MULUT, MATA, HIDUNG, KULIT, TELINGA

26 Des

MULUT, MATA, HIDUNG, KULIT, TELINGA

Mulut, dia adalah berkah, namun bisa juga membawa bencana. Dia bisa sesejuk oase di gurun pasir atau bahkan lebih tajam dari sebuah silet yang paling tipis di dunia. Pantas saja Allah sering bilang mulut diciptakan hanya satu sedangkan telinga diciptakan dua. Hal ini sesuai dengan fungsinya. Yah manusia diharapkan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Pun steorotipe dari yang banyak berbicara adalah “pembual”, tak ada aksi sama sekali

Manusia diciptakan dengan 5 indera plus akal sehat karena diharapkan manusia menjadi orang yang bijaksana dan pemimpin dimuka dunia. Sayangnya dia malah menjadi perusak no.1 di dunia. Manusia diciptakan mempunyai mata sekaligus agar dapat bersyukur atas setiap keindahan yang dilihatnya, serta merasa cukup dengan yang dikaruniakan padanya karena masih banyak yang lebih menderita daripada dia (hey people…berhenti terlalu mengasihani diri sendiri!), dan berusaha memerangi apa yang dilihatnya tidak adil. Jadi apakah mata kita ini telah berfungsi dengan baik?

Manusia diciptakan punya hidung agar dapat bersyukur atas setiap keharuman yang dapat diciumnya dan segera mengantisipasi bau “busuk” yang mengganggu pernapasan. Orang bilang kebusukan lambat laun akan tercium juga. Akankah hidung kita yang mencium bau busuk ini rela menggerakkan badan dan pikiran untuk menghilangkan sumber bau tersebut?

Manusia juga dibekali dengan kulit sebagai indera peraba. Dengan menempelnya kulit di badan kita, maka kita tahu betapa nyamannya mempunyai rumah dan hangatnya selimut. Kita terhindar dari udara dingin serta ganasnya cuaca. Namun ironis, ternyata rumah pun tak lagi dapat menjadi tempat yang nyaman. Zaman sekarang, orang pun bisa mati terbakar atau mati tenggelam dalam rumahnya sendiri. Itu bagi yang mempunyai rumah….bagaimanakah dengan yang tidak memilikinya? Bukankah mereka juga memiliki hak yang sama dengan kita? Berhak menikmati kenyamanan rumah dan hangatnya selimut?

Mata, hidung, kulit, dan dilengkapi oleh telinga serta mulut. Itulah 5 indera yang diberikan Tuhan pada manusia. Telinga kita ini diharapkan tidak tuli mendengar duka nestapa sesama. Telinga ini pun diharapkan dapat menghindarkan kita dari kebodohan karena secara konsisten dia bekerjasama dengan mata dan otak untuk terus mendapatkan informasi, kemudian menyimpannya dalam barisan yang teliti, serta menjadikan hati ini tidak tinggi. Laiknya ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

Namun dengan segala hormat, nampaknya telinga kita lebih suka mendengar hal-hal yang menyenangkan, pujian-pujian yang melegakan…”pokoknya I don’t care anything except my self! Hidup ini terlalu susah, kenapa pula harus kita dengarkan hal-hal yang merepotkan dan menyedihkan”. Well, it’s your choice…but remember…kalau kita tidak mau mendengarkan orang lain, jangan harapkan orang lain mau mendengar kita.

Lastly but not the least, kita punya senjata yang paling ampuh sekaligus mematikan, yakni mulut. Dengan mulut kita bisa mengenyangkan perut dan memberi tenaga kepada tubuh. Dengan mulut kita bisa “speak up your mind”. Menyatakan apa yang harus dinyatakan, atau memilih diam disaat kita memang seharusnya diam. Dengan mulut kita bisa menyatakan “tidak” pada hal-hal yang bersifat batil, atau menyatakan “ya” pada hal-hal yang sifatnya membawa kemajuan, apapun itu taruhannya. Kita misalkan taruhannya adalah nyawa. Dia adalah penggerak dari tubuh. Memang nyawa adalah inti dari organ-organ tubuh manusia, namun apabila nyawa tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti, sama artinya dia dengan mati kan? Dan parahnya dia telah membuang-buang percuma waktu hidupnya.

Mulut bisa membuat kita terbunuh, mulut pun bisa membuat kita menjadi perayu paling ulung dan menakhlukkan orang yang paling kita inginkan di dunia, bahkan mulut bisa membuat kita menjadi orang yang kaya dan sukses. Coba saja tengok kisah hidup orang yang mencari nafkah dengan mulut. Mulai dari penyanyi, penyiar, pembicara, guru, sampai politisi, mereka dapatkan penghargaan atas profesi mereka itu karena keterampilan mengolah suara dan otak.

Namun kisah sedih karena mulut pun sering dirasakan oleh manusia.  Dalam keseharian, mulut sering memaki-maki hal-hal yang tidak sesuai  dengan keinginan sang pemilik berkah. Mulut ini pun sering membuat kita terlihat sok pintar, menggurui, atau bahkan sok tua. Ha…ha…ha…pujian-pujian seperti itu sudah seringkali saya terima. Yah hal seperti itu terjadi karena ketidaksamaan atau tidak sebandingnya informasi yang diterima atau bahkan tidak mampunya antara manusia satu dan yang lainnya dalam mengorganisir jalur atau kanal-kanal informasi. MISINTERPRETASI itulah hal yang sering terjadi, meskipun tak ada niatan bagi kita untuk terlihat seperti yang diinterpretasikan. Tapi manusia toh tak dilarang untuk mempunyai interpretasi yang berbeda bukan? Bahkan Tuhan tak pernah melarang manusia untuk berpikir sekehendak hatinya.

Pengakuan secara terbuka. Itulah kebodohan saya….kadangkala tidak bisa menurunkan ego untuk menyesuaikan kanal komunikasi. Pengalaman komunikasi terberat adalah saat berbicara dengan orang tua. Memberikan pemahaman kepada mereka adalah tugas yang paling membebani bagi saya. Maksud hati ingin bertukar pikiran, namun karena perbedaan zaman, terbiasanya hidup mandiri dan sendiri, serta menggunakan kata-kata rumit dalam pergaulan sehari-hari malah membuat saya terlihat sok pintar dan sedang memberikan kuliah umum terbuka. Uugh..padahal siapa saya?? Secara umur dan pengalaman hidup masih kalah jauh dibanding dengan orangtua tercinta. Yah begitulah, kadang-kadang kita lupa untuk menyederhanakan hal-hal yang seharusnya memang sederhana hanya untuk memberikan kesan terpelajar.

Itulah ego anak, selalu ingin dimengerti. Pernahkah kita menengok di sisi lain, maukah kita mencoba mengerti orangtua? Mungkin selama ini kita selalu merasa bahwa orangtua terlalu memaksakan kehendak. Apabila iya, ada baiknya kita pelajari apa latar belakang di balik semua itu. Tak ada orangtua yang ingin anaknya menderita. Cobalah berikan pemahaman yang bertahap dari mulut kita ini kepada orangtua dengan bahasa yang sederhana. Jujur, bagi orangtua kita tetaplah bayi mungil yang mereka lahirkan puluhan tahun yang lalu. Satu pelajaran yang dapat saya ambil dari memberikan pemahaman adalah: it takes time. Dibutuhkan kontinuitas karena pemahaman itu tidak bisa instant atau sekali jadi.

Dengan 5 indera yang dianugerahkan kepada saya, hidup ini memanglah penuh dengan warna. Yah mudah-mudahan aura yang ditinggalkannya dapat menjadi sebentuk pelangi yang indah. Dengan mulut dalam petualangan hidup ini, saya harap berbuah banyak teman, relasi, dan saudara. Dan mulut ini…ada waktunya dia untuk diam.

December, 19th 2007

Devi R. Ayu : Untuk mama…”Selamat Hari Ibu”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: