Perang Melawan Rakyat

23 Jan

Perang Melawan Rakyat?

Rupa-rupanya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mau menjadikan tahun
2007 menjadi tahun penertiban sepeda motor. Dan memang tak dapat
disangkal: Kami para pengemudi kendaraan beroda dua (penulis
termasuk di antara mereka) merupakan kelompok peserta lalu lintas
yang kelihatan paling tak tertib.

Lampu merah, kaki lima, jalan satu arah, jarak yang aman, sopan
santun perhatian biasa terhadap sesama pemakai jalan, belum lagi
manuver-manuver berani ala Valentino Rossi (kadang-kadang satu
keluarga lengkap): Tak ada yang tidak dicuekkan.

Maka peraturan baru wajib menyalakan lampu, memakai jalur kiri,
penyediaan jalur khusus perlu disambut dengan baik. Meskipun akan
lebih efektif apabila misalnya lampu lalu lintas dan marka jalan
diawasi oleh polisi secara efektif (misalnya dibentuk dua atau tiga
regu polisi yang secara acak dan bergilir setiap hari mengontrol dua
tiga persimpangan jalan, misalnya Matraman-Pramuka) .

Penertiban seperti itu akan diterima dan akan efektif. Akan tetapi,
lain halnya apabila jalan-jalan penting mau ditutup dengan alasan
sepeda motor bikin macet dan "hendaknya mereka memakai angkutan umum
saja".

Jelas sekali bahwa bukan sepeda motor yang menyebabkan kemacetan.
Bukankah Jalan Sudirman— yang sudah bebas sepeda
motor— dan bagian jalan tol hampir setiap hari macet?
Sebaliknya, seandainya semua pemakai sedan diharuskan memakai sepeda
motor, kemacetan pasti langsung akan berkurang drastis.

Namun melarang tiga juta lebih pemakai sepeda motor menggunakan
poros-poros utama lalu lintas di DKI tak kurang merupakan pernyataan
perang pimpinan DKI kepada masyarakatnya yang sederhana. Larangan
itu mengena pada kepentingan vital jutaan warga. Kalau lebih dari
tiga juta orang— itu lebih dari setengah pemakai jalan—
menggunakan motor, itu bukan karena mereka iseng-iseng, melainkan
karena mereka membutuhkannya.

Arti sepeda motor

Apakah Anda pernah mencoba memahami apa arti sepeda motor bagi
pemiliknya? Sepeda motor merupakan salah satu barang paling
berharga dan bermanfaat bagi pemilik dan keluarganya. Para pemilik
sepeda motor rata-rata adalah bagian paling produktif di DKI, para
pekerja keras dalam segala macam usaha dan kantoran. Sepeda motor
bagi mereka membuka jendela sebuah kebebasan baru: Bebas dari
keharusan berada selama 4 jam per hari dalam bus-bus dan angkot yang
jorok dan tidak aman. Bebas dari biaya mencekik pemakaian angkutan
umum. Bebas untuk cepat ke tempat yang perlu.

Lagi pula, sepeda motor bagi mereka hasil sebuah perjuangan. Mereka
tidak mengiri kepada pemakai sedan yang ber-AC dan dikemudikan oleh
sopir. Namun, mereka mengharapkan agar hasil perjuangan mereka yang
begitu berarti, ya kebebasan baru pemilikan sepeda motor, mau diakui
juga.

Sebuah pertanyaan: Dengan angkutan umum yang mana tiga juta pemakai
sepeda motor mau diangkut ke tempat kerja pagi hari dan pulang ke
rumah sore hari? Monorel yang menjanjikan kemajuan sampai sekarang
baru sebuah impian mahal!

Dan busway— sebenarnya sebuah konsep bagus— sudah gagal
karena dilaksanakan dengan sedemikian inkompeten sehingga mengangkut
200.000 orang per hari saja belum mampu. Benahi dong angkutan umum
dulu, baru kendaraan pribadi— termasuk mobil— dikurangi!

DKI rupa-rupanya lupa bahwa orang yang tidak bisa memiliki mobil
merupakan manusia juga, yang sama haknya untuk diperingan dan tidak
dipersulit perjuangan survival setiap hari, yang sama warga DKI
seperti mereka yang punya mobil.

Kapan pimpinan DKI akan keluar dari mental feodal yang menganggap
masyarakat biasa bisa dikurbankan demi mereka yang berduit?

Akhirnya, saya meragukan bahwa tiga juta pemakai sepeda motor akan
bersedia disingkirkan dari jalan utama di DKI. Kalau tiga juta warga
itu unjuk rasa, akan jelas lain dari unjuk rasa rutin beberapa puluh
ribu mahasiswa.

Apakah mereka akan menerima kalau kehidupan mereka yang sudah berat
mau dibuat lebih berat lagi hanya supaya sedan-sedan tidak merasa
terganggu? Kalau mereka marah, gampang mereka membuat Jakarta betul-
betul macet. Kita semua kiranya ingin agar Jakarta tidak rusuh lagi.

(Frans Magnis-Suseno, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: