BIARKAN INDAH PADA SAATNYA….

16 Mei

BIARKAN
INDAH PADA SAATNYA….

 

*Tuhanku…

maafkan atas
buramnya penglihatanku,

kurangnya
pendengaranku,

lemahnya pemikiranku,

tak cukupnya hatiku
merasa,

dan seringnya alpa
bersyukur….

 Beberapa waktu terjebak oleh

marah, prasangka
dan kekhawatiran…

Aku ternyata hanya
manusia….

Manusia yang sibuk
mengejar hidupnya*

 

PENGGALAN CERITA:

Di ujung jalan,
diantara lalu lalang para pengendara ada seorang ibu sedang menyulut rokok yang
dia linting sendiri, dikais dari tumpukan sampah yang terletak tidak jauh dari
hadapannya. Pakaiannya lusuh dan kumal. Siapa dia?

Dia nyata-nyata
salah satu warga kota, mata pencahariannya adalah mencari sampah, untuk hidup….Gerobak
sampah itu tiap hari ditariknya keliling kota. Tak banyak yang melihat aksinya,
meskipun sebenarnya dia adalah seorang SUPERSTAR. Ya, semua orang menantinya,
mengharapkan jasanya. Tak ada seorang pun yang bisa menganggap dia bukan sebuah
fenomena. Namun jika ditilik dari jauh tak nampak bayangan seorang perempuan
disana, yang ada adalah seorang manusia. Ringkih dan berambut panjang.

Hati ini merintih….Apa
memang begini Tuhanku? Ah ternyata benar, betapa kadang-kadang tak bersyukurnya
aku atas hidup.

Manusia tampaknya
telah menjadi pengukur jalan. Hari ini, besok, lusa maupun kemarin dan
kemarinnya lagi manusia sibuk berlarian. Tak hanya dengan kaki tapi juga dengan
putaran-putaran roda. Jalan telah menjadi tempat berparade. Kemanakah
sosok-sosok itu akan pergi?

Hari ini kembali lagi
jalan memunculkan tokoh-tokohnya. Sesosok wanita, telah lanjut usia, membawa
berbagai macam dagangan diatas motor tuanya. Kaki dan tangannya nampak kering
dan melegam terbakar surya….Untuk apa? Tak usah itu jadi pertanyaan…

“Mama, apa kabarmu
hari ini?”, Itulah kalimat pertama yang terlintas dalam hati saat melihat
perempuan itu. Tak sadar mata pun berkaca-kaca.

Ah…Pudarnya senyum
bahagia marak mengisi sudut-sudut mata. Karnival manusia dengan berbagai
artifaknya yang bermuram durja semakin menggurita. Dimanakah sang senyum? Atau
sebaliknya, ini adalah awal mula perayaan untuk berbahagia, penemuan atas makna-makna.
Jadi mereka semua berjalan dan terus berjalan di atas jalan-jalan. Bukankah
memang itu fungsinya jalan, dia ada untuk dilewati.

Seekor kupu-kupu
melayang rendah, hinggap diantara pinus berdaun jari. Hinggap menuju bunga dan
bercengkrama dengan putik sarinya. Pohon pinus pun bergoyang mengucapkan
terimakasih atas kunjungan kupu-kupu bersayap lebar.

Kupu-kupu, katanya
dulu dia adalah ulat. Katanya dulu dia harus bertapa untuk mempunyai sayap.
Katanya dulu dia malu. Katanya dia dulu membuat pohon meranggas. Katanya orang
dulu benci padanya, banyak yang tak segan menginjaknya. Kupu-kupu, sekarang dia
dilirik setelah menjelma menjadi wujud yang sudah menjadi takdirnya.

Kupu-kupu sekarang
punya lagu “Kupu-kupu jangan pergi, lihat indah warna dunia”. Kupu-kupu tak
lagi dibenci. Kupu-kupu menemani jalan-jalan diantara pepohonan pinus, hinggap
diantara bunga yang membutuhkannya untuk mengembangkan generasi selanjutnya.

BIARKAN INDAH PADA
SAATNYA….atau memang sudah sepatutnya pengorbanan dibutuhkan untuk sebuah
keindahan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Devi R. Ayu

Mei, 2008

Satu Tanggapan to “BIARKAN INDAH PADA SAATNYA….”

  1. Pitta 31/05/2008 pada 9:47 pm #

    bagusnya…
    smoga ya..
    smua mjd lbh baik ke depannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: