Day #2: Mematut Konflik

2 Okt

“Lo pasti orang gunung ya, Dev?”, kata sang pakar media.
”Heih, kenapa gitu lo bisa tahu?”, tanyaku.
”Iya, soalnya orang gunung gak mudah marah. Beda sama orang pesisir pantai, mereka kebanyakan Temperamental”, ungkapnya.
”Oya, kok bisa orang pesisir lebih temperamen?”, aku bertanya lagi.
”Ya iyalah, secara suhunya jauh lebih panas. Budayanya pun ga kenal basa-basi, yang mana berkaitan dengan kondisi geografis mereka. Beda lah sama lo yang santai dan menikmati hidup”, ujarnya sambil cengar-cengir.
”Sial!, bilang aja lo mau nyindir”, tanggapku terkekeh-kekeh.

Tapi memang benar sih apa yang diungkapkan oleh kawan-kawanku tersebut. Dari dulu aku memang tipikal orang yang lebih suka menjauhi konflik. Bukannya tidak pernah marah, namun jarang, tapi kalau udah ada terlalu banyak hal yang ditahan biasanya ya meledak. Therefore daripada menunda-nunda suatu masalah, aku lebih suka menyelesaikannya dengan cepat, kecuali memang dibutuhkan waktu yang lama dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tapi acapkali ketidakberuntunganku adalah konflik yang aku jauhi itu mengikutiku kemanapun aku pergi😀

Suatu kali..eh sering bahkan, aku berpikir bahwa ada beberapa konflik yang sudah basi, entah karena udah terlalu lama waktu yang dibutuhkan dalam berkonflik, tapi juga masalahnya yang ga penting-penting banget buat diperdebatkan. Jadi ya lebih baik dilupakan saja. Namun ternyata pikiran semacam itu tidak berlaku bagi orang-orang yang menjadi lakon dalam permasalahan tersebut. Akan selalu teringat dan terngiang apalagi kalau terlanjur menimbulkan luka yang cukup dalam di hati serta membawa perubahan besar dalam hidup mereka. Intinya, apa yang enggak penting buat kita, belum tentu enggak penting buat orang lain.

Sebagai contoh adalah Pakde Utomo Rahardjo, salah satu kawan ibuku di tempat kerja. Anak Pakde yang bernama Petrus adalah seorang aktivis yang terdaftar sebagai orang hilang mulai tahun 1998 hingga sekarang. Baik itu Petrus maupun rekan-rekan lain yang ada dalam Daftar Orang Hilang tak pernah diketemukan sampai detik ini, HIDUP MAUPUN MATI. Pakde Tomo, begitu aku memanggilnya, selalu percaya bahwa Petrus masih hidup. Andaikata Petrus meninggal pun Pakde ingin tahu dimana jasad Petrus dimakamkan.

Pun aku pernah melihat di Televisi ada seorang ayah yang mempertanyakan keadilan bagi putranya yang ditabrak oleh seorang oknum polisi 20 tahun yang lalu dengan berjalan kaki menuju istana negara demi mengadukan kasusnya. Menurut bapak tersebut ini bukan masalah ikhlas ataupun tidak ikhlas, namun masalah keadilan. Kehilangan anak, kedukaan semacam itu memang sulit untuk dilupakan.

Semua pasti mengamini dong kalau aku bilang begitu banyak duka yang tercipta dari kehilangan seseorang, terlebih saat orang-orang tercinta tersebut pergi atas apa yang mereka anggap benar, ataupun demi negaranya. Dan semua orang pun pasti setuju bahwa pengorbanan semacam itu jangan sampai dilupakan malah. Oya, For Your Information, Pakde Tomo dan Bapak yang berjalan kaki ke istana negara tersebut berasal dari kota yang sama denganku. Hehehe memang harus aku akui tekad dari orang-orang yang dibesarkan di kota kami sekuat baja. Jadi baik itu gunung maupun pesisir laut sebenarnya yang menentukan karakternya adalah niat dan tekad 

Menurutku, berkaca kepada hal-hal yang pernah aku alami, masa lalu akan selalu mengejar kita kalau kita belum bilang ”Finish” pada hal-hal yang memang belum kita selesaikan. Menurutku lagi, setiap konflik yang kita hadapi akan membawa kita kepada karakter asli pribadi masing-masing, yeah bahasa kerennya kalau kita mau mengambil hikmah atas peristiwa yang terjadi, maka permasalahan justru akan mendewasakan kita. Tapi kalo boleh milih sebenarnya aku ga mau susah dalam hidup sih😀

Tak urung konflik juga akan membawa kita berkenalan dengan berbagai macam orang yang akan turut ambil bagian dalam skenario hidup kita. Orang-orang ini, baik yang baru ataupun sudah lama kita kenal akan membawa langkah kita semakin jauh. Entah karena mereka memang lebih tahu sehingga ditakdirkan jadi rambu-rambu perjalanan bagi kehidupan kita, yang jelas banyak sekali kejutan yang tidak akan kita sangka-sangka.

Oya ada satu lagi yang aku pelajari dalam konflik, terutama konflik politik. Dalam politik, kawan dan lawan tak pernah abadi.Lawan bisa jadi kawan, Kawan pun tak selamanya akan selalu bilang kawan. Met menikmati konflik, kawan-kawanku *Waspada siapa tahu suatu saat nanti kawan-kawan yang baca ini jadi lawan :D*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: