SASTRA SEBAGAI TAFSIR AGAMA

13 Feb

*Sastra Sebagai Tafsir Agama***

*Muhammad Ali Hisyam****

Suatu hari, di akhirat ada seorang penghuni neraka yang melancarkan protes
kapada Tuhan. Ia menganggap Tuhan tidak adil dan telah keliru
menjebloskannya ke dalam neraka. Padahal sebagai hamba yang rajin menunaikan
sholat, puasa, zakat, haji dan ritual lainnya. Dengan Tegas Tuhan kemudian
menjelaskan bahwa ia dimasukan ke neraka karena ia tak pernah memiliki
kepedulianh terhadap orang-orang sekelilingnya yang membutuhkan santunan
social.

Demikian kurang lebih ilustrasi firman Allah dalam sebuah hadits *qudsy*.
Kisah itu demikian membekas dalam pikiran dan kesadaran Ahmad Thohari.
Sastrawan asal Banyumas itu menyebut bahwa sepenggal firman dia atas itulah
yang selama ini menjadi "ilham" dari semua ihwal karya sastranya.
Sebagaimana diakuinya, cerita dalam hadits *qudsy* tersebut merupakan
kosmologi sekaligus filosofi dasar dari semua karya pengarang novel trilogi
*Ronggeng Dukuh Paruk* itu.

*(dan matan cerita pendek Robohnya Surau Kami AA Navis pun praktis ejawantah
dari hadits qudsy tersebut, penulis ulang)*

Dari sekelumit paparan ini, kita bisa memetik kesimpulan bahwa karya sastra,
apapun bentuknya, haruslah memiliki semacam kosmologi, falsafah, dan visi
kemanusiaan yang kental dan jelas. Tanpa muatan nilai humanisme, karya
sastra tak lebih seperti "kembang kertas" yang tak menawarkan apa-apa.

Keberpihakan serta pembelaan yang dilakukan oleh sastra, pada akhirnya akan
memberikan impresi yang luas pada kehidupan sosial. terlepas apakah hal itu
berangkat dari agama atau nilai kemanusiaan murni, sebuah protes dan
keberpihakan pada manusia merupakan tafsisr aktual dari ajaran agama.

Karena setiap agama tentu tentu tidak akan mengejarkan penganutnya pada
perilaku berseberangan dengan kemanusiaan. Namun, ajaran itu akan selalu
berpijak dan mengajak pada terciptanya harmonitas sosial yang tenteram dan
mencerahkan. Disini, kesejatian menusia sebagai hamba yang peduli pada
sesama diuji secara sungguh-sungguh.

Pada konteks demikian, kehadiran roh dan pijar keagamaan yang mampu
menghidupkan kepekaan sosial manusia menjadi dibutuhkan. Salah satu api
pemantik dari semua itu adalah sastra. Oleh karenanya, sangat beralasan
ketika kita berharap untuk mengangkat kembali peran sastra dalam kaitannya
dengan dinamika kehidupan agama dan keberagamana kita. Lebih-lebih, di
Indonesia Raya yang (konon) penghuninay sehimpunan manusia religius yang
taat perintah Tuhan.

Secara jitu, dalam konteks ini kita bisa mengungkit kembali lontaran Romo
Y.B Mangunwijaya bahwa "karya sastra yang baik selalu bernilai religius".
Artinya, sastra akan selalu mengajak menuju kehidupan yang lebih baik dan
benar. Paling tidak, sastra akan menyajikan bahan perenungan yang memadai
bagi manusia untuk secara arif memilih di antara dua jalan: kebaikan dan
keburukan, dengan disertai gambaran (tamsil) akibat-akibat yang bakal
ditimbulkannya. Manusia yang masih memilki kepekaan pikiran dan kebeningan
hati tentu akan memilih menghindar dari kesengsaraan dengan jalan menempuh
perbagai laku kebajikan.

Betapapun demikian, tidak lantas sastra menjadi semacam jaminan untuk selalu
(mampu) mengarahkan orang berbuat baik. Orang yang menyukai sastra belum
tentu berperilaku sosial yang baik. Malah bisa jadi sebaliknya. Namun, jika
muatan serta pesan sastra yang baik (baca: religius) tersebut benar-benar
diamalkan dan dipantrikan dalam sikap hidup, niscaya ia akan serta merta
memantul lewat perilaku yang dekat dengan kebaikan. Dengan kata lain, hingga
disini "tugas" luhur sebuah karya sastra sudah tunai. Masalah ia akan
digunakan sebagai apa, itu merupakan persoalan yang lain. Yakni pada tataran
apresiasi.

Dalam bahasa yang lain, visi luhur serupa ini barangkali sebanding dengan
pandangan kaum sufi (dalam Islam) yang memandang hidup dari dua dimensi.
Yakni, *lahuut* (potensi keilahian) dan *nasuut* (keinsanian) . Manusia
hidup tak akan lepas dari keduanya. Tinggal bagaimana kedua unsur itu
mendominasi kehidupannya. Bila unsur *lahuut* yang lebih banyak mewarnainya,
maka ia akan cenderung bergerak ke arah kebaikan. Pun demikian sebaliknya.

Oleh karenanya, pada bingkai demikian, tidak terlampau keliru jika agama
dikhiaskan sebagai *colour blind* (buta warna). Siapapun manusia, setara dan
tidak ada bedanya di hadapan Tuhan. *Laa tafaadhul *(tidak ada
kesaling-unggulan) antar manusia kecuali kadar kedekatan dengan Sang
Pencipta (taqwa). *Inna akramakum ‘inda Allah atqaakum. * Manusia dinilai
dari sejauh mana ia memayungi diri dengan kekuatan *lahuut* sekaligus
menepikan jauh-jauh kekuatan *nasuut*. Sastra dalam hal ini adalah, bisa
diharapkan menjadi "pengasah" kepekaan hidup manusia, baik disaat ia harus
berhubungan dengan Tuhan maupun kala berinteraksi dalam keramaian sosial.

Di titik inilah, saya kira sastra sebenarnya layak menjadi "tafsir" yang
lain dari ajaran agama. Bila selama ini agama cenderung (di)hadirr(kan)
dalam paras yang baku, hitam-putih, dan monoton, maka sastra bisa menjadi
pilihan untuk menafsiarkan semesta ajaran agama dalam bentuknya yang lebih
lapang, reflektif dan santun.

Ketika agama kerap dogambarkan melalui serangkaian ibadah yang berat, bahkan
acap dipakai sebagai pembenar dari berbagai tindakan anarkis serta manfikan
nilai kemanusiaan, maka sastra dapat menyajikan pesan moral yang terkandung
di dalam agama secara elegan dan menyejukan.

Untuk itu, di kalangan para sastrawan rama-ramai "turun gunung" seraya
mencoba bergumul secara langsung dengan realitas keseharian
masyarakat-misalnya dengan menggelar sejumlah pegelaran, diskusi, "tadarus"
sastra, pelatihan dan lain semacamnya- hal itu bisa kita baca sebagai bentuk
perayaan di tengan keprihatinan sosial yang ada. Dengan itu ia hendak
mengajak komunitas sastra untuk keluar dan menengok realitas sembari
menautkan sastra dengan pesan agama. Dengan itu ula ia mengajak pelaku
sastra untuk turun ke bawah meninggalkan menara padepokan "menara gading"
elitnya seraya berbaur dalam denyut kehidupan riil masyarakat.

Sesungguhnya, ajrak antara sastra dan agama, maupun sastra dengan manusia,
selamanya tak akan pernah ada. Ia adalah kesatuan yang padu, berjalin
berkelindan guna secara sirkular menghembuskan pesanm kemanusiaan ke segala
arah. Agama sejatinya bukanlah "pedang" yang memenggal kreativitas sastrawi.

Sebagai perbandingan, koar kritis yang pernah diletupkan Seno Gumira
Ajidarma bahwa "ketika pers dibungkam, sastra yang bicara" sangat tepat pula
bila diterapkan pada wilayah ini. di saat agama dilencengkan, sastralah
(antara lain) yang semestinya membela. Dalam pandangan Charles Kimball,
kalau agama menjelma bencana, maka harus ada "tafsir" lain yang mampu
mewadahi semesta pesan Tuhan kepada manusia.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pijakan bahwa sastra sebagai "tafsir"
agama relatif mudah diterima. Pertama, muatan sastra religius sanggup
melejitkan gairah keagamaan seseorang untuk kian dekat kepada Tuhan. Kedua,
dengan demikian jika muatan agama telah terpatri kuat dan tepat, rasa
kemanusiaan akan turun berkobar oloeh muatan sastra yang-di sisi lain-
humanis tersebut. sebab secara universal, ajaran agama tak akan pernah
bertentangan dengan pesan kemanusiaan.

Premis itu bisa kita cari bandingan-nya di dunia tasawuf (sufistik). Betapa
karya-karya sastra sufi juga merupakan "percikan" dari pesona Al-Qur’an
sebagai karya agung yang penuh dengan sastrawi. Karenanya, orang-orang sufi,
di satu sisi, tampak lebih bisa berakrab-akarab dengan Tuhan. Dan di sisi
lain, mereka bisa lebih menghargai pluralisme kemanusiaan. Oleh karena
muatan sastra yang universal itulah, ia nyaris bisa diterima oleh setiap
kalangan dari segala lapis.

Salah satu contoh adalah mahakarya Jalaluddin Rumi, *Matsnawi. *Pustaka
sastra islam terpanjang sepanjang sejarah ini, dalam perjalanannya, bukan
hanya digandrungi oleh para peminat sastra muslim melainkan juga amat
diminati oleh begitu banyak orang di seantero dunia. Mulai dari Timur hingga
belahan bumi ujung Barat, mulai dari Arab Badui yang Islam, artis Hollywood
yang Nasrani , hingga biksu Buddha di pedalaman India. Bahkan seorang
penulis Bengala di abad ke-15 pernah berkomentar, "seorang Brahmana yang
sesat akan membaca *Matsnawi"*.

Demikianlah. Realitas seperti ini kian meneguhkan bahwa agama dan
keberagaman tak "melulu" harus dijelaskan melalui kitab-kitab panduan yang
tekstual ataupun retorika kalangan agamawan yang men-*dakik-dakik. * Lebih
dari itu, pesan agama sebaiknya harus disampaikan kepada manusia lewat cara
dan media yang familiar dengan lingkungan sosial. pada aras demikian,
sastra, bisa menjadi jembatan alternatif yang menentramkan.

**Penikmat sastra, Pengajar tetap *
*Universitas Trunojoyo Madura
*

Jawa Pos, 28 Oktober 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: