Money Can’t Buy Everything

5 Agu

Pernahkah berpikir bahwa Indonesia suatu hari nanti hanya akan menjadi kota mati dan dipenuhi besi, dimana semua orang bertarung mati-matian hanya untuk mencari sesuap nasi atau seliter bensin? Tampaknya hal itu akan menjadi kenyataan. Kemarin lalu sempat membaca berita yang tertuang di salah satu harian terbesar di Ibukota bahwa dalam 30 tahun cadangan minyak bumi di Indonesia habis. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/27/20141288/Bahan.Bakar.Fosil.Habis.30.tahun.Lagi. Jangankan menunggu 30 tahun, perkiraan saya 20 tahun lagi pun akan terjadi chaos besar akibat kelangkaan minyak bumi dan bahan pangan, tak hanya di Indonesia namun juga berbagai negara di belahan dunia lain yang dikenal sebagai penghasil bahan bakar.

Apa sebab perkiraan tersebut, sebabnya antara lain Indonesia tidak mempunyai sumur minyak sendiri. Coba tanyakan pada Pertamina, adakah sumur minyak yang benar-benar dibawah kendali Pertamina? Jawabannya mungkin tidak akan transparan, namun sejujurnya sumur minyak Indonesia kebanyakan telah dikuasai negara asing dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran negara di luar Indonesia. Lalu apa yang tersisa bagi rakyat Indonesia nantinya? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Indonesia di masa depan, jika kita begitu bernafsu mengeksploitasi tanah air kita sendiri. Masih adakah masa depan untuk anak cucu kita kelak?

Faktor lain yang mendorong kita masuk ke jurang chaos lebih cepat adalah kebiasaan konsumtif masyarakat Indonesia. Bayangkan di tengah paceklik energi seperti ini yang kita sendiri tak tahu sanggupkah kita berpacu dengan waktu mencari energi alternatif, begitu banyak mobil berbahan bakar fosil yang terjual dalam pameran Motor Indonesia 2011 lalu http://www.dapurpacu.com/iims-2011-sudah-jual-9-780-unit-mobil/. Toyota saja sudah membukukan 7.000 unit penjualan. Akankah bahan bakar kita mencukupi untuk semua pertumbuhan kendaraan-kendaraan yang dari tahun ke tahun terus meningkat?

Bukan ingin menakut-nakuti, namun dari sisi pangan pun tak kalah mencekam. Semakin berkurangnya lahan pertanian dan beralih fungsinya kawasan subur menjadi hutan homogen serta kawasan industri dan perumahan cukup mengkhawatirkan buat saya. Sebab seiring dengan berubahnya iklim akibat pemanasan global yang mana dampak dari penggunaan bahan bakar fosil diluar batas, maka siklus pertanian pun tidak lagi seperti yang telah dipelajari oleh nenek moyang kita ratusan tahun lalu. Bayangan gagal panen akibat musim yang tak menentu serta kelaparan dekat dengan pelupuk mata saya. http://metrotvnews.com/read/analisdetail/2011/02/05/134/Perubahan-Iklim-dan-Ancaman-Krisis-Pangan-Dunia-. Apalagi seiring bertambahnya tahun, semakin bertambah pula jumlah penduduk di Indonesia. Ada semakin banyak manusia yang harus disejahterakan. Sanggupkah kita mencukupi kebutuhan pangan dengan minimnya lahan pertanian?

Begitupun chaos di negara-negara timur tengah yang kini marak terjadi. Sebagai penghasil bahan bakar fosil terbesar di dunia, negara-negara tersebut mulai digerayangi negara adidaya. Semua itu saya pahami bukan melulu soal demokrasi ataupun agama, seperti yang banyak digaungkan berita masa kini. Semuanya lebih kepada kepentingan atas hasil bumi yang terkandung di negara-negara tersebut, kepemilikan sumderdaya. Negara-negara di luar sana paham betul bahwa natural resources dan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, plus bahan makanan merupakan pengendali dunia di esok hari. Jika ingin menjadi superpower dan tetap eksis, maka mau tidak mau mereka harus mengamankan sektor-sektor yang membuat mereka bertahan menjadi negara adidaya.

Perkiraan saya setelah timur tengah yang akan dibikin Chaos selanjutnya adalah Indonesia, atau mungkin sudah. Kenapa? Sebab kita punya segalanya. Apa yang tidak bisa kita temui disini? Hasil bumi yang melimpah ruah, tanah yang subur, serta banyaknya sumberdaya air. Tidak akan kita temui lagi negara sekaya Indonesia. Chaos akan terjadi lagi di negara kita kalau kita tidak memperjuangkan sumberdaya kita secara sungguh-sungguh. Bukankah itu adalah modal terbesar kita atas tanah dan kedaulatan wilayah yang kita aminkan sebagai “merdeka”.  Disini saya juga benar-benar pahami, money indeed can’t buy everything. Kalau kita semua punya uang tapi kita tidak bisa membeli makanan ataupun minyak untuk sekedar bertahan hidup karena ketiaadaan barang, what will you do then?

Sekarang yang jadi pertanyaan bukanlah masalahnya. Cukup sudah kita ketahui bersama apa saja penyebabnya, yang harusnya jadi perdebatan hangat adalah solusinya. Ayo bangun masyarakat Indonesia, jangan terus-terusan tidur. What can we do for our future? What will we do to save our self and our country?.

 

Menurut hemat saya, solusinya bisa dimulai dengan mencari sumber energi alternatif yang membuat kita tak lagi bergantung hebat pada minyak bumi dan batubara. Sebisa mungkin berhemat atas jatah pangan dan bahan bakar yang kita miliki saat ini. Serta bagaimana kita bisa mengembangkan tanaman pangan yang dapat bertahan terhadap perubahan iklim. Tanaman yang anti gagal panen dan kuantitasnya sekali panen cukup banyak. Investasi di sektor pertanian bukanlah hal yang main-main untuk saat ini. Pun kita pun harus mulai memikirkan diversifikasi pangan. Tak hanya bergantung pada beras, tapi makanan-makanan lain yang mempunyai kemampuan menjadi bahan makanan pokok seperti jagung, sagu, gandum, dan sebagainya.

Mari bertahan hidup! Mari membuat perubahan di hidup yang saling terkoneksi satu sama lain ini. Ketidakseimbangan pada satu hal dalam siklus hidup kita, tentunya akan berimbas terhadap siklus yang lain. Bahan bakar dan bahan pangan adalah contohnya. Bahan bakar ini dulunya adalah benda hidup, keberadaannya yang berlebihan di muka bumi beribu tahun kemudian malah berimbas pada perubahan siklus kehidupan pada masa sekarang serta masa depan.

Jalan kita masih panjang untuk meraih semua solusi impian saya. Jalan yang panjang namun hanya tersedia waktu yang cukup singkat. Semoga kita semua bisa hidup lebih lama dan mempunyai masa depan. Semoga masa depan indah itu masih ada.

 

Jakarta dan kegalauan kami diantara roda, 5 Agustus 2011

 

4 Tanggapan to “Money Can’t Buy Everything”

  1. Hans 07/08/2011 pada 7:17 pm #

    Saya juga galau…

    • Devi R. Ayu 08/08/2011 pada 2:29 pm #

      Lho galau kenapa, mas Kohan?

      • Hans 08/08/2011 pada 6:31 pm #

        galau karena @RadioGalauFM😦 twitnya menyakitkan tapi membuatku tertawa.. jadi tertawa dalam tangisan jombloisme… heheh…

        tulisan yang keren mba, bangsa ini, dan dunia harus segera bangun dari tidur panjang tentang mimpi mimpi global warning… siapa yang dapat menghentikan?

      • Devi R. Ayu 09/08/2011 pada 4:35 pm #

        Whuaaaaa….. kita sumpahi rame2 aja itu @radiogalaufm ya marilah tertawa selagi bisa..xixixixi *ngikik ala kuntilanak* cupcup.. biarpun jomblo yang penting bahagia. Tirulah saya *oposeh tambah ga jelas*

        Mungkin tidak bisa dihentikan, yang ada kita beradaptasi karena yang bisa menyelamatkan diri kita ya antara lain usaha kita sendiri. Setidaknya kita bisa memperlambat, dan aku berdoa sepanjang-panjangnya kemungkinan untuk mencegah kemusnahan manusia akibat kelalaian kita menjaga lingkungan. May peace on Earth🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: