ELEGI

26 Des

ELEGI

Tiba saat mengerti….jerit suara hati
Yang letih meski mencoba….melabuhkan, rasa yang ada

Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu….
Temani air mataku, teteskan lara….
Merajut asa, menjalin mimpi….
Endapkan sepi-sepi….

Cinta kan membawamu, kembali disini….
Menuai rindu….
Membasuh perih….

Bawa serta dirimu….
Dirimu yang dulu, mencintaiku apa adanya….

Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati….
Genangkan batin jiwamu….
Genangkan cinta, seperti dulu….
Saat bersama, tak ada keraguan…

Cinta kan membawamu, kembali disini….
Menuai rindu….
Membasuh perih….

Bawa serta dirimu….
Dirimu yang dulu, mencintaiku apa adanya….

Sekali terucap, “Aku mencintaimu”, maka itu akan menuntut pembuktian. Dan deklarasi cinta tidak hanya mengenai ketertarikan dan rasa suka, namun terutama mengenai kesiapan dan kemauan berkorban, kesiapan dan kemauan memberi, kesiapan dan kemauan memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Dan itu berat….

Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, itu akan berujung pada muara ketidakpercayaan. Baik pada manusia maupun Sang Khalik. Dalam hubungan persaudaraan akan menimbulkan keretakan tali silaturahim, dalam hubungan rumah tangga akan menimbulkan perceraian, dalam hubungan kenegaraan dapat menimbulkan kudeta, dalam hubungan dengan Tuhan menimbulkan inkonsistensi dalam bertingkah laku. Jadi cinta memang perlu pembuktian. Dan hanya orang-orang berkepribadian kuatlah yang mampu membuktikan cintanya (taken from Tari)

24 Desember 2007

25 tahun mengarungi hidup. Tampaknya jatah umur untuk menghirup udara semakin berkurang adanya^-^, namun lantunan doa-doa kalian senantiasa menemani langkah hidupku, apapun itu. Tak cukup hanya terimakasih untuk setiap kasih yang tercurah, aku berharap energi kasih sayang yang kuterima selama ini dapat terus berputar dan kembali kepada pemberinya masing-masing.

Tak ingin hati ini melihat kalian bersedih, sebab sabana yang indah itupun mungkin telah kuburamkan sendiri. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Hanya bisa berharap semua yang telah terjadi akan membawa kebaikan bagi diri. Toh apalagi yang harus kutakuti, kecuali DIA? Tlah kulepaskan segalanya. Bagiku menangis tak lagi berguna kecuali untuk melepaskan emosi. Dan kini acapkali aku melakukannya manakala desiran di hati menghampiri. Mungkin sudah takdir perempuan diciptakan seperti demikian. 

Ah pelangi…tak pernah kusesali yang terjadi. Namun bintang, aku pun tak pernah berharap untuk yang satu ini…Aku tahu diri….Aku pasrahkan hidup ini kepada Yang Menciptakannya.

Aku pun terus melangkah, kulanjutkan episode yang tersisa karena masih ada mereka yang setia menyeka setiap airmata yang menetes, berusaha menguatkan, dan membuatku memaafkan diri sendiri. Ku coba mengobati setiap perih yang ada. Berpikir positif, tapi ada kalanya aku lelah serta merasa kalah,…dan akupun terus menggali makna atas airmata yang terurai. Kemudian aku berdiri lagi, karena aku tahu sayap yang patah takkan membuatku mati ataupun memupus mimpi.

Aku bukannya pesimis, pelangi. Aku hanya berpikir realistis. Dan sakit mengajarkanku untuk selalu bisa tersenyum walau bagaimanapun keadaannya. Kalaupun kado itu memang diberikan padaku, kuanggap itu sebuah bonus atas apa yang sudah aku lakukan dalam hidup. Dan semoga potret hidup yang masing-masing coba abadikan dalam album kenangan peristiwa, cukup indah manakala diulas kembali. Kuharap DIA pun dapat tersenyum ketika melihat album kenangan kita.

Pelangi, mungkin harus begini jalannya hidupku. Hapus aimatamu itu, sahabat. Aku lebih suka melihatmu tersenyum gembira. Hidupku ini adalah hasil goresan tintaku sendiri. Aku cukup bahagia.

Apabila orang menyebut onak duri ini sebagai karma orangtua, rasanya aku pun berhak berteriak kalau aku tak pantas untuk mendapatkannya. Hasil kebodohan? Ya mungkin itulah kata yang tepat…kebodohan sendiri yang terus diulang, diulang, kemudian diulang kembali….Dan inilah saatnya pembayaran.

Pelangi, saat kau bilang tak rela dengan semua itu. Aku bilang karena kau mungkin hanya mengenalku sejauh yang kau mau. Orang baik, itulah caramu menyebutku. Namun aku tak sebaik itu, pelangi….Sebaliknya, mungkin aku hanya memperlihatkan apa yang ingin kau lihat tentang aku….

Saat yang tampak bukanlah seperti yang terlihat. Mengingatkanku pada Samuel Mulia. Dia selalu punya jawaban dengan caranya sendiri, “Build your own brand positioning in the right way! Jangan seperti saya. Brand yang saya bangun sama sekali keluar jalur. Seorang yang katanya beragama, tapi tidak mencitrakan brand positioning seorang beragama. Bagaimana ada manusia beragama memotret dirinya sebagai pembenci manusia dan juga pembunuh pada waktu bersamaan? Menjadi tukang gosip dan selalu ingin menjadi “manusia yang utama” di rumah, di kantor, dan di rumah ibadah? Bukankah sejujurnya, potret diri saya dan anda adalah hanya sebagai hamba Sang Khalik, bukan Tuan.”

Ingatlah aku sebagaimana yang kau mau, pelangi. Satu harapku bahwa kau akan terus mengingatku sebagai sosok yang penuh tawa, berbahagia atas semua cinta dan karunia yang telah diterima. Dan terimakasih pelangi atas setiap makna yang telah kau ajarkan dalam waktu yang terlewati. 

Ah bisikannya pun terdengar lagi di telingaku; “Berhentilah menangis, anak manusia…bukalah mata, bukan hanya kau satu-satunya yang menderita. Kau juga bukanlah orang yang paling menderita di dunia ini. Berhentilah terlalu mengasihani diri sendiri, anak manusia. Tak usah kau salahkan manusia yang tak mau mengerti penderitaan sesamanya”. Mungkin itulah sebabnya aku memilih pekerjaan ini pelangi. Sekian lama aku telah menerima banyak cinta, sudah waktunya aku memberi, berbagi kasih dan kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkannya. Mencoba memanusiakan manusia. Dan dia benar, waktu telah mendewasakanku, pelangi.

Lihatlah pelangi, walau apapun yang terjadi, mentari masih terus bersinar. Cahayanya menerangi setiap celah-celah yang haus akan harapan. Tak usah kau cemaskan diriku. Aku baik-baik saja dalam menempuh perjalanan ini. Aku pun tahu di depan segalanya pasti akan lebih baik. Aku punya pelindung yang kuasa atas segala hal yang terjadi di dunia dan tujuh langit lapisannya.

Waktu terus bergulir. Saatnya membuka lembaran yang baru harus dimulai, pelangi. Kunyanyikan satu demi satu lagu yang menjadi kenangan kita. Semoga kau pun bahagia dengan kehidupan barumu. Hanya doa yang dapat kuberikan untuk mengiringi langkahmu. Selamat berlayar, sahabat-sahabatku…Sampaikan salamku pada bintang. Ini bukanlah perpisahan, hanya sebuah awal. Kuharap ada suatu masa dimana waktu dapat mempertemukan kita kembali.

Bagiku, saat perpisahan itu adalah tanda bagi kita bahwa sudah saatnya untuk bertemu dengan orang-orang yang lain…Pun tak ada yang kusesali dari setiap pertemuan yang terjadi.

“Saat kesedihan dan kesepian menyapa”
Untuk setiap kepergian: aku baik-baik saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: