Tertawa bersama Marti, Andika, dan Fadil

19 Okt

WE ARE THE CIRCLE!

19 Okto 08

Setelah berpenat dengan berbagai masalah akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan kangen dengan teman-teman menulisku di Reading Lights. AKU BUTUH TERTAWA!!

Iya belakangan ini aku sumpek banget, kenapa ya kok aku jadi lesu, muka ditekuk, males ngomong, bawaannya pengen ngamuk….Oh ternyata aku tahu jawabannya, AKU KURANG TERTAWA. Kota Jakarta dan pekerjaanku sehari-hari telah membuatku terwarnai. Come on….masa harus seperti itu sih??!! Harusnya aku tetap aku, harusnya aku yang mewarnai. Hidup ini terlalu indah untuk terus kuburamkan…

Heiks jadi ingat perkataan James Watt saat ditanya dan dihina oleh banyak orang gara-gara percobaannya menemukan bohlam lampu. “Sudahlah Mr. Watt, ngapain repot-repot ingin menyalakan lampu jalanan. Kamu sudah 5000 kali gagal! Jalanan itu memang ditakdirkan diterangi oleh lampu teplok“. Dan Mr. Watt pun berkata, „Anak muda, tidakkah kau menyadari bahwa sebenarnya aku tidak gagal. Aku bahkan lebih dekat 5000 kali dari yang kuinginkan. Dan aku telah mempunyai 5000 cara untuk mewujudkan impianku“. Dan akhirnya Mr. Watt berhasil menemukan bohlam lampu pada percobaannya yang keseribu!! Bayangkan saja dunia saat ini andaikan Mr. Watt saat itu menyerah untuk menemukan lampu pijar…“BERANI WUJUDKAN APA YANG JADI IMPIANMU“, itulah salah satu yang aku pelajari dari hidup.

Fiuh…karena terlalu kecapean, belakangan ini aku jadi kurang membaca dan menulis. Padahal membaca, menulis, sambil mendengarkan musik adalah obatku. Dan jujur aku sakaw, ga bisa berpikir jernih, bisa-bisa aku mati. DAN AKU GA MAU MATIIIIII KONYOL…

The Circle adalah tempat aku melepaskan penatku (MAKASIH YA TEMAN-TEMAN). Iya, kemarin kami belajar menuliskan keinginan organ tubuh kami. Mulai dari tangan kiri yang sirik sama pantat, sampai tragedy kuku busuk. Hmm…kalo aku kemarin nulisnya tentang mata. Hehehe…disana aku bertemu Anas dan Ully yang terus memberikan semangat untuk menulis skenario film. Yeah beibeh…menulis itu bisa apapun dan kapanpun. Kalau Anas bilang…“kita terus perbaiki diri ya, dev. Berjuang sampai mati“ Oke Anas, Hidup Menulis! Hidup Sastra! Hidup Film!!

Bersama the circle aku pun meng-update berita tentang recto verso, buku terbaru Dewi Lestari dan kegiatan-kegiatan seni di Bandung. Bahkan aku baru tahu kalau Fadil sudah potong rambut dan sekarang tinggal di Jakarta! Bah kemana saja aku selama ini?? Di the Cirle juga aku mengupdate kegiatan copywriter Myra, dan kegiatan menulis di Jakarta yang aku referensikan ke grup. Ternyata sangat bagus, Myra sering datang kesana. Akhirnya aku janjian deh sama Fadil mau ikutan klub menulis itu nanti. Keep in contact ya, Fadil! Ini semua gara-gara ga ada komputer di kosan sih jadi ga bisa nulis…(xixixi..alasan aje!) Iya aku cinta banget ma PC ku yang ditinggal di Bandung, walaupun jebot tapi nyaman sekali dipakai. Miz u mhuah..mhuah…my kompie….

Sebelum pulang kami juga makan-makan bersama lho, ada yang ulang tahun nih…empek-empeknya enak. Dan aku, Andika, Marti, dan Fadil memutuskan main scrable. Andika nomor satu…and you know what?? Gw ada di posisi 3! Waduh ada apa ya dengan angka 3 ini?;p Kemudian Marti mengantar kami bertiga pulang. Dan di sepanjang jalan..AKU TERTAWA!! Iya, kami semua tertawa sampai rahang kami sakit.

Di sepanjang jalan, kami menggosipkan masyarakat kuadran kiri versi Robert T. Kiyosaki. Kami menggosipkan Pemkot Bandung yang dodol berat dalam penataan kota. „Dasar mental project n korupsi“, Fadil bersungut-sungut. „Iya, mental masyarakat miskin“, tambah Andika. „Siapa sih yang milih Dada Rosada lagi?? Bodoh bener“, kata Marti (bukan gw Marti, gw kan ga punya hak pilih di Bandung) Mau tahu kenapa? Karena Pemkot Bandung sedang memugar jalan Asia-Afrika-Braga yang bagus, dan berarsitektur Belanda, serta yang ga kenapa-kenapa hanya sekedar untuk cari duit! Dan Pemkot pun sedang memugar babakan Siliwangi, tempat satu-satunya di dunia 3 spesies tumbuhan langka, hanya untuk dijadikan Mall!! DODOL BANGET!! Dasar mental orang bodoh dan terjajah! Mana menurut LSI, Bandung adalah tempat terkorup no. 1 di Indonesia…weleh..weleh…

Kemana lagi aku harus berlari kalau aku penat dengan Jakarta? Bogor telah berubah, dan Bandung pun sudah mulai tidak nyaman, tempat resapan air kami mulai menjadi Mall. Lembang pun sudah mulai menurun suhunya, tidak seperti dulu…Huwaa…kangen Bandung tempo doloe. Saat Pasteur masih ditumbuhi Palem, saat Dago masih dipenuhi pohon. Kembalikan Bandung yang kuingat di masa kecilku!!

Pun tidak jauh berbeda dengan kampung halamanku Malang. Kalau aku pulang ke Malang, berasa pulang ke Bandung euy. Mall mulai tumbuh dimana-mana. Cuaca pun lebih panas, kecuali yang dekat Bromo tentunya….Duh rindunya memeluk udara bersih dan angin sepoi-sepoi…Dan akupun sering bertanya, „kenapa aku masih bertahan di Jakarta??“. Aku tahu jawabannya…aku benar-benar tahu jawabannya…..

„Special thx to Fadil yang berpendapat „lo masih kuliah kan, dev?”

Xixixi…makasih lho Fadil! Doain bisa kuliah lagi ya…:D

Dunia yang penuh WARNA

D’e’v’I

Satu Tanggapan to “Tertawa bersama Marti, Andika, dan Fadil”

  1. dev1friends 14/12/2008 pada 6:40 am #

    hi….tooo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: