Rasa Kehilangan

26 Des

Rasa Kehilangan

“ Rasa Kehilangan hanya akan ada…Jika kita pernah merasa memilikinya”

    Betapa congkaknya manusia, dia merasa memiliki apa yang sekarang dititipkan padanya. Dia merasa memiliki tanah, air, tambang, anak istri, suami, bahkan peliharaannya. Bukankah sering dijelaskan dalam kitab suci dan kehidupan bahwa semua itu hanya barang titipan, bisa diambil kapan saja oleh pemiliknya yang asli.

    Coba kita tengok peristiwa yang terjadi, mulai dari balada Qarun sampai Romeo dan Juliet; uang, harta, bahkan kekasih hati yang kita puja bukanlah hal yang utama di dunia ini. Kalau kita ingin mendengar soundtrack atas tidak adanya hak kita terhadap barang-barang yang bersifat duniawi coba selami lagu grup band Letto seperti yang tertulis diatas atau coba dengarkan lagu Pocahontas “colors of the wind”…..”you think you own whatever land you land on. The earth is just a dead thing you can claim”….Ya, benar semua itu semata-mata hanyalah klaim.

    Atau kalau mau lebih syahdu mendayu-dayu, coba kita simak puisi Kahlil Gibran: “Anakmu bukan milikmu, mereka adalah putra-putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu”. Sekali lagi benar, tidak ada satupun dari yang kita punyai sekarang yang sebenar-benarnya adalah milik kita.

    Namun tetap, kita hanya manusia. Manusia…jika dia tidak merasa memilikinya maka dia tidak akan pernah mempertahankannya. Manusia, jika tidak merasa memilikinya maka dia tidak akan lagi merasa rindu oleh karenanya.

    Jika manusia tidak merasa kehilangan, tidak akan ada lagi episode menangis karena patah hati, atau kemelut rumah tangga karena istri tua dan istri muda, pun tidak akan ada lagi peperangan antara Israel dan palestina yang keukeuh ingin membangun rumah diatas “tanahnya”. Tanpa sertifikat toh kita sudah tahu siapa pemilik yang asli dari setiap jengkal tanah di muka bumi ini. Bahkan Indonesia mungkin tidak akan pernah gontok-gontokkan dengan Malasyia akibat rebutan pulau dan hak paten. Intinya apa?! “Ini persoalan harga diri, bung!!” Yah intinya semua itu masalah keberadaan. Kita ingin dianggap ADA. Sakit memang dianggap invisible, alias tidak eksis, meskipun sejatinya ada maupun tiada kembali lagi pada cara kita memaknainya.

    Mungkin itulah sebabnya ada peribahasa “beribadahlah engkau seakan-akan ini hari terakhirmu hidup di dunia. Dan bekerjalah engkau seolah-olah kau akan hidup selamanya”. Logikanya kalau kita mencintai hidup, maka berjuanglah untuk hidup. Tapi jangan lupa, nak…kau isi hidup itu dengan sebaik-baiknya karena sewaktu-waktu bolehlah sang pemilik hidup serta waktu memintamu kembali dan mempertanggung jawabkan kesempatan yang sudah diberikan padamu. Rumit?!, memang….Mari kita buat lebih mudah. Semua yang ada di dunia, baik yang hidup maupun yang mati tujuannya adalah untuk beribadah kepada Allah. Senyum, bercinta, melahirkan, semuanya adalah ibadah. Jadi jika kita ingin dianggap eksis, maka mau tidak mau kita harus selalu menyatakan bahwa kita ADA. Oleh karenanya mari-mari kita berusaha beribadah sebaik-baiknya, hasil akhir serahkan saja pada Tuhan.

Caranya? Sebagai contoh: Sholatlah kau, nak…sehari 5 kali. Sering-seringlah kau ke gereja ataupun ke Pura, biar Tuhan pun tahu bahwa kita salah satu hambanya yang selalu bersyukur. Ingin disayang sama bos? Gampang…buatlah dia bergantung sepenuhnya tentang masalah pekerjaan pada kita. Dijamin kita akan sering dihubungi oleh bos, dikejar-kejar malah (jujur, saya tidak ingin bos terlalu ikut campur dalam kehidupan sehari-hari. Betapa membosankan hidup kalau ada apa-apa bos selalu menghubungi kita). Ingin dianggap oleh orang-orang yang kita cintai? Coba hubungi mereka, nyatakan perasaan kita, dan menghilanglah. Dan kalau mereka mencari kita, serta merasa kehilangan, datanglah pada mereka. Jika tidak, jangan salahkan mereka kalau mengalihkan rasa rindu pada orang-orang yang memberikan perhatian lebih kepada mereka. (Tips: jangan tinggal berjauhan dengan suami atau istri kalau tidak ingin mereka berselingkuh ^-^)

    Lalu bagaimana kalau semua itu tidak berhasil?! Tidak berhasil bagaimana maksudnya?? Semua yang kita lakukan di dunia ini berdampak pada kehidupan kok. Kalau tidak sekarang mungkin nanti. Kalau tidak mendapatkan persis seperti yang kita inginkan, yakinlah kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Rejeki itu tidak pernah salah alamat. Ingat…, rasa tidak puas, rindu, dan rasa kehilangan hanya muncul saat harapan kita tidak terpenuhi.Saat hal-hal yang dititipkan pada kita, diambil lagi oleh pemiliknya. Lalu apakah sebutan bagi usaha kita menanti saat-saat ajaib itu? “SABAR dan IKHLAS”, cukup klise kan…

    Namun memang demikianlah adanya. Saya pun berharap rasa rindu ini, rasa kehilangan ini, dapat terbayar lunas. Dengan penuh rasa hormat, manusia bisa sabar,ikhlas, dan setia karena mempunyai harapan, begitulah seterusnya. Benang merah harapan, usaha, sabar, dan ikhlas selalu memutar roda kehidupan. Tapi kita juga harus tahu, sabar disini adalah sesuai kemampuan. Sebagai contoh: kalau kita tidak bisa bersabar atas kekasaran suami atau pasangan, kenapa pula semua itu harus dipertahankan. Jangan sampai kesabaran yang tidak masuk akal membuat hidup kita sia-sia. Namun tetap pilihan ada di tangan masing-masing kita. Sekali mengambil keputusan jangan pernah merasa menyesal karenanya….

    Masih menunggu itulah yang saya lakukan sekarang. Saya tidak ingin mengenang, karena hal itu bisa dilakukan saat manusia sudah tidak bisa memproduksi apa-apa lagi. Saya masih hidup, tentunya masih bisa berbuat. Membuat hal-hal yang bisa dikenang nantinya, baik oleh saya maupun oleh orang lain.

    Menunggu bukanlah tanpa akhir. Menunggu sampai batas waktu yang telah ditetapkan, berharap rasa kehilangan yang menghimpit ini dapat segera teratasi. Saya pun masih berusaha. Karena congkak nampaknya masih bersemayam di dada, merasa memiliki atas hal-hal yang bukan sebenarnya milik.

December, 16th, 2007
“Saat-saat insomnia”

3 Tanggapan to “Rasa Kehilangan”

  1. Tieh 06/12/2008 pada 6:50 am #

    Nice..
    senangna masih ada orang yg berpikiran seperti itu..
    that is the way for having happiness.. dunia akherat
    amin..

  2. Tieh 06/12/2008 pada 6:51 am #

    …senangna..
    masih ada orang yg berpikiran ky gitu..
    theway for having happiness
    dunia akherat
    aminn

  3. dev1friends 14/12/2008 pada 6:49 am #

    sama-sama….
    Masih banyak kok yang berpikiran bisa senang di dunia n akherat:)
    Moga-moga kita bisa ya….
    Aminnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: