Perkembangan Feminisme di Eropa – Resistbook Jogja

26 Okt

Perkembangan Feminisme di Eropa – Resistbook Jogja

Sebagian besar laki-laki akan cenderung memandang negatif dengan gerakan perempuan. Karena, yang terlintas di kepala mereka tentu seorang perempuan yang galak, mandiri (tidak tergantung dan membutuhkan laki-laki lagi), kritis dan tidak mau di suruh-suruh.

Sebenarnya bagimana sih, gerakan perempuan yang sebenarnya. Bagaimana lika-liku sejarah perkembangan gerakan perempuan di Eropa? Apa yang menjadi persoalan perempuan? Mengapa mereka menuntuk hak yang sama dengan laki-laki?

Jika, berbicara soal sejarah gerakan perempuan di Indonesia: tidak bisa lepas dari perkembangan revolusi industri yang terjadi di Eropa. Arus revolusi industri membuat pemisahan ranah publik dan ranah domestik. Laki-laki berkesempatan bekerja di ranah publik, sementara perempuan harus rela dirinya di wilayah domestik.
Ketika berjalannya waktu, perempuan kemudian di perbolehkan bekerja di wilayah publik dan bisa mendapatkan upah untuk membiayai kehidupannya. Ketakutan akan perempuan tidak lagi bergantung pada laki-laki, kemudian di buat sebuah kebijakan bahwa upah perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki. Karena dengan asumsi, perempuan sebenarnya tidak memiliki hak untuk bekerja di wilayah publik, selain itu jaminan kehidupan perempuan masih harus bergantung pada laki-laki.

Saat ini, di Indonesia perempuan sudah dirampas haknya. Dulu perempuan memiliki hak atas bibit, tanah dan air. Ketiga hak tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang. Hak memilih bibit: dulu perempuan bekerja di wilayah pertanian membantu laki-laki, tapi ketika laki-laki sudah memperoleh akses di ranah publik. Perempuan kemudian mencoba mengembangkan pertaniannya dengan cara mengolah lahannya dengan cara mencari dan mendapatkan bibit yang bagus. Dari sana "pertanian" sebenarnya perempuan memiliki hak dan tau benar mengenai bibit yang bagus, tanah yang subur dan air yang bagus untuk mengairi lahan dan juga yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari (mandi, mencuci dan memasak). Namun semuanya kini dirampas secara sistem. Karena pengambilan kebijakan yang menyangkut mengenai keluarga selalu tidak banyak melibatkan perempuan.

Pemerintah pun juga turut ikut-ikutan untuk mengekang perempuan. Dengan adanya alat kontrasepsi membuat perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri. Sebagian besar perempuan memiliki problem kesehatan setelah mengunakan alat kontrasepsi. Karena hormon mereka yang kemudian langsung berubah. Slogan yang di buat pemerintah "dua anak cukup" membuat perempuan semakin tidak punya pilihan lain untuk ber KB. Sementara laki-laki tidak diwajibkan untuk memakai alat kontrasepsi.

Tulisan di atas merupakan rangkaian yang tak lepas dari mengapa gerakan perempuan harus ada. Perjuangan persamaan hak yang seharusnya di dapatkan oleh laki-laki dan perempuan menjadi menimbulkan konflik antara kaum laki-laki dan perempuan.
Berbagai pola gerakan perempuan yang ada sebenarnya pada intinya memperjuangkan hak perempuan. Namun pola yang ada dan berkembang selalu mendapat kritikan dari pola gerakan perempuan yang lain. Ada yang mengangapnya terlalu toleran ada juga yang dianggap terlalu berani. Image yang dibentuk Orde Baru pun sebenarnya turut membentuk opini masyarakat, bahwa perempuan yang kritis itu pasti orang tuanya ada sangkut pautnya dengan PKI atau Gerwani. Ketakutan pemerintah terhadap gerakan perempuan di Indonesia, membuat aktivitas perempuan dibatasi. Agar Pemerintah di pandang tidak takut dengan gerakan tersebut mereka kemudian memfasilitasi untuk membentuk sebuah wadah khusus untuk perempuan semacam Darma Wanita, kelompok PKK. Namun wadah tersebut sebenrnya justru malah mengungkug, karena semua aturan dan kebijakan yang akan di buat tetap atas sepengetahuan dan seizin dari perangkat Negara, baik itu di tingkat local maupun nasional.

Buku Feminisme untuk pemula, sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang ingin mempelajari sejarah Feminisme di Eropa. Dari sana kita akan paham, sebenarnya hak seperti apa yang di tuntut perempuan di masa itu, kini dan mendatang.

2 Tanggapan to “Perkembangan Feminisme di Eropa – Resistbook Jogja”

  1. SketSa 28/06/2008 pada 1:01 am #

    Pernah ke Kmapung saya? (buton ). nah disana itu, perempuan dan laki2 kerja bareng2 di sawah. dirumah juga masak bareng. (laki2 masak nasi, perempuan masak ikan). ayo deh… kalo di kantoran atou instansi, kita punya ruang gerak yg lebih gede lho.. soalnya (kita lumayan jago politik sejak lahir, ya perempuan di anugerahi insting politik sejak lahir).. em jadi.. sebenarnya kita punya banyak kesempatan, hanya saja kita masih punya frame berpikir ‘laki2 perampok hakku’. mungkin kita perlu mengUpgrade kualitas kita lagi sebagai perempuan. Agar kita tidak lagi ngomong ‘seharusnya posisi itu milkku’ tp saatnya blg “hei minggir itu tempatku”

  2. DeVie 02/07/2008 pada 8:03 pm #

    🙂 Sangat menarik…seru juga kayanya berkunjung ke Buton.
    Wah setuju sekali memang sudah saatnya kita bilang “Hei minggir itu temoatku”.
    Salut….
    Sukses terus buat sketsa^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: