Mendulang Investasi dengan Asuransi

2 Jun

Sejak lahir ke dunia saya sudah dekat dengan asuransi. Bagaimana tidak, sebagai anak seorang pegawai pemerintah, nama saya telah tercantum dalam kartu asuransi kesehatan mulai dari dilahirkan. Kebijakan pemerintah yang sangat saya syukuri tentunya. Belum lagi asuransi jasa raharja yang langsung menjadi hak pengguna fasilitas umum sewaktu kita sekedar melewati jalan tol ataupun naik kendaraan umum. Tak cukup sampai di situ, ketika masih belajar di sekolah lanjutan tingkat pertama maupun tingkat lanjutan atas, pengurus sekolah saya bahkan mati-matian mempromosikan asuransi jiwa untuk siswa-siswinya. Dan asuransi yang paling terkenal waktu itu adalah AJB Bumiputera 1912. Alhasil saya pun menjadi pengoleksi kartu asuransi di usia muda.

Asuransi bagi saya sudah menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam hidup. Di tengah makin tidak sehat dan tidak bersahabatnya lingkungan di sekitar kita, semakin bertambah pula ancaman terhadap kelangsungan kesehatan, keselamatan jiwa, maupun asset-asset penting dalam hidup. Diluar negeri, terutama di Eropa, 90 % dana kesehatan masyarakat diputar oleh perusahaan asuransi. Bahkan menurut informasi dinas layanan asuransi pemerintah Jerman, Rumah Sakit atau pusat pelayanan kesehatan disana menolak melayani pasien yang tidak mempunyai nomor jaminan sosial.

Manfaat asuransi sendiri langsung tuai ketika saya jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit dalam waktu yang lumayan lama, sedangkan waktu itu saya tidak punya cukup dana untuk berobat maupun operasi. Masalah itu kemudian teratasi dengan mengeluarkan “kartu sakti” milik asuransi kesehatan tempat saya bernaung. Saya pun bisa melenggang dirawat di Rumah Sakit dengan dana yang minimal. Berkaca dari pengalaman itu akhirnya saya memutuskan untuk tetap setia menjadi pelanggan asuransi. Bahkan sekarang ini asuransi pun dapat menjadi salah satu bentuk investasi kita untuk masa depan. Lho kok bisa?

Jujur saja, saya tahu kalau asuransi bisa dijadikan investasi juga baru belakangan ini. Ada seorang kawan yang berbaik hati menjelaskan kepada saya apakah itu yang dinamakan polis, apa pula macam-macam asuransi yang ada di Indonesia serta syarat-syarat untuk bergabung menjadi member asuransi tersebut, kemudian jaminan serta besarnya uang pertanggungan yang diperoleh dari asuransi yang bersangkutan, bahkan sampai sistem asuransi yang kebanyakan berlaku di Indonesia.

Penjelasan tersebut mulanya dipicu oleh ketertarikan saya untuk mengikuti suatu program asuransi yang sekaligus dapat menjadi tabungan, dimana dana yang diinvestasikan dapat diambil sewaktu-waktu saat saya membutuhkannya. Supaya tidak terjerumus memilih asuransi yang “tidak dibutuhkan” maka saya berkonsultasi kepada kawan yang berprofesi sebagai underwriter di sebuah perusahaan asuransi. Informasi itu mau tidak mau membuka mata saya untuk lebih berhati-hati dalam mempelajari polis asuransi dan dalam mengajukan klaim. Jawaban yang sangat memuaskan pun makin membulatkan tekad saya untuk bergabung dalam investasi asuransi. Bagi saya, berinvestasi memang harus dimulai sejak dini, toh saya tidak membuang uang melainkan mengalokasikannya dalam bentuk proteksi terhadap kesehatan dan dana cadangan untuk masa depan.

Hidup sendiri tak pernah bisa diprediksi akan berlangsung sampai kapan, itulah alasan mengapa proteksi sedari dini sangat diperlukan. Sebagai bahan pertimbangan, bolehlah kita mulai hitung menghitung proteksi mana yang paling kita butuhkan.

1.Asuransi kesehatan adalah proteksi yang „wajib“ dimiliki oleh semua orang. Jika anda sudah terdaftar dalam asuransi kesehatan di tempat anda bekerja, coba periksa kembali apakah proteksinya sudah sesuai dengan keinginan anda. Kalau belum sesuai, anda bisa menambah asuransi, misalnya dengan premi Rp3,8 juta pertahun. Dengan premi sebesar itu, anda bisa mendapatkan fasilitas rawat inap VIP Rp3,5 juta per malam.

2.Asuransi Jiwa adalah proteksi yang „hanya perlu“ dimiliki oleh orang yang memiliki tanggungan. Jika anda bertanggung jawab terhadap hidup pasangan atau anak yang tidak mempunyai penghasilan, anda dapat memilih asuransi dengan uang pertanggungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jangka waktu tertentu, misalnya 18 bulan setelah anda tiada. Dalam kurun waktu tersebut diharapkan keluarga yang ditinggal akan mampu mencari penghasilan lain untuk melanjutkan hidup. Nah premi asuransi untuk proteksi jiwa ini bagi mereka yang berusia dibawah 30 tahun kurang lebih Rp3 juta pertahun dengan uang pertanggungan sebesar satu milyar rupiah

3.Asuransi Kecelakaan juga merupakan proteksi „pilihan“ bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan risiko tinggi atau bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi seperti motor maupun mobil dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak menanggung hidup orang lain tapi anda akan membutuhkannya untuk mengganti penghasilan kalau anda mengalami kecelakaan dan cedera sehingga tidak mampu bekerja lagi. Proteksi jenis ini uang pertanggungannya bisa mencapai Rp750 juta dan anda hanya perlu mengeluarkan dana untuk membayar preminya sebesar Rp1,4 juta pertahun.

Memang menurut sebagian orang jumlah uang yang saya keluarkan perbulan untuk membayar premi asuransi terhitung cukup besar, apalagi untuk kalangan menengah. Namun menurut saya, harga tersebut cukup pantas mengingat jaminan kesehatan yang ditawarkan setara dengan uang yang saya bayarkan. Tidak ada rumah sakit yang menolak untuk bekerja sama dengan asuransi kesehatan tersebut, sistem pembayaran melalui transfer bank juga menjamin keamanan dana saya, terlebih lagi dengan prinsip menabung yang diterapkan oleh perusahaan asuransi itu mengakibatkan saya berhak memperoleh pembagian dana atas keuntungan perusahaan terhadap tabungan yang diinvestasikan. Keadaan ini saya istilahkan, “sekali melompat, dua tiga tempat pun terlampaui”.

Setelah ditimbang-timbang nyatanya tidak ada kerugian dalam berinvestasi terhadap kelangsungan kesehatan dan keselamatan jiwa, toh kesehatan dan keselamatan jiwa adalah motor penggerak dalam mencapai kesuksesan hidup. Selain pos untuk dana kesehatan dalam posisi aman, saya juga mempunyai dana cadangan yang dapat diambil sewaktu-waktu, plus bonus dana dari keuntungan perusahaan. Wah impian hidup layak dengan berinvestasi pada asuransi tampaknya bukan hanya sekedar impian asalkan kita mau berusaha mewujudkannya. Sudah saatnya paradigma atas asuransi dan investasi “hanya menghabiskan uang” berubah haluan menjadi investasi asuransi sebagai salah satu fondasi dalam kestabilan hidup dan finansial di masa datang.

Jakarta, 2 Juni 2009

Devi R. Ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: