Kini Kutahu

4 Mar

Kini kutahu…

mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu…
betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu…
bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

kini kutahu…
yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

kini kutahu…
paling lima belas menit berlagak ramah,  sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu…
bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

kini kutahu…

yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu…
apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup.

Kini kutahu…
betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu…

betapa lamanya untuk menjadi seseorang, yang kuidamkan.

Kini kutahu…

betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu…
harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu…
betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu…
kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan.

Kini kutahu…
kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita.

Kini kutahu…
betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik.

Kini kutahu…
pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu.

Kini kutahu…
belajar memberi sesuatu itu,  menuntut latihan disiplin diri.

Kini kutahu…
betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya.

Kini kutahu…
uang itu selalu menipu dan gagal,  untuk menjaga martabat sejati.

Kini kutahu…
dengan sahabatlah kita sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun, dan merupakan saat yang indah.

Kini kutahu…
orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh,  justru yang dapat membantu kita bertegak.

Kini kutahu…
saat kita marah, kita merasa berhak marah,  tetapi bukan hak untuk menjadi jahat.

Kini kutahu…
persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati.

Kini kutahu…
seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap,  bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki.

Kini kutahu…
kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang  terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun.

Kini kutahu…

jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana.

Kini kutahu…
keluarga itu tak selalu disamping kita,  bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar  menghadapi dunia luas,  keluarga itu bukan semata biologis.

Kini kutahu…
betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun.

Kini kutahu…
tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita.

Kini kutahu…
betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu.

Kini kutahu…
latar belakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggung- jawab akan menjadi bagaimana.

Kini kutahu…
kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya.

Kini kutahu…
orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih.

Kini kutahu…
terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimak kelakuannya.

Kini kutahu…
kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah.

Kini kutahu…
tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya.

Kini kutahu…
dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan.

Kini kutahu…
betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka.

Kini kutahu…
ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta.

Kini kutahu…
betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini.

Kini kutahu…
berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang  mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka.

Kini kutahu…
hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita.

Kini kutahu…
biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong.

Kini kutahu…
membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati.

Kini kutahu…
paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima.

Kini kutahu…
bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia.

Kini kutahu…
bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat.

Kini kutahu…
dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan.

Kini kutahu…
betapa sukarnya menarik pemisah,  antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan.

Jakarta, 5 Maret 2009

This is my own words:

Kini kutahu….

Selama kita masih hidup, maka harapan itu akan selalu ada.

Keep stronger then!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: