoping Begin

Pukul  17.00 WITA, wohoo, saatnya island hoping dimulai. Dari bandara, kami (maksudnya saya dan seorang kawan dari yayasan lokal di Kendari) berkendara selama kurang lebih tiga jam melalui perbukitan yang indah menuju pelabuhan Matabubu, di kecamatan Lainea, kabupaten Konawe Selatan. Jangan ditanya soal akses jalannya, alamak ja, sungguh daerah yang jauh dari pulau Jawa fasilitas jalannya tidak begitu bagus. Tampak lubang disana-sini yang memadai untuk memelihara ikan di tengah jalan, tak cuma lubang, bahkan banyak jalanan yang masih berupa batu.

hujan itu membawa pelangi

hujan itu membawa pelangi

 

Yang paling indah selama perjalanan adalah: bisa melihat pelangi yang indah di Kendari. Tak hanya satu, namun dua. Maklum selama hidup di kota, sudah lama aku tidak melihat pelangi. Rasanya berjuta🙂

 

 

Pukul 20.00 WITA, kami sampai di pelabuhan Matabubu, dan segera menyeberang ke pulau Tobea. Malam itu laut sedang surut jadi kami harus berjalan kurang lebih 300 meter untuk sampai ke perahu kami. Jangan dibayangkan itu perahu motor yang mewah. Kapal itu benar-benar kapal nelayan kecil milik suku Bajo yang muat untuk barang-barang kami dengan tutup terpal di atas kepala, sebutan untuk kapal nelayan itu body.

Perjalanan dari Matabubu menuju pulau Tobea, pulau yang asing di telinga itu, kurang lebih memakan waktu dua jam. Ombak tidak terlalu tinggi, pun yang bertiup saat ini menurut nelayan yang membawa kami adalah musim angin timur. Beruntung aku tidak memiliki kecenderungan mabuk perjalanan, yang ada malah aku tertidur sepanjang perjalanan, terasa seperti ayunan.😀

Hallo Tobea!

Kami sampai di Tobea kurang lebih pukul 10 malam, dan disambut oleh Bapak Sekdes Desa Wangkolabu. Bibit rumput laut segera dibongkar dan direndam dalam air laut untuk menjaga kesegarannya.  Bibit tersebut sudah terlalu lama di dalam kargo, perendaman berfungsi untuk mengembalikan asupan air bagi rumput laut. Karena kami membawa dua varietas yang berbeda, perendaman bibit tidak dicampur, dipisah berdasarkan jenis bibit  masing-masing dalam jaring-jaring yang besar.

Kamis pagi, tanggal 17 Juli 2014, Bapak Sekdes Wangkolabu mengajak kami untuk berkeliling pulau dan mengecek salah satu lokasi demplot penanaman rumput laut via jalan darat menggunakan motor.Selama dalam perjalanan pak Sekdes menjelaskan ihwal pulau Tobea.

memanen rumput laut

memanen rumput laut

Dulunya pulau Tobea adalah daerah perkebunan kelapa sawit, dan baru saja menerima kemerdekaan dari perkebunan tersebut sekitar sepuluh tahun ke belakang. Selain Kelapa sawit, pulau Tobea dulu juga terkenal dengan budidaya rumput laut yang sekarang sedang mengalami masa suram, serta produksi kacang mete. Kacang mete Tobea biasanya dijual di Buton dan memiliki kualitas nomor satu. Ngomong-ngomong dari Tobea kita bisa melihat daratan Buton dengan jelas lho.

hallo Buton!

hallo Buton!

Hewan yang hidup di Tobea kebanyakan adalah kucing, sapi, dan seekor Anjing. Anjing tersebut bahkan diimpor dari pulau sebelah. Tidak seperti pulau lain yang banyak dihuni babi hutan, Tobea bersih dari hewan yang suka merusak tanaman tersebut. Desa Wangkolabu sendiri artinya banyak labu, dulu, sekarang sih sudah jarang.

Penduduk pulau Tobea kebanyakan adalah suku Bajo yang mahir dalam berenang dan navigasi laut. Kemampuan membuat kapal pun jangan diragukan lagi. Sejak bayi, kanak-kanak suku Bajo sudah diajari caranya berenang di laut. Aku yang tidak pandai berenang jadi bulan-bulanan tertawaan mereka. Ya nasib😀

Sekolah di Tobea hanya sampai jenjang SMA, apabila anak-anak suku Bajo ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang Universitas, mereka harus pergi ke daratan Sulawesi Tenggara. Yang paling terkenal tentu saja Universitas Haluoleo.

pemukiman di Tobea

pemukiman di Tobea

kulit kima raksasa

kulit kima raksasa

Rumah-rumah penduduk Bajo kebanyakan berstruktur panggung dan terbuat dari kayu. Baik itu kayu bakau ataupun kayu besi. Struktur panggung ini dikarenakan daratan pulau mereka apabila pasang datang tergenang oleh air laut. Aku bahkan menemukan kulit kima raksasa di tengah hutan yang membuktikan bahwa dulunya daratan pulau ini kemungkinan besar dulunya laut. Nah untuk membangun rumah pun mereka mengandalkan kuncian sudut pada pasak-pasak tiang bukannya paku. Atap rumah mereka pun masih banyak yang berasal dari rumbia.

Sebagian besar masyarakat Tobea menggantungkan air bersih mereka dengan menadah hujan, bagi masyarakat yang kaya bolehlah mereka membangun sumur bor. Penerangan dan listrik hanya menyala mulai pukul enam sore hingga pukul lima pagi, jadi saat siang hari anak-anak bebas invasi sinetron dan telenovela. Dan penggunaan sumur bor juga baru bisa dilaksanakan saat listrik sudah menyala. Oleh karena itu penduduk desa memiliki tandon air bagi masing-masing rumah.

Tidur di rumah yang di kelilingi laut sungguh sangat nyaman bagiku, udara masuk bergiliran dari sela-sela lantai papan dan dinding kayu. Yang tidak tahan nyamuk bolehlah tidur berkelambu atau menggunakan baju yang menutupi seluruh tubuh saat beraktivitas. Jangan lupa rasakan juga sensasi wc gantung di pulau Tobea, plung, langsung masuk ke lautan😀

Saat saya sampai di tempat yang dimaksud, saya sungguh terpana. Mamak, indah kali tanah air beta yang bernama Tobea ini, serasa ada di surga! Hamparan pasir putih dengan panjang kurang lebih 3 KM dijamin bisa bikin kurus kalau kita olahraga satu jam saja di atasnya. Pantai yang kami kunjungi sangat landai, dan saat surut bergini, jarak dari ujung saya berdiri hingga ujung lautan kurang lebih 800 meter. Sepanjang garis pantai ini ditumbuhi oleh kayu besi. Tahu begini ceritanya bawa hammock deh dan dipasang diantara pepohonan.

surga itu bernama Tobea

surga itu bernama Tobea

diantara gurun pasir lautan

diantara gurun pasir lautan

Karena penasaran ingin memotret burung bangau, aku pun bermanuver menuju kumpulan pohon bakau. Menurut pak Sekdes daerah tersebut rumahnya para bangau, tapi saat ini bangaunya sedang tidur siang. Tidak ketemu dengan bangau, aku malah ketemu dengan burung welcome bier. Susah banget motret burung itu, aku mendekat eh burungnya lari menjauh. Ya sudahlah, karena panas yang menyengat dan dalam kondisi puasa, aku menyerah mengejar burung-burung itu di hamparan pasir pantai.

Pak Sekdes Wangkolabu juga bercerita bahwa Tobea juga menyimpan potensi keindahan terumbu karang, tidak kalah jika dibandingkan dengan kepulauan Wakatobi. Beberapa diver yang sudah singgah di Tobea menyatakan hal yang sama kepada pak Sekdes. Hanya saja masyarakat Tobea masih harus mendapat penyuluhan tentang bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sekitar dan sadar pariwisata.

Mari Merangkai Tali di Lautan

Sore harinya tugas dokumentasi kembali menunggu, kelompok petani rumput laut rencananya akan memasang tali utama yang nantinya dipergunakan untuk menanam rumput laut dengan kedalaman yang berbeda. Adapun lokasi demplot tersebut memiliki kedalaman kurang lebih 15 meter. Tempat ini dipilih berkaitan dengan arus air laut.

Para lelaki suku Bajo dengan gagah dan berani turun menyelam ke dalam laut. Ada yang menggunakan kompresor dan selang yang digigit plus kacamata renang, ada juga yang tak memakai alat apapun hanya berbekal kacamata renang tersebut. Gerakan mereka sangat lincah, seperti lumba-lumba. Naik turun di berbagai kedalaman nampaknya gampang saja buat mereka.

Setelah memasang empat buat tali utama yang diikatkan pada batu di kedalam 15 meter selama kurang lebih tiga setengah jam, kami pun berkemas dan membagi bibit menjadi dua bagian yang nantinya akan ditanam di pulau Renda. Seusai berbuka puasa dengan kolak pisang hijau, kami bertolak ke pulau Renda yang berjarak satu jam perjalanan laut dari pulau Tobea.

siluet senja dan membagi bibit

siluet senja dan membagi bibit

8 Tanggapan to “Surga itu Bernama Tobea dan Renda – bagian 1”

  1. Lisa Tasiam 11/08/2014 pada 8:53 pm #

    Selamat malam. Saya Lisa, ingin bertanya soal perjalanan dari Kendari ke Pulau Tobea dan Renda. Bolehkah saya mendapatkan nomor telepon Ibu. Nomor saya 0812 9008 3232 atau 0856 89 555 98. Saya tunggu kabarnya dan terima kasih banyak. Lisa

    • Devi R. Ayu 12/08/2014 pada 6:44 pm #

      Hai, mbak lisa. sudah saya sms nomer saya ya🙂

  2. indrijuwono 14/08/2014 pada 12:48 pm #

    Halo, devii.. asyik banget cerita Tobeanya, lebih seru dari obrolan WA, ya.
    asik kan ngeblog traveling..🙂

    • Devi R. Ayu 15/08/2014 pada 7:54 pm #

      Hahahahahah masa sih? kalau di blog lebih leluasa sih emang ceritanya daripada WA. Thanks ya, ndri ^_^ Hahahaha..kalau nulis soal travelling sih emang sering, kerjaan soalnya, kudu ada reportnya, tapi kalau dimasukkin ke blog emang jarang😀

      • indrijuwono 16/08/2014 pada 6:45 am #

        tapi kata ‘surga’ itu termasuk yang kuhindari, rentan berpolemik. hahaa..

      • Devi R. Ayu 17/08/2014 pada 12:41 pm #

        ahahahaha…..biarin yang baca berpolemik, yang nulis ga ada polemik😛

  3. sahrulhusu 28/02/2016 pada 2:01 pm #

    nice artikel mba,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: