KEKUASAAN DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

6 Agu

PERBANDINGAN KEKUASAAN
DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

DENGAN

KEKUASAAN DAN
KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI

 

 

Di
mata perempuan, berkuasa adalah mengerjakan apa yang mereka inginkan atau
memiliki kendali atas diri sendiri. Kekuasaan perempuan datang dari caranya
memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain. Sedangkan pria memandang berkuasa
sebagai meminta orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan atau
memiliki kendali atas orang lain.

 

Berbicara
soal kepemimpinan dan kekuasaan sebenarnya merupakan pembicaraan mengenai cara
mempersatukan orang, bukan membuat perbedaan.

 

Kepemimpinan
sendiri adalah tentang orang lain, bukan tentang diri pribadi. Begitu kita
terlalu memperhatikan diri sendiri, kemungkinan kita akan membunuh karier pribadi.

Kepemimpinan
bukanlah menjadi orang terpandai di ruangan atau memiliki jawaban tepat, tapi
tentang memiliki tujuan yang begitu jelas bagi kita, dan kita sendiri juga
sangat menyukainya hingga orang lain ingin terlibat bersama kita. Inilah tempat
dimana nilai, tujuan, dan tindakan harus selaras.

 

Kembali
pada topik semula, untuk menjadi pemimpin tim dan penguasa yang kuat, perempuan
sudah dibekali kemampuan memunculkan bakat masing-masing orang, serta kesediaan
mengakui kelemahan dirinya sendiri. Berbeda dengan pemimpin pria yang cenderung
menciptakan persaingan diantara anggota tim sehingga masing-masing bekerja
dengan porsi lebih.

 

Begitulah
tipe pemimpin perempuan, keras terhadap masalah, tapi lembut terhadap orang
lain. “Being a good manager is an art”. Tidak berjarak tapi tetap dalam koridor
profesionalitas. Jika terlalu pribadi, bawahan bisa ngelunjak dan kurang
terpacu untuk berprestasi. Sebaliknya terlalu ketat justru menjadi boomerang
karena dibenci bawahan. Alhasil kinerja bawahan pun bisa menurun karena stress.

 

Perempuan
cenderung percaya bahwa orang-orang akan tahu dengan sendirinya tugas-tugas
yang telah dilakukannya dengan baik dan akan menghargai hasil pekerjaan itu.
Saya sendiri mungkin penganut paham tersebut namun saya kurang setuju dengan
selalu diam. Walaupun di dunia ini bahasa non verbal mengambil bagian sampai 87%
dari proses komunikasi interpersonal tapi tetap saja kebutuhan atas ucapan yang
jelas tentang suatu situasi dan kondisi sangat diperlukan. Sudah bukan jamannya
lagi diam itu berarti “iya”. Pun tidak semua orang akan mengerti jika kita
tidak menyatakan apa yang yang menjadi keinginan kita. Sementara itu dari pihak
laki-laki, mereka cenderung harus mengumumkan prestasi yang sudah mereka capai.

 

Dalam
menyelesaikan masalah, perempuan cenderung menyelesaikannya dalam kelompok,
sementara pria lebih suka menyelesaikan permasalahannya seorang diri. Wanita
pun cenderung bersikap ramah dan menghargai hubungan baik di tempat kerja,
sementara pria menganggap terlalu banyak bersosialisasi itu tidak professional
dan buang-buang waktu saja.

 

Steven
Stein, Ph.D dari universitas Harvard melakukan penelitian dengan melibatkan
4500 pria dan 3200 perempuan. Di tempat kerja, ternyata nilai kecerdasan emosi
(EQ) perempuan lebih tinggi dari pria. Perempuan pun lebih pandai mendengarkan
keluhan rekan kerja dan pelanggan, serta pandai membaca suasana hati sehingga
lebih mudah mendapatkan keprcayaan rekan kerja termasuk bos dan pelanggan.

 

Bagi
perempuan yang ingin menapaki jenjang karier hingga menjadi bos “wanita”, simak
strategi yang dipaparkan Carol Galagher Ph.D :

 

Pertama, Relationship bukan sekedar membuat
jaringan tapi lebih kepada focus. Contohnya Carly Fiorina, mantan CEO perempuan
pertama di Hewlett Packard (HP) yang baik hati, dan selalu memberikan perhatian
kecil yang menghargai dan membesarkan hati karyawannya. Misalnya dengan
mengirim voice mail atau bunga pada pegawainya yang bekerja dan berprestasi di
atas rata-rata. Ingatlah bahwa anak buah adalah tim terbaik untuk
mendukung terwujudnya kesuksesan.

 

Kedua, selalu ingat bahwa perubahan besar berasal dari perubahan
kecil
. Bertahap sampai mencapai tujuan. Mungkin sulit awalnya, sebab perubahan hanya dapat dimulai oleh
orang-orang cerdas dan sadar, dilaksanakan oleh orang-orang yang yang rela
serta ikhlas, dan dimenangkan oleh orang-orang yang berani.
Jadi memiliki
ketabahan, kegigihan, dan kesiapan atas semua itu merupakan sebuah proses
panjang yang mungkin akan terus berlangsung sepanjang waktu yang kita punyai.

 

 

Mil86001s

Malam,
1 Agustus 2007

*Dari
berbagai sumber*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: