Memupuk Minat Baca Tulis – Gola Gong

13 Feb

Memupuk Minat Baca-Tulis

Putriku Jadi Pengarang

Ketika kecil saya bercita-cita ingin jadi pilot. Padahal, bapak dan emak adalah guru. Jadi, adagium bahwa like father like son atau "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" terpatahkan di sini. Itu hanya mitos.

Di usia kesebelas, karena otak kananku terlalu aktif akibat sering membaca dan menonton film, saya harus merelakan tangan kiriku diamputasi sebatas siku (1974). Saat itu saya melompat dari pohon; membayangkan sedang terjun payung, tapi tanpa parasut.

Ketika dewasa cita-citaku berubah. Malah "buahnya jatuh lebih jauh lagi dari pohonnya".

Pada 1988 saya memilih profesi jadi penulis (wartawan, pengarang, penulis naskah televisi), karena profesi itu tidak mempersoalkan kecacatan fisikku. Sejak itu profesiku bertambah jadi pembicara dalam diklat kepenulisan (fiksi dan jurnalistik) .

Saya muda bermimpi menjadi Rabindranath Tagore dengan Santi Niketan. Saya duduk di bawah pohon, membacakan puisi dan prosa kepada anak-anak. Atau jadi Ki Hajar Dewantara dengan Tamansiswa; ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani. Sang guru merupakan pemimpin yang memberi teladan baik. Juga aktif, kreatif, konstruktif, dan produktif. Dia bersedia mengikuti anak didik dari belakang sambil membimbingnya.

Konsep pendidikan Ki Hajar mengakui hak anak atas kemerdekaan untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan pembawaannya.

Dalam perkembangan psikologi anak kontemporer, Howard Gadrner memopulerkan istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligences) , di mana setiap anak dapat punya lebih dari satu kecerdasan dan bakat.

Mimpi itu terwujudkan pada 2002. Dari honorarium sebagai penulis, di halaman belakang rumah, saya membangun "Rumah Dunia: Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata". Di sini saya memaksimalkan otak kanan; saya membentuk iklim diskusi (accelarated learning) yang berbeda dengan yang terjadi di sekolah umumnya: saat kita selalu harus menjadi murid yang penurut, nilai tidak boleh berwarna merah, dan siap mencatat apa yang didiktekan guru.

Setiap Minggu, dari pukul 14.00-17.00, saya berbagi ilmu kepada para pelajar dan mahasiswa di Banten dalam bidang jurnalistik, fiksi (cerpen/novel) , dan film. Beberapa ada yang berhasil jadi wartawan, penulis skenario, dan pengarang.

Karya-karya mereka sudah tersebar di media massa; cetak dan elektronik. Ada yang memperoleh prestasi sekelas Unicef Award hingga perlombaan menulis pada Ikapi Book Fair 2004 dan tingkat lokal.

Saya merasa senang, walaupun selalu muncul kecemasan: apakah keempat anakku-Bella (9), Abi (8), Didi (3,5), dan Kaka (2,5)-akan jadi penulis seperti ayah dan ibunya?

Tidak memaksa

Betul kata Kahlil Gibran bahwa anak kita bukanlah lagi milik kita, tetapi milik zamannya yang merindukan dirinya sendiri. Kita yang berusia di atas 40 tahun sudah bukan anak zaman lagi. Saya ingat saat remaja bertanya kepada emak, "Emak ingin saya jadi apa?" Emak menjawab, "Emak ingin melihat kamu bahagia."

Setelah saya jadi orangtua, pernah ada yang bertanya, "Kamu ingin anak-anakmu jadi apa? Jadi pengarang seperti kamu? Jadi orang sukses dan kaya?" Saya jawab, "Saya ingin melihat mereka jadi dirinya sendiri."

Saya juga teringat lagi pesan bapak dan emak, "Jangan pernah menyuruh anak-anakmu jadi pengarang seperti kamu. Jika anak melakukan sesuatu yang bukan timbul dari keinginannya, tapi karena perintah orangtuanya, maka kamu sudah ‘membunuh’ anak-anakmu. "

Apa yang dikatakan mereka betul. Ketika kecil, saya tidak pernah dipaksa mereka untuk menjadi guru. Mereka membiarkan saya "menjadi diriku sendiri". Kini saya menjadi "buah yang jatuh sangat jauh dari pohonnya".

Tentu saja saya dan istri tidak ingin jadi "pembunuh". Saya tidak ingin menjadi orangtua yang selalu tergesa-gesa. Kami menanamkan kepada mereka bahwa memahami atau mengerti sebuah persoalan jauh lebih penting daripada sekadar nilai berwarna biru di buku rapor. Atau, jika ada anak yang kursus balet, kursus piano, saya tidak akan memaksa mereka untuk melakukan itu, kecuali kalau itu muncul dari keinginan mereka.

Tapi, tahukah pembaca, putriku sekarang jadi pengarang! Ternyata kali ini mitos itu betul: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Saya si pohon dan Bella si buah itu.

Kami tidak memaksa Bella jadi pengarang seperti kami; ayah dan ibunya. Kami hanya mengenalkan sastra kepada anak-anak dengan cara membaca di depan mereka. Nabi Muhammad saja pernah berkata, ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena sastra membuat hati menjadi lembut. Jika hati lembut, maka keinginan untuk berbagi selalu ada. Kami ingin anak-anak memiliki kepedulian; bahwa hidup itu tidak melulu mengejar harta dan takhta, tapi berbagi dengan sesama juga penting.

Diskusi

Setiap sebelum tidur, kami memang memberi menu tambahan "dongeng sebelum tidur". Buku-buku juga kami biarkan berserakan di ruang keluarga dan tentu di depan televisi. Di kamar mereka kami sediakan rak dan bukunya. Jika mereka tertarik ingin membaca, kami tinggal menunjukkan saja buku apa yang harus mereka baca.

Setelah membaca, kami meminta mereka menceritakan isi buku; sinopsis, tokoh, karakter, konflik, alur, plot, setting, dan ending-nya. Diskusi berlangsung bisa menjelang tidur, di kala senggang atau di meja makan.

Pelan-pelan kami menyuruh mereka menuliskan resensinya, tentu dengan iming-iming hadiah. Dengan cara itu, kami mulai mengenalkan empat keterampilan berbahasa kepada anak-anak kami: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Bella memang lebih antusias ketimbang Abi, adiknya. Sering Bella berdiri di belakang ketika saya membuat cerita. Jika dia bertanya tentang cara-cara mengarang, saya menjawabnya dengan langsung memberi contoh. Saya juga sering memergoki putriku hadir di kelas menulis, jumpa pengarang dan peluncuran buku di Rumah Dunia.

Suatu hari, Bella minta diantar ke pasar. "Ajari Bella mengarang, Pa!" pintanya. Saya sangat senang mengantarnya. Saya bawa dia ke Pasar Induk. Saya ajak dia duduk di suatu tempat, yang bisa memandang ke seluruh sudut pasar, memerhatikan bagaimana dagangan-dagangan seperti pecah-belah, sayur-sayuran, dan buah-buahan ditumpuk.

Saya mengenalkan dia pada sudut pandang cerita (point of view). Saya tawarkan dia membayangkan (proses) menjadi pedagang bubur ayam, pedagang kelapa, atau jadi tukang parkir. Bahkan dia "mewawancarai" pedagang ketupat sayur; mulai dari modal dan keuntungannya hingga punya anak berapa.

Pada Februari 2005, Bella bertanya, "Berapa halaman bikin novel, Pa?" Saya jawab empat puluh halaman. Setahun kemudian, April 2006, Bella menyerahkan naskah novel pertama: Kisah Bunga. Novel itu saya kirim ke Dar! Mizan, dan kemudian diterbitkan dengan judul baru: Beautiful Days. Saat itu Bella berumur 7 tahun. Selama setahun dia menulis novelnya.

Saya kaget. Putriku jadi pengarang? Saya merasa gembira. Tadinya saya menyangka, putriku lebih menjurus ke kecerdasan kinestetik (olahraga), karena kalau dia makan atau melakukan apa pun, tubuhnya tidak pernah diam. Tapi, ternyata kecerdasan linguistik putriku cukup baik. Kini dia sedang menyelesaikan dua novel terbarunya sekaligus; It’s My Bedroom dan Ada Deh.

Saya dan istri, Tias Tatanka, membebaskan mereka. Kami hanya menyediakan sarananya dan membiarkan mereka bebas mengalir menemukan jalannya sendiri, mengembara dengan kecerdasan majemuk yang mereka miliki. Kami yakin, mereka akan menemukan muaranya sendiri.

Dan, Tuhan membuktikannya. Putriku kini jadi pengarang.

Yang membuat saya bahagia, jauh melebihi kebahagiaan ketika novel terbaru saya terbit atau mendapatkan bonus tahunan dari tempat bekerja, adalah ketika Bella jadi pengarang bukan atas kemauan kami, akan tetapi itu muncul dari keinginan dirinya sendiri.

Ya, kini putriku jadi pengarang!

Gola Gong Pengarang dan Pengelola Komunitas Belajar Rumah Dunia di Serang, Banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: