Day #16: Dan Semua Karena Hati…

30 Nov

“Ya Ampunnn…” Aku patut-patut diriku diatas sebuah kertas yang penuh dengan tulisan. Aku baru menyadari bahwa semua masalah ini, ketidak enakkan di hati, sumbernya ya diriku sendiri.

Hal-hal yang tidak aku ketahui sehingga menimbulkan prasangka. Aku tidak tahu masa depan, akankah bersama?, akan lebih baikkah?, selalu itu saja yang akhirnya menjadi ketaknyamannan. Yang aku ketahui rupanya hanyalah kegagalan… Oleh karena itu aku selalu membayangkan kegagalan, bersiap untuk gagal, mungkin itu sebabnya aku sering gagal. Karena aku jarang sekali bersiap untuk sebuah kesuksesan…

Pada sisi lain aku selalu menganggap kegagalan bukanlah kekalahan. Kalah bagiku adalah saat aku menolak untuk terus berusaha. Namun pada suatu titik tertentu, aku merasa capek untuk gagal dan gagal kali, coz it means am not good enough. Tapi apakah benar kalau kegagalanku karena aku kurang berusaha? Aku rasa tidak juga…

Kau tahu, aku selalu membayangkan diriku tanpa… Karena memang sejatinya kita semua tanpa… Kemudian aku kabur ke sebuah dunia yang aku ciptakan sendiri, dimana aku adalah bintang utamanya. Dunia yang membuat aku nyaman dan berharga, and everyone appreciates me. Ah ya, mungkin ini autisme yang tidak terdeksi.

Maybe am just lonely… Maybe i just feel that am not existed in your world… Kadang aku berpikir itu adalah pemikiran yang bodoh. Namun memang seperti itulah yang terjadi dewasa ini. Kalau kita ingin menjadi bagian dari sebuah dunia, maka kita harus memiliki sebuah persamaan, kita harus gaullah, kita harus punya selling point. Dan akhirnya aku sadar, semua orang mungkin sebenarnya sangat merasa kesepian, karena jujur kita semua berbeda. Tak pernah ada orang yang benar-benar sama. And that’s hurt… because being annoyed is a breaking hearted situation for everyone.

But i realize that the pain on my skin, the hunger, and the sorrow in my heart were only the sense of the instrument of our outer body. Semua rasa sakit itu adalah instrumen pendukung dari “aku”. So if we can go outside of our body, than we can see that those kind of sense will not felt by us in the trench situation. Than i realize that, the inner peace that we own will not defeated by the outside interruption of our body. So the conclusion is, we must be the master of our body, be the tao (kosong tapi ada). Karena kita punya lentera itu di dalam hati masing-masing.

Pada akhirnya aku pahami segala kepahitan bukanlah cobaan, tetapi hanyalah persepsi pikiran kita yang menganggap segala hal yang hilang ataupun yang kita miliki adalah hasil karya kita, dan milik kita. Padahal semua itu hanyalah benda-benda yang dititipkan oleh sang pencipta dan bisa diambil sewaktu-waktu olehnya. Bahkan diri kita sendiri pun tak abadi di bumi ini.

Therefore i choose to be happy all the time no matter what happened. Karena memang pilihannya hanya itu, merasa sedih atau bahagia. Dan aku tahu pasti, kesedihan kita tak membantu banyak dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Be happy because all of us are destined to be. So itulah yang aku lakukan sekarang, i take resettlement, i take peace with my self, with my though and with my heart. And its not an easy action.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: