14 MEI 2007

26 Mei

JAKARTA

BANDUNG

PP 2

 

Ternyata penulis baru bisa memaknai kata – kata “Jika surga
dan neraka tak pernah ada” baru belakangan ini, setelah hampir seperempat abad
kehidupannya.

 

Surga dan neraka selama ini selalu digembar-gemborkan
sebagai balasan perbuatan kita di dunia. Namun bagaimanakah jika surga dan
neraka itu “tak pernah diciptakan?”
Akankah kita sebagai manusia akan beribadah sebegitu khidmatnya kepada Allah
sebagai pencipta kita? Ataukah surga dan neraka hanyalah kiasan belaka karena toh
selama ini merupakan tempat tinggal para malaikat dan Allah?

 

Allah sendiri sebenarnya tak butuh dipuji dan dipuja. Dialah
Sang Raja. Segala kesombongan hanyalah milik Dia, tapi kenapa banyak sekali
manusia yang berjalan dengan sangat angkuhnya di muka bumi ini? Kalau
difikirkan ulang, sebenarnya kitalah yang selalu membutuhkan Allah. Di saat
tidak ada orang yang melihat, Allah selalu melihat. Di saat semua orang
menjauh, Allah mendekat. Duka cita dan nestapa sendiri banyak dimaksudkan agar
kita kembali mengingat (dzikr) segala
kebesaran yang mengatur perputaran kehidupan.

 

Pun kesimpulan yang penulis tarik dari kehidupan ini sejatinya
adalah “manusia ditakdirkan hidup untuk
mati
”. Meskipun entah dengan alasan apa manusia diciptakan selain menjadi
khalifah (pemimpin), mengisi dinamika dunia dan beribadah hanya untukNYA…cuma
Allah yang tahu jawabnya. Mau tidak mau
kita harus mengakui bahwa pemikiran kita masih terlalu dangkal untuk memahami
teori penciptaan.

 

Awal dan Akhir dari masing-masing yang tercipta
di dunia kebanyakan masih menjadi misteri. Bahkan ada sebuah anekdot yang menyatakan
bahwa Tuhan telah mempermainkan manusia. Dimulai dengan menciptakan manusia
padahal sudah ada malaikat yang patuh memenuhi segala perintahNYA dan sengaja
membuat peraturan aneh tentang sebuah pohon (yang tentu saja akan dilanggar
oleh manusia karena manusia selalu ingin tahu dan mempunyai sifat pembangkang),
sehingga Tuhan punya alasan untuk mengirim manusia ke bumi. Sebuah scenario
yang cerdik!

 

Allah begitu cerdik dan bijaksana, selalu memberikan hadiah
atas semua kebaikan. Dan begitulah sifat manusia, harus diiming-iming oleh
hadiah terlebih dahulu sebelum melakukan kebaikan. Namun di sisi lain penulis
masih juga tak mengerti kenapa Tuhan memberikan sifat ingkar kepada manusia
sehingga sering berbuat kerusakan, jika ingin manusia selalu beribadah
kepadaNYA? Akankah pertanyan ini akan kembali kepada jawaban yang klise, Tuhan
menginginkan manusia yang terbaik untuk mengisi surganya, jadi dengan sifat
yang ada pada manusia kurang lebih merupakan ujian bagi manusia itu sendiri
sanggup tidaknya menjadi hamba yang baik. Wallahu a’lam bi shawab….

 

Satu yang benar-benar penuluis pelajari dari perenungan ini
adalah…dengan hidup kita dapat menikmati apa yang telah disediakan Allah di
muka bumi bagi manusia. Surga mungkin jauh lebih baik baik dari dunia, toh
setdakya penulis bersyukur sudah diberi kesempatan hidup untuk mengetahui
perbedaan antara dunia, surga, maupun neraka.

 

Di tengah terik
matahari dan rasa syukur,

Devi R. Ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: