Diary Januari 2010: Perasaan campur aduk

23 Jan

Jakarta, January 22nd, 2010

Banyak banget ya yang terjadi…sangat banyakkkkkkk…

Hmmmm darimana harus diwali dan bagaimana harus menceritakan perasaan yg campur aduk ini merupakan bagian yang paling sulit dari bercerita. Tapi aku coba, kalo ga diceritain bakal ga bisa tidur semalaman.

Mungkin ada baiknya dimulai dari berita meninggalnya mertuanya kakakku sesaat setelah masuk Rumah Sakit, kemarin. Kaget..cukup kaget..Apalagi istrinya biang bahwa tidak sakit apa-apa. Ah…bukan tidak sakit, tapi keluarga biasa-biasa saja memang dilarang sakit. Biayanya mahal!! Keadaan ini dibuat tambah aneh lagi tadi pagi dengan status temenku yg anehhhh, dan saat aku konfirmasi dia hanya bilang, ”gw stress banget deh…mau ga nemenin ke pantai? Diem aja liat ombak”. Speechless..ga bisa ngomong apa-apa lagi…

Despite aku merasa sangat cantik malam ini. Hari ini aku tersentil dua kali. Yang pertama saat aku curhat sama mama soal betapa malesssssnya aku bangun pagi untuk bekerja, dan kembali kepada rutinitas 9AM-5PM. Tahukah kalian apa yang dikatakan mamaku, ”ya kamu dibayar mahal untuk pekerjaanmu makanya harus bangun pagi. Ingatkah tentang cerita sopir travel yang harus bangun jam 3 pagi untuk nganter penumpangnya dan pendapatannya tak seberapa, nduk? Bersyukur nak…bersyukur…jangan terlalu sering liat keatas, justru harus sering-sering lihat ke bawah”. Haikssss..kembali speechless tak berdaya..Mama sudah lebih lama mengarungi dunia ini daripada aku, dan untuk hal tersebut tak ada bantahan apapun dariku.

Tersentil kedua adalah saat nonton film ”The Age of Stupid”. Film yang membidik segala segi. Meskipun keberpihakan masih terlihat jelas di film tersebut (Ya iyalah namanya juga film tentang manusia).Betapa kita hidup di dunia yang saling terkait satu sama lainnya. Betapa….”huh perasaan gw campur aduk”…Its true kita takkan pernah merasa kehilangan sebelum apa yang kita miliki benar-benar sudah tidak ada lagi. Dan betapa saat kita ingin melakukan hal yang kita anggap benar, begituuuuuuuuuuu banyak hambatan menghadang.

This is a mad-mad situation. Manusia sudah mengantarkan dirinya sendiri pada bunuh diri massal. Manusia pada satu sisi tak bisa memungkiri bahwa apa yang mereka capai saat ini didapat dengan merusak tatanan kehidupan serta ekosistem, namun they can just stop. They want more, more, n more…Selalu tidak pernah merasa cukup. Di masa depan generasi mendatang pasti menyalahkan generasi sekarang atas kemalangan dan bencana yang mereka hadapi. Namun memang begitulah kenyataannya, generasi sekarang memang pantas dipersalahkan. Kenapa kita harus bunuh diri massal? Selagi kita masih waktu untuk bisa menyelamatkan diri, kenapa tidak kita ambil kesempatan itu?

DRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: