Rasa dan Nuansa dalam Sastra – Menerjemahkan itu Pekerjaan Serius

13 Feb

**Menerjemahkan Itu Pekerjaan Serius**

sumber :
>http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2007/ 022007/08/ kampus/obrolan. htm

BERKAT kerja penerjemah, boleh dibilang banyak orang
>jadi bisa mengenal dan membaca karya-karya para penulis
>besar dunia. Nama dan karya dari Karl Marx sampai J.K.
>Rowling mungkin sudah tak asing lagi bagi publik
>Indonesia, termasuk juga kawan Kampus.

Anton Kurnia (32),
>seorang penerjemah asal Bandung yang sudah pernah
>menerjemahkan 50-an buku, kali ini akan menuturkan
>berbagai pendapat dan pengalamannya.
>
> Semua berawal dari hobi Anton membaca karya-karya
>penulis dunia dalam bahasa Inggris. Dari membaca, lulusan
>Teknik Geologi ITB angkatan 1995 ini tergerak untuk
>menerjemahkan. Itu dilakukan oleh Anton, yang dulu juga
>aktif di media kampus, sebagai ajang belajar menulis.

Semenjak 1998, ketika cerpen terjemahannya dimuat di
>koran pertama kali, ia mulai yakin kalau dunianya adalah
>sastra. Seiring makin aktifnya ia membuat terjemahan
>karya berbagai penulis dunia, order pun mulai datang,
>dari mulai temannya sampai penerbit. Anton pun banting
>setir dari disiplin ilmu yang dipelajarinya semasa
>kuliah. Kemampuan bahasa Inggris sendiri diakuinya
>diperoleh secara otodidak. "Saya meng-improve dengan
>banyak membaca, belajar dari kamus, dan referensi
>lainnya," ujar lelaki yang juga kerap duet dalam kerja
>penerjemahan, bersama istrinya, Atta Verin.

Kini, selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga
>melakoni pekerjaan menulis dan menyunting beberapa buku.
>Ada 4 bukunya yang telah terbit, terakhir Ensiklopedia
>Sastra Dunia pada Oktober 2006, dan 30-an buku terjemahan
>yang telah ia sunting, di antaranya karya-karya Milan
>Kundera, Leo Tolstoy, Gabriel Garcia Marquez, Orhan
>Pamuk, dsb. Berikut petikan perbincangan Kampus
>dengannya.

Apa kesulitan dan kesenangan menjadi penerjemah?
Pada dasarnya karena saya suka sastra, jadi ini
>sebetulnya pekerjaan yang menyenangkan untuk saya. Saya
>dikasih buku, disuruh baca, dan saya dapat uang dari
>situ, hehehe. Kalau sulitnya, menerjemahkan itu susah
>karena bukan sekadar menerjemahkan kalimat per kalimat,
>tapi ada juga rasa dan nuansa yang harus kita tangkap.
>Kadang saya ikut membayangkan suasananya seperti apa,
>dsb.

Pekerjaan ini juga butuh konsentrasi penuh, kalau
>perlu mengasingkan diri. Bekerja dengan naskah, komputer,
>buku, bisa berjam-jam per hari, dan itu bisa
>berbulan-bulan. Paling lama, satu naskah saya pernah 4-5 bulan. Naskah
>tersebut adalah Les Miserables-nya Victor Hugo, karena
>bahasanya sulit sekali. Saya lupa pada abad ke berapa
>naskah itu ditulis, sudah kuno sekali, dan diterjemahkan
>pada abad itu juga, jadi bahasa Inggrisnya kuno. Saya
>hampir selalu menggunakan kamus Inggris-Inggris. Tapi
>kalau cerpen, saya bisa lebih cepat.

Kadang terjadi kesulitan penerjemahan, misalnya, ada
>candaan dalam bahasa asing yang lucu, tapi ketika
>diterjemahkan ke Indonesia jadi tidak lucu. Bagaimana
>caranya menerjemahkan agar mungkin lebih bercita rasa
>Indonesia?
Ya betul, memang kadang ada yang istilahnya hambatan
>budaya. Ada satu problem dalam penerjemahan. Mau setia
>pada kata per kata, atau setia pada makna? Saya cenderung
>termasuk pada yang kedua. Ada beberapa aspek bahasa,
>yaitu bahasa asli dan bahasa sasaran. Menurut saya, yang
>penting itu bahasa sasaran. Misalnya, ada ungkapan, kalau
>dalam bahasa Inggris Bagai apel dibelah dua. Tapi saya
>akan menerjemahkan Bagai pinang dibelah dua, walaupun
>aslinya adalah apple. Karena dalam konteks budaya jadinya
>lebih tepat itu.

Untuk hal-hal seperti itu, ada dua cara. Pertama, tetap
>biarkan tapi diberi catatan kaki. Kedua, cari konteks
>yang lebih tepat dalam bahasa Indonesia. Penerjemah harus
>pandai memilah mana yang lebih tepat dan bagaimana
>konteksnya.

Salah satu kritik pada hasil penerjemahan yaitu ada
>kesalahan interpretasi sehingga konteksnya beda dengan
>yang asli. Bahkan ada juga kesalahan huruf sehingga
>mengurangi kenyamanan membaca. Pernah punya pengalaman
>begitu?
>
> Ketika sudah jadi buku, kadang tuh saya suka salah
>cetak. Tapi sebenarnya itu bisa diatasi dengan
>proof-reader, jadi tidak ada huruf salah naro. Yang fatal
>tuh kalau sampai salah konteks. Nah, kalau sejauh itu
>saya belum pernah.
>
> Akan tetapi, saya pernah menemui dalam buku yang saya
>baca, mungkin itu karena kekurangan referensi ya.
>Misalnya, dalam satu novel, ada satu istilah di Amerika
>yaitu Ivyleague, lalu itu dibilang liga Ivy. Ternyata pas
>saya cek di referensi, itu maksudnya sebutan untuk 10
>besar kampus terbaik di Amerika. Nah, penerjemah itu
>gagal menangkap konteksnya. Sebenarnya itu bisa diatasi
>dengan banyak baca, jangan malas buka kamus, dan tanya
>orang juga, karena kalau salah akan menyesatkan banyak
>orang.

Belum lagi dari segi keenakan dan halus bacanya.
>Misalnya novel, kalau bisa itu diterjemahkan seperti jadi
>novel lagi. Sebetulnya menerjemahkan itu mereproduksi
>karya. Ketika menerjemahkan novel, kita juga telah
>melahirkan novel lain, walau bukan berarti baru. Makanya,
>idealnya penerjemah itu penulis juga. Mungkin sulit
>menerjemahkan persis seperti maunya pengarang, tapi
>paling tidak kita bisa menerjemahkan keindahannya,
>maknanya, pilihan katanya, dsb. Sehingga seorang
>pengarang yang luar biasa dalam pandangan dunia, tidak
>tercederai oleh penerjemahnya.

Januari lalu, ada seminar yang dibuat Himpunan
>Penerjemah Indonesia (HPI). Katanya, masih ada kelemahan
>dalam hasil penerjemahan bahasa asing ke bahasa
>Indonesia. Itu kurang lebih karena banyak penerjemah
>belajar secara otodidak. Menurut Anda, yang juga belajar
>otodidak, bagaimana?
>
> Buat saya, otodidak itu bukan kelemahan. Perlu dikoreksi
>pernyataan Pak Benny Hoed (Ketua HPI-red.) itu. Kelemahan
>penerjemah adalah, mau dia belajar formal atau otodidak,
>kalau tidak mau belajar lagi. Belajar dan sekolah itu kan
>berbeda. Ada yang sekolah, tapi belum tentu benar-benar
>belajar. Kadang saya menemukan, penerjemah bergelar
>sarjana sastra Inggris dsb., tapi kemampuannya juga tidak
>lebih baik dari saya, yang otodidak. Masalahnya apa, dia
>tidak mau belajar lagi.

Sebetulnya saya sempat berpikir, karena suka sastra,
>untuk membentuk semacam forum penerjemah sastra.
>Tujuannya meningkatkan kemampuan para penerjemah,
>sharing, dan meningkatkan posisi tawar juga. Karena
>beberapa penerjemah pemula itu punya posisi yang lemah di
>depan penerbit. Sudah dibayar murah, kadang susah
>dilunasi pula.
>
> Lembaga semacam itu di sini nggak ada, tapi di luar
>negeri ada, yaitu di Jerman. Itu lembaga independen,
>mengundang para penerjemah Eropa, lalu bekerja di sana.

Bagaimana riilnya lembaga itu jika diterapkan?
>
> Saya sih mengusulkan pemerintah punya kepedulian untuk
>membentuk lembaga itu di sini. Kita bisa bekerja sama
>dengan pusat kebudayaan asing, misalnya Goethe, The
>British Council, dsb. Untuk awalan saja, kita bisa
>mengundang beberapa penerjemah, yang sudah berklasifikasi
>tertentu, misalnya sudah menerjemahkan berapa kali. Forum
>ini berkesinambungan, bukan pertemuan sehari-dua hari.
>Ini untuk meningkatkan kemampuan para penerjemah kita.
>Karena menurut saya, penerjemahan itu kerja kolektif. Itu
>berguna bagi seluruh bangsa.

HPI sebenarnya ke arah sana, bikin seminar, dsb., tapi
>lembaga ini lebih live-in, seperti di Jerman. Di sana
>berjalan karena disubsidi oleh pemerintahnya, dan lembaga
>donor. Ya mungkin ini tinggal political will, katakanlah
>pemerintah lewat Departemen Pendidikan, misalnya. Karena
>kerja penerjemahan itu berkaitan erat dengan edukasi
>secara umum. Bagaimana rakyat kita bisa membaca buku-buku
>yang bagus. Ketika terkendala oleh kualitas kurang baik,
>itu kan sayang.

Bagaimana prospek profesi penerjemah sekarang?
>
> Sangat bagus sebetulnya. Saya coba kasih ilustrasi.
>Untuk satu halaman, terjemahan dua spasi, saya bisa
>dibayar sekira Rp 25 ribu. Karena freelance, saya bisa
>mengatur kerja semau saya, tinggal mengikuti deadline.
>Dalam 1 jam saya bisa 2 halaman, 8 jam bisa 16 halaman,
>jadi bisa dapat Rp 400 ribu-an. Karena saya juga butuh
>libur, dalam seminggu 5 hari kerja, saya bisa dapat Rp 2
>juta, dan sebulan bisa Rp 8 juta. Saya kira uang itu
>cukup lumayan.
>
> Apalagi dengan perkembangan media massa, dari mulai
>televisi, radio, penerbit, dsb. Stasiun televisi biasanya
>butuh subjudul, dsb. Di perusahaan juga, butuh
>penerjemahan kontrak kerja dan dokumen.

Saya kutip pernyataan Goenawan Mohammad. Sering orang
>menganggap, profesi penerjemah sebagai profesi sementara.
>Sebenarnya profesi itu kalau mau diseriusi, selain
>hasilnya bagus, uangnya juga bisa bagus, kok. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: