Appreciative Inquiry: Jalan Setiap Orang untuk Mengubah Dunia

22 Jan

Appreciative Inquiry: Jalan Setiap Orang untuk Mengubah Dunia


If
you can dream it, you can do it.

–Walt
Disney


Mengapa
Gandhi dapat menggerakkan rakyat India? Mengapa Sukarno dapat menggerakkan
rakyat Indonesia? Mengapa Martin Luther King didengarkan dan diikuti oleh
jutaan orang?

Ada
banyak penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti mereka adalah
manusia pilihan Tuhan atau kharisma mereka yang besar. Tetapi, ada persamaan
yang jelas diantara mereka, yakni hadir dengan membawa inspirasi kepada
masyarakatnya. Dengan kekuatan kata-kata, mereka menyentuh hati, menggugah
kesadaran, dan memberi pencerahan kepada orang-orang disekitarnya. Dengan
kekuatan kata-kata, mereka mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi suatu
kenyataan. Bahkan, jauh setelah meninggal, kisah mereka tetap menjadi inspirasi
bagi ribuan bahkan jutaan orang, mencerahkan mereka yang tenggelam dan tak
berdaya dalam kekelaman kehidupan.

Inspirasi
mereka telah menjadi kekuatan pengubah dunia. Bukan karena rasionalitas dibalik
inspirasi tersebut, tetapi inspirasi itu menyentuh hati, emosi, dan jiwa
orang-orang yang mendengarkannya. Inspirasi tentang sebuah visi kehidupan atau
image masa depan disampaikan, digambarkan, dan diterangkan melalui cerita,
melalui kata-kata. Jadilah cerita inspiratif yang menumbuhkan semangat dan
harapan akan kehidupan masa depan yang diimpikan.

Pidato
Sukarno yang berkobar-kobar membakar ketertundukan jiwa rakyat Indonesia.
Pidato Martin Luther King tentang impiannya membuka kesadaran pendengarnya
tentang adanya kemungkinan kehidupan yang jauh lebih baik. Kata-kata Gandhi
melahirkan kesabaran yang luar biasa pada pengikutnya untuk menerima pukulan
fisik pasukan Inggris tanpa sama sekali membalas.

Apa
yang sebenarnya terjadi? Apakah kata-kata dan kisah inspiratif orang besar
tersebut merupakan mantra yang mempunyai daya magis? Banyak penelitian
psikologi yang menunjukkan bahwa kata-kata memang mempunyai kekuatan yang luar
biasa, sekalipun itu kata-kata orang biasa. Kata bukanlah sekedar penjelasan
terhadap suatu realitas, tetapi pembentuk realitas itu sendiri. Makna dibentuk
dalam percakapan. Realitas diciptakan dalam komunikasi.

Guru
yang meyakini dan mengatakan murid-muridnya sebagai orang yang bodoh dan malas
maka akan benar-benar mendapatkan nilai hasil belajar muridnya yang buruk.
Orang tua yang terus menerus menyatakan anaknya sebagai anak nakal maka begitu
pula jadinya kemudian. Pasang surut sebuah kebudayaan dibentuk oleh percakapan
diantara anggota budaya tersebut. Percakapan yang positif dan antusias akan
menciptakan budaya yang penuh dengan vitalitas. Percakapan yang pesimis dan
sinis akan membentuk suatu budaya yang dekaden dan menuju ambang kematiannya.
Coba ingat, kapan terakhir kali bangsa Indonesia dipenuhi oleh percakapan yang
positif dan antusias?

Kata
dan kisah yang inspiratif telah lama menghilang dari percakapan bangsa ini.
Kita lebih suka menunggu datangnya sebuah jawaban, menanti sebuah kisah besar.
Jawaban yang memuaskan keingintahuan kita. Kisah besar yang “menghibur” kita.
Alih-alih berbicara tentang perubahan, kita lebih memilih pasif mengikuti
orang-orang besar yang dilahirkan untuk melakukan perubahan. Sayangnya, orang
besar biasanya adalah mahluk langka, sangat jarang ada. Pilihan bagi kita
adalah terus menunggu atau melakukan pencarian kisah-kisah inspiratif dari
orang-orang biasa.

Tunggu
dulu. Apakah mungkin orang biasa mempunyai kisah inspiratif? Setiap manusia
pada dasarnya merupakan sumber inspirasi dan pembelajaran yang tidak pernah ada
habisnya. Setiap dari kita mempunyai kisah-kisah menarik yang mempunyai
kekuatan yang luar biasa. Kita lebih kuat menyimpan kisah-kisah tersebut dalam
ingatan, melebihi hal yang lainnya.

Lihatlah
bagaimana buku Chichen Soup beserta serialnya laris manis dibeli masyarakat.
Atau yang terbaru, buku Chocolate diserbu pembaca. Padahal isi kedua buku tersebut
bukanlah resep sukses dari pakar, bukanlah kisah seorang tokoh besar. Kedua
buku itu memuat cerita ribuan kisah inspiratif dari orang-orang biasa.

Kisah
inspiratif orang biasa dalam kedua buku tersebut tetaplah mempunyai daya magis
yang dapat menyentuh sisi emosi dan menggugah kesadaran manusia. Tidak sedikit
pembaca yang trenyuh bahkan menangis membaca kisah-kisah itu dan selanjutnya
menimbulkan semangat yang luar biasa. Mereka yang tertekan akan terbebaskan
dari beban kehidupan. Mereka yang putus asa menemukan kembali cahaya harapan.
Mereka kembali bersemangat menjalani hidup, giat kembali dalam bekerja.

Tetapi
buku semacam itu sesungguhnya masih menempatkan kita, para pembaca, sebagai
pihak yang pasif, menunggu adanya kisah inspiratif orang biasa yang disajikan
untuk mereka. Padahal apabila kisah orang biasa bisa begitu inspiratif, maka
sebenarnya banyak kisah-kisah inspiratif di sekitar kita, kisah inspiratif dari
orang-orang disekeliling kita.

***

Pertanyaannya
kemudian adalah bagaimana cara kita mendapatkan kisah inspiratif dari
orang-orang disekeliling kita? Bagaimana cara menjadikan kisah inspiratif
sebagai sumber energi perubahan dunia?

Pertama,
kita harus apresiatif terhadap kehidupan manusia. Apresiatif berarti
menghargai, memberi nilai tambah, mengambil pelajaran. Praktek apresiatif akan
membuat kita menjadi mahluk yang menghargai segala sesuatunya, termasuk
menghargai hal-hal kecil disekeliling kita.

Prinsip
apresiatif ini sudah sangat langka di dunia kita yang didominasi oleh wacana
defisit. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering memandang sisi negatif,
sisi lemah dan kekurangan dari orang lain. Coba saja, apa yang kita
perbincangkan mengenai pemimpin kita? Apa yang kita perbincangkan mengenai
rekan kerja kita? Apa yang kita perbincangkan tentang Indonesia? Apa yang
dibicarakan dalam rapat? Apa yang kita bicarakan dengan suami/isteri kita? Sisi
positif atau sisi negatif? Kekuatan atau kelemahan? Kebaikan atau keburukan?
Impian masa depan atau persoalan? Sangat wajar apabila kita menjawab sisi
negatif, kelemahan, keburukan atau persoalan. Luar biasa dan sangat langka
apabila kita menjawab sisi positif, kekuatan, kebaikan dan impian masa depan.

Wacana
defisit ini pun sudah merasuk dalam dunia keilmuan kita. Dalam manajemen, semua
orang pasti paham benar dengan konsep problem solving. Identifikasi masalah.
Identifikasi penyebab. Analisis solusi. Tentukan solusi dan implementasikan.
Pembahasan yang diawali dengan identifikasi masalah pasti akan mendapatkan
masalah dan selalu masalah. Program dan langkah yang diambil seringkali
terjebak pada perbaikan demi perbaikan, dari persoalan yang satu ke persoalan
yang lain. Bahkan, seorang direktur pernah mengatakan, “kalau pegawai melakukan
sesuatu yang positif kan sudah seharusnya tidak perlu diperhatikan. Pegawai
yang melakukan sesuatu yang negatiflah yang harus disorot”.

Ilmu
psikologi selama puluhan tahun pun tenggelam dalam penyelidikan-penyelidikan
terhadap kasus penyimpangan negatif. Pada tahun 1998, Dr. Martin Seligman,
presiden American Psychological Association, meninjau kembali seluruh
penelitian yang dilakukan organisasinya. Hasil sangat luar biasa. Dari tahun
1970 sampai 2000, ada 45.000 penelitian tentang depresi, psikosis, dan berbagai
bentuk penyakit mental lainnya. Selama jenjang waktu yang sama hanya ada 300
penelitian yang dilakukan mengenai topik yang berkaitan dengan kesenangan,
kesehatan mental, dan kesejahteraan manusia.

Seligman
sendiri tidak menduga akan menemukan hasil yang demikian. Penelitian psikologi
begitu terfokus pada penyakit dan patologi. Dia menyimpulkan bahwa bidang
psikologi telah menyimpang jauh dari tujuan awalnya-untuk mendefinisikan apa
yang terbaik bagi manusia-untuk menyembuhkan penyakit, dan untuk membantu
orang-orang hidup lebih baik, hidup lebih bahagia. Apa dampaknya bagi
psikologi? Para psikolog terlalu terfokus pada pendefinisian “penyakit-penyakit
baru” yang diidap manusia. Para psikolog kemudian miskin pengetahuan mengenai
cara menuju bahagia, karena lebih tekun mencari cara menyembuhkan penyakit.

Dalam
kedokteran dan ilmu pengobatan, wacana defisit diusung oleh dunia barat yang
berseberangan dengan wacana positif yang diyakini oleh dunia timur. Perbedaan
wacana ini tercermin dari istilah yang digunakan yaitu “medicine” versus
“healing”. Medicine yang berati mengobati atau menyembuhkan tentu sangat
berlawanan dengan pengertian menyehatkan dari healing. Dengan pengobatan, fokus
utama kita adalah terhadap penyakit dan dengan sendirinya mengurangi perhatian
terhadap manusia secara menyeluruh. Sementara, wacana penyehatan, yang
seringkali dimarginalisasi dengan sebutan pengobatan alternatif, justru lebih
terfokus pada manusia dan upaya-upaya untuk menyehatkan manusia agar tahan
menghadapi penyakit.

Dalam
dunia pertanian, peptisida dan pupuk organik yang disarankan oleh para pakar
bukannya semakin meningkatkan kualitas tanah dan pertanian tetapi justru
membuat tanah dan pertanian semakin rusak, tergantung dari formula yang satu ke
formula yang lain. Alih-alih menciptakan pertanian yang sehat, upaya
menyelesaikan suatu penyakit melalui penggunaan zat kimia justru melahirkan
penyakit-penyakit baru karena adanya resistensi dan kreativitas mahluk hidup
yang disebut sebagai penyakit oleh manusia. Tak heran kemudian saat ini banyak
petani yang kembali melakukan dan mengembangkan pertanian organik.

Apa
dampak penggunaan paradigma defisit dalam kehidupan kita? Berdasarkan hasil
rangkuman beberapa tulisan dan refleksi pengalaman pribadi, ada beberapa
kesimpulan tentang dampak dari wacana defisit ini, yaitu:

*
Menimbulkan rasa sakit karena orang dipaksa untuk mengingat kembali kesalahan
di masa lalu
* Melahirkan sikap defensif seperti saling tuding, lempar tanggung jawab dan
mencari kambing hitam
* Membuat orang tidak percaya diri untuk melakukan tindakan positif, karena
apapun tindakannya akan dilihat sisi kelemahan dan kekurangannya
* Jarang melahirkan visi baru karena hanya terfokus pada kenyataan, jarang
merefleksikan tujuannya
* Seringkali upaya menyelesaikan persoalan tidak pernah benar-benar
menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan atau justru menimbulkan persoalan
baru

Dampak
wacana defisit yang demikian luas, menuntut kita untuk melakukan loncatan
kesadaran menuju wacana apresiatif. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert
Einstein, “Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan oleh suatu kesadaran
yang menciptakan persoalan tersebut. Kita harus belajar memandang dunia dan
manusia dengan cara pandang baru”.

Loncatan
kesadaran menunjukkan bahwa antara wacana defisit dan wacana apresiatif
bukanlah relasi yang dikotomis, bersifat hitam-putih (Terima kasih kepada rekan
Leonardo Rimba atas masukannya yang inspiratif). Kedua wacana tersebut
merupakan alternatif-alternatif kesadaran manusia. Ibaratnya, berganti kacamata
hijau menjadi kacama merah. Ada bagian dari kehidupan kita yang jauh lebih
menarik apabila kita menggunakan wacana defisit dalam bertindak, seperti
mungkin dalam situasi yang terbatas oleh waktu, atau tindakan-tindakan yang
bertujuan teknis-instrumental.

Semisal,
kita harus mengapresiasi kehadiran ular dalam komunitas sawah secara luas
karena perannya penting dalam menjaga keseimbangan alam. Ketika kita
memusnahkan ular maka terjadilah bencana alam karena terganggunya keseimbangan
alam. Tikus merajalela dimana-mana. Dalam konteks makro tersebut, maka saya
memilih menggunakan wacana apresiatif dalam memandang ular.

Akan
tetapi ketika kita berjalan di tengah sawah dan berjumpa dengan ular yang
menyerang diri kita, maka mungkin wajar apabila kita menggunakan wacana
defisit. Kita memandang ular tersebut sebagai masalah sehingga kita akan
menyelesaikan masalah tersebut, entah dengan lari atau memukul ular tersebut.
Walau untuk beberapa orang dengan kapasitas tertentu, pilihan untuk meggunakan
wacana apresiatif tetap terbuka. Karena sesungguhnya, pilihan tetap berada di
tangan kita.

Ketika
membicarakan tentang wacana apresiatif, pertanyaan yang seringkali diajukan
adalah apa yang kita lakukan terhadap yang negatif atau persoalannya? Bedakan
berpikir apresiatif dengan berpikir positif, berpikir afirmatif atau berpikir
anti-kritik. Berpikir apresiatif bukan berarti menafikkan apa yang negatif.
Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak mengakui kekurangan.
Setiap orang pasti pernah salah. Setiap keluarga pasti punya aib. Setiap
organisasi pasti pernah mengalami kegagalan.

Berpikir
apresiatif adalah upaya menghargai apa yang ada pada diri kita, mengambil
hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui. Kita diajak untuk lebih terfokus
pada apa yang terbaik dari manusia dan sistem manusia, apa yang memberi nafas
kehidupan. Semisal, seburuk apapun Indonesia tetap kita harus mengakui bahwa
Indonesia telah bertahan puluhan tahun. Pasti ada sesuatu yang membuat
Indonesia tetap bertahan, sesuatu yang meng”hidup”kan Indonesia. Sesuatu itulah
yang akan dihargai dengan berpikir apresiatif dan yang akan menjadi pijakan
dalam melakukan perubahan yang mendasar.

Kedua,
kita harus terus menerus melakukan penyelidikan (inquiry) terhadap kehidupan
manusia. “Jangan banyak bertanya”, “Jangan beri kami pertanyaan, beri kami
jawaban”, adalah ucapan yang sering kita dengar mulai dari para siswa maupun
pekerja ketika mereka difasilitasi untuk melakukan pembelajaran. Keyakinan
adanya sebuah kebenaran tunggal membuat kita seringkali berpikir untuk apa
repot-repot mengajukan pertanyaan, sampaikan saja kebenaran itu.

Itu
juga sangat jelas tercermin dalam sistem pendidikan kita yang lebih terfokus
pada mengetahui “jawaban yang benar”. Siswa yang sukses adalah siswa yang bisa
mengakses jawaban yang benar tersebut secara cepat dan tepat. Penekanan yang
berlebih pada jawaban membuat perhatian kita berkurang terhadap pertanyaan.
Sehingga, sistem pendidikan kita menekankan pengetahuan yang dihafalkan dan
statis sifatnya daripada upaya pencarian kemungkinan-kemungkinan baru melalui
pertanyaan yang dinamis.

Menjadi
ironi apabila dalam masa sekolah kita memberikan jawaban yang benar kepada pasa
siswa, padahal jawaban tersebut mungkin sudah tidak relevan lagi pada 5 – 10
tahun ke depan, ketika siswa tersebut menghadapi dunia nyata. Jawaban yang
tepat atas tantangan masa kini mungkin sudah menjadi sesuatu yang basi untuk
menjawab tantangan masa depan. Ibaratnya, kita memberikan jawaban yang benar
atas pertanyaan yang salah. Penting memang mencari jawaban yang tepat, tetapi
bagaimanapun itu semua diawali dengan pencarian pertanyaan yang tepat.

Prinsip
inquiry memandang manusia sebagai mahluk yang selalu bertanya. Mengubah manusia
dewasa yang menerima begitu saja segalanya menjadi anak yang penuh dengan
pertanyaan. Manusia dewasa yang menganggap tahu segalanya menjadi anak yang
terus menerus belajar. Tepat, pertanyaan merupakan ciri terjadinya
pembelajaran. Ingat teori gravitasi lahir dari sebuah pertanyaan sederhana
tentang fenomena apel jatuh, sebuah fenomena yang sudah tidak pernah
dipertanyakan lagi oleh orang-orang pada jamannya. Sebuah pertanyaan sederhana
dapat melahirkan sebuah teori dan menghasilkan perubahan dunia. Semakin beragam
pertanyaannya maka semakin banyak yang dipelajari seseorang.

***

Kedua
prinsip tersebut, appreciative dan inquiry kemudian membentuk pendekatan yang
disebut sebagai Appreciative Inquiry. Sebagaimana fusi antara hidrogen dan
oksigen, seperti reaksi fusi inti nuklir, penggabungan antara appreciative dan
inquiry melahirkan sebuah energi dahsyat yang mengkatalisasikan perubahan yang
luar biasa. Proses fusi tersebut akan menyatukan energi dari setiap orang,
mengikat energi itu dan mengubah menjadi daya dorong yang tidak terbayangkan.
Forum yang awalnya dingin berubah menjadi hangat, seolah-olah energi alam
melinggkupi forum tersebut, ketika orang-orang melakukan wawancara apresiatif
dan bertukar cerita inspiratif.

Secara
sederhana, Appreciative Inquiry dapat diartikan sebagai seni dan praktek
bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan
masa depan yang penuh dengan harapan. Secara lebih serius, Appreciative Inquiry
adalah sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk
perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa
depan yang penuh dengan harapan. Appreciative Inquiry dapat diterapkan di
berbagai bidang selama fokusnya adalah manusia dan sistem manusia. Sistem
manusia dapat berarti manusia sebagai suatu mahluk yang utuh, dapat juga
berarti keluarga, komunitas, kelompok, organisasi dan bahkan kota.

Appreciative
Inquiry dikembangkan pertama kali oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva
di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio. Mereka berdua melakukan
uji coba berbagai pendekatan action research untuk mengembangkan Cleveland
Clinic, sebuah fasilitas perawatan kesehatan bertaraf-internasional. Mereka
berdua melakukan wawancara yang terfokus pada faktor-faktor yang memberikan
kontribusi bagi efektivitas organisasi. Proses wawancara ini kemudian memancing
seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi
secara antusias. Keberhasilan pendekatan awal ini yang kemudian menyebarluas ke
seluruh penjuru dunia.

Dalam
sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan
dipraktekkan di berbagai wilayah dunia, seperti untuk mengubah budaya sebuah
organisasi, melakukan transformasi komunitas, menciptakan pembaharuan
organisasi, mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik.
Dalam bidang sosial, Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas
pinggiran, perubahan kota, membangun pemimpin religius, dan menciptakan
perdamaian (Chapagai, 2000; der Haar dan Hosking, 2004; Bushe, 2005; Watkins,
J., Mohr, B., 2001; Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

Dalam
dunia pendidikan, Appreciative Inquiry digunakan untuk perubahan budaya,
penyusunan rencana strategis dan perubahan proses pembelajaran. Dalam
pengelolaan SDM, Appreciative Inquiry diterapkan untuk melakukan wawancara
seleksi, membentuk model kompetensi, penilaian kinerja, coaching dan mentoring,
serta membentuk tim kerja. Selain itu, Appreciative Inquiry diterapkan juga
untuk penciptaan keluarga, desain pendidikan anak, terapi individu dan terapi
kelompok (Bushe, 1998; Bushe dan Kassam, 2005; Watkins, J., Mohr, B., 2001;
Whitney, D., & Trosten-Bloom, A., 2002).

***

Mari
kita kembali pada pencarian kisah inspiratif, kembali pada perubahan dunia.
Bagaimana cara appreciative inquiry menggali kisah inspiratif? Bagaimana cara
appreciative inquiry menjadikan kisah inspiratif sebagai energi pengubah dunia?
Cara appreciative inquiry ibarat penambang mencari dan mengubah biji emas untuh
menciptakan dunia yang indah. Siklus cara appreciative inquiry biasa disebut
sebagai siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny.

Layaknya
seorang penambang, langkah awalnya adalah menentukan apa yang menjadi fokus
penambangan, apa yang mau ditambang? Langkah awal ini akan menentukan
keseluruhan proses. Bila penambang itu menentukan emas maka emas yang akan
didapatkan. Akan berbeda ketika ia memilih perak, perunggu, atau tanah.

Penambang
selanjutnya akan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan proses
penambangan. Penambang melakukan penambangan dan kemudian mendapatkan
bijih-bijih emas dengan ukuran, bentuk dan kualitas yang variatif. Lalu
bagaimana? Penambang akan berimajinasi tentang bentuk yang diinginkannya.
Dengan segala bijih emas yang dimiliki, kondisi ideal macam apa yang dapat
tercapai? Penambang akan berimajinasi, semisal tentang bentuk perhiasanan atau
artefak lainnya dengan segala keindahan.

Penambang
melanjutkan langkahnya. Ia menyusun desain untuk mengolah bijih emas menjadi
bentuk yang diimpikan, mulai dari desain proses pembentukan, organisasi
produksi, sistem jaminan mutunya dan yang lainnya. Apabila segalanya telah
tersedia dan dipersiapkan, maka penambang mulai beraksi untuk mewujudkan impian
dalam kehidupan nyata. Ia akan merayakan setiap keberhasilan dan mengembangkan
keberhasilan itu.

Sebagaimana
cerita penambang diatas, begitu pula langkah dasar dalam Appreciative Inquiry.
Diawali dengan pemilihan pemilihan topik afirmatif, fokus perubahan yang
diinginkan. Sebagaimana namanya, topik ini harus memancing minat semua untuk
mencari tahu, mempelajari dan mengembangkan topik tersebut. Topik yang
membangkitkan gairah, menyulut semangat kehidupan. Topik ini menjadi arah
perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Beberapa topik
afirmatif adalah kepuasan kerja yang mengikat, penciptaan kehidupan yang
harmonis, pembelajaran yang inspiratif.

Ambil
contoh kita memilih topik afirmatif pasangan yang luar biasa. Langkah
berikutnya, kita akan memasuki tahap Discovery yaitu melakukan wawancara
apresiatif seputar topik afirmatif, –aktivitas appresiatif inquiry yang tak
tergantikan. Tujuan utama wawancara ini adalah mengungkap dan mengapresiasikan
sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan
organisasinya. Kreativitas praktisi appresiatif inquiry sangat diperlukan untuk
menciptakan pertanyaan yang tajam, provokatif dan memancing lahirnya kisah
inspiratif.

Semisal,
“Ingatlah ketika aku dan kamu pertama kali jatuh cinta satu sama lain.
Ceritakan pengalaman ketika engkau jatuh cinta pertama kali padaku! Apa yang
membuatmu jatuh cinta?” Atau, “Setelah melewati beberapa waktu, perkawinan kita
telah mengalami momen terbaik. Ceritakan mengenai momen-momen terbaik yang
ingin kamu bekukan dan kamu ingin kembali mengalami momen tersebut. Apa yang
kita lakukan? Apa yang membuat momen itu menjadi sempurna?”

Percaya
atau tidak, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mengungkapkan kemisteriusan
kehidupan manusia. Kita akan mendapatkan banyak jawaban-jawaban, biasanya dalam
bentuk cerita, yang tidak terduga, yang luar biasa, yang “aneh”, yang “ajaib “,
sisi lain yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Kita terkadang terharu,
terkadang geli, terkadang tergugah ketika mendengarkan berbagai cerita
tersebut. Cerita tersebut mengandung jiwa kehidupan bagi individu maupun
organisasi, mengandung sesuatu yang membuat individu atau organisasi menjadi
“hidup”. Jawaban atau cerita inspiratif ini kemudian kita kristalisasikan
menjadi inti positif, aspek dalam sejarah kita yang paling berharga dan ingin
dikembangkan di masa depan.

Setelah
mendapatkan “emas” berupa cerita inspiratif, kita ditantang untuk berimajinasi
tentang masa depan yang ideal. Proses tahap Dream ini biasanya dipandu dengan
pertanyaan impian, sebagai pemancing untuk berimajinasi bebas. Semisal,
“Pejamkan mata anda! Bayangkan kamu mengalami tidur panjang dan baru terbangun
10 tahun kemudian. Selama engkau tidur, dunia dan keluarga ini telah mengalami
perubahan yang sangat positif, seluruh impian dan harapan anda terwujud. Ketika
anda terbangun, apa yang engkau saksikan? Ceritakan secara rinci! Bagaimana
pasanganmu, bagaimana anak kita, bagaimana keluarga kita?”

Pertanyaan
impian ini harus memperluas kesadaran secara ruang dan waktu, mendorong orang
berimajinasi tentang kehidupan bersama yang diimpikan pada masa yang akan
datang. Pertanyaan impian ini biasanya menggugah, terkadang pula mengguncang,
kesadaran kita semua. Dalam beberapa kejadian, pertanyaan impian ini tidak
langsung terjawab. Walau demikian, pertanyaan impian ini seakan-akan
menghentikan waktu kehidupan kita, dan mendorong kita untuk berpikir tentang
arah kehidupan di masa mendatang.

Discovery
dan Dream adalah dua tahap yang paling emosional dalam Appreciative Inquiry.
Seluruh energi emosional dari peserta yang terlibat akan berkumpul dan mengubah
pertemuan atau aktivitas yang berlangsung menjadi penuh dengan gairah
kehidupan. Gabungan energi ini yang akan menjadi daya dorong bagi tahap-tahap
selanjutnya. Dalam salah satu kesempatan, saya menawarkan kepada salah seorang
sahabat serangkaian pertanyaan appreciative inquiry tentang pasangan yang luar
biasa. Dan komentarnya sungguh luar biasa,

“……..pada
saat yang sama aku juga bilangin kalo aku senang sekali waktu lihat dia main
piano lagu Love Story sambil sesekali nengok ke aku…kayaknya gimana gitu…kamu
tahu Bud….efeknya sampe sekarang untuk satu pertanyaan itu….kita jadi
bermemori…ngingat masa lalu..dan sikap dia ke aku..wuih..(meski ga pake
kata-kata sayang, wong dia gak bisa untuk hal itu) tapi body languangenya itu.
Seperti saat tidur, care banget sama aku….suka usap-usap punggung…(hi..hi..)
kalo kebangun tengah malam, nyempet-nyempetin cium kening aku sebelum dia
lanjutin tidur lagi….weleh….

Aduh
mengingat ini aku gigiku jadi ngilu…hi..hi…hi……”

(Email
pada Kamis, 13 April 2006)

Reaksi
berbeda terjadi pada orang yang berbeda. Seorang mahasiswa menuturkan bagaimana
ia dicurigai pacarnya ketika mengajukan pertanyaan apresiatif. “apa
maksudnya?”. “Nanti kamu GR kalau kujawab”.  Akan tetapi pada akhirnya,

“….saya
mencoba menerapkan berbicara AI dengan pasangan, hasilnya WOW !!!! luar biasa,
saya jadi enak berbicara dengan pasangan saya, dan pasangan saya pun jadi enak
mendengarnya, bahkan sampai keluar air mata terharu yang LUAR BIASA!!!”

(Email
pada Kamis, 13 Juli 2006)

Selanjutnya,
berdasarkan apa yang terbaik di masa lalu dan masa kini, serta impian kehidupan
masa depan, maka kita kemudian mulai mendesain arsitektur kehidupan bersama
kita. Kita menyusun prinsip-prinsip tentang bentuk organisasi, nilai, proses,
hubungan antar pihak dan yang lainnya. Hasil dari tahap ini adalah sejumlah
prinsip panduan, yang biasa disebut sebagai proposisi provokatif, untuk
menentukan aksi atau tindakan yang akan kita lakukan.

Pada
tahap terakhir dari siklus 5D, setiap anggota dibebaskan dan diberdayakan untuk
mengajukan ide inovatif yang sesuai dengan hasil tahap sebelumnya. Ide inovatif
yang disepakati didukung secara menyeluruh baik oleh anggota yang lain maupun
oleh organisasi. Setiap anggota yang berminat mulai melakukan aksi dalam
kehidupan nyata. Pada akhirnya, setiap keberhasilan dirayakan, disebarluaskan,
dan dikembangkan pada keseluruhan organisasi.

Langkah
siklus 5D Appreciative Inquiry sebenarnya sederhana. Selama kita bisa
melepaskan diri dari wacana defisit dan mengubah cara pandang menjadi
apresiatif. Kita bisa melakukan pembandingan antara langkah Appreciative
Inquiry dengan langkah problem solving untuk semakin memudahkan pemahaman,
sebagaimana bagan berikut:

Praktek
appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Praktek itu dapat dilakukan
oleh siapapun dan dimanapun. Tidak perlu waktu dan ruang khusus. Bagi mereka
yang pemula, bisa mencobanya di meja makan ketika makan malam bersama keluarga,
dan mengubah makan malam itu menjadi pertemuan keluarga yang menggugah. Bisa
dilakukan ketika kencan bersama pasangan, dan jadilah kencan paling romantis.
Atau mulailah rapat dengan mengajukan pertanyaan, apa pengalaman terbaik dan keberhasilan
kita minggu ini? Rapat akan berubah menjadi pertemuan yang menarik.

Praktek
appreciative inquiry adalah praktek yang mudah. Setiap orang bisa mencari
kisah-kisah inspiratif. Setiap orang bisa membangkitkan semangat kehidupan
lingkungan sekitarnya. Setiap orang bisa mengajak orang-orang disekelilingnya
menciptakan visi kehidupan mendatang. Setiap orang bisa mengubah dunia sesuai
daya yang dimiliki dan terarah pada impian masa depan yang diinginkan. Tepat
kiranya bila appreciative inquiry disebut sebagai jalan setiap orang untuk
mengubah dunia, dan terus mengubah dunia. Pertanyaan apresiatif yang kita
ajukan akan memframing orang lain, jawaban orang tersebut akan menginspirasi
kita dan berputar berkembang begitu terus. Semua orang terhubung melalui
perbincangan yang inspiratif untuk mengumpulkan energi positif dan mewujudkan
semua impian.

“Ketika
aku bermimpi sendiri, itu hanyalah sebuah mimpi.

Ketika
kita bermimpi bersama, itu adalah awal sebuah kenyataan.

Ketika
kita bekerja bersama, mengikuti mimpi kita, itu adalah penciptaan surga di
dunia”

Peribahasa
Brasil

***

Buku
ini adalah buku pengantar menuju pemahaman sekaligus buku panduan praktek
Appreciative Inquiry. Pemaparan tentang penjelasan teoritis yang ringkas
memudahkan pembaca untuk mengerti tentang Appreciative Inquiry secara cepat.
Panduan praktis tentang cara melakukan langkah demi langkah appreciative
inquiry yang diperkaya dengan ilustrasi dan contoh menjadikan buku ini sebagai
buku panduan bagi siapa saja yang ingin melakukan Appreciative Inquiry.
Kualitas buku ini terjamin juga berkat penulisnya yang merupakan praktisi
appreciative inquiry di berbagai tempat, sehingga cermat terhadap setiap lekuk
Appreciative Inquiry. Walau buku ini ditulis pada setting bisnis, tetapi
pembaca dapat mengambil pelajaran untuk dipraktekkan di bidang kehidupan
lainnya.

Saya
sendiri banyak melakukan sharing dengan kawan-kawan yang juga mendalami dan
mempraktekkan Appreciative Inquiry di Indonesia dalam komunitas maya yaitu
mailinglist apprecitivecommunity. Bagi pembaca yang ingin belajar lebih lanjut
tentang appreciative inquiry, silahkan bergabung dengan cara mengirimkan email
kosong ke apprecitivecommunity@yahoogroups.com. Ada banyak literatur, sharing
pengalaman dan aktivitas menarik tentang appreciative inquiry yang dapat
ditemukan dalam milis ini.

Damai
di Bumi.

Budi
Setiawan Muhamad, M.Psi[1]

Fakultas
PsikologiUniversitas Airlangga

[1]
Pendidik di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Master Appreciative
Inquiry dengan Tesis berjudul Penerapan Appreciative Inquiry dalam Mengatasi
Resistensi Terhadap Perubahan Organisasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: