Day #18: Down Syndrome – Let’s Hear Their Voice

4 Des

Hari kamis kemarin aku nonton film tentang down syndrome di Goethe Haus Jakarta. Dalam acara pemutaran dan diskusi film 2 bulanan “Screendocs” tersebut, ada 2 film yang diputar. Satu film berasal dari Indonesia, judulnya SOINA (Special Olympics Indonesia). Dan sebuah film yang berasal dari Jerman yang berjudul “Schoene Blonde Augen”.

Di film ini saya lihat mereka yang memiliki cacat mental di luar negeri, memiliki fasilitas yang lebih memadai untuk berkembang ketimbang di Indonesia. Di Schoene Blonde Augen dikisahkan bahwa sekelompok anak yang terbelakang mental ingin mementaskan sebuah sandiwara dengan tema “kelahiran” di akademi seni rupa berlin. Hal ini tentulah bukan hal yang mudah. Dibutuhkan waktu delapan bulan untuk berlatih sandiwara tersebut, mulai dari menghafal skenario sampai belajar berani menampilkan diri di depan publik.

Selama masa pelatihan tersebut Kelompok down syndrome ini tinggal di sebuah rumah di daerah pertanian terra est vita. Mereka belajar untuk mandiri, mulai dari berbelanja sendiri, bersosialisasi antar mereka, hingga pekerjaan sehari-hari. Perselisihan pun kadang terjadi.

Di sisi lain, latihan sandiwara tersebut juga merupakan tantangan berat. Dalam sesi latihan sang sutradara seringkali membahas topik tentang kelahiran agar mereka lebih memahami perannya masing-masing. Namun pada akhirnya hal ini membuat emosi para pemainnya turut tak tentu arah. Beberapa dari mereka akhirnya ingin punya anak, ada juga yang menginginkan sebuah hubungan percintaan dan dihargai oleh orang lain.

Dari film “Schoene Blonde Augen ini” dapat aku amati bahwa penderita down syndrome ini sebenarnya ingin menyampaikan banyak hal namun kadangkala mereka tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Kebanyakan dari mereka tak suka disentuh orang lain, dan sering juga mereka menggoyang-goyangkan tubuh sekedar untuk menenangkan diri dikala merasa gelisah.

Bagian yang paling menyentuh malah aku rasakan saat mereka diajarkan untuk amusik, memaknai musik. Saat musik dimainkan mereka diminta untuk menari sesuai dengan alunan musik. Kelompok down syndrome ini menari dengan sesuka hati. Senang sekali melihat mereka tampak gembira, meskipun gerakan tarian mereka tak terkoordinasi.

Ah ya..musik memang milik semua orang, tak terkecuali dia pandai atau tidak, sehat ataupun tidak, bahkan tak peduli dia tinggi ataupun pendek. Semua orang mencintai musik, dan musik adalah bahasa universal yang bisa menyampaikan banyak rasa. Termasuk sisi-sisi perasaan dari anak-anak penderita keterbelakangan mental tersebut.

Pembelajaran yang aku terima dari film ini adalah seringkali karena keadaan fisik yang tak memadai, kita malah meminggirkan mereka yang kurang beruntung. Padahal harusnya kesempurnaan yang kita milik dapat kita pergunakan untuk menolong mereka yang kurang sempurna. Ada baiknya kita mulai memberikan dukungan pada siapa saja yang kurang dan pada siapa saja yang membutuhkan. Supaya mereka didengar, supaya mereka bahagia. Dan aku pikir itu memang kewajiban sosial kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: