Day #11: Smokey Kopaja

25 Nov

Jam sepuluh malam. Tanganku melambai pada sebuah kopaja jurusan Lebak Bulus. Aku sedang berdiri di tepi jalan kawasan Cikini. Begitu kopaja itu berhenti aku segera naik. Begitu duduk di bangku pertama sebelah pintu barulah aku menyadari ada yang aneh. Kopaja itu berasap…

Mas-mas yang duduk di sebelahku langsung bilang, “pernah dioven, mbak? Sampai tujuan kayanya kita semua sudah mateng”. Aku pun mengangguk-anggukkan kepala… Tepat di sebelah pak supir, keluar asap putih panas yang mengepul keluar dari radiator kopaja. Abang Kopaja mengusap badannya yang setengah terpanggang dan berair sambil berteriak kepada keneknya, “kurang air nih… minta air sono di pos polisi”. Dengan segera kenek kopaja itu turun sambil membawa berbotol-botol kemasan air yang sudah kosong menuju pos polisi terdekat. Sembari menunggu sang kenek kembali, pak supir menghapus jejak-jejak asap dan embun pada kaca depan kopaja.

“Turun dimana, mbak?”, Tanya mas-mas yang duduk di sebelahku. “Mampang”, ujarku pendek. “Wah ga bakal nyampe sana nih kelihatannya. Bisa-bisa meledak duluan sebelum sampai sana”, dia kembali berujar. Akupun tersenyum menanggapi gurauan mas-mas sebelah, habis ada benernya juga sih. Inginnya sih turun dari kopaja itu, tapi udah terlanjur bayar dan sedang dalam posisi duduk yang enak. Bagiku tak masalah sampai di rumah larut malam.

Tak lama sang kenek pun kembali, beberapa penumpang yang tadi duduk tepat di depan radiator segera pindah ke bangku belakang. Kenek dan supirnya kemudian menuang berbotol-botol air yang mereka dapat ke lubang radiator. Awalnya radiator itu berhenti mengeluarkan asap, namun sesaat kemudian kepulan asap putih kembali keluar karena air yang dituangkan telah berubah menjadi uap.

Kopaja yang berasap itu pun terus berjalan pelan-pelan. Aku merasa menjadi pengikut tukang sate dan membayangkan diri sedang dalam ruangan sauna. Ya lumayanlah mandi uap malam-malam campur bau solar, gratis. Dan begitu kopaja kami sampai di dekat taman menteng pak supir berteriak-teriak lagi, “Ujang, kita butuh air lagi”. Alamakkk… aku mulai was-was, nyampe ga nih, nyampe ga nih… Penumpang yang lain kok tenang2 aja ya selain mas-mas di sebelahku.

Pelan tapi pasti, kopaja berasap jurusan lebak bulus itu melaju di kawasan kuningan. Mas-mas di sebelahku pun pamit turun… Bapak supir dan kopajanya yang ajaib rupanya berhasil membawa kami sejauh ini dan mengantarkan mas-mas di sebelahku pulang ke rumahnya. Baiklah, masih ada harapan untuk bisa tiba di rumah tidak terlalu malam. Tenang…Tenang… *komat-kamit baca doa supaya kopajanya tidak meledak di jalan*

Perempatan Kuningan dan Gatot subroto sudah di depan mata…. Yippiii..sebentar lagi sampai Mampang, sorakku dalam hati. Lampu merah penanda berhenti kembali menyala. Antrian mobil dan kopaja-kopaja lainnya tampak mengular. Kopaja berasap jurusan lebak bulus yang aku naiki semakin membuat gerah, asap memenuhi bagian dalam kopaja. Tak berapa lama lampu hijau pun menyala, dan tepat disaat itu mesin kopaja yang aku tumpangi mati mendadak…olala..tamat sudah riwayat radiator yang kepanasan itu.

Sang kenek kopaja ajaib itu dengan sigap mencegat kopaja lain yang berjurusan sama untuk segera membantu mereka. Aksi pindah muatan pun segera dimulai. Dengan magsyul, aku pindah ke kopaja yang penuh sesak tersebut. Setelah berasa seperti mandi sauna, sekarang suasanya mirip ikan yang dikeringin dan ditumpuk-tumpuk dalam kemasan.

Yayaya…inilah suka duka transportasi massal di Jakarta. Sebenarnya aku lebih suka naik angkutan umum, membuatku berinteraksi dengan orang lain…tapiiii ya ituuu..engga nyaman sama sekali kondisinya. Kapan ya transportasi umum ramah lingkungan yang nyaman dapat dinikmati oleh masyarakat kelas bawah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: