SURAT CINTA KEPADA JIWA

29 Okt

 

SURAT

CINTA KEPADA JIWA

Jiwa….apa
kabarmu? Ah kulihat beban disana. Apa gerangan yang merisaukanmu?

Jiwa, saat
kau mulai resah….Ingatlah ada Tuhan yang selalu menjaga dan
menyayangimu. Maka tersenyumlah, jiwa…Kembalilah hidup dan
bersinar….Tak perlu kau takut akan hidup.

Hidup ini
hanyalah perjalanan, jiwa. Hidup ini adalah proses yang
berkesinambungan. Perjalanan menuju ke ASAL, proses menuju kepada
sang pemilik diri, yaitu Sang Pencipta.Ya….hidup di dunia ini
hanyalah karena Tuhan, jiwa…Allah Yang Esa.

Manusia
sendiri sebagai salah satu penghuni dunia diciptakan berbeda-beda.
Dengan kata lain, sebagai makhluk hidup manusia diciptakan dengan
segala keterbatasan. Maka dari itu manusia saling terikat, manusia
membutuhkan satu sama lain dalam rangka menjalani hidup.

Pada
hakekatnya manusia itu lemah, jiwa. Tidak ada yang benar-benar kuat.
Sering kau lihat bukan akhirnya manusia mengkhayalkan dirinya lebih
kuat, lebih istimewa, lebih dan lebih….Mereka kemudian mewujudkan
khayalan ini dalam figure dan simbol-simbol, sebut saja dari
Gatotkaca sampai Superman. Simbol-simbol ini sebenarnya pernyataan
dari manusia sendiri bahwa mereka makhluk yang tak berdaya, jiwa.

Maka marilah
kita selami lebih jauh arti hidup ini. Mungkin di ujung perjalanan
kau pun akan setuju denganku bahwa ternyata arti dari kehidupan
sebenarnya adalah saling berbagi, saling memberi….Tak ada kekuatan
dengan menjadi congkak dan terlalu mementingkan diri sendiri.

Namun pada
saat kita memberi, janganlah lupa bahwa manusia adalah makhluk yang
alpa. Mereka sering lupa, jiwa…

Saat kita
memberi, janganlah kita mengharapkan hal sebaliknya juga akan
terjadi. Tak semestinya kita berharap unuk menerima apa yang sudah
kita berikan. Saat kita memberi, semua itu hanya karena Allah,
jiwa…Cukup karena Allah….Hanya Allah yang bisa memberikan lebih
dari apa yang telah kita bagi. Inilah ilmu yang dipelajari manusia
sepanjang hayatnya, jiwa. Ilmu ini disebut ilmu IKHLAS.

Untuk bisa
memberi, maka kau harus yakin bahwa dirimu berkecukupan. Dan untuk
merasa diri kita berkecukupan, terlebih dahulu kita harus merasa
bahagia. Rasa cukup dan bahagia itu datangnya karena pemahaman atas
karunia Tuhan padamu bukan?

Oleh
karenanya jangan sakiti dirimu, jiwa…Sayangi dirimu…Nikmati
kesempatan hidup. Mungkin dulu kau pernah mati, namun saat kau
dihidupkan lagi, yakinkan dirimu bahwa kau benar-benar hidup. Dan
salah satu tanda dari hidup adalah bergerak. Bergeraklah mengisi
waktu yang masih tersisa, jiwa.

Dan manakala
hatimu terasa sepi, jiwa….ingatlah akan cinta. Cintamu pada Tuhan,
dan betapa Tuhan sangat mencintaimu. Cintamu pada ayah bunda, dan
betapa kau terlahir karena cinta. Ingatlah akan pelukan dan
wajah-wajah penuh cinta dari sahabat serta orang-orang yang
mencintaimu. Saat tiada lagi kesejukan kecuali senyum ramah yang
menentramkan rasa. Ingatlah jiwa….engkau dicintai.

Saat kau
mulai belajar tentang cinta, jiwa…Satu yang harus kau pahami bahwa
kau, kita, adalah perwujudan dari cinta itu sendiri. Kau, kita,
dibesarkan oleh cinta. Cinta itu perkara memberi, jiwa. Cinta itu
perkara kebebasan….

Jiwa, saat
kau mencintai…cinta itu semata-mata hanyalah karena Allah. Saat kau
mencintai, pikirkan apakah cinta itu dapat membawamu pada suatu
kebaikan, sebab hal-hal yang baik akan mengantarkanmu pada hal-hal
yang baik pula. Hatimu yang mencinta, jiwa…..harus dibentengi oleh
akal.

Namun
manakala cinta itu kau genggam, jiwa….Ingatlah bahwa dia bukan
milikmu. Saat kau mencintai sesuatu, itu artinya kau harus
membebaskan hal yang kau cintai.

Ingatkah kau
betapa ibumu begitu mencintaimu, namun ia membebaskanmu untuk pergi
dari sarang sehingga kau dapat mengepakkan sayap dan tumbuh menjadi
lebih kuat? Pun ibumu selalu memberikan yang terbaik bagimu karena
dia mencintaimu.

Begitupun
saat engkau mencintai, jiwa. Melepaskan hal yang kau cintai untuk
memperoleh kebahagiaan adalah puncak dari rasa cinta itu sendiri.
Cinta tidak egois, jiwa. Yang bisa kita lakukan saat membebaskan
hal-hal maupun orang-orang yang kita cintai itu adalah dengan
menitipkan mereka yang tersayang dalam penjagaan sang penjaga hidup,
yaitu Sang Pencipta. Hanya DIA yang tahu apa saja yang terbaik bagi
umatNYA. Nah kuharap cinta itu takkan membutakanmu, jiwa.

Kini
sudahkah resahmu mereda, jiwa? Kalau kabut itu perlahan menghilang,
pasti dapat kau lihat dengan jelas sekarang bahwa Habbluminallah
“berhubungan dengan Allah”; mengingatkan kita bahwa yang ada di
semesta, semua hanya karena Allah. Habbluminannas “berhubungan
dengan manusia”; mengingatkan kita bahwa hidup ini hakekatnya
saling berbagi. Tidak ada satupun di dunia ini sebenarnya yang
menjadi milik kita. Semua hanya milik Allah….

Ah senandung
nama Tuhan  ternyata ada di setiap sudut kehidupan dan tarikan
nafas yang hidup maupun yang mati. Ternyata cukup Tuhan saja alasan
atas semua perbuatan kita, jiwa. Oleh karenanya janganlah kau
khawatir maupun bersedih atas hidup. Gagal dan sukses hanyalah
masalah pembelajaran….Belajar untuk jadi lebih baik…karena
menjadi manusia yang baik itu susah. Beda halnya bukan saat kau ingin
menjadi orang jahat. Hal itu sangat mudah dilakukan.

Aku rasa
pilihan menjadi orang baik hendaknya dilakukan setiap waktu, jiwa.
Sebab kita benar-benar tidak tahu sampai kapan diberi waktu untuk
menikmati hidup di dunia. Detik berikutnya bisa jadi malaikat
pencabut nyawa telah siap mengawal kita bertemu DIA, jiwaku. Hidup
dan Mati mutlak hanya Tuhan yang tahu. Pun tak semua poin pahala yang
kita kumpulkan dapat menjadi penentu atau bisa ditukarkan dengan
hadiah langsung “SURGA” laiknya undian berhadiah yang
diselenggarakan di mall-mall. Banyak sekali diskon atas pahala yang
kita kumpulkan dikarenakan ketidak pedulian kita.

Tersenyumlah,
jiwa! Ayo mulai langkah baru dalam melanjutkan kehidupan. Jangan kau
belenggu dirimu dengan masa lalu ataupun masa depan.
Bersyukur….jalani yang ada dan tetap berusaha. Mari kita lewati
perjalanan menuju SANG ASAL. Kuharap di sepanjang perjalanan nanti
kita dapat bertemu dengan orang-orang yang saling mencintai karena
Allah. Orang-orang yang mencintaimu dan orang-orang yang kau cintai.

Tersenyumlah
, jiwa….karena sesungguhnya kau tak pernah sendiri.

Salam hangat
dari yang mencintaimu “AKU”

Ramadhan, 18 September 2007

Devi R. Ayu

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: