Trilogi Kota – Bagian Satu

30 Jul

Ketika
aku menulis ini, aku sedang merindukan Arjuna yang tengah ditimpa
sinar mentari pagi.


Saat
aku menuliskan ini, aku sedang teringat harum udara pagi Bromo.


Dan
apabila aku teringat akan tetesan embun Arjuna dan kabut udara pagi
Bromo, maka aku akan mencoba mengingat Semeru, lengkap dengan
hamparan Edelweissnya.


INDAH….hanya
kata itu yang sanggup kuungkapkan.

Malang,
kota tempat aku dibesarkan, tak ada kata yang bisa mengungkapkan
kerinduanku padamu.


Orang
bilang tempat aku dibesarkan adalah kota yang sangat menakjubkan.

Aku
bilang kota asal darahku ini takkan pernah bisa dilupakan….

Mari
berbagi ingatan ini bersamaku, kawan.

Kubawa
kau menembus waktu, berjalan melewati jarak ke kotaku, Malang kota
bunga…


Sudah
lama aku tidak menginjakkan kaki di kota kelahiran orangtuaku.

Namun
setiap aku melangkah, ingatan akan kaki gunung Arjuna yang menyimpan
beribu-ribu batang pohon teh wangi selalu memenuhi benakku.

Teh
yang selalu aku minum di setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.

Dan
mama
selalu menyempatkan diri menyeduh kasih sayang diantara pucuk-pucuk
teh vanilla demi menyemangati hariku….


Takkan
pula lekang dalam ingatanku, kaki gunung Bromo yang menjadi rumah
bagi sayur mayor, tebu, dan pohon-pohon apel yang ranum.

Para
petani pun bergegas pergi ke kota sebelum ayam jantan berkokok untuk
menjual hasil kebun dan ladang hanya dengan niatan mengebulkan dapur
rumah mereka.

Pernahkah
juga kau bayangkan lautan bunga di Semeru, kawanku. Lambaian bunga
putih yang tertiup angin ini akan membuatmu serasa di surga. Ya,
Semeru adalah rumah bagi padang Edelweiss, bunga keabadian.


Adakah
sering kau baca, kawanku? Kode etik pecinta alam adalah dilarang
memetik edelweiss dan membawanya turun dari gunung.

Lucunya,
dulu banyak yang menyatakan cinta padaku dengan perantara edelweiss.

Jujur,
tidak romantis sama sekali bagiku.

Aku
tidak bisa jatuh cinta pada orang yang tidak bisa mencintai edelweiss
dan membiarkannya bebas di rumahnya sendiri.

Tahukah
kau, kawan…saat ini aku tak hanya merindukan Malang.

Aku
merinduk
an
petualanganku di daerah ujung timur pulau jawa.

Saat
aku menuliskan ini, aku pun sedang merindukan butiran pasir bersih di
hamparan pantai pasir putih Situbondo.

Aku
rindu riak-riak gelombang yang menyapa kakiku dan taman lautnya yang
berkilauan aneka warna.

Saat
kalian membaca ini aku juga pastikan bahwa aku sedang merindukan
deburan ombak dan kumpulan kerang pantai Ngliyep, Balekambang, maupun
Sendangbiru.

Tolong
tanyakan padaku apakah aku bisa melupakan masa-masa kecil, dimana aku
dan kakakku gemar mengumpulkan kerang-kerang di pesisir pantai
tersebut?

Kawan,
kami
hanya ingin selalu mendengarkan bunyi laut yang tertinggal di dalam
rumah kerang.

Aku
pun sedang memimpikan garis horizon perairan Tuban, Tanjung Kodok,
dan Watu Ulo.

Awal
dan akhir ramadhan di negaraku, Indonesia, biasanya ditentukan dari
hilal di daratan yang menjorok ke laut dengan ciri khas batu besar
yang menyerupai katak ini, kawan.

Dan
entah sering kalian perhatikan atau tidak, bahkan awan-awannya begitu
berbeda.

Disana
awannya begitu putih daripada tempatku berpijak sekarang.

Ah
kawan, kangenku tak tertahan lagi…

Aku
sangat rindu aroma wangi kesturi masjid Ampel Surabaya.

Aku
kangen pada gantungan lampion yang memenuhi daerah Kiya-Kiya.

Aku
kehilangan riuh rendahnya pengunjung Gunung Kawi.

Aku
rindu…aku benar-benar rindu….

Ternyata
dimanapun aku berada, aku tetaplah sama.

Seorang
manusia yang berasal dari alam dan tumbuh besar di daerah pedesaan
yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Sudah
menjadi habitat untuk mencari hijaunya pegunungan di tengah
gedung-gedung pencakat langit yang mengurung.

Bukannya
aku tak punya ambisi, tapi kehidupan bebas lebih menarik hatiku.

Kawanku,
aku bukanlah manusia yang dibesarkan oleh kekayaan, oleh karenanya
aku takut akan kekayaan.

Aku
takut kekayaan dan kekuasaan takkan lagi bisa membuatku bergembira
berlarian diantara padang gersang tanah berkapur dan mata air di
malang selatan.

Aku
takut kekayaan dan kekuasaan membuatku lupa wangi cengkeh di halaman
rumah nenekku dan manisnya madu hutan di malang selatan.

Maka
keberanian untuk hidup bebaslah yang aku pilih….

#
TRILOGI KOTA – Bagian Satu #

Devi
R. Ayu

July,
2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: