Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia

22 Okt

Kamis, 21 Oktober 2010
Seorang kawan memberikan informasi tentang serambi Jazz di Goethe Institut Jakarta sehari sebelumnya, acara Jazz rutin tiap dua bulanan. Seperti biasa, akupun antusias datang ke acara tersebut. Maklum, musik dan tari sudah jadi bagian lekat diriku sejak kecil. Acara musik apapun biasanya aku datang. Anehnya dulu pas jaman kuliah malesss banget datang ke acara-acara yang diselenggarakan oleh Goethe Intitut Bandung ataupun CCF Bandung. Nonton Teater pun kalau ga diabsen dan jadi salah satu bahan kuliah juga ga bakalan datang deh.

Sekarang malah kebalikannya. Minimal setiap bulan pasti selalu datang ke acara-acara di Goethe Institut ataupun Erasmus Huis Jakarta. Mulai dari nonton acara musical, teater, diskusi buku, ataupun pemutaran film documenter screendocs – Indocs, Festival Film Eropa dan STOS, dll. Bisa jadi sebulan dua kali malah ke pusat kebudayaan Jerman tersebut. Olala.. hidup bisa berubah seratus delapan puluh derajat rupanya.

Sama seperti music jazz yang sekarang aku tonton. Dulu waktu masih kecil suka sekali music klasik, agak besar dikit jaman-jaman SMA gitu deh ehhhh cenderung suka music New Age, giliran dah kuliah demen banget sama music rock, sekarang pas udah mulai berumur kok ndilalah suka dengan music jazz dan hal-hal berbau etnik😀 Yaaa..hidup senantiasa dinamis, seperti music. Musik senantiasa fleksibel dibunyikan dalam banyak tempat dan suasana. Musik senantiasa setia berkolaborasi, apapun jenis musiknya🙂

Well anyway busway, konser serambi jazz yang semalam aku tonton, two tumbs up deh! Salut untuk musisi-musisi Indonesia, terutama Imam Pras Project yang berasal dari Bandung. Keindahan kolaborasi music jazz dengan music asli Indonesia ga bisa diungkapkan dengan kata. Imam Pras Project telah memberikan gambaran music jazz Indonesia masa depan. Kolaborasi jazz dan etnik semacam ini sudah sering aku dengar sih, antara lain Vicky Sianipar dan Dewa Budjana. Namun teuteup ga bosen-bosen didengarkan lagi. Selalu ada yang baru dalam setiap permainan mereka meskipun sedang memainkan lagu yang sama. Tak diduga, dalam semalam aku langsung jatuh cinta pada permainan Imam Pras Project.

Inilah ciri unik dari music jazz Indonesia, “When East meet West” rasanya roh seperti disihir lepas dari badan untuk ikut menari bersama music yang dialunkan. Komposisi Kambanglah Bungo, Bungong Jeumpa, Pasalingsingan, Andhe-Andhe Lumut, dan Sleep My Baby Sleep adalah wujud kecintaan musisi jazz masa kini terhadap budaya local. Penggabungan nada-nada berlaras seruling, gendang, maupun rebana elok membius penonton diantara alunan piano, drum, bass, dan saxophone. Unikkkkk sekaliiiiii… Agak disayangkan dikit waktu diawal-awal acara bunyi piano dari mas Imam kurang terdengar karena microphonenya kurang satu biji. Well, tapi itu tak mengurangi keindahan aransemen lagunya sih. Oya..protes dikit, emang lagu andhe-andhe Lumut berasal dari Jawa Tengah ya? Sepengetahuan saya legenda cerita Panji dan Andhe-andhe Lumut itu berasal dari Jawa Timur lho.

Pada Akhirnya, I want moreeee… Tepuk tangan Encore pun dibunyikan. Satu lagu lagi sebagai penutup pertunjukan. Ingin deh banyak musisi lain yang seperti ini, berkolaborasi dengan music-musik local Indonesia sehingga menghadirkan sesuatu yang baru, yang unik, yang fresh! Ingin setiap hari dihibur oleh music-musik Indonesia yang ga picisan. Ingin music-musik Indonesia juga go International! Pengen sekali Indonesia dikenal bukan hanya Bali, Kopi Luwak, Anggun ataupun Ananda Sukarlan.Karena bagiku, Indonesia adalah Paradise Budaya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: