Rindu Yang Memanggil…

24 Nov

Kita berhenti di masa terindah yang pernah terlewati. Tontonan di national Geographic itu menyadarkanku. Masa terindah yang pernah aku lewati sampai saat ini adalah masa-masa kuliah, Jatinangor-Bandung, 2000-2004. Therefore aku selalu merasa waktu itu belum lama berlalu. Masih merasa gadis kampung dari kota kecil yang berusaha meniti jalannya.

At that time, whenever I’m alone, I was never alone. Jauh dari Orangtua malah menyadarkan aku betapa berharganya saat-saat bersama mereka. Dan ada banyak teman yang mengisi hari-hari tersebut dengan persahabatan tulus, bahkan sampai sekarang. Sebut saja Siti, Dyah, Ncie, dan banyak sahabat lainnya. Kalau ditanya siapa dibalik keseharianku sehari-harinya, mereka tahu.

Dan kemarin berjumpa dengan sahabat-sahabat semasa pertama kali kerja di Jakarta. Trio Petasan renteng, 3D. Waktu membawa kami semua berubah. Dhita sudah menikah, menjadi lebih dewasa. Pembicaraanku dengannya juga jauh daripada dia sekedar mendengar curhatku yang stress dengan kemacetan. Tapi lebih kepada perilaku orang-orang pembuat kemacetan. Hingga sistem pendidikan dan mindset.

Dyna pun sudah berubah, dengan passion barunya, dengan kehilangan kedua orang tuanya, cara pandangnya tentang manusia adalah manusia. Membuat kami melihatnya bukan gadis yang suka menyembunyikan perasaannya lagi. Tunduk lah kami berdua apabila bicara tentang cinta pada orangtua. Disini aku menyadari hidupku sangat penuh makna dan warna dengan hadirnya mereka.

Dan kami bukanlah gadis-gadis yang baru lulus kuliah seperti dahulu yang hobinya karaoke dan minum kopi atau banyak kelakuan konyol kami lainnya. Ini lebih kepada rindu kami untuk berbagi karena ada klik dalam jiwa-jiwa kami.

Yang aneh dalam sahabat-sahabatku, saat kami saling merindukan, biasanya kami saling brmimpi dan perasaan jadi tidak enak satu sama lain saat sesuatu yang buruk terjadi. Misalnya saat aku sedang sangat sedih, Dyah akan mimpi sesuatu tentangku. Atau saat siti Ibunya meninggal, aku mengalami imsonia parah. We are connected, just like that.

Rindu ini memanggil mereka, rindu ini memanggil satu sama lain. Perjalananku untuk letting go saat ini memanggil sahabat-sahabatku untuk hadir walaupun hanya lewat sepatah kata di wall ataupun alat komunikasi lain. Suddenly of nowhere bahkan Rully dan teman-teman semasa SMA memberi isi pada ruang-ruang yang kosong.

Kalau kamu ditanya siapa yang paling mengenalmu harusnya kamu jawab, diriku sendiri. Perjalanan letting go ini mengingatkanku bahwa “if you love someone, set them free. If they comeback it means yours forever, if it doesn’t, it’s never been yours to begin with”

Life, I love you🙂

 

2 Tanggapan to “Rindu Yang Memanggil…”

  1. iYi 05/01/2014 pada 12:16 am #

    Hay penulis yang cantik hatchinya…😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: