Change for Good!

25 Jul

“Kalau kita selalu ngikutin omongan orang ga bakal ada habisnya, dev”, kata Achiee sahabatku siang ini setelah mendengarkan curhatanku..

Hehehe aku pikir-pikir bener juga kali ya omongan mbak Reva Lianty Pane beberapa waktu lalu soal karateristikku. Di luar sangat ceria dan kuat, cuek setengah edan, tapi ada suatu sisi sensitif melankolis. Saat kesenggol hanya ada tiga pilihan, meradang menolak, cuek saja jadi diri sendiri, atau berubah sesuai dengan keputusan orang lain atas diri kita. Lalu hidup siapa yang kita miliki ketika acapkali orang lain yang memutuskan untuk kita?

Paling sedih saat disuruh berubah ini ataupun itu sesuai dengan kehendak orang yang mana kadang-kadang di luar penalaran logisku. Hanya untuk apa? Sudah cukup banyak alasan, mulai dari supaya diterima jadi mantu, supaya dilamar, supaya disukai, supaya dijadikan teman, dll. Dan terlalu memaksa diri, hasilnya bukanlah sebuah solusi. Malah menjadi hal-hal yang bisa menekan kita seumur hidup. If we can not compromise and accept each other, don’t bother, let’s stay away.

Menjadi diri sendiri ternyata bukanlah hal yang bisa diterima lagi di dunia yang penuh permintaan.

Aku tahu setiap orang harus berubah demi kebaikan mereka, baik itu mau ataupun tidak mau. Jangan khawatir, semua orang pasti berubah kok karena pengalaman mereka atas hidup. Dan aku pun selalu berubah. Dari semua pengalaman yang aku miliki, menurutku sangat sangat tidak bernilai untuk berubah menjadi bukan diri kita hanya untuk sekedar diterima, apalagi jika berkaitan dengan fisik.

Yang aku pelajari, If we wanna change, pastikan itu memang demi kebaikan kita, membuat kita bahagia.Dude, kita semua punya latar yang berbeda, ga da orang yang sama. Perbedaan adalah pelajaran untuk membuat kita bijaksana. Namun sekarang banyak orang berperan jadi Tuhan. Ingin membuat orang lain sekendak yang diinginkannya.

Ragam menyuruh kita berubah dari yang halus ataupun kasar juga banyak. Kata-kata ga berperasaan yang sering aku terima antara lain :

1. “Kurusin badannya, kalau gemuk keliatan pemalas”, yang bilang mantan calon ibu mertua

2. “Wah kalau giginya berantakan berarti bukan anak orang kaya dong”, yang bilang Tantenya mantan pacar

3. “Kerudungnya yang panjang ya. Muslimah macam apa kamu”, yang bilang mantan calon mertua beraliran konservatif dan bapak kost dong ah. And getting to much everyday.. Fiuhh..

4. “Lebih feminin dan kalem kenapa? lo terlalu tomboy dan berani sama laki-laki”, itu yang dibilang barisan laki-laki sakit hati yang ga aku terima jadi pacar. What?! Emang kalian siapa nyuruh ini itu? Sejauh apa kalian tahu kehidupan gw, sampai berani menyuruhku berubah jadi perempuan seperti yang kalian impikan? Lalu jaminan apa yang bisa kalian berikan saat aku sudah berubah? Ya, mungkin kepuasan kali ya bisa mengubah orang lain.

Jadi inget film kartun Mulan. Tidak diterima jadi mantu siapapun gara-gara tomboy, kurang cantiik, berani menyuarakan keinginannya, tidak seperti perempuan lainnya, dan berangkat menjadi prajurit, nyamar jadi lelaki demi menolong orang tuanya. Tapi pada akhirnya ada yang bisa menerima semua kekurangan dia. Pada akhirnya….

And Me, mungkin hidupku sama seperti Mulan. Just a simply silly ordinary girl. Tidak pernah berpikir orang harus begini dan begitu, terserah saja jalani hidup. Karena memang tidak dibesarkan dengan cara seperti itu. Bukan penampilan luar yang penting, tapi apa saja yang sudah kita lakukan untuk membawa kebahagian buat orang lain dan diri sendiri.

Ibuku orang sederhana, tidak pernah mengajari jadi orang yang neko-neko. Selalu bangga dengan apapun yang sudah anak-anaknya perjuangkan. Ibuku percaya proses, dan tak pernah memaksa. “Kalau sampai waktumu pasti kamu berubah, dan belajar memang seyogyanya pelan-pelan tidak bisa sekaligus dan langsung bisa. Karena pemahaman pun tak datang secara mendadak”, itu yang ibuku selalu bilang.

Maaf… tidak bisa menjadi orang yang kalian minta. I prefer change my self inside, dan berbuat nyata demi orang lain. I change my self to be something that i wanna see.

 

 

Jakarta, 25 Juli 2011

4 Tanggapan to “Change for Good!”

  1. pandasurya 26/07/2011 pada 11:18 am #

    yah jadi kesimpulanna ieu teh blog galaw sabenerna nyaa..*kabooorr*

    • Devi R. Ayu 26/07/2011 pada 11:27 am #

      Hahahahahahaha….. yaaaa kurang lebih demikian..*curhatnya di blog* :))

  2. lex1 27/07/2011 pada 9:50 am #

    Beuh beuh there is a truth in your statement though, I prefer change myself myself inside. Why?
    kata bijak, kesalahan klasik wanita ketika memasuki gerbang perkawinan, keyakinan dgn PDnya: ” I CAN CHANGE HIM” i.e. I can stop him from smoking, I can change his drinking habit, etc Huuh, down the line, rambutnya kusut sendiri wlopun disisir berulang2.Parahnya lagi, I can change him from his lying habit, Whooaa, tangisan hatinya malah tambah keras. Hey, I am not a sinister, tapi sejarah berulang terus. but, but berlaku bagi gender manapun v.v. Be happy ::))

    • Devi R. Ayu 27/07/2011 pada 10:00 am #

      yes! absolutely agree!😀 I don’t wanna change people, better change my self🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: