Dari Sandwich menuju Cognac

4 Des

Mencicipi snack sambil menikmati punch

Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata. Pertanyaannya kira-kira begini: “Apa nama makanan yang sekarang digemari anak muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti berisi daging dan sayur.” Dengan beragak-agak, salah seorang peserta menjawab hamburger, dan peserta lainnya dengan tidak yakin menjawab pizza. Ternyata kedua jawaban itu salah. Ah … seandainya saja kita sudah mulai berwisata kata bersama Berita Buku, dan mereka ikut bersama kita, tentu hadiah kuiz yang jumlahnya lumayan itu bisa masuk kantong mereka. Anda mau tahu jawabnya? Memang bukan hamburger atau pizza, meskipun kedua makanan tersebut juga digemari remaja kota. Yang benar adalah … sandwich!

Ya, sandwich, yang sekarang merupakan salah satu pilihan sarapan orang kota, berasal dari nama orang, bahkan bukan sembarang orang. Dia adalah seorang berkebangsaan Inggris bernama asli John Montagu dan bergelar Earl of Sandwich IV (1718-92). Montagu adalah pria dengan reputasi buruk; dia bukan saja tidak punya kemampuan dan sangat korup sebagai First Lord of the Admiralty, tetapi juga dikenal masyarakat sebagai tidak bermoral dalam kehidupan pribadinya. Berjudi adalah salah satu kegemaran buruknya. Dan sifatnya yang keranjingan judi inilah yang memberi kita kata sandwich. Konon karena asyik berjudi nonstop selama 24 jam, dia tidak mau diganggu atau beristirahat sejenak pun. Untuk mengganjal perut, dia minta dikirimi setangkup roti berisi irisan daging dan sayur, yang sekarang kita kenal sebagai sandwich. Nah, itulah sumbangan Earl of Sandwich bagi dunia kuliner kita dewasa ini.

Sekarang, kata sandwich tidak semata-mata digunakan untuk menyebut makanan khas itu. Di perguruan tinggi, misalnya, dikenal program sandwich, yaitu program pendidikan (biasanya setingkat S-2 atau S-3) yang sebagian dilakukan di dalam negeri dan sebagian lagi, biasanya penelitiannya, dilakukan di luar negeri. Saya tidak tahu mengapa program tersebut dinamakan program sandwich. Yang pasti, magister atau doktor yang dihasilkan program itu, juga para remaja penggemar “roti lalab”, tentu tidak bermaksud menghabiskan waktunya di meja judi!

Keceriaan di sebuah banquet

Pada saat diundang ke sebuah pesta, mungkin sebagian dari kita dengan bangga mengatakan akan menghadiri sebuah banquet. Kita berkumpul bersama kerabat dan mitra kerja dalam sebuah jamuan makan malam di sebuah hotel mewah, padahal kata banquet itu sendiri, yang berasal dari bahasa Prancis, semula hanya berarti “bangku kecil”. Bila dilacak lebih jauh lagi, asal kata tersebut adalah bancus, kata Latin yang berarti “bangku”. Dan menghadiri banquet di masa lalu mungkin berarti sekadar duduk-duduk di atas bangku kecil.

Sambil mengobrol santai selama jamuan makan itu, mata kita mungkin “jelalatan” memperhatikan pelayan berseragam yang berkeliling sambil membawa nampan perak berisi snack. Dengan sigap tangan kita, para tamu, mencomot makanan kecil-kecil itu, yang langsung habis sekali suap. Ya … snack memang sesuatu yang disambar dengan tergesa-gesa karena pada kurun masa Middle Dutch (pertengahan abad ke-12 sampai ke-15), snacken berarti mengambil sesuatu dengan cepat, yang pada masa itu hanya digunakan untuk … anjing! Tapi, siapa peduli? Yang penting, kue cokelat atau kue kacang yang kecil-kecil itu begitu mengundang selera. Lagi pula, di zaman modern ini, tak seekor pun anjing hadir di ruangan banquet yang serba mewah, bukan?

Aduh, kerongkongan mulai terasa “seret” gara-gara tangan terus menyambar kue kecil-kecil yang lezat itu. Maka, ketika pelayan berkeliling lagi, mungkin kali ini kita memintanya untuk membawakan secangkir kopi. Ah, sedapnya aroma kopi yang panas mengepul … Konon, sekitar tahun 850, lebih dari sebelas abad yang lalu, seorang penggembala domba bernama Kaldi, terheran-heran melihat ternaknya mengunyah-ngunyah sejenis buah buni (berries). Karena penasaran, dia pun mencicipi sendiri buah tersebut. Rasa nyaman akibat mengunyah buah itu membuatnya bergegas memberitakan kabar tersebut kepada sesama penggembala domba. Bangsa Arab kemudian mengolah buah tersebut – mengeringkannya dan merebusnya sampai mendidih, lalu mengambil sarinya yang mereka sebut qahwe. Dikisahkan bahwa kaum beriman pengikut Nabi Muhammad SAW di masa itu minum qahwe agar tetap jaga di malam hari kala beribadah, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa qahwe harus dilarang karena membiuskan. Bangsa Turki memungut langsung kata qahwe untuk menamakan minuman tersebut, bangsa Prancis menyebutnya cafe, sementara orang Inggris menyerap kata itu menjadi coffee. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Ternyata tidak jauh berbeda karena lidah kita menyebutnya kopi, yang semakin nikmat rasanya bagi penggemar Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan Detty Kurnia bila diminum setelah asyik mendendangkan lagu … Kopi Dangdut!

Aneka minuman

Seusai jamuan makan, sebagian hadirin mungkin merasa belum cukup minum, apalagi karena dalam pesta tersebut minuman yang dihidangkan hanya kopi dan teh. Maka, meluncurlah mobil mereka menuju bar, sebuah tempat minum-minum untuk meneruskan obrolan di malam panjang sampai menjelang pagi.

Ketika salah seorang menghirup cognac, sebenarnya ia tengah menikmati minuman yang sudah hadir di bumi ini selama lebih dari 400 tahun. Kata cognac adalah kependekan dari Eau de Vie de Cognac, atau “air kehidupan dari Cognac”. Cognac sendiri adalah sebuah kota di barat daya Prancis yang merupakan kota industri brandy (pada dasarnya berarti minuman anggur yang disuling). Konon orang Belanda penemu brandy, seorang pengusaha ulung, merasa cemas karena kota Cognac menghasilkan minuman anggur dalam jumlah begitu besar sehingga tidak semuanya dapat dikapalkan. Maka, dia memutuskan untuk menyuling (mengeluarkan) air dari dalam minuman anggur itu sehingga minuman tersebut menjadi lebih pekat dan hasil yang diangkut bisa lebih banyak. Pada mulanya, dia mengira orang akan menuangkan air kembali ke dalam minuman pekat itu sebelum meminumnya. Maksudnya memang baik, tetapi ternyata tidak demikian yang terjadi karena banyak orang minum cognac tanpa dicampur air terlebih dahulu. Brandy yang dikenal sekarang diduga masuk ke Prancis dari Italia pada masa pemerintahan Henry II, yaitu Duke of Orleans, yang menikahi Catherine de Medici. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1533, dan tidak lama kemudian, cognac menjadi salah satu brandy Prancis yang terkenal.

Seorang tamu lain memesan sherry, juga sejenis minuman anggur. Kata ini mempunyai riwayat yang cukup unik. Konon, kota Jerez de la Frontera di Spanyol, yang dahulu dihuni bangsa Roma, di masa lalu bernama Xeres, kata yang diadaptasi dari nama Latin, Caesar. Jerez, kota pelabuhan yang terletak di provinsi Cadiz ini, dikelilingi tanah pertanian yang subur dan perkebunan anggur, di samping terkenal sebagai kota penghasil minuman anggur sherry. Pada abad ke-16, orang Spanyol melafalkan kata Jerez sebagaimana orang Inggris melafalkan sherris. Orang Inggris kuno (Briton) mengira sherris adalah kata bentuk jamak sehingga sampai sekarang minuman anggur itu dikenal sebagai sherry, yang dikira bentuk tunggal dari kata sherris itu!

Seorang tamu lainnya, yang belum cukup mengenal nama-nama minuman keras, dengan sembarangan memesan minuman, pokoknya yang mengandung alkohol, katanya. Dia tidak sadar bahwa dia memesan sesuatu yang di masa lalu digunakan oleh Ratu Cleopatra dari Mesir untuk menebalkan alis matanya. Sang ratu, yang pernah diperankan dengan bayaran tertinggi masa itu sebesar satu juta dolar oleh bintang kondang Elizabeth Taylor, menggunakan pasta antimon yang dalam bahasa Arab disebut al-koh’lal adalah kata sandang, dan koh’l berarti serbuk antimon. Kata ini masuk ke dalam bahasa Inggris menjadi alcool, kata untuk menyebut serbuk atau sari yang halus. Jadi, minuman anggur yang mengandung alcool adalah sejenis minuman keras. Baru pada abad kesembilan belaslah kata alcohol digunakan penutur bahasa Inggris dengan hanya bermakna minuman.

Tamu yang terakhir merasa ingin tetap sadar alias tidak mabuk. Sebab, siapa yang akan mengemudikan mobil sewaktu pulang nanti? Tentu bukan salah seorang teman yang mabuk alkohol bukan? Maka, dengan tenang ia pun memesan punch, sekalipun diiringi derai tawa teman-teman semejanya yang mulai bicara ngawur ngalor-ngidul. Tapi, tahukah Anda bahwa minuman yang dipesan terakhir itu ada hubungannya dengan jumlah jari sebelah tangan kita? Ya … salah satu resep punch ditemukan dalam minuman yang dinamakan “The Gentleman’s Companion” yang mengandung lima macam bahan, yaitu arak, jeruk nipis, teh, gula, dan air. Konon, karena mengandung lima macam bahan itulah minuman tersebut disebut punch. Konon para pengelana Inggris yang mengunjungi India pada akhir abad ke-16 menceritakan bahwa kata punch berasal dari kata panch di India Utara, yang berarti lima. Kita di Indonesia tentu mengenal juga kata panca yang berarti lima, antara lain sebagai nama falsafah negara – Panca Sila.

Minuman punch ternyata sangat disukai para pelaut. Seorang Inggris, John Evelyn, menulis dalam catatan hariannya di tahun 1667 bahwa dia minum minuman itu ketika berlayar dengan sebuah kapal. Ia sangat penasaran melihat betapa minuman itu disukai para anak kapal. Konon pula seorang kapten kapal Belanda begitu menyukai punch sehingga memesan bergelas-gelas minuman itu untuk dituangkan di atas makamnya kelak!

Penutup

Setelah puas makan sandwich dan snack, serta minum berbagai jenis minuman, wisata kata kita kali ini saya sudahi sampai di sini. Mungkin Anda akan teringat pada berbagai kisah di balik kata-kata itu setiap kali Anda diundang menghadiri banquet atau tatkala menikmati kopi di rumah saat bersantai di sore hari, atau mungkin saat bercengkerama dengan kawan-kawan di sebuah bar. Sampai jumpa dalam nomor yang akan datang dengan berwisata ke wilayah kata yang lain. Adios! (Eh, apa pula artinya?)

Ditulis oleh Sofia Mansoor. Pertama kali dimuat di majalah Berita Buku, Februari 1996. Sumber: Word Origins, Webster’s Word Histories, dan berbagai kamus.

http://bahtera.org/blog/2009/12/mencicipi-snack-sambil-menikmati-punch/comment-page-1/#comment-419

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: