MENULIS SEBAGAI BENTUK TRANSFORMASI DIRI

14 Agu

                   MENULIS SEBAGAI BENTUK TRANSFORMASI DIRI

“Menulis adalah menangkap kesempatan yang amat-sangat-sangat kecil untuk mengungkapkan perasaan anda. Itu berarti mengambil resiko untuk berkomunikasi dengan seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan hal yang Anda pikirkan dan katakan.
Pada saat anda menulis, anda mula-mula berdialog dengan diri anda sendiri.
Apabila anda berusaha mengungkapkan diri anda setiap hari, anda memang tidak dapat mengubah langsung dunia. Anda sebenarnya dapat mengubah diri anda sendiri. Dan, saya yakin bahwa dengan mengubah diri sendiri, sesungguhnya anda tengah mengubah dunia”
– Fatima Mernissi –

Itulah arti menulis bagi seorang intelektual perempuan dari timur tengah, Fatima Mernissi. Tak jauh berbeda dengan beliau, saya juga memiliki keyakinan yang sama, bahwa langkah kecil dari seorang manusia bisa merubah dunia. Dan bagi saya hal yang paling bijaksana untuk dilakukan dalam rangka membuat perubahan adalah melakukannya dari sekarang, perubahan itu berawal dari diri  sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan menulis? Berhubung saya suka menulis maka saya pribadi sering menyikapi apa yang terjadi di sekeliling saya dengan tulisan. Tulisan buat saya adalah media untuk menyembuhkan diri dari berbagai luka, media untuk berdialog dan mengasah diri. Saya bisa melakukan apa saja dalam tulisan, mulai dari mencaci sampai berteriak. Singkat kata tulisan adalah dunia dimana saya bisa menjadi diri sendiri tanpa harus dibatasi. Menulis melatih saya untuk berubah, terlebih melatih saya untuk jujur pada diri sendiri, karena tulisan yang bermakna memang membutuhkan kejujuran

Laurel Schmidt menyatakan, “Menuliskan rasa marah, harapan, ketakutan, kecemburuan bisa mencegah anda dari menguburkan emosi anda dalam-dalam, yang menyebabkan emosi itu sulit diraih kembali. Penggunaan huruf besar, tanda seru, atau kata sifat saat menulis buku harian merupakan cara anda berteriak tanpa harus membangunkan tetangga”. 

“Apa gunanya pengalaman dituliskan?”, itulah pertanyaan Hernowo, penulis buku bermain-main dengan teks. Dia pun kembali menjawab, “Menulis adalah untuk transformasi diri”. Jawaban yang hampir sama seperti pernyataan Laurel Schmidt diatas. Pengalaman dituliskan untuk melalui proses seleksi. Hernowo menyatakan bahwa melalui kegiatan menulis suatu pengalaman akan diseleksi apakah itu berharga bagi dirinya sendiri atau tidak. Andainya kurang berharga, bagaimanakah caranya supaya kita bisa menghargai pengalaman tersebut? Apakah hikmah yang terkandung di dalamnya, serta dicarikan jalan keluar agar pengalaman selanjutnya dapat lebih mengesankan atau membuat kita lebih berharga. Dengan kata lain, menulis merupakan salah satu cara kita bercermin dan merubah diri. Tulisan adalah suatu alat yang berfungsi mendukung kesuksesan diri.

Menulis dapat membantu kita menemukan value diri? Apakah sebenarnya value diri? Ide tentang value diri ini sebenarnya telah lama ada, namun baru belakangan ini muncul kembali di benak saya dengan bantuan sebuah acara di stasiun radio yang sering saya dengarkan, dan beberapa artikel pengembangan diri di rubrik karir sebuah surat kabar nasional. Menurut pembicara di radio yang sering saya dengarkan tersebut, secara singkat value diri dapat dimaknai sebagai keadaan dimana anda ingin diingat oleh dunia. “Hidup ini tak cuma untuk bekerja, uang, maupun kekuasaan. Yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana supaya anda dapat menikmati kehidupan ini. Value diri juga membuat anda dapat bekerja di bidang yang anda sukai, serta melakukan pekerjaan yang anda sukai”. Bukankah suatu hal yang menyenangkan bekerja untuk hal-hal yang anda sukai dan dunia mengingat anda atas hal-hal tersebut?      

Hernowo juga menegaskan bahwa ciri khas atau dalam bahasa saya value diri ini adalah suatu hal yang harus ditemukan. Setiap diri memang diciptakan unik dan mempunyai ciri khas masing-masing. Kita dapat menemukannya melalui menulis. Menurut Hernowo, penulis diberi kemampuan lebih cepat, lebih kukuh, dan lebih percaya diri dalam merumuskan ciri khas yang dimilikinya.

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Setiap penulis memang membutuhkan ciri khas dalam karya-karyanya, terlebih dalam upaya menarik khalayak untuk membacanya. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan – tulisan saya akan dibaca orang lain. Dan sejujurnya saya memang tidak terlalu peduli akan hal tersebut. Tapi jujur ada kebahagiaan disana apabila tulisan saya dibaca orang, dan apabila orang lain dapat menemukan makna tersendiri atas tulisan yang saya buat.

Dalam hidup saya yang paling berarti ternyata adalah berbagi. Sungguh suatu hal yang menyenangkan menjadi orang yang biasa saja namun bisa memberikan makna, kebahagiaan maupun perubahan buat sesama.

Dari dunia penuh makna,
11 Agustus 2008
Devi R.A.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: