Stop Ngurusin Hal2 Yang Ga Da Sangkut Pautnya Ma Diri Kita….

2 Feb

Jakarta, 2 February 2010

*Bangun tidur langsung berasa deh rasa tidak puas di dalam hati* Hmmm..sebenernya entah karena efek difogging atau memang kepanasan sama suhu udara yg panas menggila (Halloooo..apa hubungannya coba antara difogging sama panasnya hati). Hehehe tapi pengen tahu juga apa hubungannya fogging dan tidur pulas. Soalnya hampir seluruh anak kos yg tertinggal, tidur dengan pulas setelah kosan kami selesai difogging tadi sore:D

Anyway busway entah kenapa hari ini melintas-lintas berbagai macam pikiran di kepala gw. Mulai dari pengen olahraga di malam hari, sampai dengan pikiran serius untuk berhenti memikirkan hal-hal yang bukan jadi urusan gw.

Contohnya antara lain adalah, stop menanyakan kapan gw kawin..eh merit.!! ”For God Sake!!” sapa coba yang ga pengen kawin..eh merit!? Mo tahuuuu aja urusan orang. Diundang enggaknya kan juga urusan gw. Trus kalo gw dah nikah apa untungnya coba buat mereka?. Apa mereka juga bakal ikutan masuk kamar pas gw kawin?! Apa mereka mau nanggung ongkos pernikahan gw? Halloooo…apa mereka semua ga punya pekerjaan lain selain ngurusin orang dan bergosip? It’s very annoying!! Budaya ramah darimana coba, budaya Indonesia ”nanya-nanya ga penting ini” kebanyakan basa-basi menurut gw dan cenderung tidak menghormati perasaan orang lain.

Gw serasa manusia dari planet lain karena diumur segini belum nikah. Kenapa gw bilang begitu, karena gw sendiri ga kurang2 usaha buat nyari suami tersebut sodara-sodara. Dah berapa banyak mantan gw..tapi kalo namanya ga jodoh gimana? Gw jungkir balik juga tetep ga bisa sama-sama. Bukankah lahir, mati, dan Jodoh sudah ada yang mengatur. Nama sang pengatur itu Allah SWT. Kita mah pasrah aja sama sang Sutradara hidup. Lagian apa sih artinya pernikahan? Apa sekedar kawin, bikin anak, dan mendapatkan prestise ”kawin=laku”, trus cerai? Naudzubillahimindzalik…

Hal-hal lain yang sering mengusik gw juga adalah, betapa kita sering ngurusin orang lain yang bahkan kita sendiri ga kenal siapa mereka. Contohnya artis-artis yang sering malang melintang di teve…halooo mereka sama-sama manusia lho, butuh menjadi diri sendiri n butuh privasi. Siapa kita berani menilai orang lain? Sudahkah kita berani menilai diri sendiri? Bener ga sih kelakuan kita? Emang kita kebanyakan waktu ya sampai ngomongin mereka segitunya? sekedar tahu siy ga masalah, tapi kalau sampai harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngerumpiin hal itu apakah masih bisa dibilang wajar? Lagian siapa elo, sapa kita? Apakah orang yang kita rumpiin tahu keberadaan kita? Bukankah itu cuma buang-buang waktu dan tenaga? Hadoohh..bukankah sudah ada jargonnya bahwa sirik itu tanda tak mampu?

Dan hal yang ngerusak otak gw belakangan adalah keinginan untuk dianggap ada n sebagai bagian dari suatu kelompok. Tak jarang orang-orang melakukan hal-hal aneh untuk dianggap ada. Contoh terbarunya adalah, nyelutuk tiba-tiba ataupun tertawa ga jelas di suatu diskusi yang lagi panas2nya *aseli ini kejadian dan pada akhirnya bikin bengong semua orang*. Ataupun karena ingin dianggap sebagai bagian dari suatu kelompok maka kita bela-belain beli gadget, baju, ato mobil yang baru. Emang yang lama kenapa? Apa kabarnya lingkungan yang kita bombardir dengan segala sampah tersebut? Di sisi lain, bukankah ada hal-hal lain yang lebih penting yang bisa kita lakukan dengan uang yang ada, misalnya diinvestasikan untuk suatu bisnis baru ataupun disumbangkan kepada orang yang lebih membutuhkan?

Masyarakat dunia ini tampaknya sedang sakit jiwa, dan kemungkinan gw juga termasuk di dalamnya!!

Budaya konsumerisme ini semakin menggurita. Jahanam yang memperlebar jurang antara si miskin dan si kaya. Alat baru untuk mengendalikan manusia, namanya iklan, dan disebut sebagai kemajuan peradaban! Bah kemajuan peradaban yang harus dibayar mahal!! Kematian budaya leluhur yang selaras dengan alam dan memancing kematian umat manusia sendiri. MATI TERCEKOKI RACUN PEMBAKARAN, MATI KARENA KEPANASAN DAN BENCANA. Dengan munafiknya (well banyak orang bilangnya pragmatis) kita bilang itu tak terhindarkan, namun dalam hati sebenarnya kita tahu kita bisa menghindari hal tersebut.

Sudahkah kita berpikir…sudahkah kita berpikir? Sudahkan kita melihat ke bawah, bahwa apa yang ada pada diri kita ternyata berlebihan daripada sodara-sodara kita yang lain? Tahukah kita bahwa Ipad terbaru adalah uang sekolah selama 5 tahun untuk anak-anak di kawasan terpencil?

Sudahkah kita menyadari bahwa kita seringkali menghambur-hamburkan rizki dan berfoya-foya untuk hal ga penting? Tahukah kita bahwa dari hal-hal yang kita lakukan ternyata membawa dampak bagi orang yang mungkin kita sendiri tak mengenalnya. Bagaimana kalo kita yang ada di posisi mereka? Bahwa kita yang mengalami pahitnya menjadi korban keserakahan…

DRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: