Suatu Hari Dalam Hidup (Refleksi Tahun 2007)

12 Des

Suatu
Hari Dalam Hidup

(Refleksi
Tahun 2007)

Suatu
Hari Dalam Hidup I

My baby sister came to me
and said that she had broke up with her boyfriend. Their relationship
has already more than 6 years. She said "jangan tanya-tanya dulu
ya, mbak…ntar adik nangis". Now…now…my baby don’t you
worry bout that. I won’t ask u anything. I just want you to know that
i love you so and i’ll be there for you. I’ll always support you no
matter what happened.

Dear Baby…although your
relation is far enough or too long enough, still it won’t guarantee
that you’ll be with him for the rest of your life, right? It doesn’t
mean also that he was destined to be your husband. Now come little
bunny…kurasa kau masih bisa hidup dengan rasa sakit itu bukan? The
pain will not kill us…Jadi mari lanjutkan hidup, adikku sayang.
Jangan pernah biarkan sakit hati membatasi gerak diri.

Suatu
Hari Dalam Hidup II.

Manusia memang tak pernah
puas atau mungkin batas kepuasan itu pada masing-masing orang berbeda
adanya. "Mencari yang terbaik", itulah kata-kata yang
selalu terlontar. Memang hidup itu tidaklah statis. Dia bergerak,
melaju, dan terus memburu siapapun yang diam. Namun bagaimanakah jika
yang terbaik sebenarnya adalah diam?

Namun di satu sisi harus
kita pahami pula, apa yang menurut kita terbaik, apa yang kita
inginkan, belum tentu yang terbaik bagi roda takdir hidup. Seperti
"aku" misalnya, seseorang yang tidak pernah puas dengan
sebuah pekerjaan. Mungkin "aku" adalah salah satu produk
dari generasi instan, pingin yang enak-enak dengan cepat. Siapa pula
yang tak mau dengan semua itu. "Aku" tak puas bergaji kecil
yang tak setara dengan peluh yang dikeluarkan. Tapi people said
"tekuni saja dulu, biar kecil asalkan menghasilkan, ntar juga
jadi banyak". Cari kerja memang sulit, makanya tak ada salahnya
orang berkata demikian.

But You know what,
people?!, "aku" ternyata seorang yang idealis. Dia sangat
mencintai setiap pekerjaan yang diberikan padanya. Dia bilang semua
itu adalah anugerah yang harus disyukuri. Namun tetap saja realitas
mengalahkan idealisme. Suara perut yang lapar, biaya hidup, serta
tagihan hutang yang menumpuk, membuatnya melepas sejenak "working
not for money". Jadi salahkah "aku"? Apakah "aku"
harus disalahkan karena ingin terbebas dari kemelaratan? Hidup ini
benar-benar bagaikan dua sisi mata uang…tak bisa hanya dilihat dari
satu sisi.

Suatu
Hari Dalam Hidup III.

Mereka bilang aku
pemimpi, terlalu tinggi menempatkan cita-cita.Ah kurasa tidak…Yang
menjadikan suatu mimpi itu tinggi atau rendah adalah cara pandang
kita. Bagi seekor semut, makanan yang terletak diatas meja akan
terlihat sangat tinggi bukan dari lantai?. Impianku sebenarnya sangat
sederhana. Aku tidak bermimpi jadi orang kaya, yang kuinginkan hanya
menjadi diri sendiri. Yah sebagai contoh…bekerja tanpa harus
diperintah-perintah alias punya usaha sendiri.Dapat bersekolah dimana
saja dan kapan saja.Hanya sesimple itu.

Dan aku rasa, aku bukan
cuma pemimpi. Aku mengusahakan supaya mimpi-mimpiku itu terwujud.Aku
tak mau cuma hidup dalam mimpi.

Sampai saat ini aku masih
percaya, "saat kau mempunyai keinginan maka semesta akan
mendukungmu". Teori ini disebut teori MESTAKUNG, dicetuskan oleh
Prof. Johannes Surya. Bahkan penyanyi beken dunia pun takkan pernah
membuat lagu "that’s can be miracle, when you believe"
kalau hal tersebut tak pernah jadi kenyataan. Dan aku percaya bahwa
aku bisa jadi apapun yang aku mau, "if i say i believe i can
fly, aku yakin aku pasti bisa terbang!!". Kalau aku benar-benar
ingin terbang, maka tak cukup hanya dengan memimpikannya. Kita harus
mengusahakannya, ada banyak cara supaya kita bisa terbang bukan….

Kalau memang hidup ini
memang terlalu singkat, aku memilih untuk melakukan apapun yang aku
bisa. Aku memilih untuk mengejar mimpi-mimpiku. Akan aku biarkan
takdir menyapa di setiap langkah menuju kepada-Nya.

Yeah life is full of
choices. Life is full of problems. "Kalau tidak mau punya
masalah, mati sajalah!!", itu yang diucapkan oleh salah seorang
kawanku. Aku memilih untuk hidup, oleh karenanya aku memilih untuk
tetap berpikir jernih dan mau tidak mau, menghadapi masalah yang ada.
Isaac Newton punya teori tentang dunia, teori itu menjadi salah satu
peganganku sampai sekarang. Beliau bilang "setiap aksi akan
memunculkan reaksi". Jadi apapun perbuatan ataupun keputusan
yang kita ambil maupun yang kita lakukan, selalu akan menimbulkan
dampak atau implikasi.Baik atau buruk dari implikasi tersebut, mau
tidaknya kita mengambil pelajaran atas apa yang terjadi, kembali lagi
pada diri kita sendiri, kembali kepada cara berfikir kita sendiri.
Dunia ini layaknya panggung sandiwara, dan aku akan memberikan
permainan terbaik yang aku bisa.

Tahun yang baru sebentar
lagi akan datang. Akan dimulai babak selanjutnya dalam hidup di usia
yang melewati seperempat abad alias 25 tahun. Cih..kadangkala aku
membenci atas waktu yang telah kulalui dan apa yang telah aku
perbuat, tapi di saat itu aku sadar bahwa jika aku tidak tahu apa
yang aku lakukan itu salah, maka aku tidak akan dapat melakukan
perubahan untuk kemudian hari. Ah jangan pernah bilang hidup ini
tidak adil….semua dibagi atas porsi masing-masing. Takkan ada makna
yang satu tanpa kehadiran yang lain. TUGASKU adalah menjalani
skenario yang tersisa dari kehidupan:

Hari
Seperti Apa Yang Kujalani?

Tugasku
adalah menentukan hari seperti apa yang akan kujalani.

Hari
ini aku bisa mengeluh karena cuaca hujan,

Atau
aku bisa bersyukur karena rerumputan tersirami dengan gratis.

Hari
ini aku bisa bersedih karena tidak lagi memiliki uang,

Atau
aku bisa senang bahwa kondisi itu mendorongku untuk

Merencanakan
belanjaku secara bijak, 

Dan
membimbingku agar tidak bersikap boros.

Hari
ini aku bisa mengeluh, karena aku harus pergi sekolah,

Atau
dengan semangat aku bisa membuka pikiranku,

Dan
mengisinya dengan berbagai pengetahuan baru.

Hari
ini aku bisa menggerutu atas kondisi kesehatanku,

Atau
aku bisa merasa senang bahwa aku masih hidup.

Hari
ini aku bisa menangis karena bunga mawar memiliki duri,

Atau
aku bisa bersyukur bahwa duri memiliki bunga mawar.

Hari
ini aku bisa bersedih karena temanku sedikit,

Atau
dengan bersemangat aku bisa mencari pertemanan baru.

Hari
ini aku bisa merengek karena harus pergi kerja,

Atau
aku bisa gembira karena aku memiliki sesuatu untuk dikerjakan.

Tugasku
adalah menentukan hari bagaimana yang akan kujalani.

(puisi
yang tertera dalam lembar persembahan skripsiku)

EPILOG:

Kutatap
satu demi satu wajah-wajah dan tangan-tangan mungil yang mulai
memanggilku "tante". Yah, generasi baru telah dilahirkan.
Teman-teman sepermainanku telah begitu berani mengambil keputusan
untuk memberikan penerus bagi cita-cita mereka. Kuncup-kuncup
semangat itu pasti kan mekar karena disirami oleh kasih sayang.
Hari-hariku mulai dipenuhi lagi oleh pembelajaran. Belajar hidup dari
pejuang-pejuang mungil tersebut, belajar mengingat atas segala hal
dan nilai-nilai yang telah aku lupakan.

Aku
sadari kesedihan dan kesusahan justru sering membuat kita berpikir
ulang atas arti kehidupan. Apalah artinya merdeka tanpa adanya
penjajahan bukan? Aku tahu mengenang hanya milik mereka orang-orang
yang tua. Atau mungkinkah aku sudah menjadi salah satu dari
mereka…..

Desember,
12nd, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: