Melepas….

11 Jul

Tampaknya saya harus  kembali belajar yang namanya melepaskan. Terlalu banyak pengharapan menyebabkan ikatan dan kekecewaan saat apa yang diinginkan tak kunjung terjadi. Berharap boleh-boleh saja, namun ada resiko menyesakkan dan perjuangan untuk menggapai harapan. Saya terima keadaan itu, namun pada suatu titik saya lelah, dan yang saya bisa lakukan adalah melepaskan, ikhlas.

Ketakutan terbesar saya mungkin adalah melepaskan. Ternyata saya masih suka bergelimang dengan sampah dan bebatuan yang memberatkan jalan saya dan menghalangi pandangan. Maka, saya hadapi ketakutan itu. Saya masuki ketakutan itu. Setidaknya saya sudah berusaha….

Siap tidak siap, akan saya hadapi perubahan itu. Saya bebaskan diri saya, dan saya bebaskan apapun di sekeliling saya untuk bergerak sesuai keinginan mereka, alami. Saya putuskan saya harus bahagia, karena… kasihan orang-orang di sekeliling saya yang harus ikut bersedih saat saya dalam duka misalnya. I love them all, that’s why i choose to be happy.

 

Ada buku yang cukup menarik yang membahas mengenai melepas, judulnya si cacing dan kotoran kesayangannya 2. Buku itu menawarkan empat cara melepaskan diri, yang mana cukup logis buat saya. Beberapa saya tuliskan disini:

 

1. Satu hal pada satu waktu

Saat ini saya merasa lelah, itu karena saya membawa terlalu banyak hal di ransel batin saya. Saat saya benar-benar masuk ke dalam diri saya, ternyata ada banyak yang bisa saya buang sehingga memberi ruang pada ransel batin saya. Antara lain membuang gubrisan diri sendiri atas masa lalu dan masa depan. Apakah jadi hal buruk setelah saya membuang semua itu? Tidak ada, karena saya hidup di masa sekarang. Lelah sekali karena saya terlalu mengindahkan kekhawatiran-kekhawatiran.

 

Saya tidak tahu apakah sejarah hidup saya bagus atau buruk. Yang jelas, saya berusaha menjalankan peranan yang diberikan pada saya sebaik-baiknya. Saya pun tidak tahu menahu tentang masa depan. Harapan saya banyak, namun ya itu tadi kerapkali kita mengeluh dan bermuram durja saat apa yang kita harapkan tak kesampaian.

 

Dari kecil saya berusaha melepas sifat suka mengeluh yang memang sangat alami sekali dimiliki oleh manusia. Batin kita yang suka mencari kesalahan dan mengeluh dapat membuat kita gila. Terlalu banyak pemikiran dan benda-benda usang yang saya taruh di ransel batin saya. Saya pun mulai belajar menaruh satu hal saja dalam tiap waktu, yaitu masa kini

 

2. Mau disini

Ada banyak penjara yang saya ciptakan. Saya tidak mau disini dan saya tidak mau disana. Tempat apapun yang tidak saya senangi, tempat yang tidak saya maui, adalah penjara saya.

 

Belakangan saya sadari, kalau saya mau ada disini, di tempat yang tidak saya sukai ini, saya bebas. Tidak peduli betapa menyakitkannya atau tidak nyamannya perasaan tersebut. Karena jika saya selalu ingin berada di tempat lain, bukan disini, maka yang akan selalu saya rasakan adalah stress dan derita, terpenjara. Perubahan sikap dan mindset, itu saja.

 

3. Memberi tanpa harap kembali 

Memberi… nah inilah.. kadang tanpa saya sadari, saat saya melakukan sesuatu, saya juga mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya. Misalnya, saat saya membantu orang, saya juga mengharapkan suatu saat orang itu nantinya juga akan membantu saya. Padahal ya tidak begitu juga putaran nasib. Semua ada balasannya, meskipun bukan dari orang yang kita tolong misalnya. Namanya manusia, kegiatan terbesar kita semua mungkin adalah mengharap…

 

Tampaknya saya juga harus mulai belajar spontan. Karena makin banyak pengharapan, makin sedikit perjalanan hidup yang bisa dinikmati. Lepas sajalah.. berikan tanpa harap kembali, sebagai suatu kesenangan, tidak menuntut apapun, kecuali gaji *opss* Biasanya kehidupan memberikan apa yang paling tidk kita duga atau impikan. Seluruh berkah biasanya datang sebagai kejutan🙂

 

4. Batin Teflon

Memiliki batin ala Teflon bukanlah hal yang mudah. Paling sulit bagi saya dari empat cara melepas yang dianjurkan. Batin Teflon artinya, tidak ada apapun yang menempel padanya. Kita memiliki momen indah saat ini, nikmati saja, toh semua momen indah ini pun pasti akan berlalu. Mari membebaskan batin kita dari lekatan suatu momen dan kita pun siap untuk kedatangan momen berikutnya, tanpa membiarkan momen terakhir menghalangi momen yang sedang berlangsung.

 

Intinya tanpa lekatan-lekatan tersebut kita tidak membiarkan sebuah kebahagiaan ataupun kegetiran menjadi pembanding dalam momen selanjutnya pada hidup kita. Apabila tidak ada yang melekat, secara logis kita dapat menikmati momen akan datang tanpa dibelenggu oleh masa lalu.

 

Hubungannya dengan pengetahuan yang kita pelajari juga ada. Kadang saat kita mempelajari sesuatu, apa yang kita pelajari menempel pada batin kita. Hal itu biasanya membuat kita angkuh, sehingga tidak dapat menghadapi realitas. Seringkali orang-orang yang memiliki banyak pengetahuan tidak bisa memahami kebenaran saat ini. Ajahn Brahm bahkan mempunyai ungkapan favorit dalam menggambarkan situasi ini: jangan biarkan pengetahuanmu menghalangi jalan kebenaran.

 

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita pelajari, yang kita harapkan untuk terjadi malah. Artinya saat kita mengharapkan sesuatu akan terjadi karena kita telah mempelajari segala hal mengenainya, kadang-kadang pengetahuan itu menghalangi kita dari melihat kebenaran dan keunikan apa yang terjadi saat ini juga. Sehingga kita tidak bisa berdamai dengan saat ini, Menjadi gelas kosong saat belajar, itulah yang terbaik menurut saya.

Jadi semua pengetahuan yang dibilang pakar atau pemerintah misalnya, hanyalah papan penunjuk arah. Dengan melihat dan mengalami banyak hal sebagaimana adanya adalah lebih baik daripada melihat hal-hal sebagaimana diberitahu adanya. Belajar melepas yuk.. menikmati banyak kejutan dalam hidup, supaya kita lebih ikhlas J

 

 


Devi R. Ayu
——————-

“I shall never believe that God plays dice with the world” – Albert Einstein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: