MERINDUKAN YANG NANTI

7 Jul

20041021184220107440
MERINDUKAN
YANG NANTI: HAKIKAT KEINGINAN

 

 

Dr. Michael Newton dalam Journey of the souls menyatakan bahwa banyak jiwa mengalami depresi
berat, merasa
tidak bahagia. Dalam derajat yang berbeda, manusia sedang berkejaran dengan
keinginan. Tandanya ialah menyukai sesuatu yang nanti akan terjadi, membenci
sesuatu yang sudah digenggam. Setelah yang nanti menjadi sesuatu yang kini,
lagi-lagi kita merindukan yang nanti.

 

Tak ubahnya seperti cerita
Nasrudin Hoja. Suatu hari Nasrudin asyik memancing, tiba-tiba polisi datang. Kemudian
Nasrudin segera berlari, diikuti oleh polisi tersebut, namun setelah beberapa
waktu dikarenakan kelelahan, Nasrudin berhenti berlari. Polisi yang mengejarnya
pun bertanya seraya membentak, ”Mana tiket masuknya?”. Dengan polos Nasrudin menunjukkan
tiket. Menyadari kekeliruan tersebut, polisi pun bertanya, ”Kalau punya tiket,
mengapa tadi lari?”. Nasrudin berujar, ”Saya lari karena penyakit maag saya
kambuh, jadi saya ingin cepat-cepat bertemu dokter”.

 

Beginilah kehidupan banyak
orang. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berlari. Setelah habis energi,
barulah sadar kalau kita berlari untuk sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling
banyak bertanggung jawab atas hidup yang terus berlari adalah keserakan dan
keinginan.

 

Namun apakah keinginan itu? Sejatinya
dalam keinginan termuat harapan. Harapan bagian dari keinginan. Dalam konteks
besarnya, keinginan, apapun bentuknya; keserakahan maupun harapan, merupakan
motif di belakang semua tindakan yang kita lakukan.

 

Terpenuhinya keinginan disebut
juga tanda dicapainya kebahagiaan. Dengan kata lain kebahagiaan terjadi saat
apa yang kita inginkan, harapkan, maupun yang diimpikan tercapai.

 

Sadar akan bahaya dari
keserakan dan keinginan, banyak guru yang belajar untuk mengelolanya. Mereka
sadar, semakin banyak yang kita dapatkan, semakin banyak pula yang kita
inginkan. Sekali pikiran dipuaskan, ia akan segera beranjak menuju keinginan
berikutnya. Terdapat perluasan yang tanpa akhir.

 

Seorang pejalan kaki sempat
berbisik ke dalam diri, orang yang amat bahagia adalah orang yang sadar dalam
batinnya bahwa ia adalah orang yang hina. Untuk itu tidak ada pilihan yang
lebih baik untuk menemukan kebahagiaan kecuali rendah hati. Akibat dari meletakkan
diri di tempat terendah, tidak seorang pun bisa menghinanya. Karena ia tidak
bisa dihina, maka ia bahagia di mana saja ia berada.

 

Lain cerita seorang pemuda
yang sedang bertandang ke rumah seorang cendekia. Pemuda tersebut bertanya akan
arti kebahagiaan. Oleh sang cendekia pemuda tersebut dipersilahkan
melihat-lihat keelokan dan segala isi rumah sang cendekia, dengan syarat dia
harus menjaga sesendok minyak yang diamanahkan oleh sang cendekia. Mungkin
ceritanya sudah dapat ditebak, karena begitu terpesonanya dengan keindahan dan
segala sesuatu dari rumah sang cendekia, pemuda tersebut melupakan sesendok
minyak yang harus ia jaga. Di penghujung hari, sang cendekia bertanya,
”Sudahkah kau temukan arti kebahagiaan?”. Pemuda tersebut berujar, ”Saat aku
melihat segala keindahan dan terpana oleh segala yang ada di rumah ini aku
merasa senang, namun aku masih belum menemukan jawaban atas kebahagiaan”.
Cendekia tersebut kemudian kembali bertanya, ”Bagaimanakah minyak dalam sendok
yang kuserahkan padamu?”. Sang pemuda tertunduk menyadari kealpaan yang telah dia
lakukan. Dia telah melupakan minyak dalam sendok genggamannya, minyak pun sudah
tak bersisa. Sang cendekia kemudian berkata, ”kebahagiaan adalah kemampuan
untuk menikmati dan menghargai segala sesuatu yang kita temui tanpa melupakan
hal yang paling dekat dengan kita”.

 

Kebahagiaan adalah
penyelarasan antara yang ”AKU” inginkan dan apa yang dunia ini dapat suguhkan
untuk memenuhi keinginan dan harapan yang terkandung. Ketidak tenangan,
sebaliknya, muncul akibat dari ketidak sesuaian antara harapan dan realitas.
Maka untuk bisa mewujudkan kebahagiaan, kita berusaha untuk menyelaraskan
antara keinginan dan kenyataan. Begitulah sistem yang berlaku, semakin banyak
keinginan yang terpenuhi, maka semakin bahagialah kita. Dan tentu saja manusia selalu
ingin bahagia.

 

Sebuah perenungan saja, manakah
yang lebih memudahkan kita untuk bahagia: Jika kita memiliki lebih banyak
pengharapan dan keinginan, atau jika kita memiliki lebih sedikit pengharapan
dan keinginan? Jawabannya dapat segera dipahami. Jangan terikat oleh keinginan.
Semakin kita terbelenggu oleh keinginan, semakin besar peluang kita untuk
menjumpai ketidak selarasan, dan karenanya merasakan ketidak tenangan, ketidak
bahagiaan.

 

Peluang kita untuk bahagia
akan lebih besar saat kita memiliki sedikit keinginan. Kesempatan kita untuk
merasakan kebahagiaan akan jauh lebih besar saat keinginan yang sedikit itu
terpenuhi. Dalam rasa berkecukupan itulah letak kebahagiaan.

 

Apapun alasannya keinginan
semestinya dikembalikan ke tempatnya yang semula, sebagai pembantu, bukan
penguasa hidup. Tanyakanlah pada diri masing-masing, dimanakah kita sebenarnya
jika setengah dari diri terkubur oleh masa lalu dan keputus asaan? Dimanakah
diri kita jika setengah bagian yang lainnya mencemaskan keinginan masa depan,
merindukan yang nanti? Apakah yang tersisa dari diri ini? Bagian mana lagi dari
kita yang bisa dimanfaatkan untuk sekarang? Energi kita telah habis untuk sibuk
berlari….

 

Hidup hanyalah sebuah
perjalanan. Manusia ada di dunia ini, namun ia bukanlah pemilik dunia. Ia
singgah ke dunia dalam rangka perjalanan menemukan pucuk takdirnya. Bagaimana
cara menikmati hidup adalah pilihan masing-masing manusia.

 

 

Devi R. Ayu, 7
Juli 2007

Dalam ruang kontemplasi bersama
Gede Prama dan Fadhlalla Haeri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: