Jadi Dimanakah Tempatmu?

30 Apr

Jakarta, 30 Mei 2012

Masih tersisa kesedihan saat membaca sebuah berita pagi ini. Sebuah kesalahan, ribuan paradigma, cara pandang, penghakiman secara massal, seolah tak ada noktah dalam kehidupan mereka. Di sini, gemercik sedih mengalir….

Namun diantara riuhnya caci maki, masih kudapati setetes embun yang terbaca. Mungkin memang dari dulu demikian ceritanya, yang berwawasan luas ditakdirkan jadi minoritas, yang berhati seluas samudera susah dicarinya. Mereka menyepi ke tempat dimana mahabah bisa mereka maknai sesuka hati, bukan dogma televisi dan iklan komersil.

Jangan pernah bercerita tentang cinta pada orang yang pernah kalah di pertempuran hati, mereka lebih paham makna menangis, sakit hati, dan menghargai. Bagi mereka yang selalu sanggup bangkit menghadapi coba dalam hidupnya, “I salute you”, Insya Allah selalu ada jalan….

Dalam sekeping tulisan tentang cinta dari embun yang terbaca, ada bait tentang penerimaan, penerimaan sepenuh hati atas siapapun jati diri yang sedang memijak bumi. Dari sekeping tulisan tentang cinta kupahami tingkatan cinta ala yunani.

Berbagai versi level mencintai sudah aku baca. Semuanya sebenarnya sama, yang tertinggi adalah saat kita tidak mengharapkan balas apa-apa atas cinta itu. Adapun versi tingkatan cinta dan ego manusia ala agama Budha terpahat di candi Borobudur, dari dasar hingga pucuk Stupa. Sedangkan versi cinta dan hubungan manusia dalam agama Islam, dibagi menjadi dua golongan besar, Hablu minna nass (hubungan manusia dengan sesama manusia), serta Hablu minnallah (hubungan manusia kepada Allah).

Berikut dalam kebudayaan latin, tingkatan dan pembagian cinta:

  1. 1.      Eros (bahasa Yunani: Ἔρως), dalam mitologi Yunani, adalah dewa cinta dan nafsu seksual. Dia juga disembah sebagai dewi kesuburan. Dalam bahasa Yunani berarti cinta berdasarkan hawa nafsu saja. Kata turunannya adalah erotis.
  2. 2.      Storge lebih dikenal dengan cinta kepada sanak keluarga, misalnya cinta kepada kakak dan adik.
  3. 3.      Philia adalah jenis cinta yang diperuntukkan kepada teman dekat, sahabat. Dan yang terakhir adalah,
  4. 4.      Agape sama dengan cinta yang tidak egois, cinta yang disumbangkan begitu saja, tanpa mengharap kembali. Cinta yang bisa meneriman siapapun apa adanya. Bentuk cinta tanpa batas ini kerap dicontohkan dengan cinta Tuhan terhadap ciptaan-Nya, cinta seorang Ibu kepada anaknya.

 

Jadi dimanakah cinta kita berada? Hanya ragawi kah? Atau bahkan kita tak pernah jatuh cinta, karena tak pernah tahu makna cinta?

 

– me, seseorang yang sedang kecewa dengan dunia, dan cara pandang manusianya-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: