Bizarre Love Stories

18 Agu

“Kakak, kita saudara dari mana sih”, kata Arum hari ini. “Aku pikir kakak nikah dengan saudaranya, mas Wildan, kakak iparku”, lanjutnya. Dan aku pun kembali tertawa kencang-kencang. Hari ini, Arum yang baru kukenal, mulai melakukan penelitian komunikasi di kantorku.

Iya, hampir Arum. Aku hampir jadi saudaranya Arum dalam arti yang sebenarnya. Ah ternyata pertemuan dengan keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro itu memang membawa arti dalam hidupku. Padahal sungguh, dulu aku sangat membencinya, hari ini aku telah sadar pertemuan dengannya telah membawaku ke pertemuan-pertemuan lain. Pertemuan dengan orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku. Jadi untuk apa aku membencinya?🙂

Entah kenapa, saudara-saudara sepupunya, Oom dan Tantenya malah jadi orang yang sangat berharga dalam hidupku. Ada Phita dan Doni, Budhe, Mas Oki dan Mbak Melly, Nuri dan Akma, Danoe, Dek Aryo plus Pandu serta keluarganya yang sangat sayang padaku, apalagi mamanya Aryo dan Pandu, Wildan dan Wilis, serta banyak lagi. Mereka semua orang-orang yang selalu mendukung pertumbuhanku. Orang-orang yang membelaku, menenangkanku saat sedih, memberiku tumpangan dan makan, bahkan menyayangiku tanpa pamrih.

Sungguh walaupun sejak hari itu aku tidak pernah bertemu dengan “Dia”, sang cucu bangsawan, maupun kedua orang tuanya, namun kehadiran orang-orang yang bertalian darah dengannya telah membawa banyak perubahan dalam hidupku. Termasuk di dalamnya saat ini, membawa Arum ke hadapanku. Lucunya lagi, dosen Arum di kampus ternyata sahabatku sendiri. Hahahaha memang tidak pernah ada kebetulan di dunia ini🙂

Dari Wilis, kakaknya Arum dan istrinya Wildan, aku tahu bahwa Wildan selama ini selalu membelaku di depan keluarga besar mereka. Padahal dulu, aku dan Wildan tidak pernah akur. Selalu saja ada banyak hal yang kami perdebatkan. Phita bilang sih kami berdua mirip😀 Seorang Wildan gitu lho, yang punya hobi nyolot, sebelas dua belas sama aku. Aku pikir selama ini Wildan membenciku, ternyata dibalik semua itu justru Wildan paling paham bagaimana rasanya jadi aku. Terimakasih, Wildan.

Sampai hari ini setiap ada pertemuan keluarga, pasti aku diundang hadir. Dan selama ini pula selalu jokes tentang mantan calon saudara selalu berkumandang. Budhe pun sampai punya ikrar, andai saja Budhe punya anak laki-laki satu lagi pasti akan dinikahkan denganku😀 Sampai detik ini mereka menganggapku saudara. Bahkan Wilis kemarin sampai bilang, “ayo kita jenguk Budhe di Bandung, Devi”. Atau Phita dan Donny yang selalu bilang, “Kalau Budhe Devi gak dateng Calla ngambek Lho”.

Calla adalah bintang dalam hidupku. Apalagi Calla lahir di tanggal dan di jam yang sama denganku. Bapak ibunya ampe ngelus dada berharap Calla ga kaya Budhenya yang satu ini😀

Kebahagian mana yang harus kutanggalkan? Jawabnya, tidak ada. Terima kasih atas hidup yang indah, Tuhan🙂

Indah sekali hidup ini, disayangi oleh orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Dijadikan saudara, bahkan lebih daripada mereka menyayangi saudaranya sendiri. This is my Bizarre Love Stories, aku jatuh cinta pada keluarga besar “Dia” yang merupakan masa lalu. Keluarga besar yang jadi bagian hidupku, mendukungku dan semangat 45, ingin selalu melihatku bahagia dengan siapapun dan apapun yang menjadi pilihan hidupku ^_^

Jakarta, 18 Agustus 2011

4 Tanggapan to “Bizarre Love Stories”

  1. Hans 19/08/2011 pada 4:34 am #

    Cerita yang super!

    Bagaimana perjalanan telah membawa kita pada pertemuan-pertemuan yang mengesankan. Jauh dari saudara dan menemukan sahabat baru yg tak berbatas ini itu dan akhirnya menemukan saudara baru untuk saling berbagi.. Indahnya kehidupan🙂

    • Devi R. Ayu 19/08/2011 pada 10:45 am #

      Terimakasih !🙂

      Betul… perjalanan hidup yang tidak kita ketahui akan mempertemukan kita dengan siapa saja. Sangattt… Kehidupan itu sangat indah buatku, mas Kohan ^_^

  2. elang 20/09/2011 pada 5:27 pm #

    keluarga, selalu menjadi alasan saya pulang. keluarga selalu menjadi tempat paling nyaman yang saya sebut rumah. bukan karena bangunannya berbentuk rumah. lebih karena suasana yang tercipta di lesehan depan tivi ketika kami makan, di halaman depan ketika kami main, atau di belakang ketika segerombol jambu air ranum siap dirujak.

    • Devi R. Ayu 21/09/2011 pada 10:36 am #

      🙂 rumah adalah tempat dimana kita dibutuhkan.. sepakat dengan hal itu.. “selamat mencintai keluarga, Mas Elang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: