9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA

17 Jun

Kata pepatah, manusia tak banyak berubah, namun kota-lah yang mengalami banyak perubahan. Entahlah, tak begitu setuju sebenarnya. Kota yang berubah bukankah atas hasil karya manusia itu sendiri? Bahkan menurut pengamatanku, perubahan planologi kota mau tak mau secara langsung juga turut merubah kebudayaan masyarakat penghuni kota tersebut.

Kota yang sekarang aku tinggali beberapa hari lagi akan merayakan hari jadinya yang ke 482, tepat di tanggal 22 Juni 2009. Kota ini pada siang hari bisa berpenduduk 9,8 juta jiwa, dan pada malam hari berisi kurang lebih 8,5 juta jiwa. 1, 3 juta penduduk yang hilang di malam hari berlalu lalang kian kemari antar kota hanya untuk mencari sesuap nasi. „Kota tersibuk“ julukan kerennya. Pun di kota ini perputaran kapital mencapai 80 % dari total dana yang ada di seantero wilayah nusantara. Kota yang tak lain dan tak bukan bernama Jakarta.

Konon kabarnya menurut sejarah pertanahan, tak ada daerah yang disebut Sunda Kelapa, Batavia, ataupun Jayakarta dulunya. Wilayah ini terbentuk oleh endapan material yang dibawa oleh aliran sungai menuju ke laut, semacam delta, karenanya daerah ini sangat subur, namun sayangnya tak akan pernah lepas dari ancaman banjir. „Gimana enggak,lha wong letaknya saja lebih rendah dari daerah-daerah lain. Gak ada ceritanya Jakarta itu bebas banjir“, ujar Torry Kuswardono, salah satu pengampanye lingkungan dari Friend of The Earth International.

Ironis, daerah yang terkenal begitu subur ini sekarang malah berubah fungsi menjadi areal gedung pencakar langit. Tak adanya gunanya lagi 48 Situ yang dibangun pada jaman penjajahan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian. Situ-situ tersebut kini juga telah beralih fungsi dari daerah resapan dan penampungan air menjadi tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan. Mungkinkah manusia jaman sekarang lebih sakti mandraguna dibandingkan manusia jaman lampau? Alih-alih bercocok tanam untuk mengisi perut, sekarang manusia mulai bertanam gedung-gedung tinggi. Pengaruh globalisasi katanya. Wah kalau begitu berharap sajalah daur pencernaan makanan kita bisa ber-EVOLUSI mengonsumsi semen, beton, dan batu bata.

Dan tak hanya itu rekor yang ditempati oleh kota tempat tinggalku kini. Prestasinya juga merambah segala bidang. Mulai dari polusi udara yang telah menjadi santapan sehari-hari sampai wabah penyakit. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Jakarta hanya menyisakan 73 hari baik dalam setahun dengan kondisi udara layak untuk dihirup pada tahun 2007. Rekor bukan? Dari 365 hari yang ada dalam setahun, hanya 73 hari saja paru-paru kita bisa bernapas lega. Hebohnya lagi, hingga April 2009 lalu, wabah demam berdarah telah memangsa 9947 penderita. Luar biasa!! Menurut Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, hal ini terjadi karena perubahan cuaca dan iklim. Perubahan yang terjadi akibat semakin panasnya bumi ini.

Kemanakah Perginya

Foto Jakarta jaman lampau terus aku pandangi. Pepohonan masih tampak rindang dan asri. Sungai-sungai tampak jernih dan menjadi tempat bermain kanak-kanak. Akupun tersenyum….Foto-foto yang hanya bisa aku temui di museum dan dalam koleksi tua para fotografer kala itu. Sekarang 13 Kali besar yang ada di ibu kota negara telah berubah warna menjadi hijau tua dan berbau busuk. Tak lagi seperti dalam foto. Kali-kali itu telah menjadi tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui, sekaligus tumpuan pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga tak mampu, khususnya yang tinggal di daerah bantaran kali. Dan aku melihat pemandangan itu setiap harinya dari atas laju moda transportasi yang kutumpangi.

Dalam keseharianku, aku melihat kota ini jarang tersenyum ramah. Bukan apa-apa, di kota tempat tinggalku ini senyum bisa jadi mengundang maut. „Orang kampung yang bisa dikerjain nih“, begitulah pendapat sebagian orang. Pesanku, jangan terlihat terlalu ramah. Ramah boleh, tapi jangan terlihat. Cukup membingungkan memang, tapi itulah kenyataannya.

Jalanan yang padat dan kemacetan pun telah menambah kerut di wajah para penghuninya. Tak pelak orang Jakarta sering bilang, „Kami tua di jalan“. Satu atau dua jam dimakan oleh kemacetan sudah jadi hal yang lumrah. Ketegangan Senin–Jum’at juga turut berperan serta menumbuhkan uban, warna asli rambut manusia. Anehnya dengan kondisi seperti itu, kota ini malah semakin padat.

Apakah demi uang manusia tak keberatan kehilangan waktunya sia-sia ataupun kehilangan ruang geraknya? Aku tak bisa menjawab….Aku tinggal di kota ini, apa alasanku tinggal disini? Dari semua pertanyaan itu, satu yang paling dari semuanya, kemana perginya kesantunan, kemana perginya uang, dan kemanakah perginya ruangku bergerak?

Geliat – Geliat Semangat

Aku kembali menekuri tulisanku. Namun segera teralihkan oleh bunyi biola yang dimainkan oleh musisi pinggir jalan di taman menteng ini. Selaksa daerah menjadi pilihan gesekannya. Terlintas dalam pikiranku, apa yang menjadi impianmu kawanku? Kulayangkan pandangan kepada ruang terbuka yang disebut taman kota. Cukup asri. Namun ruang-ruang seperti yang sekarang aku pijak tak banyak bersisa, tergilas pesatnya dominasi aspal, semen, maupun beton.

Aku serasa tak punya tempat berlari. Sejauh aku berlari,aku hanya sanggup menghindari hiruk pikuk kota sebatas ini, hanya sejauh tempatku saat ini. Namun maaf saja, pikiranku telah mengembara melebihi jarak yang bisa dilalui oleh fisikku. Membebaskan diri dari penjara waktu, rutinitas, dan dana. Keterlaluan kalau sampai menjelajah dunia dengan pikiran harus ditarik karcis perjalanan. Mungkin itu juga yang ada di benak kawanku musisi jalanan. Suatu hal yang keterlaluan untuk mengisi dunia dengan nada-nada seni sampai harus dikejar-kejar oleh polisi pamong praja.

Aku tahu aku tak sendirian. Rekan seperjalanku dalam mencari penghidupan di kota ini mungkin memilik pemikiran yang sama. Kami jenuh atas pembatasan, kami selalu berusaha membuat terobosan. Namun tak jarang cibiran yang kami dapatkan. Tapi sedikit sandungan takkan meluruhkan niat kami.

Daftar kegiatan yang berjajar dengan tulisanku masih aku lekati. Hmm siapa tahu bisa jadi salah satu sumber tulisanku yang lain. Semakin mempunyai banyak peristiwa untuk dinikmati, semakin banyak yang bisa dituliskan bukan. Yah sebut saja Komunitas historia dan jelajah kota tua yang telah dengan giat meramban bangunan kota termakan usia. Komunitas Bike to work pun tak segan meliuk diantara padatnya lalu lintas Jakarta. Komunitas pecinta lingkungan juga bahu membahu menciptakan kegiatan ramah lingkungan setiap bulannya, ada car free day, ada gerakan stop penggunaan kantung plastik, bahkan mematikan lampu listrik pada jam-jam yang tidak diperlukan. Aku tinggal memilih ingin melakukan apa demi perubahan yang aku inginkan. Pilihan sudah banyak di depan mata.

Aku sadari semua yang peduli sedang mencoba dengan kemampuan dan minatnya untuk membuat kota ini lebih layak ditinggali. Entah sampai kapan…karena tanah tak pernah bertambah, dan manusia tak mau menyusutkan jumlahnya.

Jakarta, Juni 2009

Devi R. Ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: