AKU, KAMU, KITA : MANUSIA

18 Jul

18 Juli 2007

* Gua kontemplasi merupakan tempat tidur yang nyaman*

 

Akan datang suatu hari ketika kita
menjadi puncak dari seluruh pikiran dan tindakan kita. Haeri menulis: “Anda adalah produksi anda sendiri”. Bahkan
kita yang memberikan makna terhadap diri kita sendiri.

 

“Siapakah aku, siapakah kamu,
siapakah kita?” Bukankah ada masa ketika kita hanyalah setetes sperma? Bukankah
ada masa ketika “aku, kamu, kita” bahkan tak terlintas dalam pikiran? Ada suatu
masa ketika tiada seorang pun yang berbicara tentang kita, menyebut nama kita,
atau sebagainya.
Bukankah
pernah ada suatu masa ketika kita tidak ada…?

 

Kita adalah jumlah keseluruhan dari
tindakan dan pikiran kita. Tahun depan kita adalah hasil dari pikiran dan
tindakan kita sekarang, ditambah dengan pikiran dan tindakan kita di tahun yang
akan datang. Setiap kebaikan yang akan kita lakukan adalah untuk diri kita
sendiri, setiap kejahatan yang kita lakukan juga akan berakibat pada diri kita
sendiri. Hukum karma? Terserah bagaimana masing-masing dari kita memaknainya.
Yang jelas beberapa agama besar di dunia mengajarkan bahwa setiap perbuatan
yang kita kerjakan sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri.

 

Tindakan adalah bukti nyata dari
pikiran. Jika sebuah pikiran diabaikan atau dihalangi, maka ia tak akan
diwujudkan melalui tindakan. Itu sebabnya para arif bijaksana dan kitab suci
agama menyatakan bahwa pekerjaan kita sebaik niat yang ada. Kita tidak dapat
memisahkan antara niat dan tindakan.

 

Sebagian besar tindakan yang kita
lakukan adalah untuk menyelaraskan harapan-harapan kita dengan dunia nyata. Pada
tingkat fisik kita menginginkan kesehatan dan kesejahteraan . Pada tingkat
emosional, kita ingin dicintai. Pada tingkat intelektual, kita ingin berada
dalam lingkungan yang nyaman bagi kita, kita ingin dekat dengan
pengalaman-pengalaman yang didasari oleh kebiasaan dan harapan-harapan yang
lalu. Itulah sebabnya kenapa manusia senang berkelompok dengan sesamanya yang
memiliki persamaan. Kita merasa nyaman diantara hal-hal yang terasa akrab, kita
merasa aman. Itulah sebabnya kenapa disebut “kebiasaan kita didasari oleh
perilaku kita di masa lalu”.

 

Jadi definisi lain dari tindakan
kurang lebihnya adalah, suatu hal yang kita lakukan untuk mengulangi apa yang
telah kita sukai, dan menegaskan upaya menghindar dari apa yang tidak kita
sukai. Ini adalah mutlak sifat sebuah sistem, manusia sendiri bahkan kumpulan
dari beberapa sistem.

 

Saat sebuah sistem bergerak menyusun
keseimbangan, pada saat yang bersamaan, ia juga mengekalkan atau memperkuat
dirinya, apapun sistem tersebut. Setiap tindakan yang kita lakukan adalah untuk
mengekalkan, mereproduksi apa yang kita sukai dan menghindari apa yang tidak
kita sukai. Kasarnya jika kita mulai berbohong, maka kita mulai mengekalkan
kebohongan itu, dan membenarkannya. Begitulah awal mula sejarah yang kemudian terus
bergulir.

 

Tak ada yang salah ketika kita ingin
mereproduksi apa yang kita sukai dan menghindari apa yang tidak kita sukai. Memang
begitulah adanya manusia. Namun yang harus kita pahami bersama adalah kesadaran
dari masing-masing diri, “ kita adalah apa yang tengah kita lakukan”.

 

Apakah pernah bagian dari diri kita
berkata saat kita dalam keadaan terus menerus melakukan kesalahan, “Aduh, tadi
bukan saya, maafkan saya ya”, atau “Maaf, aku bukanlah diriku waktu aku
memukulmu. Tadi aku sangat emosi”? Orang yang berani tentu akan berkata, “Siapa
kamu?”, “Siapakah kamu kalaulah tadi bukan diri kamu?”. Jawabnya: aku, kamu,
kita, adalah kesadaran yang berwujud. Kita adalah amarah saat marah, kita
adalah kesenangan saat senang.

 

 

Hilangnya kesadaran menunjukkan secara
umum betapa kita telah terpenjara oleh kebiasaan-kebiasaan, karena sudah
menjadi sifat alamiah, manusia akan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan
kesalahan-kesalahannya sedemikian rupa. Hal ini disebabkan manusia menyukai hal-hal
yang mendekati gambaran idealnya.

 

Jujur saja, kita tidak mungkin
mencapai kondisi sadar hingga kita diperbudak dan dijajah. Tidak akan ada
kebebasan tanpa penjajahan dan perbudakan. Apa makna satu hal tanpa hal yang
lainnya? Saat ini mungkin harapan-harapan, pikiran-pikiran kita, latar belakang
dan pendidikan, maupun kebudayaan kita, telah menjadi majikan, penjajah, bagi
diri kita sendiri. Namun justru dari pengekangan lahirlah kebebasan, karena akar
dari segala hal terdapat pada lawannya.

 

Saat seseorang mengalami kesulitan
dan ketidak puasan, pada saat itulah dia akan mulai bertanya-tanya atas apa
yang telah dia derita. Pernahkah kita merenungkan bahwa kesulitan-kesulitan yang
ada merupakan anugerah bagi tumbuhnya semangat atas kebangkitan dan kesadaran? Akan
selalu ada kebaikan dalam setiap kejadian.

 

Setiap kebaikan yang kita lakukan
adalah untuk diri kita sendiri, setiap kejahatan yang kita lakukan juga akan
berakibat pada diri kita. Kesadaran bahwa sepenuhnya kita bertanggung jawab
atas apa yang kita lakukan, harusnya membuat kita mengembalikan diri kepada
sumber dari segala sumber yang ada. Memberi dan merelakan apa yang kita sukai
antara lain melatih kita untuk hidup tak terikat. Toh ketika nyawa kita
terlepas dari badaniah, kita juga terlepas dari segala sesuatu yang bersifat
jasmaniah. Jika kita tidak mulai membiasakan diri akan hal tersebut dari
sekarang, kita bahkan tidak akan bisa menjalani hidup ini dengan damai.

 

If you ever want something badly, let it go.
If it comes back to you, then it’s yours forever. If it doesn’t then it was
never yours to begin with
”. Akan datang suatu hari ketika kita menjadi puncak dari
seluruh pikiran dan tindakan kita. “Anda
adalah produksi anda sendiri

 

Devi R. A.

* Saduran pikiran,
ditemani Al Quran, Haeri, Buble, dan kumpulan quotes. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: