Day #12: I do use English but I Love Indonesia

27 Nov

Saat berjalan-jalan di Mall-Mall baik itu di Jakarta maupun di Bandung, kerap saya sadari bahwa masyarakat Indonesia kalangan atas lebih memuja bahasa asing daripada bahasa ibunya sendiri, yakni bahasa Indonesia. Di elevator, di lift, di café-café, saya lebih sering mendengar mereka fasih mengucap “Indonesian” daripada “Indonesia”, dan lebih sering mejawab “yes” daripada “ya”.

Mereka fasih ber cas cis cus dalam bahasa Inggris ketimbang menggunakan bahasa Indonesia untuk kegiatan-kegiatan bisnis yang notabene dihadiri oleh 100% kalangan Indonesia. Bagaimanakah menurut anda? Entahlah, kadang saya merasa terganggu dengan fenomena tersebut.

Saya sendiri suka belajar bahasa asing. Gemar ber cas cis cus dalam bahasa Inggris. Namun saya menghindari untuk terlalu “hot” berbicara dalam bahasa asing apabila bertemu dengan kawan, relasi, ataupun sanak saudara yang aseli berbahasa Jawa, Sunda, maupun bahasa Indonesia. Pembicaraan pun terasa lebih hangat dan akrab saat kita berbicara dalam bahasa daerah. Gurauan-gurauan khas bahasa daerah lebih mengena di hati daripada “joke” bahasa asing yang tidak kita ketahui konteksnya.

Mungkin benar ya pepatah rumput tetangga seringkali terlihat lebih hijau. Orang Indonesia merasa lebih pede berbicara dengan bahasa asing ketimbang pakai bahasa ibunya. Padahal beberapa teman saya yang berkebangsaan asing sangat antusias belajar bahasa Indonesia. Mereka sangat bersemangat diajak bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia daripada berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Tak hanya itu yang membuat miris. Sekarang ini apabila teman-teman akademisi sastra daerah ingin mengambil S3 ataupun studi Filologi (naskah kuno) tempatnya bukanlah di Indonesia tapi di Negara mantan penjajah , yakni Belanda. Justru di Negara yang dulu menjajah Indonesia tersebut, hasil karya kesenian dan budaya nenek moyang kita dihargai dan dilestarikan. Tidak seperti Indonesia yang kadang-kadang artefak segede gajah bisa hilang dan dipalsukan atas nama uang.

Akan datang kekhawatiran bahwa suatu hari nanti untuk sekedar belajar bahasa Indonesia kita perlu menimbanya di negara orang. Akan datang kekhawatiran bahwa suatu hari nanti apabila anak cucu kita ingin belajar gamelan, wayang dan ndalang, ataupun nyinden juga harus ditempuh di negara asing yang notabene jauh dari Indonesia. Semua itu karena masyarakat Indonesia tidak mulai mencintai budayanya sendiri, bahasanya sendiri…

Saya sepakat bahwa kita memang perlu belajar bahasa asing untuk memperluas wawasan,namun bukan berarti kita harus melupakan bahasa sendiri. Saya sepakat kita juga harus mempelajari budaya bangsa lain untuk mengembangkan toleransi, namun bukan berarti kita harus melupakan budaya bangsa sendiri. Jadilah diri sendiri, karena berbeda bukanlah suatu dosa. Toh Tuhan juga bilang dalam kitab sucinya bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan berbeda bahasa dengan harapan kita saling mengenal. Mengenal diri sendiri dan mengenali perbedaan untuk paham bahwa sebenarnya kita adalah satu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: